
“It's just ... the life that I want to live.”
Rashi Anuja
♔
Rashi sama sekali tak ingat soal apa yang dikatakan Raina padanya di rumah sakit hari itu.
Ia tak terlalu memperhatikannya lantaran sibuk meratapi kehilangan. Baru Rashi teringat ketika di hari minggu sebuah undangan pernikahan berwarna hitam emas datang atas nama Elmira.
Langsung saja Rashi kesenangan memberitahu Rasya.
Temannya—bisa dibilang teman akrab walau mereka tak sesering itu saling kontak—yang beberapa tahun di bawah Rasya itu bisa dibilang paling anti masalah nikah-nikahan. Bukannya Elmira perempuan yang menolak statement perempuan harus menikah bila ingin bahagia. Hanya saja, Elmira selalu bilang dia terlalu sakit jiwa untuk punya hubungan macam percintaan.
Siapa pria beruntung bernama Juanda Adiraja ini?
Sepengetahuan Rashi, belum ada nama Juanda yang Elmira sebut padanya empat bulan lalu.
"Aku udah tau. Kan El ambil fotografer dari studioku."
Rashi tercengang. "Serius? Kapan Papa tau?"
Cuek saja bermain dengan Yatha, Rasya berkata, "Beberapa hari sebelum Ayah pergi. Kebetulan Elmira ketemu aku di Bandung, jadi bilang bakal lamaran sekitar dua minggu kemudian. Aku enggak ngasih tau kamu, karena aku pikir kamu tau."
Jadi karena itu Raina bilang untuk menghubungi sebelum hari minggu.
Rashi lupa sampai dua bulan. Hampir saja ia tak tahu teman baiknya mau menikah.
Duduk tersenyum-senyum membaca undangan, Rashi ingat betul bagaimana sosok Adinda Elmira Harianto ini. Dia perempuan berwajah super duper jutek—padahal hatinya super duper lembut—yang menyimpang karena lukanya.
Rashi kenal dia karena Mahesa.
Ada satu kebiasaan Mahesa yang sampai sekarang pasti belum berhenti. Dia suka perempuan yang rusak. Dalam arti, perempuan yang menyimpan luka entah karena keluarganya berantakan, pernah dilecehkan sampai meninggalkan bekas luka mental, intinya secara umum tidak normal karena sebuah problema di batin mereka.
Seperti Rashi, yang pernah hampir bunuh diri karena Ibu, dan Elmira yang 'kurang waras' lantaran ditinggal pergi ayah dan ibunya.
Problem keluarga Elmira pelik, memang. Karena pertama, setelah dia sebagai anak terakhir lahir, sebuah masalah terjadi dan ibunya pergi meninggalkan sang ayah dan keempat anaknya. Tak lama kemudian ayahnya menikah, punya seorang anak lalu tiba-tiba pergi lagi. Tak berselang setahun mungkin, giliran ayahnya Elmira yang pergi meninggalkan mereka berlima di bawah asuhan sang bibi.
Disanalah puncaknya Elmira merasa sakit jiwa.
Dia tak bisa survive di lingkungan bibinya yang serba keras—dalam artian terlalu liar dalam memahami masalah mental. Sementara itu, adiknya tirinya sering dijadikan bulan-bulanan lantaran dia anak tiri, plus ibunya pergi. Intinya, Elmira tidak suka adik tirinya diperlakukan demikian karena selalu merasa tersinggung, jika mereka mulai membicarakan perihal alasan.
Kalian tahu? Pada dasarnya Elmira si anak terakhir bisa dibilang penyebab juga ibunya pergi, jadi dia sensitif mendengar adik tirinya dihina sebagai alasan keluarga mereka berantakan.
Bertahun-tahun harus sabar di lingkungan itu membuat Elmira tumbuh keras.
Dia benci banyak hal tentang dirinya dan orang lain, sekalipun dia sebenarnya punya sisi baik. Dia orang yang terpelajar dan sangat menjunjung tinggi kesehatan mental, tapi di saat yang sama, dia tak mau sembuh dari sakit mentalnya itu karena berpikir jika dia gila, setidaknya itu bisa menghancurkan diri sendiri dan orang tuanya—mungkin, perlu digarisbawahi.
