Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
16


__ADS_3

...“Always forgive your enemies; nothing annoys them so much.”...


...♔...


Rashi menghela napas, masih menyempatkan diri tersenyum pada Yatha dulu. Lembut namun tegas, ia memandang Riska. "First, he's my beloved brother. Not my—"


"And you think I believe you? He's completely your child."


Jadi maksudnya dia mau menyebarkan fitnah Yatha adalah anak haram yang ia sembunyikan dibalik kata adik?


Rashi mengerti semua yang menyaksikan mereka mulai termakan, karena memang tidak ada bukti Yatha itu adiknya atau anaknya. Jika Rashi tak punya Mahesa di kepalanya, ia mungkin akan membalas ofensif.


Tapi Rashi menarik napas, menggendong Yatha di depan mereka dan mengecup sayang wajahnya. "Yah, kalau itu yang nyaman, terserah. Gue rawat dia dari kecil, jadi emang kayak anak gue juga. Iya, Sayang? Yatha anaknya Mama juga, yah?"


Wajah Riska berubah. Dia terprovokasi. "You're disgusting."


"And so you are, Riska." Sebuah suara dari belakang terdengar, disusul tangan melingkar di bahu Rashi sangat akrab. Begitu menoleh, Rashi bingung harus terkejut ia tak mengenal siapa perempuan ini, atau terkejut melihat wajahnya sangat cantik.


Luar biasa.


Bibirnya tebal dengan warna pink yang nampaknya hasil sulam. Alisnya menukik seksi juga hasil sulam. Kulitnya tak begitu putih, tapi mulus dan bersih. Rashi spontan melirik nametag di dada bulat perempuan itu, menemukan namanya lebih mengejutkan.


Widya Cipta Kusuma.


Oh, Tuhan.


Pantas saja cantiknya membuat Rashi mau bersujud.


"Lo sekurang kerjaan itu gangguin anak baru pagi-pagi?" Widya tersenyum menyebalkan pada Riska, masih merangkul Rashi seolah mereka teman. "Cuma karena dia lebih cantik dari lo, dan semua orang ngomong dia lebih dari lo, terus lo gangguin dia, bilang dia disgusting? Oh, baby. Go buy a brain. Apa salahnya dia punya anak? Coba liat. Dia lucu banget, kan? Lo enggak pengen punya beginian juga? Halo, Baby. Kamu cakep banget, sih, bikin naksir. Suka sama Tante, yah? Muach-muach."


Riski bergidik jijik. "Lo yang pergi beli otak, dasar pelacur."


"Kita bisa bareng kalau lo mau, pelacur nomor dua."


Itu menarik ketika Rashi melihat Riska meninggalkan mereka dengan langkah jengkel. Teman-temannya mengikut, sementara mulai mengumpat, membuat penonton di sekitar langsung bubar dengan gosip baru di mulut mereka.


Rashi menoleh pada penolongnya. "Um, thank you?"


Dia melepaskan rangkulannya pada Rashi tanpa sedikitpun melepas kesan santai bersahabat. "Lo harus tau dia enggak bakal berenti sampe dia menang dari lo, which is dia enggak bisa karena ... damn it, Rashi, you're so hot, so cool and I swear to you there's nobody can take their eyes off of you."


Tentu saja dalam kepala Rashi menilai apa dia berpura-pura atau menyembunyikan sesuatu. Tapi kesan yang gadis ini berikan lebih murni dari kesan Melati kemarin.


Bukannya dia juga mantan Candra?


"Thank you, Widya. Lo juga cantik banget. Gue suka liat alis lo."


"Semua orang suka, Buddy." Widya mengedipkan sebelah mata, lalu menunduk menatap Yatha. "Ya ampun, kamu lucu banget, sih. Nama kamu siapa, Bocah?"


"Yatha," jawab Rashi. "Yatha bilang makasih sama Kakak, Sayang."


"Ih, Yatha. Halo, Yatha. Nama aku Widya. Kamu nanti kalau besar jadi pacar aku aja, yah? Aku kasih susu yang banyak biar sehat."


"Oh, please." Rashi tertawa. Menepuk-nepuk kepala Yatha yang diam saja. "Thanks, Wid, sekali lagi. Gue enggak tau harus gimana kalau enggak ada lo."


"Jangan merendah gitu. Gue tau dia gampang ditanganin. Lo enggak panik sama sekali." Widya berkacak pinggang. "Well, lo mungkin kaget kenapa gue sok iyeh. Kita kenalan dulu. Nama gue Widya. Widya Cipta Kusuma. The most beautiful and sexy ***** in this hell. Yang tadi, hmm, anggep taburan bawang goreng di kuah bakso."


Rashi tertawa.


"Riska mungkin gangguin lo karena cemburu. Yah, lo ngerti, lah. Cantik enggak selalu bisa diusahain."


"Gue ngerti. Gue enggak marah sama dia."


"Cool. Enggak ada gunanya, iya, kan?" Widya mengulurkan tangan, mencubit ringan pipi Yatha. "Apalagi, lo sepupunya Candra. Mereka pernah deket, jadi dia makin cemburu."


"Lo enggak?"

