
Hidup dalam kebohongan sudah jadi kebiasaan Rashi sejak bersama Mahesa. Tak heran kalau dirinya bahkan tak merasa bersalah Candra percaya kebohongan itu sampai hari esok.
Rashi tengah berbaring lemas di kasur dengan kening ditempeli plaster kompres demam, hidung memerah setelah berkali-kali bersin. Di tangannya ponsel menyala, membaca chat dari Candra yang bertanya kondisinya bagaimana.
Udah baikan?
^^^Udah kok.^^^
^^^Kan udah hari kedua.^^^
Jadi cuma hari pertama?
^^^Iya.^^^
^^^Makasih yah abang:)^^^
Mau gue bawain cokelat gak?
Sara kalau mens kayaknya minta cokelat mulu.
Jadi diam-diam dia memerhatikan adiknya.
Rashi terkekeh geli membaca kata yang akan mengundang dua reaksi berbeda dari Sara. Satu, dia akan mengamuk sebab Candra yang bodo amat itu malah menawari Rashi cokelat padahal adiknya tidak pernah; dua, dia akan tersipu-sipu karena Candra me-notice kebiasaannya makan cokelat tiap menstruasi.
^^^Sama es krim enggak abang?^^^
Dih ngelunjak.
^^^:(^^^
Apa :(
Mau?
^^^Hehehe.^^^
^^^Enggak usah deh.^^^
^^^Nanti ada yang cemburu.^^^
Sapeeeee?
^^^Yang suka nangis enggak diperhatiin dong.^^^
Hah?
^^^Oh banyak yah?^^^
^^^Sara maksud gue bang cand.^^^
Yaelahh.
Serius gue nih.
Mau cokelat sama es krim?
Rashi terkekeh, sadar sudah mempermainkan niat Candra.
Jadi benar Candra suka padanya.
Dia yang selalu sukses membuat Uma dan Sara curhat betapa bodo amatnya dia pada dunia malah repot-repot menawarkan cokelat.
Tidak sedikitpun Rashi merasa terganggu apalagi heran. Terbiasa pada orang seperti Mahesa mau tak mau membentuk mentalitas dan keterbukaan pikirannya terhadap segala sesuatu. Mahesa mengajarinya untuk belajar menerima apa pun, apa pun, dan tidak gampang bereaksi terhadap hal-hal sepele.
Disukai dan dibenci ibaratnya sudah mendarah daging dalam diri Rashi. Ia tahu kenapa orang suka padanya dan ia tahu mengapa orang benci padanya.
Kata Mahesa, dua hal tersebut bukan hal yang perlu repot ia pikirkan dalam-dalam.
^^^Lagi demam.^^^
^^^Enggak boleh makan es krim :(^^^
Hah?
Lo sakit?
Enggak sekolah dong lo besok.
^^^Sekolah kok.^^^
^^^Cuma flu biasa masa enggak sekolah.^^^
^^^Udah sebulan lebih enggak masuk.^^^
^^^Nanti enggak naik kelas.^^^
__ADS_1
Jadi tetep gue jemput besok?
^^^Enggak usah.^^^
^^^Berangkatnya sama Rasya.^^^
^^^Nanti pulang baru sama lo.^^^
Oh oke.
Istirahat.
Main hp mulu enggak sembuh-sembuh besok.
^^^Kata yang suka begadang main game -_-^^^
Gue sehat.
Elo kagak.
^^^Enggak gila abang :(^^^
Lah malah baper.
Dah lah tidur.
^^^Elo juga?^^^
Serah lo rashi.
^^^Selamat bobo cand.^^^
Bobo amat ya ampun.
^^^Hehe.^^^
Rashi mengikik geli sendiri melihat sikapnya yang terang-terangan menggoda Candra. Ia tak bermaksud merayu. Murni karena memperlakukan Candra sebagai kakaknya.
Tidak masalah bagaimana perasaan Candra, Rashi tetap akan menganggapnya kakak sepupu dan ia akan bersikap sebagai adik.
Karena baginya, Candra itu Rasya kedua.
Menepikan ponsel karena Candra tak lagi membalas, Rashi berencana untuk terpejam namun kembali harus meraih benda itu karena getarannya. Nama Rainal yang muncul di pop-up membuat Rashi langsung memasukkan sidik jari lagi, mengecek isi pesan tersebut.
Gue mau jenguk lo.
Rashi tersentak. Kemarin mereka memang bertukar chat dan ia memberitahu Rainal kemungkinan—masih kemungkinan sebab kemarin ia cuma bersin-bersin, sakit kepala sehabis memaksakan diri berjalan dalam keadaan perut sakit—hari ini akan sakit.
