Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
3


__ADS_3

...Aku menyukai mereka, ...


...yang masih tersenyum dalam lukanya. ...


...♔...


Rainal bukannya pandai menghibur seseorang, terutama ketika orang tersebut berada di titik terendah hidupnya. Ia pun tak tahu bagaimana cara Mahesa bisa mengeluarkan Rashi dari kubangan lumpur keputusasaan, menjadi sesosok gadis cantik yang akan membuat banyak pria rela nista, termasuk Rainal.


Jadi Rainal memilih diam saja ketika Rashi datang, duduk hati-hati sambil diam-diam menahan keluhan duduk dalam kondisi perut baru operasi.


She's truly a beautiful and strong girl.


Usianya mungkin baru memasuki angka tujuh belas. Usia di mana seharusnya dia masih mudah menangis ketika terluka, sedih, kecewa, kehilangan. Usia di mana dia seharusnya sibuk memikirkan rasa suka pada kakak kelas kece, kalang kabut memikirkan tugas yang belum selesai. Usia di mana semua yang terjadi padanya ini, belum layak terjadi, jika dilihat dari kacamata manusia.


Tapi, Rainal tak tahu mengapa terkadang Tuhan memilih satu diantara seratus, seribu, atau sejuta hambanya untuk diberi ujian yang tampaknya terlalu berat. Rainal tak pernah bermaksud menyalahkan Tuhan, karena ia bukan tipe yang merasa sangat tahu mana terbaik, mana seharusnya. Hanya saja, Rashi terlalu muda.


Dan dia sudah mengalami seluruh ujian berat itu dalam hidupnya.


Pertama kali Rainal bertemu Rashi, dia belum secantik sekarang. Dulu dia masih anak-anak. Anak SMP yang tampaknya polos terjerat pesona Mahesa Mahardika. Tapi saat itu, dia pun sudah kuat.


Cukup kuat untuk Rainal jatuh hati pada pandangan pertama.


Padahal setelah ditelurusi, ternyata baru beberapa bulan Rashi melepas kepergian ibunya.


Dia kuat. Dia selalu kuat. Karena itu Rainal menyukainya.


Rashi diam saja sepanjang perjalanan. Dia tak mengatakan apa-apa meski seharusnya heran mengapa Rainal tahu alamat dia tinggal. Karena Rashi tak bertanya, Rainal pun tak menjelaskan.


Membelokkan setir untuk masuk ke sela pagar besi terbuka sebuah rumah putih bergaya minimalis itu. Tentu saja Rainal berencana langsung pergi agar tidak terlihat siapa pun, namun terhenti ketika Rashi berkata, "Masuk dulu."


Alih-alih, Rainal jadi kaku.


Masuk?


Ke rumah Rashi?


Ke dunia putih sang bidadari?


Ke surga sementara dirinya seorang iblis?


Mana mungkin bisa begitu. Rainal terlalu kotor dan berlumur dosa untuk mendekat terlalu dalam. Ia cukup seperti ini, karena memang sekali lagi, sudah sangat kurang ajar suka pada Rashi Anuja.


Keluarganya pasti tidak akan senang jika Rashi datang bersama seorang preman yang mengatur lebih dari setengah jalur pengedaran narkoba, sampai pelacuran bahkan pembunuhan di Bandung.


"Rail?"


Nama itu terlalu lucu untuk seorang Rainal, namun jika itu Rashi, ia tak masalah.


Mulutnya pun terbuka mau memberi penolakan terbaik. Sayang, tak mendapat kesempatan akibat sebuah teriakan cempreng anak laki-laki.


"Mama!"


Mama?


Semua berlangsung dengan cepat saat seorang bocah laki-laki berwajah tampan setengah konyol akibat air mata, datang berlari ke arah Rashi. Rainal terkejut, tapi mekanisme pertahanannya bekerja spontan untuk berlari turun, mencegah sebelum anak itu melompat ke gendongan Rashi.


Jangan bercanda.


Gadis ini baru operasi dan dia kesakitan bahkan saat duduk.


Rashi tercengang sesaat, meski langsung teralihkan oleh tangisan super kencang anak kecil yang memanggilnya Mama itu. Mengabaikan Rainal yang tidak mengerti apa-apa, kuat memegang tubuh anak itu, Rashi mendekat untuk memeluknya.


Tapi Rainal yang menggendong.


"Sayang, sayang. Mama di sini. Yatha kenapa nangis?"


