Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
7


__ADS_3

...Di mana aku temukan dirimu, kepingin rindu yang kurindu? ...


...♔...


"Mimpi buruk?"


Rashi mengangguk sebagai pembenaran pertanyaan Rasya yang terbanting oleh kenyataan. Ia tak mau mengingat sedikitpun soal mimpi barusan hingga sudi menampar jiwanya untuk segera amnesia.


Tak memberi ruang bagi bayangan apa pun datang, Rashi yang sudah selesai menangis pun menjauh dari Rasya. Agak sedikit malu sebab ia ketahuan menangis di depan Abah juga.


Mereka tak banyak berkata.


Membiarkan, seolah tahu Rashi terluka.


Diam-diam, Rashi menyentuh perutnya, pada perban yang masih ia biarkan melilit di sana untuk menjaga bekas jahitan operasi aborsi kemarin. Kembali Rashi merasa bagian itu nyeri, belakangan ia sudah terbiasa menahannya dan memang sudah kering.


Perutnya tidak membesar, dan apa pun omong kosong soal manusia tumbuh di dalamnya itu fana.


Materi anatomi otak adalah salah satu pelajaran wajib yang diberikan Mahesa padanya. Mahesa bilang, untuk memahami sampai membaca pikiran seseorang, salah satu dasarnya adalah mengerti hal-hal mendasar pula dari seorang manusia. Selain belajar tentang materi perbedaan otak pria dan wanita, Rashi juga pernah belajar perbedaan otak gadis dan wanita hamil. Secara kasar, sirkuit otak perempuan akan berubah dan akan terus berubah mengikuti perkembangan janinnya.


Bukan hanya terjadi perubahan secara psikologis, melainkan memang secara biologis. Meskipun dulu Rashi sudah mengerti, ia tak menyangka perubahannya akan seperti ini.


Anak itu belum memiliki jiwa, masih berupa gumpalan daging kecil yang berproses membentuk mata, hidung. Dan baru beberapa hari Rashi menyadari dia ada. Tapi Rashi bahkan tak bisa mengerti mengapa rasanya kepergian anak itu lebih sulit ia tangani daripada kehilangan Ayah.


Padahal kehilangan Ayah sudah cukup membuatnya ingin hancur.


Bayinya.


Dia tidak boleh bernama Dias.


Dia lebih cocok bernama ....


Tidak. Jangan lakukan itu atau dirinya menjadi semakin tidak waras. Dia hanya kesayangannya. Dia tak memerlukan nama untuk Rashi mencintai dan merindukannya.


Lagipula ia ibu yang jahat, tak bisa melindungi buah hatinya.


"Mama!" Lamunan yang hampir membuat Rashi terisak langsung pecah melihat Yatha berlari dari arah belakang sofa tempat ia duduk. Anak itu mendorong kaki-kaki kecilnya menjangkau tempat Rashi sambil membawa sekuntum bunga mawar di tangannya. "Mama, ini buat Mama."


Rashi fokus pada hal lain. "Yatha, itu ada durinya."


Namun Yatha menggeleng. "Dibelsihin sama Abang Canda." Yatha memeluk lutut Rashi, menyerahkan bunga mawar pink itu lagi. "Mama. Kata Abang Canda, bidadali enggak boleh nangis."


Rashi terperangah.


Rasya melongo dan Abah sampai tersedak kopinya.


Detik berikutnya Rashi tertawa, menerima bunga itu meski sekali lagi salah fokus pada yang lain. "Abang Candra bilang begitu?"


"Iya." Yatha dengan polos mengangguk. "Mama jangan layu kayak daun. Mama cantik aja kayak bunga ini. Yatha enggak suka Mama sedih. Tapi Yatha enggak boleh nangis kayak Kapten Amelika."


Tawa Rasya membahana memenuhi keheningan. Rashi mengerjap antara harus ikut tertawa tapi takjub juga Candra mengajari adiknya sesuatu seperti merayu perempuan. Dilihat Abah yang menghela napas dengan wajah 'itu bukan anak saya' sebelum Rashi akhirnya ikut tertawa.


"Jangan gaul kamu sama buaya sungai kayak Candra." Rasya menepuk-nepuk kepala Yatha di pangkuan Rashi. "Lama-lama diajarin nembak cewek."


"Nembak cewek apa Mama? Kenapa ditembak?"


Rashi menunduk, mengecup pipi Yatha tanpa menjawab pertanyaannya. "Makasih, Sayang. Cantik banget bunganya."


"Kayak Mama."


"Kata Candra, Yatha?" Abah malah bertanya.


"Iya." Yatha mengangguk sangat amat pasti. "Katanya, Mama itu bidadali. Cantik, wangi, harus dipeluk."


Sementara Abah dan Rasya tergelak karena perkataan Yatha, Rashi menoleh ke belakang. Menemukan Candra melotot ganas ke arah mereka, namun langsung berpaling ketika Rashi melihatnya.


Samar-samar terlihat dia mengumpat, reaksi normal ketika dia ketahuan berbuat konyol dan tak tahu harus apa.

