Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
13


__ADS_3

...“I don't do drugs, I am drugs.”...


...♔...


"She's amazing, isn't she?"


Hara mengalihkan pandangan sekilas dari jalanan memutar yang menuntun mereka ke gerbang sebelah untuk keluar. Sekalipun dalam hidupnya, Melati Sukma Dewi adalah satu dari sekian orang yang mau Hara blacklist, terpaksa ia tahu kalau gadis ini tidak akan sembarangan memuji orang.


Dia tidak punya mata batin—atau hati, atau apa pun—untuk melihat kebaikan orang. She's definitely an evil. Jadi jelas Hara tahu, amazing itu tidak berarti baik jika keluar dari mulut Melati. "How did you know that, Mel?"


"Karena cuma orang amazing yang bisa ngeluarin aura kayak gitu, Boy."


Sulit menahan diri untuk tidak mendengkus. "Enggak sekalian lo bilang ngeliat auranya pake Gyo."


"Gue serius, jerky. Orang rendahan macam lo emang enggak bisa ngeliat." Melati mendengkus balik, lantas membuang muka ke jendela samping mobil Hara. Tentu saja Hara amat sangat tahu, Melati tidak akan puas sampai seluruh pendapatnya dibenarkan. "I don't know why but she seem so familiar. Gue ngerasa kayak, ngeliat sesuatu yang luar biasa tapi ketutup. Tapi saking luar biasanya, masih agak keliatan. Don't you feel it?"


"I don't even know what you're talking about."


"Be honest, Hara."


"Ngapain gue bohong?"


Tapi, sekarang Hara jadi memikirkannya, karena Melati terlihat serius memikirkan itu.


Hara akui, gadis itu luar biasa.


Di kantin tadi, Hara bisa menyaksikan sangat banyak pasang mata dari orang-orang terpopuler di sekolah memandang ke arah Rashi seperti singa mengintai mangsa, kelaparan. Cuma sekilas Hara melihat dia buka masker tadi, dan itu sudah cukup untuk membuat Rashi jadi gadis paling cantik, paling cantik, yang pernah Hara lihat secara langsung dalam hidupnya.


Mungkin kalau Hara mau mengatakan dia salah satu gadis paling cantik yang pernah ada, itu tidak berlebihan. Bukan cuma wajah, segala hal tentang dirinya terlihat sangat indah seolah-olah dia ciptakan untuk disembah dan dipuja.


Jelas dia memang amazing, dari segi fisik.


Masalahnya, kenapa Melati yang cuma terobsesi pada musik dan mencari orang berbakat untuk kepentingan klubnya, malah bicara soal Rashi amazing? Dia memang amazing, makanya Melati berencana mengajak dia masuk ke klub musik untuk mencari lebih banyak anggota—budak klub. Tapi hal luar biasa apa yang Melati lihat sampai dia lupa niat awalnya, sibuk memikirkan kenapa Rashi begitu luar biasa?


Lagipula bagi Hara, dia merepotkan.


Kenapa? Dia cantik.


Semua perempuan cantik, pasti merepotkan. Makin cantik, makin merepotkan. Apanya yang luar biasa?


"Hmmmm. Lo serius enggak ngerasa aneh?"


"Lo enggak ngelindur, kan?"


Hara terkejut karena untuk pertama kali Melati yang dibantah—disindir—terlalu sibuk melamun sampai dia tidak membalas. Gadis itu melipat tangan di belakang kepala, duduk menatap ke langit-langit mobil seolah dibutuhkan kerja keras memikirkan si anak baru terkenal itu.


"Dia terlalu cantik. Dan ternyata pinter di kelas. Pindahan dari Asgard, dan katanya salah satu yang paling elit di sana. Dalam sehari enggak cuma bikin orang kaget dia bawa anak kecil, dia juga geser posisi Widya sebagai cewek paling cantik di sekolah. Latar belakangnya enggak luar biasa juga. Enggak keliatan sombong, enggak keliatan sengaja cari perhatian."


"...."


"Is she even a human? She's too hot, too lovely to be true."


Apa Melati mendadak gila?


Kenapa dia membicarakan Rashi seakan-akan dia pemuja fanatik yang menatap idolanya melampui batas? Tapi sekali lagi, Hara merinding karena ini pertama kali ia melihat Melati terobsesi pada seseorang diluar dunia musik.