Jangan bilang dia ke Jakarta karena itu?!
^^^Lo udah di depan?^^^
Gue di depan pintu.
Kalau enggak bisa gue titipin aja oleh-oleh ke kakak lo.
Boleh gue pencet bel sekarang?
Ya ampun, orang ini.
Rashi tak bisa menolong dirinya tercengang.
Jika kalian bertanya siapa pria terbaik tanpa celah di dunia ini, jawabannya akan selalu Mahesa. Dia baik, dia lembut, dia royal, segala hal yang diinginkan wanita ada padanya. Ketegasan, kekuasaan, kepemimpinan, namun juga sikap jinak yang membuat kalian bertanya-tanya apa dia sungguhan nyata atau hanya ilusi?
He's too good, too ethereal to be true.
Tapi dia palsu. Segala kesempurnaannya hanya topeng, kedok untuk kebutuhan pribadi.
Sedangkan Rainal .... Rashi belum pernah bertemu pemuda setulus Rainal.
Bagaimana bisa orang ini jadi bawahan Mahesa?
Dia minta izin memencet bel ketika dia bisa melakukannya tanpa harus izin, sebab mempertimbangkan perbedaan dunia mereka. Rainal seolah-olah merasa dia terlalu kotor untuk hadir, namun dia hadir karena Rashi menyuruhnya tetap bertahan.
Harusnya Rashi yang merasa terlalu kotor disukai pemuda sebaik ini.
Do I deserve this? Rashi mengetik dengan rasa sesak untuk mempersilakan Rainal masuk.
Tak butuh waktu lama, dia muncul bersama Rasya juga Yatha.
Jujur saja, Rashi merasa canggung memperlihatkan pada Rasya bahwa ia punya teman laki-laki—bahasa halus dari gebetan. Tidak mungkin Rashi buta melihat sikap protektif Ayah setiap kali ada anak laki-laki yang datang ke rumah, bahkan untuk kerja kelompok.
Keluarga mereka tak saling terbuka untuk urusan pribadi masing-masing. Tidak pernah ada masa di mana Ayah mengajak Rashi bicara tentang bagaimana perasaannya soal ini dan itu, seolah-olah hal itu tabu dan milik pribadi saja. Tapi Ayah sering menunjukkan lewat sikap intimidatifnya setiap kali ada lelaki yang mendekat, sampai-sampai Ayah kerap hadir di ruang Rashi bekerja kelompok, semata untuk menunjukkan kepemilikannya terhadap sang putri tunggal.
Rashi tak terganggu dengan hal itu, terus terang. Mahesa berkata, sifat alami seorang ayah dan seorang pria memang melindungi wanita, terutama yang berharga bagi mereka. Namun, dis-komunikasi antara dirinya dan Ayah adalah penyebab Rashi lari ke pelukan Mahesa. Sosok Ayah seolah hanya ATM berjalan bagi Rashi, yang bertugas menghidupinya tanpa pernah ikut campur soal bagaimana pandangan Rashi terhadap dunia, dan bagaimana cara agar Rashi berinteraksi terhadap lingkungannya.
__ADS_1
Karena itu, Rashi mau Rasya tahu sedikit demi sedikit tentang hidupnya. Ia sekarang tak punya Mahesa. Tidak ada tempat baginya bicara atau berkonsultasi secara pribadi jika bukan Rasya.
Untuk mencegah dirinya tergelincir, Rashi butuh penahan. Walau ia sendiri ragu ini akan bekerja. Karena sekali lagi, ia pembohong. Bahkan pada diri sendiri. Hal yang ia rencanakan hari ini, bisa jadi cuma kebohongan di esok hari.
"Buburnya udah agak dingin. Kamu langsung makan." Rasya menyerahkan mangkuk berisi bubur—sangat banyak bubur seakan-akan Rashi bukan orang sakit, melainkan orang kelaparan—lengkap dengan sendok. Segelas air dia letakkan di nakas, kemudian meninggalkan mereka bersama Yatha dan kondisi pintu terbuka lebar-lebar.
Tentu Rashi peka bahwa Rasya tak tahu cara bertanya siapa Rainal bagi Rashi, hingga dia cuma bisa memberi isyarat agar jangan terlalu dekat.
"Mama, Yatha yang bikin bubulnya sama Papa." Yatha memeluk tubuhnya dan bersandar pada dada Rashi. "Mama makan yang banyak bial cepet sembuh."
Rashi tersenyum kecil. Mengusap kepala Yatha karena tahu dia malu ada orang asing. "Yatha kenalan dulu. Ini temen Mama. Namanya Rainal. Yatha panggilnya Kakak Rail."