__ADS_1


Kenapa Candra mengatakan itu pada Yatha? Sekadar mengajarinya kalimat agar Rashi terhibur? Tapi kenapa dia melotot seolah kesal Yatha mempermalukannya?


Masa, sih? Pikir Rashi, saat terlintas alasan yang sudah begitu sering ia hadapi.


Candra tak muncul lagi bahkan ketika Uma datang. Dia sibuk di taman samping rumah sendirian sementara Rashi bercengkrama dengan Uma dan Sara.


Seperti biasa, tidak ada ketenangan kalau sudah ada Sara, apalagi bertemu Yatha.


"KAMU KASIH BUNGA KE RASHI?!!!! IHHHH, LUCU BANGEEEET!!" Sara memeluk brutal tubuh Yatha, mencium-cium dan menggoyangkannya sesuka hati. Yatha tidak terlihat nyaman, namun dia menyukai Sara yang suka memanjakannya, jadi pasrah. "Aku juga mau bunga, Yathaaaaa! Kasih Kakak juga bunganyaaaaa!"


Dia aman, setidaknya. Rashi memilih berkutat di dapur bersama Uma untuk menyiapkan makan siang bersama.


"Kamu enggak bilang-bilang mau dateng, Nak. Tau begitu Uma enggak pergi tadi."


Rashi tersenyum kecil memotong-motong wortel untuk sup mereka. "Maaf, Uma. Aku pikir Uma di rumah sama Abah."


Uma Dahlia terkenal sebagai salah satu bibinya yang paling lembut. Sudah sangat teruji, karena memiliki anak sebadung Candra dan secerewet Sara.


Hawa keberadaan Uma dan Ibu sangat berbeda. Ibu cenderung galak, tegas dan tipe yang tidak suka berlemah lembut—meski tentunya Ibu juga punya sisi lembut, seperti datang ke kamar Rashi menemaninya tidur saat sakit, pulang sekolah menyiapkan makanan kesukaan Rashi di meja, atau kalau Rashi sedang takut tidur sendiri, Ibu akan mengajaknya tidur bersama di kamar mereka—sedangkan Uma, dari pembawaannya pun sudah lembut. Tak perlu banyak bicara, ditatap dan diusap saja rasanya sudah sangat disayang.


Uma tahu Rashi habis menangis, jadi dengan hati-hati Uma memeluknya disela-sela aktivitas masak mereka.


"Yang sabar yah, Sayang. Masih ada Uma sama Abah buat kamu."


Menghadapi orang selembut ini justru membuat Rashi sungkan terlihat sedih. Karena ia pun bersifat sama, dan Rashi selalu merasa sakit melihat orang lain bersedih. Rasanya sangat tidak nyaman jika Rashi melihat, apalagi dihadapkan pada keterpurukan orang. Menurut Rashi, Uma juga sama hingga air matanya terblokir di depan wanita ini.


Rashi cuma tersenyum tegar. "Makasih, Uma."


Uma mengangguk. Kembali melihat kompornya untuk membalik ikan goreng di wajan. "Jadi kamu mau pindah ke sekolahnya Candra?"


"Iya, Uma."


"Bagus itu. Nanti kalian bisa berangkat bareng ke sekolah. Kamu ada yang jagain juga. Pokoknya kamu tenang aja, Uma sama Abah yang bakal urus sisanya buat kamu."


Sepertinya, tidak akan ada hambatan Rashi pindah ke Maespati. Mahesa menyingkirkan semuanya agar Rashi bisa pindah, bahkan satu kelas dengan Candra.


Entah apa yang dia pikirkan, tapi Rashi tak bisa membatalkan niatnya demi Yatha juga.


Uma sempat mau bernegosiasi agar Rashi tetap menitipkan adiknya saja ke rumah ini daripada menyusahkan diri, tapi justru sekarang Abah dan Rasya membelanya. Mengatakan tidak masalah selama Rashi tidak terganggu.


Mereka tak ingin melihat Rashi menangis lagi.


Para orang tua termasuk Rasya pergi berdiskusi, dan Rashi bersama Sara paham harus memberi mereka ruang. Karena Yatha berlari menuju taman tempat Candra mendekam—dia sepertinya sangat malu sampai ketika Uma memanggilnya makan, Candra bilang nanti saja.


"Abang kesambet apa tiba-tiba enggak laper? Aku kira Abang udah mau mati karena enggak sarapan." Sara mencibir saat Candra cuek bermain handphone.


Rashi tersenyum kecil, menggeleng atas kesinisan itu. Ia sudah bilang Sara sering curhat soal kakaknya, kan? Setiap kali bertemu Rashi di acara keluarga, entah pernikahan, lebaran atau selamatan, Sara akan selalu curhat soal 'abang begini, abang begitu' yang sebenarnya jika ditelusuri, dia mau diperhatikan, Candra-nya terlalu cuek.


"Cand." Rashi menepuk bahu Candra agar dia menoleh. "Enggak laper? Mau gue ambilin makan?"


"Hah? Enggak usah. Santai aja."