Melati terobsesi pada Hara—memperbudaknya sepihak—karena bakat Hara yang pas dijadikan maskot klub. Bukannya di kantin tadi dia bicara akan menyeret Rashi ke klub mereka agar semua lelaki berbondong-bondong datang dan dia akan memilah siapa saja selama ini menyembunyikan bakat musik mereka darinya?


Saat Hara mulai berpikir untuk mencari tahu bagaimana cara mencegah orang gila jadi semakin gila—Melati sudah cukup gila untuk mengacaukan hidup Hara—mendadak itu dibuat sadar.


Betapa serius maksud Melati.


Sekarang dia menaikkan kakinya ke atas jok, menopang dagu dengan mata menatap kosong ke depan. "I hate this feeling. Suddenly, I feel like I'm in love with her but I'm afraid of her."


Oke, dia serius.


Masalahnya Hara tidak bisa mengerti dalam hal apa Melati menganggap Rashi menakutkan. Apa itu sesuatu yang membuatnya merasa terancam? Sesuatu seperti, popularitas Rashi akan membabat habis popularitasnya?


Tapi Melati bahkan tidak membahas klub sekarang.


Melati menghela napas sendiri, menurunkan kakinya lagi dan bersikap seperti biasa. Itu karena ponselnya tiba-tiba berdering, menampilkan panggilan yang baginya sangat penting.


Langsung, sang Diktator Klub Musik kembali.

__ADS_1


"Ya, halo? Oke, gimme 15 minutes. I'm on my way. You—WHAT? IS HE THERE?!" Melati tertawa kencang. "10 minutes. Bilang sama Mahesa gue bakal narik pasukan gue kalau dia ngeles bilang sibuk! Cool. See you there."


Air wajah Melati langsung semringah seolah seluruh omongan tak jelasnya tentang Rashi hanya omong kosong.


"Mahesa bakal ikut rapat hari ini. Tumbenan banget si Brengsek itu mau repot-repot ngurusin event kecil. Pasti ada sesuatu. Buruan, Hara. Banyak yang mau gue omongin sama Mahesa."


Hara cuma memutar mata, patuh daripada repot melihat antusiasme Melati.


Kenapa semua orang menyukai bajingan itu, bahkan Melati?


Entah untuk alasan cinta atau ketertarikan pada karisma pemimpinnya, semua orang nampaknya gila karena Mahesa.


Ini melelahkan.


...*...


"ABANG!"


Rashi buru-buru meletakkan telunjuk di depan bibirnya sebagai isyarat agar Yatha diam. Anak itu latah menirukan gerakannya, berubah dari yang tadinya lari jadi mengendap-endap.


Tindakannya memancing senyum Rashi, decak gemas Sara meskipun gadis itu sebal melihat posisi tidur abangnya belum berubah. "Abang tidur yah, Sayang. Yatha usek-usek aja abangnya. Biar mimpi indah."


"Ih, kok lo malah suruh gitu, sih? Bangunin aja!"


"Udah, lo sini aja." Rashi tak mau mendengar perdebatan atau pertengkaran atau apa pun itu yang memancing keributan. Ditarik kursi yang Rashi ingat tempatnya Ervan, plus memberi Yatha kursi juga agar dia tak perlu berdiri memandangi Candra terus. "Tadi gue ketemu Melati. Katanya dia ketua klub musik, yah?"


"Mela?" Sara segera teralihkan dari Candra. "Kalian kenalan? Yah, wajar, sih. Mela pasti ngajak lo gabung ke klubnya, iya, kan?"


Sepertinya begitu, walau tadi dia cuma hilang 'kalau mau join ke klub'. "Kok tau?"


"Soalnya lo jadi artis sekolah, Rashiiii!" Sara berucap melengking, tampak gemas akan sesuatu. "Lo tau enggak sih di sekolah ini tuh ada dua cewek, eh, tiga deh, cewek cantik banget. Cantiiiiiikk banget diantara semua yang cantik. Namanya Widya, Riska, sama Juwita. Juwi satu angkatan gue, kalau yang dua satu angkatan lo. Dan lo langsung ngalahin mereka bertiga, tau enggak?!"


Rashi meringis. Ia senang dipuji cantik dan diakui, tapi itu berarti ... musuhnya akan tambah banyak. Persoalan cantik akan selalu jadi alasan dasar gadis saling memunggungi. Terlebih cantik memang menjadi patokan utama laki-laki menyukai kalian.


