Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
17


__ADS_3

...“There are no facts, only interpretations.”...


...♔...


Hara tidak suka terlalu sering pergi ke kantin. Baginya, tempat ramai semacam itu mengganggu. Keramaian selalu membuatnya lelah.


Karena hari ini Melati absen untuk mengurusi persiapan event Mahesa, Hara ibarat anak anjing yang bebas dari tali kekangan lehernya. Minggu depan, lebih tepatnya, Mahesa akan mengadakan event tahunan yang difokuskan untuk menggaet hati para remaja. Hara tak begitu tahu karena ia tak tertarik pada apa pun itu kegiatan Mahesa, namun intinya, Maespati akan berpartisipasi sebagai salah satu pengisi acara.


Bajingan itu memang selalu punya daya tarik tersendiri dalam membuat acara. Sesuai konsepnya, semua bintang tamu hingga hingga peserta acara, seluruhnya anak muda yang dikumpulkan dan diberi panggung untuk unjuk kebolehan. Melati punya koneksi dengan Mahesa hingga dia ditunjuk sebagai salah satu staf—mengingat kemampuannya dalam mengorganisir sesuatu memang cukup memuaskan—sekaligus juga mempersiapkan tim mereka tampil di acara puncak nanti.


Hara jelas ikut, memang ia budak nomor satunya Melati. Dan ia luar biasa bersyukur Melati dibutuhkan dalam persiapan hingga tak perlu Hara berlatih sampai muntah-muntah.


Maksud Hara, ia mencintai musik. Sangat. Sebagai teman, kekasih, penghibur, penyelamat. Hara mencintai musik sebagaimana ia mencintai dirinya, hampir.


Tapi jika ada yang paling Hara benci di dunia ini, itu adalah bermain musik untuk orang lain.


Hara benci bernyanyi untuk orang lain, Hara benci bermain gitar, piano, bas, apa pun, untuk orang lain.


Sementara Melati adalah monster pengatur yang membuat Hara bersumpah, lulus sekolah nanti ia akan cari universitas terjauh, ujung dari universitas Melati.


Perempuan pengatur selalu membuatnya muak.


Oh, tidak. Perempuan selalu membuatnya muak.


Kak Hara


Chat masuk dari kontak yang ia namai Zarina itu membuat Hara menghela napas. Malas sebenarnya, tapi kasihan juga hingga ia tetap mengetik balasan.


^^^Kenapa? ^^^


Langsung terbaca.


Hara melempar pandangannya dari ponsel ke jendela perpustakaan, menyaksikan pemandangan siswa berlalu-lalang di taman yang berada tepat di sampingnya. Air mancur dan kolam ikan koi selalu menjadi pemandangan favorit Hara di sana. Karena ia jarang punya kesempatan bebas, apalagi duduk santai di sini, warna-warna jingga-putih yang bergerak abstrak di dalam air selalu dapat menghibur.


Kalau perpustakaan tidak berada di lantai empat, pastinya mudah untuk mendengar suara-suara air mengalir dari pancuran.


Mampu setidaknya menenangkan.


Kak Hara ada jadwal klub hari ini?


^^^Ada. ^^^


Tidak ada. Hara hanya mau punya waktu sendiri, karena ia tahu Zarina pasti ingin mengisi waktu kosongnya.


Kak Hara pulangnya malem lagi?


^^^Emang kenapa? ^^^


^^^Lo perlu sesuatu? ^^^


Hehe


Pacarnya Kak Zahra ulang tahun, Kak.


Jadi nanti Kak Zahra bakal bikin banyak makanan.


Aku udah pesenin buat Kak Hara kebab Turki.


Kak Hara mau yah?


Apa urusannya Hara dengan pacar Zahra yang ulang tahun? Sungguh Hara tidak mengerti, mengapa semua perempuan sibuk memusingkan hal tidak penting.


^^^Oke. ^^^


^^^Gue balik jam delapan. ^^^


Janji yah Kak?


Aku enggak makan sampe Kak Hara dateng.


^^^Ya. ^^^


Hara bersyukur Zarina cuma sampai di sana.


Secara umum, Hara tak menyukai makhluk bernama wanita.

__ADS_1


Bukan berarti Hara gay atau punya orientasi seksual, emosional atau apa pun itu yang tidak normal. Hanya saja, Hara tidak menyukai kaum wanita. Mereka makhluk yang egois, tidak logis, seenaknya, merasa paling benar, tidak menerima perbedaan, diperbudak oleh perasaannya—simpelnya mereka menyebalkan, merepotkan.


Ada perempuan yang tidak?


Cuih, kalau kata Hara.


Sejauh penglihatan Hara, perempuan cuma ada dua jenis. Satu, perempuan yang suka cinta-cintaan macam Zarina. Dua, perempuan yang tidak suka cinta-cintaan macam Melati. Orientasi hidup Zarina lebih fokus pada cinta, kasih, pasangan, intinya sesuatu yang sejenis itu, sementara Melati fokusnya pada klub, mengasah talentanya, mencari orang-orang berbakat dalam bidang musik untuk mengejar mimpinya membesarkan seorang musisi dunia.