Tak memaksakan apa pun, Rashi mengangguk dan berlalu untuk ikut duduk di selasar tempat Sara duduk memeluk Yatha. Ia jarang masuk ke rumah Uma, sebenarnya, karena memang Rashi tak punya waktu berkunjung. Kalau bukan karena Yatha, Rashi mungkin tak pernah menginjakkan kaki di teras Uma kecuali nanti Candra atau Sara menikah.


Ia sama sekali tidak tahu kalau Uma membuat taman hijau kecil bernuansa alam di sisi rumah.


Ukurannya tak besar. Mungkin sekitar dua kali tiga meter. Intinya kecil dan sempit, namun cukup untuk bisa menikmati hijaunya rumput, siraman matahari pada tembok abu-abu yang dirambati tanaman menjalar, dan beberapa koleksi bunga baik berjenis kembang dan aglonema langka. Bebatuan kecil yang berserakan menjadi pijakan juga terlihat bersih.


Suasananya nyaman untuk menenangkan pikiran di sini.


"Berarti nanti kalau kita sekolah, lo bawa Yatha juga, terus dititpin di playgroup sekolah?"


Rashi mengangguk saat tersenyum kecil melihat Yatha mengoceh pada bunga. "Rencananya."


"Tapi gue enggak tau deh, Rashi, murid boleh ikut nitipin anaknya di sana atau enggak. Maksud gue, kayak itu playgroup emang khusus buat guru aja."


Ada Mahesa.

__ADS_1


Mustahil tidak bisa.


Dan Rashi benci hatinya yang sama sekali tidak gelisah. Seolah-olah sejak ia tahu Mahesa ikut campur, mau masalah bagaimanapun pasti teratasi.


Padahal ia sendiri yang bilang jangan ganggu hidupnya lagi.


"Kenapa enggak dititipin sama Uma aja, sih? Kan lebih tenang kalau dititipin sama Uma. Eh, tapi kalau Yatha ke sekolah, berarti boleh ngeliat tiap istirahat dong." Sara kembali menciumi pipi adiknya brutal. "Bisa liat Yatha tiap hari. Muach. Muach. Muach. Nanti kamu main sama Kakak, yah?"


Rashi terkekeh. "Mama juga mau sama Yatha, yah? Di sekolah main sama Yatha juga."


"Iya. Mama sama Yatha aja."


"Kakak juga dong."


"Mama sama Kakak sama Yatha."


"Ckckck." Candra tiba-tiba bersuara. "Bahaya adek lo. Masih kecil udah jadi playboy."


"Dih, sembarangan."


"Biarin!" Sara menjulurkan lidah. "Yatha playboy emang dasarnya ganteng. Abang tuh, buaya tulen. Kelakuannya udah buaya, mukanya juga mirip buaya."


"Play boy?" Yatha memiringkan wajah.


Tentu saja sebelum dia diracuni pemikiran tidak jelas, Rashi meluruskan. "Play boy itu artinya anak kecil suka main. Yatha suka main, kan?"


"Suka, Mama! Yatha suka main sama Mama!"


"Sini dong peluk Mama."


Yatha melepaskan diri dari pelukan Sara, menubruk tubuh Rashi hingga lukanya terasa nyeri.


"Ih, gue juga mau dipeluk. Yatha sini dong peluk Kakak."


"Mau sama Mama aja."


"Kok gitu, sih?!"


Dia capek dicium-cium.


Tapi Sara tidak mau menyerah. Gadis itu langsung bangkit, mengatakan dia punya camilan dan es krim yang langsung membutakan mata Yatha. Dia pura-pura tidak mau memberikannya, semata agar Yatha merengek mengikutinya berjalan entah ke mana.


Rashi cuma geleng-geleng melihat kelakuan adik sepupunya. Dibiarkan mereka pergi, daripada Sara cemburu lagi.


Pada kesempatan itu, Rashi berbalik menghadap Candra yang masih betah duduk di atas kursi.


"Abang."


Cowok itu menggeser ponselnya sedikit. "Ketularan juga lo. Enggak sekalian manggil gue Canda juga."


"Bang Cand aja boleh?"


"Enggak jualan bakso. Apa manggil-manggil?"


Rashi menepuk paha Candra, pura-pura cemberut. Tapi kemudian tawanya mengalun lembut. "Makasih, yah."


"Buat?"


"Bunganya."


Otot wajah manusia tidak akan pernah bisa berbohong.


Sekalipun ekspresi Candra diblokir oleh testosteron, Rashi yang terbiasa membaca wajah seseorang dari Mahesa, mengetahui ada senyum tertahan di wajah Candra yang salah tingkah.


"Percaya aja lo sama Tuyul Sesat. Itu mah gue ngajarin doang. Bukan dari gue."


"Dari lo juga enggak pa-pa kok, Bang Cand." Rashi menyengir iseng saat ia tahu cengirannya itu cantik.

__ADS_1


Sipu malu di wajah Candra makin nampak ketika dia buru-buru beranjak pergi.


...*...


__ADS_2