Rashi & Para Bucinnya

Rashi & Para Bucinnya
11


__ADS_3

...“Before you can control conditions, you must first control yourself.”...


...♔...


Sekali lagi, jadi pusat perhatian tak pernah menjadi masalah bagi Rashi. Ketika dibawa di depan kelas oleh Wali Kelas tadi, berkenalan dengan Miss Dena yang mengajar kelas Bahasa Indonesia jam pertama, Rashi berdiri percaya diri di depan kelas.


Dua puluh empat pasang mata menatapnya, didominasi oleh sorot tertarik.


Gosip soal Rashi datang membawa anak kecil mungkin sudah tersebar, karena samar-samar ia dengar anak perempuan di kursi depan dekat pintu berbisik pada temannya mengatakan 'beneran yang itu?' seolah mau memastikan.


Rashi diminta memperkenalkan diri, maka ia menurunkan maskernya sambil tersenyum seakan tidak sadar bagaimana seluruh pemuda di kelas berkedip-kedip pilon. Hal kecil itu sudah cukup membuat mereka heboh sampai terdengar bisikan yang mengatakan mungkin Rashi model atau semacamnya.


Tatapan Rashi bertemu dengan Candra, mendapat senyum kecil dari sang sepupu seolah menertawakan bagaimana reaksi temannya. Tanpa ada niat menyombongkan diri atau menganggap dirinya paling tinggi, Rashi sadar seketika ia menjadi gadis paling cantik di kelas.


Membuat wajah gadis-gadis cantik lain kerut tak senang.


Itu sudah biasa.


"Hai, gue Rashi." Suaranya yang serak malah memberi kesan seksi namun sumbang. Rashi agak tertawa malu ketika melihat mereka terpekik.


Mereka tidak akan percaya jika Rashi bilang dirinya dulu orang biasa.


Apa yang mereka kagumi itu sosok Rashi hasil tangan Mahesa. Terutama sisi kepercayaan dirinya. "Rashi Anuja. Salam kenal."


Banyak bicara bukan gaya Rashi, apalagi di depan umum. Karena itu sudah cukup. Menurutnya, sesi kenalan adalah sesi bertanya. Mereka cukup tahu namanya Rashi, lalu mereka akan mengajukan pertanyaan kalau memang ada yang mau ditanyakan.


Miss Dena mempersilakan saja.


Kebanyakan yang angkat tangan laki-laki.


"Tanya. Punya pacar enggak?"


Rashi mengulas senyum lembut. "Enggak. Punyanya kakak."


"Kenapa lo pindah?"


"Biar satu sekolah sama sepupu gue, Sara."


Sengaja Rashi sebut adiknya, biar Candra tak terganggu, namun ternyata semua tahu Sara adiknya Candra, karena mereka menoleh ke paling belakang, deretan bangku kedua dari sisi jendela.


Sorak-sorai terdengar dan Rashi tetap tersenyum kalem.


"Lo tadi yang di bawah sama anak kecil, kan?" Kini giliran perempuan yang tanya. "Itu siapa lo?"


"Adek."


"Kok dibawa ke sekolah?"


Rashi berdehem sejenak untuk melegakan tenggorokannya. "Bokap gue baru meninggal, nyusul nyokap." Mereka langsung hening, padahal Rashi biasa saja. "Kakak gue kerja dan adek enggak bisa dilepas sama sembarang orang. Jadi gue minta izin sekolah buat bawa dia ke sekolah. Namanya Yatha."


Topik itu nampaknya terlalu sensitif hingga mereka bersikap seolah-olah sudah berbuat salah. Karena hening, Miss Dena mengisyaratkan Rashi untuk duduk di kursi paling depan dekat jendela yang berhadapan langsung dengan meja guru. Rashi tersenyum berterima kasih, menyembunyikan mendung di matanya mengetahui itupun ulah Mahesa.


Mana mungkin murid pindahan sepertinya bisa dapat tempat duduk di kursi paling depan, tempat paling strategis dan kebetulan memang tempat kesukaannya.


Rashi peka terhadap banyak tatapan mereka padanya. Jika punggung bisa berlubang oleh sorot mata, mungkin sekarang punggungnya berdarah-darah. Terutama kursi belakang memang kursinya anak cowok, dari rambut, tengkuk, punggung bahkan pinggangnya jadi santapan intip mereka. Rashi biarkan saja, dan sekali lagi, Mahesa mengajarinya untuk tidak gampang menilai sesuatu dari sudut pandang negatif.


Daripada fokus pada mereka, Rashi memfokuskan keseluruhan pikirannya pada pelajaran.


Senyum Rashi simpul ketika pelajaran dimulai.


Ada satu ambisi Mahesa yang ia tiru di sekolah.


Jadilah terbaik.


Jadi terbaik itu susah, tapi susah itu simbol kerja keras. Mahesa mengajarinya, tak perlu jadi kutu buku yang kerjanya berkutat dengan buku terus untuk ngambis pada pelajaran.


Kuncinya aktif di kelas.


Rashi selaku anak baru, seketika menguasai kelas.