__ADS_1


Widya mengangkat alis, lalu tertawa santai. "Jadi lo udah tau. Enggak. Gue bukan Riska. Gue sama Candra emang sama-sama deal cuma hubungan sekali. Gue kan udah bilang. Pelacurnya sekolah ini, itu gue."


Oh, baiklah. Rashi mengerti sekarang.


Orang ini setipe dengannya.


Ia mengajak Widya untuk berjalan bersama, dia senang hati ikut mengantar Yatha. Rashi sempat berpikir ia akan punya dua musuh besar di sekolah dan Widya akan jadi yang terparah, mengingat dia yang tercantik.


Ternyata dia malah bodo amat.


Mudah untuk Rashi menyadari sepanjang perjalanan mereka bicara, Widya punya kerusakan mental.


Bukan berarti dia gila. Bukan. Ada sesuatu yang rusak dalam jiwanya hingga dia berperilaku sangat bebas dan memasa-bodokan segala hal.


Sekali lagi, berarti mereka setipe.


"Yatha berbagi yah sama temennya. Nanti Mama kasih hadiah kalau Yatha main baik-baik. Oke?"


"Iya, Mama."


"Lo biasain adek lo manggil Mama dari kecil?" Widya bertanya begitu mereka kembali menuju gedung sekolah. "Lucu, yah. Berasa punya anak sendiri."


Rashi tersenyum kecut. "Nyokap gue meninggal waktu Yatha masih bayi, jadi gue biarin dia manggil gue Mama biar dia enggak ngerasa enggak punya Mama. Kadang, kan panggilan penting banget buat anak kecil. Nanti kalau dia udah besar, dia bakal pelan-pelan ngerti keadaannya. Yang penting jiwanya enggak kosong."


"Ah, I see that. Ide bagus juga. Daripada biarin dia tumbuh tanpa punya orang yang bisa dipanggil Mama, kan?" Widya mengembuskan napas lelah. "Itu nyebelin, sih. Maksud gue, gue juga kayak gitu. Lo tau? Gue enggak punya bokap dari gue kecil. Nyokap gue suka gonta-ganti suami kayak gonta-ganti kaos kaki, sampe jangankan bokap gue, ngafalin nama bokap tiri gue aja gue males. Mungkin kalau dulu gue punya kakak terus gue manggil dia Papa, enggak perlu banget gue ngerasa jadi anak enggak punya bapak. Cheee, emosi manusia emang kompleks banget enggak, sih?"


Jadi kerusakan jiwa itu sampai pada tahap dia tak acuh menceritakan lukanya pada orang.


Rashi pernah bertemu orang seperti ini beberapa kali ketika masih bersama Mahesa. Dan Mahesa sudah sering mengajarinya bagaimana cara menyesuaikan diri dengan kepribadian lawan.


"Yap. Yang paling nyebelin, lo enggak bisa bebas ngontrol lo ngerasa apa. Pasti enak kalau ada tombol on-off buat emosi."


"Lo ngerti juga ternyata!" Widya tertawa lepas.


...*...


"Yeah, Widya yang nolongin gue."


"Dia emang orang baik." Xena mengibaskan tangan ringan. "Dan dari dulu saingan sama Riska, soal siapa yang paling cantik."


"It's not funny. Really." Setelah menyingkirkan maskernya ke bawah, Rashi duduk menyamping, melihat Candra di belakang sana berbaur dengan para anak laki-laki. "I mean, dua-duanya cantik, in their way. Gue suka Riska, maksud gue, dia cantik kayak ...."


"Lissa Black Pink?"


Rashi tertawa. "Yap, Lissa Black Pink. Gue hampir mikir dia half Korea. Widya juga sama. Dia cantik dari segi, sensualitas, maybe?"


"Masalahnya, cowok kebanyakan lebih suka yang seksi daripada yang polos, kan? Biarpun Riska sebenernya enggak polos."


"Well, yeah. It can't helped, sih. I'm so in love with her *****."


"Lo juga punya, yang bikin Ervan mupeng."


Rashi mencebik. "Gue masih ngerasa punya Widya lebih bagus."


"So it's all about 'se-le-ra', am I right?"


"That's actually what I mean. Tapi gue enggak bisa nolak permusuhan Riska. Nginget dia punya sejarah sama Candra."


"Lo tau itu?"


Tidak semuanya, karena Sara cuma bilang mereka berdua pernah punya hubungan dengan Candra. Lalu ia pikir mereka berdua akan memusuhinya, ternyata tidak.


Rashi tak terbiasa memikirkan sesuatu yang bukan urusannya. Itu berbeda dari memikirkan perasaan orang yang mungkin terluka akibat dirinya. Permusuhan Riska disulut oleh iri hatinya sendiri, bukan kesengajaan Rashi dalam bertindak.


Jadi, tidak ada yang perlu Rashi pikirkan atau khawatir tentang hal itu.

__ADS_1


Mau bagaimana dia, itu urusan Riska.


Tapi, Rashi tetap penasaran mendengar kisah Candra. Maka ia memberanikan diri bertanya. "Emang ceritanya kayak gimana? Gue cuma tau soal Candra pernah deketin mereka."