Secara singkat, Rashi mencuri perhatian sebagian besar laki-laki di sekolah dari yang tadinya ke mereka, pindah ke dirinya.


Bukan berarti Rashi bersedih atau sesuatu, sih. Tapi ia cuma berharap tidak perlu terlibat hal yang tidak penting sama sekali.


"And the most important part adalah," Sara menunjuk Candra yang masih setia mimpi indah, "dua-duanya mantan Abang."


"Ya, sebenernya bukan mantan juga, sih, mungkin?" Sara mengangkat bahu. Sempat-sempatnya mengulurkan tangan mencubiti pipi Yatha yang melongo melihat mereka. "Tapi Abang pernah deket sama mereka berdua. Emang tuh, Abang berengsek, makanya suka gitu. Ceweknya dibaperin sebentar, terus udah ditinggalin. Emang enggak pantes hidup!"


Rashi melirik Candra, mulai merasakan firasatnya buruk.


Secara singkat, dua mantannya itu punya kesan buruk pada Candra, kan?


Posisi Rashi makin buruk, karena sepertinya Candra tertarik padanya.


Huft! Jika harus jujur, hal yang paling lucu namun menjenuhkan dalam hidupnya sebagai gadis cantik, adalah soal percintaan. Ia tak pernah lepas dari hal itu sekalipun Rashi jadi kekasih Mahesa dulu. Tak bisa menghentikan orang suka padanya, dan ia juga tak bisa menolak kebencian dari kecemburuan gadis lain.


Lagi, Rashi harus mengandalkan saran Mahesa dalam hal ini. Tetap terkendali adalah kunci hidup tenang sekalipun seluruh sisi ia terserang.


"Terus lo kenal Hara, Ra?"


"Hara?"


Yatha rupanya enggan dicueki dan tidak betah duduk di sebelah Candra yang tidur. Makanya anak itu pindah ke pangkuan Rashi, ikut bicara juga. "Mama ngomongin apa?"


"Temen Mama tadi sayang. Yang tos sama Yatha itu." Rashi memeluk Yatha agar terdiam tenang dulu. "Hara angkatan lo yah, Ra?"


"Iya, emang kenapa?"


Mukanya menunjukkan dia cukup muda. Entah kenapa Rashi bisa menerka dari wajahnya dia lebih muda. Mungkin karena dia manis dengan cara yang berbeda dari Ervan? "Dia asli Papua?"


"Lebih tepatnya Nusa Tenggara. Fun fact, Hara itu sepupuan sama Xena."


Rashi mengerjap. "Xena kan Chinese."


"I know that feeling! So interesting. Karena ternyata, satu keluarganya Xena itu Chinese semua kecuali Hara sama bokapnya. Bokapnya Hara nikah sama tantenya Xena. Karena itu Hara sekolah di sini, karena Xena juga sekolah di sini."


Itu memang menarik. Bukan masalah rasisnya. Dua ras yang warna kulit berlawanan coba saling berhubungan satu sama lain. Seperti kata Sara, itu menarik. "Tapi Hara enggak keliatan campuran Chinese."


"Mereka sepupu tiri. Hara punya ibu lain, terus orang tuanya cerai, bokapnya nikah sama tantenya Xena itu."

__ADS_1


"Oh, oke." Rashi mengangguk-angguk mengerti. Semakin dibuat tertarik membahas adik kelas manis itu. "Dia sama Melati ada sesuatu? Deket gitu, maksud gue?"


Sara mengerjap. "Um, no? Why you asking me that? Omg, jangan bilang—"


"He's cute. Gue suka matanya."


Adiknya ternganga, melolot sangat lebar seolah Rashi baru mengungkap sebuah fakta super spektakuler seperti 'Rashi-lah penyebab perang dunia ketiga nanti'. "LO NAKSIR HARA? HARAAAAA?!!"


Saking melengking suara Sara, Candra terlonjak dari kursinya, dan Yatha menutup kuping ketakutan. Tapi Sara terlalu kaget untuk peduli dampak teriakannya, karena dia sibuk tergagap-gagap.


"Omaygat, omaygat, omaygat!"


"Harus banget lo teriak?!" Candra menggebrak meja emosi.


"Shut up! Abang harusnya bangun dari tadi! Ini udah jam pulang dan gara-gara Abang, kita nunggu sejam!"