Tapi apakah lantas Melati yang logis tidak egois? Dia egois.


Yah, semua manusia memiliki keegoisan dan itu normal. Yang jadi masalah adalah jika dia egois terhadap hidup orang lain. Itu, menurut Hara, yang paling tidak ia sukai dari kaum wanita.


Mau soal klub, mau soal cinta, ujung-ujungnya mereka coba mendominasi.


Melati memaksanya bermain musik di depan orang padahal Hara benci. Zarina memaksanya hadir sebagai 'kekasih' padahal Hara benci.


Jadi jika ada satu hal yang menurut Hara tak akan dapat diubah, itu absolutely kaum wanita.


Masalahnya, hal lain yang juga tidak dapat diubah adalah, kebutuhan seksual manusia.


Sebenci-bencinya Hara pada kaum wanita, sejak dulu ia tetap terangsang dan menyukai bentuk-bentuk tubuh mereka. Jadi Hara tak bisa menolak semua wanita yang mencoba masuk ke hidupnya. Karena itulah Hara menanggapi Zarina.


Alasan lainnya, mereka tetangga di apartemen. Zarina bucin pada Hara, yang berarti dia rela diapakan saja meski tidak diberi status, asal mereka bisa seperti kekasih.


Poin ketiga, karena dia penurut, Zarina tidak berani mendominasi Hara ketika tahu Hara benci itu.


Ya, Hara menanggapinya untuk dimanfaatkan.


Meskipun kalau ditanya apa ia sayang pada gadis itu, tentu saja ia cukup sayang.


Hara termenung dalam kesunyian perpustakaan itu hingga matanya menangkap pemandangan tak biasa.


Lagi, gadis yang sempat dibahas Melati muncul di sana, berjalan di taman bersama Sara—si gadis pengatur lain yang membuat Hara berpikir ia dikutuk untuk dikelilingi gadis-gadis egois—Xena, Ervan dan Hendra.


Itu sedikit tidak biasa bagi Hara melihat Xena bergaul dengan orang lain. Dia gadis yang tertutup, pendiam dan senang menyendiri. Bukan dia tidak suka bicara. Dia juga cerewet. Paling hobi mengatur-atur hidup Hara seakan dirinya tak bisa memilih sendiri. Dia juga sama saja dengan semua perempuan itu. Marah kalau Hara merasa berhak bebas, marah ketika Hara memanggil ibu tirinya Tante, marah karena merasa Hara tidak menerima penyatuan keluarga mereka.


Tapi, disamping semua itu, dengan orang lain, Xena biasanya tertutup.


Hara juga tidak terlalu mengerti kenapa, mungkin karena kepribadiannya begitu? Orang-orang di keluarganya juga cenderung begitu, setahu Hara. Mengenal Xena sejauh ini cukup bagi Hara mengerti dia cuma sering bersama Hendra.


Anehnya, dia menyukai Rashi.


Agak sangat menyukai Rashi, kelihatannya.


Apalagi dia membawa Hendra juga, dan mengejutkan melihat Hendra juga suka—terlepas dari fisik—pada Rashi.


Kenapa semua orang tergila-gila pada gadis itu?


Apa yang dia punya?


Hara tidak mengerti.


Tak harus juga dirinya mengerti.


Sambil bertopang dagu, Hara menyaksikan Rashi mengajak adiknya pergi ke kolam ikan. Dia mungkin menghindari kantin karena berkonfrontasi dengan Riska tadi.


Lihat kan betapa egoisnya para gadis?


Bersaing cuma karena masalah fisik. Tidak sekalian mereka berperang karena satu lebih kaya sementara satu lagi biasa saja?


"What are you looking at?"


Hara berpaling ketika Widya duduk di seberang kursinya, ikut mengintip hingga menemukan objek tersebut.


"Oh, there she is. Gue enggak nyangka lo juga tertarik, at the first sight."


"Siapa yang bilang gue tertarik?"


Widya tertawa. "Tau, tau. Siapa yang lebih tau lo dari gue, Jerky?"


Mungkin Hara harus bilang, Widya salah satu gadis yang tidak merepotkan dirinya. Tapi itu karena Widya tak pernah menuntut Hara.


Coba kalau dia ingin sesuatu, ujung-ujungnya menuntut juga.


Pandangan Hara berpaling dari mereka ke wajah Widya. Secara pribadi, Hara sangat suka memandangi wajah cantik Widya. Dan dia semakin cantik ketika dia mengikat rambutnya yang berantakan sehabis mereka bergumul. "Lo ngapain nyari gue? Piaraan lo mana?"

__ADS_1


"Which one?"


Hara mendengkus, sementara Widya tertawa.


"C'mon, Honey. Lo tau gue mau apa kalau dateng sama lo."


Tidur bareng. Widya selalu straight to the point jika ingin sesuatu. "Gue kosong habis sekolah. Langsung ke mobil gue nanti."