Semua itu mencengangkan bagi Rainal. Ia melihat Yatha, bocah di tangannya, berusaha lepas untuk berpindah ke pelukan Rashi.


Jelas tak Rainal biarkan.


"Mau, Mama. Mau, Mama. Huaaaaaaa! Mau, Mama!"


"Rashi." Muncul lagi satu orang, dan kali ini Rainal kenal. Itu Rasya, kakaknya Rashi yang pernah menetap kurang lebih satu dekade di Bandung, wilayah kekuasaan Rainal. Dia menatap Rainal dengan sorot mata asing menilai, menuntut penjelasan, protektif, tapi tak secara agresif menunjukkannya. "Kamu bawa temen?"


Saat Rainal mau memperkenalkan diri dengan kikuk, Rashi memotong, "Iya, Papa. Lengan aku kebentur tadi, jadi perlu dibantuin nyetir. Ini Rainal, kenalan aku dari Bandung. Rail, ini Rasya, Kakak gue."


Lihat.


Dia baru saja kehilangan bayinya, dan dia masih berusaha terlihat biasa saja. Rainal hanya bisa mengikuti skenario Rashi tanpa sedikitpun membiarkan si Yatha yang mengamuk lepas.


"Yatha, Sayang." Rashi mengusap wajah anak itu. "Lengan Mama sakit. Enggak bisa gendong Yatha dulu."

__ADS_1


Yatha terisak. "Yatha mau Mama."


"Mama kan di sini, Sayang."


"Tapi Mama pelgi."


Dari dekat, Rainal bisa melihat Rashi kembali mau menangis.


Yah, pada akhirnya dia tetap gadis remaja.


"Mama tinggalin Yatha."


Walau tadi sudah melihat Rashi menangis kencang pada Mahesa, justru ekspresi sendunya sekarang lebih mengiris hati.


Dia menempelkan kening ke wajah bocah yang memeluk erat lehernya dari kekangan tangan Rainal. "Mama enggak pergi. Mama kan bilang cuma pergi sebentar. Nih, Mama pulang. Yatha anak baik, yah? Nangisnya udah. Nanti Mama juga nangis, loh."


Siapa sebenarnya bocah ini?


...*...


Keberadaan Yatha seolah menampar Rashi dengan kenyataan.


Ia tetap benci anaknya tak diberi kesempatan hidup sekalipun itu anak dari Mahesa. Tapi sejujurnya, ia memang tak bisa punya anak. Bukan cuma akan mengecewakan Rasya, ia pun masih sering keteteran mengurusi adik kecilnya.


Yatha adalah anak ketiga yang lahir dari ibunya sebelum wanita itu pergi.


Bukan.


Yatha bukan penyebab Ibu pergi.


Tanpa bermaksud menyalahkan, Rasya-lah penyebab Ibu pergi.


Masa itu, Ibu tengah hamil besar, tinggal menunggu hari persalinannya datang. Kebetulan saat itu, Rasya juga izin mendaki gunung bersama teman-teman mapala kampusnya. Memang sejak kuliah Rasya memutuskan tinggal di Bandung, jadi dia masih melakukan kegiatan kampusnya dan baru akan pulang jika adik mereka sudah lahir.


Namun musibah selalu datang tanpa tanda-tanda. Di sebuah pagi yang seharusnya tenang, Ibu menyaksikan berita gunung yang mereka tahu didaki oleh Rasya longsor besar. Ada banyak korban, termasuk para pendaki yang tengah berkemah di gunung tersebut. Ibu yang berpikir terlalu negatif tak mampu menahan kecemasan hingga berdampak pada vitalitasnya. Singkat kata, Ibu dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa harus menjalani operasi sesar demi keselamatan Yatha.


Yang justru berakhir pada kepergian Ibu untuk selama-lamanya.


Itu adalah masa di mana Rashi menemukan dunia menjadi gelap. Sangat gelap sampai ia sendiri tak mampu melihat di mana kakinya memijak.


Peran Mahesa saat itu sangat besar, sebab dialah yang membantu Rashi untuk bangkit dari keterpurukan ketika akan meninggalkan Ayah, Yatha dan Rasya. Kematian Ibu juga membawa Rasya pada keterpurukan, hampir tak pernah kembali ke Jakarta kecuali sesekali jika sudah sangat terpaksa.


"Mama dali mana?" Yatha mengikuti langkah Rashi menaiki tangga ke arah kamar. Dia tak lagi minta digendong, tapi menggenggam tangan Rashi seolah takut kakaknya pergi lagi. "Mama pelgi ke mana? Kenapa lama? Kenapa enggak ajak Yatha?"