Mahesa sangat tertarik pada latar belakang Elmira itu. Dia memberitahu Rashi bahwa Elmira punya potensi yang menarik untuk digali. Tapi entah karena apa, beberapa saat kemudian, Mahesa berkata lagi, Elmira tidak punya bakat untuk diasa. Potensinya hanya sebatas potensi, lalu Mahesa melepaskan Elmira begitu saja.
Dia selalu begitu kalau orangnya sudah tidak berguna.
Setelah itu, Rashi dan Elmira sering bicara untuk mengumpati Mahesa.
"Kenapa senyum-senyum? Mau nikah juga?"
Rashi tertawa geli mendengar ucapan usil kakaknya. "Sama Candra?"
"Dari semua, Rashi, harus banget kutu kasur yang kamu sebut?" Rasya mendengkus. "Kamu mau dateng juga?"
"Jelas dong, Papa. Masa nikahan El aku enggak pergi." Rashi langsung memikirkan baju apa yang harus ia pakai. "Astaga, dua minggu lagi, loh. Nanti malem aku keluar sama Bang Cand boleh, Papa? Enggak sempet kalau minggu depan."
Telinga Yatha punya sensor kalau Rashi sudah mau pergi. Anak itu segera meninggalkan mainannya, pergi memeluk paha Rashi posesif. "Mama mau pelgi mana?"
Rashi memang mau mengajaknya—mustahil juga mau ditinggal sama Rasya—jadi ia menunduk, mengecup hidung Yatha. "Pergi beli baju sama Mama, yah. Kita ke nikahannya Kak El."
"Biar aku yang temenin. Sekalian juga mau beli sepatu."
"Ohya?"
Rashi setuju.
Tanpa sekalipun pernah berpikir sore hari sebelum langit sepenuhnya gelap, mendadak datang paket yang mengantarkan kotak berwarna hitam emas pula, dengan huruf M besar di bagian atasnya.
Tak sulit bagi Rashi tahu itu paket dari Mahesa.
__ADS_1
"Siapa, Rashi?"
Buru-buru Rashi menutup pintu. "Ini, kiriman dari temen aku di Asgard. Kayaknya barang yang ketinggalan di loker."
Yatha sudah mulai akrab dengan Rasya, sekalipun masih ogah kalau tanpa Rashi. Mungkin karena dia yang selalu menenangkan Yatha tiap anak itu menangisi Ayah, mereka jadi konek satu sama lain.
Dia baik-baik saja ditinggal sebentar untuk Rashi naik membuka kotak itu.
Matanya nanar menatap sebuah gaun brokat kuning tembaga tiga senti di atas lutut. Bagian bawahnya mengembang, berkibar disetiap gerakan sementara atasannya berpotongan rendah, ketat di bagian perut dan dada dengan sepasang tali kecil di bahu. Ini memang baju seksi, tapi modelnya bukan kesukaan Rashi dan Mahesa tahu betul itu.
Memikirkan dia lupa atau salah memilih itu mustahil, karena ada Amel yang mencatat setiap hal di belakang Mahesa agar tidak ada satupun kesalahan.
Dia mau Rashi memakai ini di pernikahan El.
Bahkan tak lupa menyertakan pakaian anak kecil, untuk Yatha, berikut juga sepatu, anting dan hiasan rambutnya.
Orang itu tahu betul Rashi tidak akan menolak.
Karena dia juga yang mengajari Rashi untuk tidak suka menolak kebaikan orang, mau ada niat terselubung di dalamnya atau tidak. Sifat kasih dan sayang yang Rashi bentuk sudah mendarah daging, terlalu mengalir di darahnya hingga tak akan berkata tidak sekalipun ini dari Mahesa.
"Mamaaaaaa!"
Rashi tersentak, spontan melempar dress itu dan memasukkannya terburu-buru ke dalam kotak tanpa dilipat. Ia takut Rasya ikut datang, tapi untungnya hanya Yatha. "Jagoan Mama kenapa lari-lari, sih? Jatuh gimana?"
"Sakit!" Yatha berseru riang saat Rashi menggendongnya. "Kata Papa, kita makan di luar aja. Mama sama Yatha ganti baju."
Senyum Rashi berkembang ringan saat bibirnya mencium pipi halus Yatha. "Hmmmm, kayaknya enggak jadi. Mama baru inget punya baju."
Yatha memiringkan wajah, langsung menangkap artinya tidak jadi pergi namun kebingungan mencerna. Sepertinya dia sudah menyuruh Rasya menjanjikan sesuatu sampai terus bertanya kenapa, terkesan berharap mereka pergi saja.