"Aw, so sweet of you." Widya menopang dagu, membuang pandangannya ke jendela lagi.


Tanpa bertanya, Hara tahu dia bersedih.


Mereka beberapa kali tidur bersama dan Widya sering curhat pasal bobrok hidupnya. Dia mencari Hara—walau Hara tak tahu apakah cuma dirinya atau Widya mengundi nama siapa cowok yang dia datangi—tiap kali punya masalah.


Dia butuh **** untuk melupakan persoalan hidupnya. Lebih dari Hara, Widya menjadikan **** itu seperti oksigen. Sesuatu yang sudah dia lakukan sejak dulu hanya untuk menghibur secuil hatinya.


Yah, semua orang punya masalah hidup.


"Nyokap gue nikah sama bokapnya Alam."


O-ow. Maksudnya dia bersaudara tiri dengan peliharaannya sendiri? "So?"


"There's nothing I can do, as always. But, hey, guess the good thing. Mungkin sekarang gue bisa nyoba fetish inses, biarpun itu enggak termasuk inses, I guess?"


Hara mengedik. Hidup Widya bukan urusannya dan ia tak tahu harus merespons seperti apa.


"Ngomong-ngomong," Widya tak minta solusi, jadi begitu dia selesai—atau setidaknya meluapkan yang paling menjengkelkan dalam hatinya, pembicaraan teralihkan, "lo enggak mau coba tidur sama Rashi?"


"Kenapa lo pikir gue tidur sama sembarang orang?"


"Justru karena itu gue tanya." Widya tertawa kecil, tak sampai mengganggu aktivitas para pembaca di dekat mereka. "Kayaknya dia setipe sama gue. Tipe yang paling enggak suka dikekang atau ngekang orang. Well, cuma penilaian pribadi, dari cara dia ngomong."


Benarkah? Meski begitu, Hara tetap tidak menemukan alasan kenapa harus melakukan itu.


"Tapi lo tau bagian paling menarik dari Rashi?" Widya mengulas senyum lebar memandangi bagaimana Rashi tertawa bersama adik dan teman-temannya. "Dia hipokrit. Tipe yang enggak akan pernah jujur di depan siapa pun."


"How could you know that? Feeling perempuan, huh?"


"Fifty fifty. Lo udah denger tadi dia diganggu sama Riska, kan?"


"Hm, dan lo jadi superhero kepagian."


Widya mendengkus. "Enggak ada yang enggak tau Riska di sekolah kita. Tukang bully nomor satu. Biarpun dia sebenernya enggak sehebat itu, but still, she's the best one, of doing something like that. Dia bukan cewek penakut apalagi kurang intimidatif. Dan tadi pagi Rashi diliatin banyak orang, bareng sama adeknya yang masih kecil, dikerjain sama Riska itu."


"And what's the big deal?"


"Dia ngeliat Riska kayak ngeliat anak bayi nangis-nangis."


Kening Hara berkerut. "Ngeremehin?"


"More than that. Coba bayangin lo segede ini, hadepan sama anak bayi yang bahkan belum bisa ngomong, cuma tau nangis dan nangis. Terus anak itu melototin lo seakan-akan dia nantangin lo. Lo bahkan enggak perlu gerak buat menang. Lo emang udah menang sebelum dia nantangin lo. Only if you know what I mean."


"Itu sombong, bukan hipokrit."


"Ow, Hara. Jangan terlalu cepet ngambil kesimpulan." Widya menggeleng prihatin. "Bukan berati dia sengaja. Lo tau gue bukan orang yang bisa segampang itu dikibulin dari sikap. Orang yang sengaja keliatan baik sama orang yang emang dasarnya baik, selalu beda dari sikap sama omongannya."


"Oh, there it goes again." Hara memutar mata. Bosan mendengar orang memandang tinggi gadis baru itu.


Apa sih yang mereka lihat? Kenapa cuma Hara yang tidak paham?


"Apa cuma gue yang buta soal dia?"


"Itu karena lo nutup mata lo sama barier 'semua cewek cantik itu ngerepotin'," balas Widya santai. "Tapi, gue enggak mau bilang dia sempurna. Maksud gue, dia baik. Dia tulus dan baik. Tapi dia juga hipokrit."


"Sependek pengetahuan gue, hipokrit itu lawannya tulus."


"Bukannya karena itu dia menarik?"


Hara terbungkam.


"Menurut lo, gimana bisa dia keliatan tulus tapi juga kesannya hipokrit? Gimana kalau dia tulus terus dia hipokrit juga? Atau dia cuma hipokrit yang keliatan tulus? Atau dia terlalu tulus sampe keliatan hipokrit?"


Pandangan Hara bergeser ke arah Rashi Anuja lagi. Kini, di kepalanya terngiang banyak sekali pertanyaan. Namun ada satu yang paling Hara utamakan.


Kenapa ... seolah-olah semesta mendorong Hara untuk mengenal dia siapa?

__ADS_1


...*...


__ADS_2