
...“I used to desire many,...
...many things,...
...but now I have just one desire,...
...and thats to get rid of all my other desires.”...
...♔...
Tidak ada satupun yang Rashi harapkan lagi mengenai kepindahannya. Ia cuma merangkai senyum seolah-olah ada sesuatu yang bisa disyukuri dari lancarnya proses pemindahan atas bantuan Abah dan Uma.
Sejenak ia berpikir, bahwa mungkin hari itu tak seharusnya mengadu pada Mahesa soal pindah, tapi Rashi sadar sekalipun begitu, Maespati tetap masuk dalam jangkauan pemuda Mahesa.
Belahan bumi lainlah ia harus pindah jika memang tak ingin masuk jangkauan Mahesa sekarang.
Hari Senin, Rashi akan mulai masuk sekolah secara resmi. Karena itu hari ini, Uma menyarankan untuk Rashi pergi membeli perlengkapan sekolah yang baru bersama Candra dan Sara.
Belum ada yang Rashi butuhkan baru. Karena kurikulum sekolah lamanya dan sekolah baru itu sama, tidak benar-benar ada hal khusus yang ia perlukan sebagai pelengkap. Tapi Rashi menerima tawaran Uma setelah Sara merengek agar mereka pergi belanja bersama juga.
Namanya anak bungsu di keluarga, segala keinginan Sara selalu jadi prioritas orang tua, dan Rashi jadi tidak enak sebab adiknya itu memaksa.
Yatha sudah selesai berganti baju, langsung turun ke bawah menghampiri Candra dan Sara.
Dengan alasan butuh waktu lima menit menyelesaikan persiapan, Rashi masih di dalam kamar. Rashi menarik laci meja riasnya untuk mengeluarkan sebuah kotak rahasia berwarna ungu tua. Kotak itu berukuran cukup besar, berbentuk kubus dengan tiga sisinya dilengkapi pengunci.
Hadiah dari Mahesa.
Katanya, kebanyakan perempuan pasti punya barang yang ingin disimpan hati-hati atau sebuah rahasia yang memerlukan ruang khusus menyimpannya. Itu benar, karena isi kotak ini kebanyakan rahasia Rashi bersama Mahesa.
Ada tumpukan foto di dalamnya. Salah satu foto menunjukkan Rashi tersenyum lucu dengan kedua tangan di pipi, mata terpejam imut ketika Mahesa dari belakang mencium pipinya seolah-olah sayang.
Seolah-olah, sekali lagi.
Selain itu ada beberapa aksesoris yang Rashi sembunyikan baik-baik. Jam tangan emas seharga seratus lima puluh juta, sepasang anting permata pirus yang ia tak tahu harganya berapa, beberapa gelang kaki platinum dan emas, sampai sebuah cincin berlian langka dari pelelangan.
Kadang, Rashi bertanya, mengapa Mahesa memberinya terlalu banyak harta ketika dia membesarkan Rashi untuk dijadikan alat sekali pakai.
Tapi tiap kali Rashi bertanya ini semua untuk apa, Mahesa akan menjawabnya dengan pasti.
Untuk harga dirinya. Karena dia akan merasa terhina tak memberi sesuatu, sesuatu yang berharga, pada gadisnya yang juga (kata dia) berharga.
Tatapan Rashi tersita oleh kotak beludru hitam mungil yang berada di kotak itu. Perlahan dikeluarkan, membukanya untuk bertemu pandang dengan sebuah kalung berlian berbentuk mahkota kecil. Ini hadiah mahal terakhir yang Mahesa berikan pada Rashi sekitar satu tahun lalu.
Rashi ingat apa yang Mahesa katakan sewaktu memasangkan kalung ini ke lehernya.
"Jadi ratu itu enggak gampang, tapi jadi luar biasa bikin hidup lo juga luar biasa. Semua tergantung pilihan lo, Princess. Lo pake mahkota lo, atau lo tinggalin mahkota lo."
Itu bukan sekadar kata-kata rayuan busuk.
Mahesa tidak pernah merayu.
Jika dia mengatakan sesuatu, pasti ada maknanya. Dan Rashi sadar ratu yang dia sebutkan juga tentang tanggung jawab serta kedewasaan.
Terserah ia memilih yang mana. Jadi lebih dewasa melampui umurnya, atau tetap jadi anak kecil sampai umurnya mencapai dewasa.
Rashi memasang kalung itu, merasakan ketenangan seperti Mahesa sedang membantunya.