"Oh, it's not that simple, Dear. Especially for Riska. Widya sih, bisa dibilang karena dia juga suka seneng-seneng sama cowok, itu enggak ada masalah buat dia. Justru dia nikmatin kalau cowok enggak pada ribut nuntut status. Tapi Riska beda." Xena menoleh pada Candra. "Is this really okay for me? I mean, gue enggak masalah ngasih tau apa yang gue mau tau, tapi kebanyakan orang ngerasa itu salah."


"No need to worries. Tutup yang perlu ditutup, karena gue cuma mau tau apa yang orang lain tau. Gue enggak minta aibnya."


"Then here we go." Xena mengedik, membuat Rashi tertawa senang.


Sungguh, ia tak pernah merasa sesuka ini pada seseorang hanya dengan sekali lihat. Pancaran energi di sekitar Xena seolah-olah bisa membuat Rashi tertidur aman.


Dia punya mata yang mengatakan dia teman baik.


"Riska dulu enggak begitu. Dia anak baik. Princess yang dibesarin sama etika baik-baik. She's a kind of sweetheart."


"Ohya?"


"Ya, tapi dia berubah karena Candra." Xena benar-benar menyingkatnya. "Gue enggak tau kenapa dan apa alasan Candra ngelakuin itu, tapi kata Hendra, Candra itu macarin cewek cuma buat ditidurin. But at the same time, he's not like, apa yah, enggak gonta-ganti. Jadi di sekolah ini emang cuma dua cewek yang pernah diajak main sama Candra, Widya sama Riska. Hendra bilang, jenis brengseknya Candra bukan ngeliat semua cewek itu sebagai *** toy, tapi dia cuma ngeliat cewek sebagai cewek kalau cewek itu super cantik. Get my point?"


Rashi menopang dagu ke belakang kursi. "Maksud lo, kalau menurut dia enggak cantik, dia enggak tertarik? Dan di sekolah ini, cuma dua cewek yang dia lirik?"


"Yap, you got it. Sampe kesebar ke semua orang kalau mau jadi pacar Candra, minimal oplas dulu ke Korea. Karena, dia bener-bener cuma ngeliat cewek dari tampang. Itupun harus super cantik. Super cantik. Dia enggak main sama cewek cantik, seakan-akan dia ngerasa 'cewek cantik banyak, gue suka yang super'. Brengsek, kan?"


Rashi tergelak. "Poor my brother."


"Mau tau gosip yang kesebar soal lo sama Candra?"


"Kita jadian?"


Senyum Xena mengambang. "Waktu lo di depan kelas dan lo bilang lo sepupunya Candra, gue yakin satu kelas, satu sekolah seketika mikir 'oh, dia target barunya Candra'. Semua orang ngeliat lo sebagai mainan barunya Candra."


"Ouch."


"Yah, serusak itu reputasinya, diluar kebiasaan dia tidur di kelas. Singkat cerita, Candra macarin Riska—oh, salah, Candra baperin Riska, berhasil tidur sama dia. Lagi, Hendra yang bilang, Candra took her virginity and left her just like that."


"Jaringan cowok lo oke juga."


"Ow, trust me, Rashi. Enggak ada tukang gosip kayak cowok gue di sekolah ini." Xena tertawa. "Just kidding. Candra yang ngasih tau Hendra. You know, brengsek ketemu brengsek, jadilah bestfriend."


"Mereka enggak jadian?"


"Enggak. Karena katanya, Candra emang bilang, dia enggak sudi pacaran. Lo harus ngerti sepupu lo itu makhluk paling semaunya di kelas kita. Dan harus gue jujur, ngeliat dia ada di kelas dua hari berturut-turut udah keajaiban. Itu karena lo, pastinya."


Karena memang iya, Rashi tak membantah. "Ceritanya, Riska mau balas dendam?"


"Entah." Xena menoleh ke belakang lagi sekilas saat mengetahui Rashi tersenyum. Dia langsung memutar mata karena Candra di sana ikut tersenyum. "Kabarnya sih, Riska masih mau sama Candra, cuma yah, Candra enggak mau. Dia sekali coba, udah. Sama kayak Widya. Widya enggak pernah sudi jadi pacarnya Candra tapi bakal seneng having *** kapan aja. Tapi Candra enggak pernah komunikasi sama Widya lagi. Sekali ya sekali, prinsipnya gitu."


"Oh, I got it." Rashi mengangguk-angguk. "Maksudnya, karena gue sasaran Candra yang baru, dia enggak suka?"


"Something like that. Apalagi, lo geser posisi Widya di hari pertama. Semua orang ngakuin lo."


"Hah." Rashi menghela napas. "It's gonna be difficult. Gue paling enggak suka terlibat sama masa lalu orang. Itu nyebelin, gimana menurut lo?"


"Lo enggak kaget Candra naksir lo?"


"We kissed."


Xena langsung tergelak. "Sama aja lo berarti."


"Thank you, dear."


Sepertinya Rashi tak perlu mencemaskan apa pun.


Riska jelas bukan ancaman baginya.

__ADS_1


Dalam hal apa pun.


...*...


__ADS_2