Terus terang, Rashi sakit jiwa melihat adiknya.


Ia terus berpikir jika bayinya tumbuh, maka dia akan seperti Yatha. Itu menyakitkan. Meski begitu, tidak mungkin Rashi berterus terang. Tidak ada lagi tempat Yatha pergi kecuali dirinya, dan tidak akan ada tempat yang Rashi biarkan Yatha pergi, sebab cuma dia yang Rashi punya.


"Mama ketemu temen tadi." Rashi berbaring di kasur. Membiarkan Yatha ikut sambil menjaga agar anak itu tak mengenai bekas jahitannya. Obat bius yang memblokir rasa sakitnya hampir tak tersisa, hingga setiap gerakan Rashi mulai menimbulkan nyeri. "Yatha sini bobo sama Mama."


Bocah tiga tahun itu menangkup wajah Rashi, mengusap-usap air matanya yang justru makin banjir. "Mama nangis lagi. Mama jangan nangis. Yatha enggak suka."


Rashi coba tertawa. Terpejam daripada harus sedih melihat bocah kecilnya berkaca-kaca. "Peluk Mama kalau gitu. Habis tidur Mama pasti enggak sedih lagi."


"Janji?"


"Iya, Sayang."


Maka Yatha memeluknya, menepuk-nepuk lengan Rashi seperti yang selalu Rashi lakukan jika Yatha kesulitan tidur. "Tangan Mama sakit?"


Itu alasan yang cukup bagus dan tidak terlalu mengkhawatirkan. "Iya. Tadi Mama kepeleset."


Yatha diam sejenak, lalu tiba-tiba pergi. Rashi sempat memanggilnya karena khawatir Yatha turun tangga sendirian. Dia sudah cukup mahir, berulang kali Rashi melatihnya agar mengurangi risiko tak diinginkan, tapi tetap saja, Yatha masih terlalu kecil.


Ingin Rashi mengejar, perutnya sakit dibawa bergerak. Dokter menyuruhnya istirahat dan Rashi merasa sakit kepala luar biasa sekarang akibat menangis.


Ditunggu beberapa saat sambil sesekali berseru memanggil, sampai akhirnya Yatha datang.


Bersama Rasya dan sebuah baskom.


"Itu apa?"


"Kompas."


Rasya menurunkan Yatha di atas ranjang. "Kompres," koreksinya. "Tangan kamu sakit?"


"Mama, kompes." Lidah Yatha yang masih bermusuhan dengan R, makin belepotan bicara kata dengan huruf rumit. "Bial enggak sakit."


Seketika Rashi ingat, tiap Yatha mengalami luka lebam, ia akan memberinya kompres air dingin.


Rasa bersalah Rashi meluap ketika Rasya pun ikut duduk, memeras handuk dari rendaman air dingin dan es batu untuk ditempelkan ke lengan Rashi yang seratus persen baik-baik saja.

__ADS_1


"Kamu jatuh di mana?" Begitu tanya Rasya sewaktu menyingkap lengan panjang kaus Rashi, menemukan kulit putih adiknya tidak memerah, apalagi membiru.


"Cuma keselo tadi, kena pintu mobil." Sesungguhnya, keahlian Rashi adalah berbohong. Sejak bersama Mahesa, ia cuma hidup dalam kebohongan dari harapan-harapan baik keluarganya. "Maaf, aku lama tadi."


Rasya menyentuh keningnya. "Enggak pa-pa."


Adalah yang selalu dia katakan, sejak Ayah pergi seminggu lalu.


Ketika Ibu meninggalkan mereka, yang menangis paling kencang mungkin Rasya, memohon dan bersimpuh di samping ranjang pasien Ibu agar beliau memberi kesempatan baginya untuk berbakti. Tapi itu jelas tidak terjadi. Dan ketika Ayah pergi, Rasya tak meneteskan air mata barang sekali. Dia yang memeluk Rashi, memeluk Yatha, hadir sebagai sandaran sambil menangani semua masalah keperluan pemakaman.


Dia selalu berkata tidak apa, tidak masalah, sekalipun mungkin dia juga bingung, takut, atau mungkin ingin menyerah.


Bagaimana bisa Rashi bersikap lemah jika kakaknya berusaha sekuat tenaga?


"Rail udah pulang?"


Rasya mengangguk. "Dia orang Bandung?"


"Iya. Kuliah di Padjadjaran juga kayak kamu dulu."