Mungkin ini tidak baik, memakai kenang-kenangan Mahesa padahal mau melupakannya. Tapi Rashi butuh waktu.
Butuh waktu untuk sembuh, butuh waktu untuk lupa.
Untuk sekarang tak apa sekadar pura-pura. Karena ia pun perlu untuk lebih tahan banting di depan orang-orang.
__ADS_1
"Mamaaa! Mama di manaaa?"
Rashi menutup kotak itu segera dan memasukkannya kembali ke laci. Sekilas menyentuh bekas operasinya yang hampir sembuh total. Harusnya bekas itu sembuh dalam waktu sebulan.
Jangan pikirkan itu lagi.
Jangan biarkan pikiran itu terlihat di wajah ataupun matanya.
"Mama!"
"Iya, iya." Rashi bergegas keluar, menemukan Yatha berusaha naik tangga sambil berpegangan pada besi pengaman. "Kenapa buru-buru, sih? Pelan-pelan dong, Sayang. Masih pagi, loh."
Yatha tertawa tanpa rasa bersalah. Langsung membuka tangannya minta digendong. Tentu saja Rashi tak bisa menolak. Mengangkat tubuh adiknya saat mendadak diserang perasaan nyeri luar biasa pada bekas jahitan itu.
Ugh.
Itu kadang terjadi setiap kali ia menggendong Yatha dari posisi yang salah.
"Mulai berat yah, sayangnya Mama." Rashi buru-buru turun menghindari risiko oleng dari tangga, membahayakan Yatha.
Di ruang tengah yang tak terpisah dari ruang tamu dan dapur, semuanya sudah berkumpul, termasuk Rasya. Kakaknya itu tidak suka acara jalan-jalan begini yang bisa digunakan tidur di rumah istirahat. Tapi Rasya memaksa ikut dengan alasan bosan, padahal jelas khawatir Rashi menangis lagi.
Makanya mau tak mau, Rashi membutuhkan kehadiran Mahesa bahkan lewat pemberiannya saja. Cuma dia yang tahu menenangkan jiwa Rashi sekalipun dia juga penghancurnya.
"Yatha enggak mau sama Papa?"
"Mama aja."
Perut Rashi sakit. "Kasian loh Papa digituin terus. Kemarin kan Papa yang beliin Yatha mainan."
"Atau sama Kakak." Sara mendekat mau menggendongnya, tapi Yatha bersikukuh di gendongan Rashi. "Ih, kok enggak mau, sih?!"
"Lo dikiranya nenek lampir. Mana suka dia sama lo." Candra menyeletuk, lalu mendengkus sebab Sara melotot lebar-lebar padanya. "Udah buruan."
...*...
Perasaan Candra saja atau bidadarinya sedang punya beban?
Ini berbeda dari kemarin Rashi bisa menyembunyikan kesedihan dibalik wajah bahagianya. Kali ini, dia tampak punya beban yang agak terlalu besar untuk disembunyikan lewat senyum dan keceriaan semata.
Candra berkali-kali melirik. Memerhatikan dengan lekat bagaiamana Rashi berusaha total menghadapi Yatha sementara keningnya sesekali berkerut menahan sesuatu.
Kemarin Rasya bilang, adiknya itu sangat suka menyembunyikan sesuatu dibalik kata 'enggak apa-apa'. Jadi mungkin percuma ditanya ada apa, karena jawabannya tak akan jauh dari tidak ada apa-apa.
"Lo naksir adek gue, Tan?"
Hampir Candra tersandung kalau saja tidak mempertimbangkan malu. Tentu saja ia langsung bertingkah sok cool, tapi tidak berpengaruh pada Rasya yang bertanya dengan nada yakin jawabannya iya.
Bukan Candra takut sih ketahuan. Memang kenapa? Toh, cuma sepupu. Seumuran pula, cuma beda dua bulan. Terlebih Rashi memang cantiknya minta disayang, haram ditolak.
"Paan, sih? Enggak jelas lo."
"Idup lo tuh enggak jelas." Rasya mendengkus. "Ketahuan, Monyet. Mata lo minta dicongkel ngeliat punya gue."
Candra mendelik. "Enggak tau diri, jones akut."
"Itu emang punya gue. Punya lo tuh sebelahnya."
"Ambil tuh Botol Kecap. Enggak butuh gue."
Rasya menendangnya dan spontan Candra mengumpat. Untung Rashi fokus di depan sana bersama dua bocah itu. "Ati-ati lo kalau suka. Enggak bakal gue gampangin Rashi, apalagi sama yang idupnya enggak jelas kayak lo."