Rashi tak bisa melerai perdebatan sepasang saudara itu. Kepalanya menunduk, mendorong Yatha dari perutnya untuk menemukan bekas cairan lengket mencetak di bagian bekas operasi aborsi itu.


Oh, Tuhan.


...*...


Candra jadi frustrasi sekarang.


Ia kelepasan tidur gara-gara kemarin sama sekali tak tidur, sibuk kepikiran soal Rashi sambil main game di PS5-nya. Berharap ngantuk, ternyata malah kelepasan sampai pagi. Candra juga kepikiran interaksinya dengan Rashi malah jadi seperti teman.


Padahal Candra mau lebih dari teman.


Masalahnya, Candra juga salah tingkah sendiri, bingung dan gelisah jika Rashi malah risi ia terlalu agresif. Rashi kan baru berduka. Apalagi, mereka sepupu.


Tidak semua orang memandang hubungan romantis dengan sepupu itu wajar, terlebih jika sepupunya anak dari saudara orang tua sendiri.


Candra makin keder melihat Rashi semudah itu membaur di kelas. Senyum dan pembawaannya yang santai membuat semua orang langsung suka pada Rashi, meskipun dia jadi terlihat menakutkan karena ngambis sewaktu pelajaran.


Sebelum Candra benar-benar tidur, Ervan sempat berbisik di telinganya mengatakan, "Enak banget setan kayak lo malah punya sepupu bidadari. Enggak adil lo, Bangsat."


Tadi Candra membalasnya congkak, berhasil membuat teman-temannya keki dan iri. Tapi sekarang Candra merutuki diri sendiri yang mungkin memang setan, tidak berguna sampai-sampai membuat Rashi harus menunggu.


Mana sabar pula dia menantinya.


Ia mau minta maaf, tak mau Rashi sampai memandangnya sebagai sosok menyebalkan karena tidak bertanggung jawab. Cuma, Candra jaim dong, terlebih ada adiknya yang super menyebalkan, mengomel-ngomel dan mengutuknya sejak tadi di belakang.


Pada akhirnya, Candra menyetir dalam diam.


Jika diukur dari sekolah mereka, jarak rumah Rashi lebih jauh dari kediamannya, jadi Candra langsung menepikan mobil lebih dulu di rumah untuk menurunkan Sara, biar bisa berduaan—bertiga sih, lebih tepatnya—mengantar Rashi ke rumah.


"Awas aja. Sara aduin Uma biar Abang enggak dikasih makan! Dasar Koala!"


Candra berdecak jengkel. Dirinya tahu salah, jadi bisakah dia berhenti mengungkit-ungkit?


Bukan seperti Candra sengaja.


Tapi lupakan saja dia.


Mobil itu segera melaju kembali dengan kecepatan yang lebih lambat. Candra menoleh ke samping, mendapati Rashi bersandar lemas di mobil sementara Yatha tampak damai tidur bersandar di dadanya.


Terbersir rasa cemburu di hati Candra, yang jelas tidak penting karena Yatha cuma bocah ingusan.


Daripada itu, Candra lebih fokus melihat wajah Rashi lagi-lagi kesakitan seperti waktu di mal lusa kemarin.


Apa perutnya sakit lagi? Candra tidak mengerti mengapa gadis-gadis suka mengeluh tentang mensnya, padahal Uma tidak. Apa ada perbedaan sakit antara yang sudah melahirkan dan belum?


Instingtif saja, Candra memberhentikan mobil di depan minimarket. Rashi ternyata sadar mobil berhenti lagi hingga dia membuka mata dengan cara yang terlihat sangat ... lelah dan sakit.


Karena pewarna bibirnya memang samar, dia mulai terlihat pucat seperti akan pingsan.


"Cand?"


Candra mengulurkan tangan hati-hati, mengusap pipinya sekilas. "Tunggu di sini." Lalu keluar mobil, untuk menyesali perbuatannya.


Duh, kenapa juga harus pakai elus pipi? Kalau ketahuan Candra suka dan dia menjauh, bagaimana? Tapi Candra juga tidak merasakan penyesalan mendalam. Justru bibirnya tersenyum-senyum, karena pipi panas Rashi itu terasa lembut dan kenyal.


Susah memang kalau cantik. Segala sisi pasti juga cantik.

__ADS_1


...*...


__ADS_2