"Kakak?"
"Iya, Kakak."
Rainal yang sempat diam mengamati, pun buka suara. "Gue enggak tau lo punya adek."
Memang tidak mungkin juga kehidupan pribadi Rashi seluruhnya diumbar pada bawahan Mahesa. "Ada rapat sampe ke Jakarta?"
"Beberapa hari lagi, tapi sengaja dateng cepet." Rainal menyerahkan paper bag berlogo kedai mochi kesayangan Rashi. "Gue enggak tau mau bawa apa, jadi gue beliin yang pernah lo makan dulu."
Dulu.
Rashi ingat sekitar dua tahun lalu, ia memang menemani Mahesa rapat—bukan rapat besar seperti waktu itu—di kedai mochi ice langganannya. Pun Rashi ingat pada satu waktu di tengah rapat antara Mahesa, Rainal, Lilan dan Karya itu, Mahesa mengusap belakang kepalanya sambil berkata, "Lo boleh makan itu sepuasnya hari ini."
Bukan karena Rashi minta ditraktir. Melainkan karena pola makannya diatur baik-baik oleh Mahesa. Makan terlalu banyak tepung dan gula seperti mochi tidak baik untuk kesehatan, hingga Mahesa sering membatasi jumlah porsi camilan tak sehat Rashi.
Hari itu Rashi tersenyum cerah kegirangan, dan ia tak tahu Rainal menangkap tingkahnya. Bahkan ingat sampai sekarang.
"Lo inget itu?" Rashi tertawa malu. "Thank you."
"Sama-sama."
Rashi menunduk pada Yatha yang tampaknya sudah mau makan mochi. "Yatha mau juga?"
"Mau."
"Bilang makasih sama Kakak dulu."
"Engh."
"Ayo dong. Kakaknya udah bawain mochi. Bilang makasih, Sayang."
Sambil malu-malu, Yatha berkata terima kasih. Rainal hanya tersenyum kecil untuk hal itu. "Keadaan lo gimana?"
Soal aborsi itu, pasti.
Rashi membiarkan Yatha membongkar mochi duluan sebab ia harus makan bubur dulu. Tak langsung menjawab sebab berniat bangun, namun agak kesulitan akibat pusing di kepalanya. Rainal langsung datang membantu Rashi duduk bersandar, dengan gestur alami mengambil alih mangkok bubur itu untuk menyuapinya.
"Thanks." Rashi tak mau disuapi karena bisa sendiri, tapi ia menghargai perhatian Rainal. "Masih butuh waktu buat pulih, kayaknya."
"Perut lo masih sering sakit?"
"Ya. Mungkin karena kecepetan gendong Yatha. Tapi enggak pa-pa. Habis istirahat pasti langsung baik."
Itu tidak mungkin, dia tahu itu.
Makanya Rainal tak bertanya lagi, menyuapi Rashi yang patuh memakan buburnya sambil mereka melihat Yatha.
Ada sesuatu yang mau Rainal bicarakan, sepertinya, tapi dia ragu karena keberadaan anak kecil yang suka membeo pembicaraan orang dewasa.
"Soal Mahesa?"
Rainal diam, sedikit lebih berani menyentuh pipi Rashi untuk mengusapnya. Meski cuma sekilas, sebab Yatha menyaksikan mereka dengan mulut belepotan es krim dalam mochi. Dia tak banyak bicara dan terus menyuapi Rashi sampai seluruh bubur itu habis.
Setelahnya, Rainal langsung beranjak, pamit begitu saja.
"Loh, kok buru-buru? Lo di sini aja dulu."
"Enggak usah. Gue cuma mau mastiin lo gimana." Rainal menunduk, mengecup kening Rashi. "Cepet sembuh, Princess."
Begitu Rainal menghilang dari pintu, Yatha langsung kembali menemukan keberaniannya. Dia menempeli Rashi tepat di depan wajahnya. "Mama, itu syapa? Kenapa cium Mama kayak Yatha?"
"Itu teman Mama, Sayang."
"Temen Mama juga boleh cium?"
"Cuma ini." Rashi menunjuk kening atasnya, lalu mencium seluruh wajah Yatha gemas. "Kalau Yatha semuanya boleh."
Yatha terkikik geli. Memegang kedua pipi Rashi dengan tangan-tangan mungilnya yang lengket bekas memegang mochi dan membiarkan kening mereka saling menempel. "Mama punya Yatha aja."
"Punya Papa juga dong."
"Engh, enggak mau. Punya Yatha aja."
__ADS_1
...*...