"Hm, tadi dia bilang."


"Aku lupa bilang makasih udah nganterin aku pulang."


"Udah aku sampein tadi."


Iya, Rashi tahu.


Yang mau ia tahu hanya reaksi Rasya.


Melihat dia tidak masalah membalas, berarti setidaknya dia tak menolak kehadiran Rainal. Dia akan jadi lelaki pertama yang Rashi biarian kerkenalan dengan keluarganya.


"Mama, Mama udah enggak sakit?"


"Masih." Rasya yang jawab. Sekaligus mengatur agar Yatha berbaring di sebelah Rashi. "Kamu tidur temenin Rashi. Jangan berisik dulu."


"Kamu juga." Rashi menggenggam tangan Rasya di punggung Yatha. "Kamu di sini juga, Sya."


Kakaknya diam, lalu mengangguk, menjawab ya tanpa suara. Duduk menunggu Rashi dan Yatha terlelap dalam mimpi mereka.


...*...


Sebulan ini, Rashi full menghabiskan waktu di rumah saja.


Beberapa kali di waktu Rashi harus ke rumah sakit mengecek kondisinya, Rainal datang untuk menemani. Itu tindakan yang sangat Rashi hargai sebab harusnya, eksekutif tidak boleh saling mengganggu teritori masing-masing, kecuali saat diadakan rapat besar seperti kemarin. Rainal jauh-jauh datang dari Bandung benar-benar cuma untuk menemaninya ke rumah sakit, tahu tidak ada yang bisa Rashi beritahu soal kondisinya.


Tidak mudah untuk bangkit.


Sangat amat tidak mudah.


Sekalipun kemarin semua itu terasa mudah dibayangkan—Ayah dan Mahesa seringkali mengajari Rashi tentang kematian, seperti ketika Ayah berkata 'nanti kalau Ayah meninggal' yang perlahan-lahan jadi sangat biasa di telinga Rashi; atau Mahesa yang sering berkata 'lo harus siap orang di sekitar lo pergi karena lo juga begitu', sampai-sampai Rashi berpikir ia tak akan menangis ataupun terpuruk lagi.


Nyatanya tidak.


Sesak di dada Rashi tak mengingat semua teori Cara Untuk Bangkit Dari Kegelapan.


Kadang-kadang, ia melihat cermin dan air matanya jatuh. Melihat Rasya kerja, matanya basah. Sampai melihat Yatha makan, mendadak Rashi terisak-isak.


Ia sering minta maaf karena membuat Yatha dan Rasya bingung. Tapi sekali lagi, kakaknya bilang tidak masalah.


Rasya sempat mengajak mereka ke Bandung untuk mengepak barang sekaligus membereskan urusannya. Bandung adalah rumah pertama bagi kakaknya alih-alih rumah mereka. Sejak jaman kuliah hingga sekarang punya studio foto besar bersama teman kuliahnya, Rasya sudah sangat mencintai Bandung sampai menghabiskan banyak waktu di sana. Dia mungkin berencana tinggal selamanya di Bandung, kalau saja dia tak punya dua adik kecil yang membutuhkan kehadirannya di Jakarta.


Tak banyak yang Rasya bicarakan, karena memang begitu hubungan mereka sejak dulu.


Selepas kematian Ibu, Rasya menjaga jarak akibat penyesalannya.


Rashi yang merasa sudah memiliki Ayah, Yatha dan Mahesa tidak pernah sekalipun mencari atau memikirkan Rasya. Terus terang, ia bahkan tak berpikir akan membutuhkannya.


Asal ada Mahesa dan Ayah, Rashi tak butuh siapa pun dalam menjaga Yatha. Tapi lewat peristiwa ini, Tuhan seolah menamparnya. Mengingatkan dengan sangat jelas bahwa ia diberi kakak bukan untuk disia-siakan, apalagi dilupakan.


Nyatanya, sekarang Ayah sudah menyelesaikan urusan di dunia dan Mahesa tidak lagi menjadi tempat pelarian Rashi.


Ia cuma punya Rasya.


Benar-benar hanya Rasya, begitu pula sebaliknya.


Sekembali dari Bandung, Rashi masih menghabiskan waktu di rumah. Mondar-mandir memasak, membersihkan, menemani Yatha bermain sampai satu waktu, anak itu akhirnya tersandar.


"Mama." Dia lesu, meninggalkan tumpukan legonya di karpet saat mendekati Rashi yang tengah mengelap piring. "Ayah mana?"


...*...

__ADS_1


__ADS_2