"Maaf, Papa. Kayaknya enggak jadi. Barusan aku liat punya baju sama Yatha di atas. Belum pernah dipake, jadi sayang kalau beli lagi. Warnanya cocok sama tema juga."
Tidak sulit bagi Rasya berkata yasudah, karena baginya pasti lebih surga duduk di rumah daripada repot-repot keluar, menyetir lama-lama, jalan ke mal, mencari baju—apalagi bagi perempuan seperti Rashi—padahal besok dia kerja juga.
Setelah makan dan memastikan semuanya rapi di dapur, Rashi naik mengajak Yatha tidur.
Dia sudah terbiasa tidur di bawah pukul sembilan, jadi Rashi tinggal menepuk-nepuk dan bernyanyi untuknya, dalam sekejap Yatha tidur.
Rashi mengamati intens wajah adiknya saat kembali menahan sedih yang menggigit itu.
Sulit untuk pura-pura baik tanpa Mahesa.
Memang gila memikirkan dia lagi setelah semua yang Mahesa perbuat padanya, tapi kebencian dan kesedihan yang Rashi simpan tak sebesar rindu di hatinya.
Kenapa dia harus melakukan itu? Buat apa? Mengirim pakaian yang mengisyaratkan dia masih mengawasi seluruh kegiatan Rashi, seolah mereka masih sepasang kekasih.
Tidak, memang apa pentingnya kekasih bagi Mahesa?
Jangan memikirkan dia.
Yatha dan Rasya membutuhkan Rashi Anuja mereka yang suci, bukan si Kotor Buatan Tangan Mahesa.
Sekuat tenaga Rashi meyakinkan diri, tapi justru sebaliknya, mencari pelampiasan lantaran sadar luka di hatinya terlalu sakit.
Rashi tak punya teman curhat setelah bersama Mahesa. Ada dia. Teman, sahabat, kekasih, ayah, ibu, semua peran yang Rashi dibutuhkan dimainkan oleh Mahesa sampai hampir tak tersisa celah dalam dirinya.
Rashi menatap berulang kali isi ponselnya, kebanyakan chat dari mereka yang mencoba jadi temannya, kenalannya, kekasihnya. Hanya Xena, Ervan, dan Hendra yang benar-benar bisa Rashi anggap kenal. Tapi mereka belum sedekat itu untuk Rashi curhat.
Sekalipun Hendra tahu soal dirinya, tidak berarti semua hal Rashi bisa bagi pada orang itu. Candra bukan orang yang pantas ia curhati soal sakit hatinya memikirkan mantan.
Terakhir, Rashi mengecek profil Rainal.
Cuma dia yang bisa Rashi pikirkan sekarang.
Tak berselang lama setelah panggilan berdering, Rashi mendengar panggilan terjawab. Ia mengusap-usap punggung Yatha agar tidur makin nyenyak dan tidak mendengar Mama-nya tengah bersedih di sini.
"Rashi?"
"Hai." Rashi berusaha menyapa riang. "Lagi apa? Gue enggak ganggu, kan?"
"Ah, enggak. Gue baru mau pulang dari kampus."
"Um, glad to hear that. Udah makan, kan?"
Rainal agak tertawa kecil. "Sayangnya belum."
__ADS_1
"Kalau lo di sini, pasti gue masakin."
"Ohya? Apa pun?"
"Kesukaan lo. What's your favorite dinner?"
"Your lips, maybe?"
Spontan saja Rashi tergelak. Tak begitu menyangka Rainal bisa menggodanya lewat kalimat manis bernada usil itu. Dia selalu terlihat murung, sampai Rashi pikir mungkin Rainal tak terlalu menyukai candaan dalam hidupnya.
"By the way, Rail, lo tau enggak sih Elmira mau nikah?"
"Elmira?"
"Oh, lo enggak tau Elmira?"
"Adinda Elmira? Gue tau. Dia senior pembimbing dulu di Padjadjaran. Cewek super duper galak, iya, kan?"
"Jangan salah. El kalau nabrak kucing bisa sedih sebulan."
"Tapi dia galak."
"Banget, sih. Karena tegas. Biarpun buat gue dia lucu." Rashi menarik napas panjang, merasa dadanya lebih lega sekarang. Bicara pada Rainal ternyata cukup berpengaruh. Ini terasa lebih baik. "Nyangka enggak sih dia nikah?"