"Kayak idup lo jelas aja, njir."
__ADS_1
"Lagian, Rashi kayaknya punya cowok."
Spontan Candra tersedak. "Kamsud lo apa, Setan?!"
"Dih, berasa punya lo, emang?"
"Wah."
"Makanya," Rasya memasukkan tangan ke saku celana saat mengatakan, "lo tanyain sama Rashi coba, itu cowoknya beneran apa bukan."
"Emang kenapa?" Kening Candra berkerut. Jelas saja ia tak akan bisa terima apalagi pasrah jika calon ibu dari anak-anaknya malah direbut orang, tapi kenapa Rasya harus ikut campur urusan asmara Rashi segitunya?
"Rashi mungkin enggak tau," Rasya bergumam, "tapi bokap udah dari dulu bilang sama gue. Rashi enggak boleh pacaran."
"Buset. Jaman Siti Nurbaya banget, Sat? Adek lo yang modelan minta disembah gitu lo suruh enggak pacaran?!"
"Bodo amat. Wasiat ya wasiat. Lagain, justru karena gue tau adek gue cakep, makanya jaga-jaga. Hari pertama pacaran udah khilaf lo ke mana-mana."
Candra mendengkus. "Macem enggak aja lo, Brengsek."
"Pokoknya jagain dia." Rasya tiba-tiba menepuk punggungnya. "Temenin kalau nangis. Sesat sih gue percaya sama lo, cuma mau gimana lagi. Enggak ada opsi."
Omongannya begitu tapi ujung-ujungnya dia minta Candra menjaga Rashi karena percaya.
Bukan berarti Candra itu lelaki yang bisa dipercaya. Hanya saja sebagai kakaknya Rashi juga—walau ia lebih sudi jadi suami—Candra memang berniat menjaga dia, terlebih setelah diberi wasiat oleh Uma dan Abah untuk memperhatikan Rashi baik-baik nanti di sekolah.
Candra diam mengamati Rashi lagi ketika Rasya pergi ke sana, mendekat untuk bantu membawa tas belanjaan di tangan Rashi. Lagi, Candra mendapati Rashi menahan kerutan di keningnya saat tersenyum pada Rasya dan Yatha.
Apa Rasya tidak menyadari itu? Bahkan keringat mengalir di pelipis Rashi padahal pendingin ruangan mal ini menusuk ke tulang.
Mendadak Rashi beranjak ke toilet sendirian. Secara insting saja, Candra mengekori, diam-diam melihat Rashi hanya bersandar pada tembok luar kamar mandi memegang bagian perut bawahnya.
Dia memejam dengan kening berkerut sangat dalam. Tampak susah payah mengatur napas sampai Candra menyadari ada yang tidak beres.
Kenapa dengan perutnya?
Rashi memegang sesuatu di lehernya seperti kalung kecil berkilau. Dia berusaha bernapas teratur dengan susah payah. Meskipun sejak tadi ragu, Candra mengarahkan kakinya mendekat. Tak tega harus melihat Rashi sangat kesakitan entah oleh penyakit apa.
Itu tidak terlihat seperti sakit perut biasa, karena wajahnya yang dipulas makeup sampai pucat tak berdaya.
"Rashi."
Pikir Candra, dia akan pura-pura tak ada sesuatu, tapi ternyata itu sangat sakit hingga Rashi menempelkan kening ke bahu Candra, mulai mengerang seolah akan menangis.
"Lo kenapa? Sakit apa? Perut lo kenapa?" Candra mengabaikan aroma bunga-bunga entah bunga apa itu dari tubuh Rashi. Ia menunduk cemas, menyelipkan tangan di pipi gadis itu untuk sadar dia menggigil. "Rashi? Rashi, lo kenapa?"
Alih-alih menjawab, Rashi memanggilnya. "Cand." Bernapas terputus-putus mencengkeram kaus di pinggang Candra. "Jangan bilang Rasya."
"Maksud lo?"
"Pokoknya jangan bilang." Rashi mengatur napas di bahunya. "Janji dulu, jangan bilang Rasya."
Candra tidak begitu fokus. "Ya, tapi lo kenapa? Lo sakit apa?"
Dia menggeleng. "Gue lagi mens. Hari pertama, jadi sakit banget."
Mulut Candra terbuka, lalu terkatup.
Capek, deh. Candra kira apa.
"Terus gimana? Kayaknya sakit banget."
"Bisa beliin gue air? Gue mau minum painkiller."
__ADS_1
...*...