"Sama siapa?"
"Hm? Namanya Juanda Adiraja. Gue enggak pernah denger Elmira nyebut dia. Jadi penasaran orangnya kayak gimana."
"Kenapa penasaran?"
Rashi terkekeh. "Lo enggak kenal Elmira berarti." Karena menurut Rashi, yang mengenal dalam gadis itu akan berpikir, menikah adalah hal terjauh dari daftar tujuan hidup Elmira. Yah, pada dasarnya semua orang ingin menikah, dengan alasan dan tujuan masing-masing. Tapi Elmira terlalu terluka untuk membiarkan dirinya berpikir ke arah sana.
Melihat dia berubah dalam waktu kurang dari dua bulan, tentu saja Rashi penasaran sehebat apa calonnya.
Mustahil dijodohkan. Elmira lebih suka bunuh diri daripada mengikuti kehendak orang, terutama yang bertentangan dengan prinsip hidupnya.
"Rail."
Suara lembut Rashi memanggilnya mempengaruhi nada suara Rainal menjawab. "Hm?" Hanya sebatas gumaman, namun sangat amat kental akan kesan sayang dan perhatian.
"Lo pernah enggak sih punya wedding dream?"
Ini adalah salah satu cara Rashi membicarakan Mahesa tanpa harus menyebut namanya secara langsung. Karena dalam hidup Mahesa, pernikahan adalah hal yang lebih mustahil—setidaknya bagi dia—ketimbang menguasai seluruh dunia dan menjadi raja terkuat daratan dan lautan.
Mahesa pernah bilang pada Rashi. Mimpi terbesarnya di atas mimpi menguasai dunia, itu satu.
Mati jomblo. Tanpa istri apalagi anak.
Walaupun begitu, Mahesa menyebutnya mimpi alih-alih tujuan, pasti lantaran dia sendiri memberi ruang untuk kemungkinan pernikahan. Katanya, dunia politik dan bisnis terlalu rumit untuk seseorang berdiri memegang secara mutlak perasaan pribadinya. Sewaktu-waktu dia bisa butuh pernikahan, sekalipun sekarang dia ogah melakukannya jika sekadar untuk memajukan popularitas, menambah keuntungan, atau membentuk hubungan keluarga dengan konglomerat besar lainnya.
Terlalu jauh dan banyak yang dilihat Mahesa untuk mengerti sudut pandangnya.
"Wedding?" Suara Rainal berubah ragu. Tentu saja, bagi dia pun, itu sulit dijangkau. Rata-rata orang sepertinya berpikir, terlalu kotor dan penuh lumpur untuk mencintai, apalagi membentuk hubungan sakral dengan seseorang.
"Mau tau enggak? Gue punya wedding dream." Artinya, sampai kapan pun ia dan Mahesa tidak bisa bersama.
Mimpi mereka bertabrakan.
"Hmmm, bukan wedding dream sih. Kehidupan setelah pernikahan, lebih tepatnya. Salah satu hal yang paling gue suka bayangin itu, mungkin di umur tiga puluh tahun, gue jalan di taman sama keluarga kecil gue. Yang paling kecil digendong sama ayahnya, di atas yang paling kecil anteng di gendongan gue. Dua sisanya jalan di sebelah gue. Gue enggak tau gue bakal apa nanti itu. Mungkin kita bakal duduk di bawah pohon, di padang rumput, di pinggir danau, di tempat yang nenangin pikiran kita, sambil gue liat anak-anak main akur satu sama lain. It's just, I don't know. It's just ... the life that I want to live. You know?"
Samar terdengar Rainal tertawa. Bukan jenis tawa geli atau menertawakan atau kebingungan. Itu jenis tawa lemah yang dia sendiri mungkin tak mengerti untuk apa. "Beautiful dream for a beautiful girl."
"Oh, come on. How about yours? Just tell me anything."
"Well, mine is ... hmmm ... marry you?"
Tidak ada, yah.
Rainal memang bukan Rashi yang masih coba positif memandang dunia. Di awal, dia sudah menunjukkan sikap tak percaya diri sampai meminta maaf dan merasa kurang ajar telah suka.
"Be careful with your wishes, Boy. Rasya punya standar tinggi buat berliannya."
Kali ini, tawa Rainal lebih tulus. "Lo lebih berharga lagi, Princess."
*
__ADS_1