Teori-teori yang ia pelajari dari Mahesa diterapkan hingga menciptakan diskusi seru bersama guru. Di sekolah lamanya, Rashi itu dikenal cerewetnya kalau belajar. Dalam pelajaran apa pun, apa pun, ia pasti selalu bertanya dan bertanya. Mahesa yang bilang kunci belajar adalah bertanya. Apa, kenapa, bagaimana, tanyakan semuanya agar semua itu masuk dalam kepala. Daripada susah-susah menghafal, pahami sebuah materi hingga ketika menghadapinya dua kali, tanpa harus banting tulang belajar semalaman juga akan mudah dikerjakan.

__ADS_1


Untuk beberapa murid, Rashi adalah tipe menyebalkan.


Namun Rashi tidak bisa menjadikan kebencian orang lain sebagai alasan dirinya tidak bersinar. Ia juga punya kakak yang harus dibanggakan.


Jadi nomor satu di sekolah adalah salah satu ambisinya.


Pelajaran Bahasa Indonesia yang memang tidak memerlukan banyak pertanyaan, ganti menjadi kelas Biologi. Kecerewetan Rashi makin terlihat meskipun suaranya serak sampai sesekali hilang. Ia menanyakan hal-hal yang tidak ditanyakan murid sekelasnya, mengetik dengan serius tanpa memedulikan bagaimana wajah sebagian murid di kelas.


Mahesa memberitahunya, kebiasaan orang gagal itu melihat ke samping dan ke belakang.


Kelas berakhir ketika bel berbunyi. Anehnya, sejak awal sampai istirahat itu, ia melihat Candra cuma telungkup di atas meja, tidur nyenyak.


Tak ada yang menegurnya, tak juga ada yang menganggap dia ada.


Rashi jadi ingat curhatan Sara di beberapa kesempatan mereka bertemu.


"Abang tuh kerjanya kalau enggak tidur di kelas pasti bolos. Uma sama Abah disusahin mulu sampe hampir enggak naik kelas. Abah sampe harus nyogok sekolah tau enggak biar Abang naik kelas. Tapi bukannya sadar, Abang malah enak-enakan. Uma juga. Kalau udah urusan Abang, enggak pernah mau marah. Kesel banget gue, Rashi!"


Abah sampai menyogok sekolah memang sudah parah, tapi menyaksikan langsung kelakuan Candra jadi aneh.


Anak laki-laki itu memang normalnya tak suka belajar, apalagi pelajaran yang tidak ada seru-seruannya seperti kelas materi begini. Meski begitu, kebanyakan anak, apalagi sudah SMA, sebenarnya sudah cukup mengerti bahwa dia harus berusaha agar tidak bikin masalah. Mereka sudah bukan anak SMP yang baru kebanjiran hormon, jadi menggila segila-gilanya akan kebebasan.


Apa Candra punya masalah?


Seingat Rashi, Sara bercerita abangnya mulai berubah itu pertengahan masa SMP.


"Jadi, lo sepupunya Candra?"


Seorang gadis berwajah Tionghoa campuran mengajukan pertanyaan itu. Dia duduk tepat di belakang kursi Rashi, jadi mau tak mau mereka saling bertemu pandang ketika ia menoleh pada Candra.


Saat bibirnya tersenyum, Rashi mengamati gadis itu dengan teliti.


Senyumnya terkesan kalem, dan di antara semua perempuan di kelas, dia yang tatapannya tidak sinis, tidak juga kelaparan mau berteman. Hawa di sekitarnya tenang, sama seperti penampilannya yang cenderung rapi karena memakai lengkap atribut sekolah mereka, tapi tak memberi kesan kuat atau ambisius.


Membuat Rashi mau mengulurkan tangan duluan untuk berkenalan. "Begitulah. Ngomong-ngomong, sekali lagi, Rashi."


"Xena. Xena Saraswati." Dia menyebutkan nama yang juga tertera di papan nama akrilik di dada kirinya. "Tangan lo panas."


"Yap. Berkebalikan dari lo yang cerewet, dia anaknya pendiem. Dianggep hantu sama yang lain, termasuk guru, kayak yang lo liat."


Orang-orang mulai berkumpul di sekitar Rashi untuk bertanya lebih jauh. Rashi menanggapi itu dengan tenang seperti seorang selebritis ditanyai wartawan, membahas apa rahasia kecantikannya, apa ia punya pacar, memuji-muji betapa keren performanya di kelas.


Rashi tahu mereka berusaha mendekat karena ia pasti akan jadi murid populer dengan kecerdasan dan kecantikan ini.


Penjilat, bahasa kasarnya.


Mahesa bilang, semua orang punya bakat jadi penjilat, jadi kenapa harus mengecam mereka terlalu buruk? Yang salah adalah yang terperdaya, sekalipun yang terluka juga yang terperdaya.


Obrolan berubah jadi ajakan ke kantin.


Rashi harus menolak, ingat punya keperluan.


"Sori yah, gue harus nyusul Yatha."


Lalu ia berjalan ke belakang, menghampiri Candra untuk bertanya sekaligus memberitahukan sekarang sudah jam istirahat.


"Abang." Suara Rashi kecil, namun cukup membuat teman-teman di sekitar Candra menoleh. "Abang Candra. Bangun."


"Percuma lo bangunin, Neng." Salah satu teman Candra yang menurut Rashi manis, bicara. "Kebo kalau tidur, bangun kalau udah laper aja."


Rashi terkekeh. Kali ini membaca nametag di dada pemuda itu.


Ervan, yah. Wajahnya terkesan nakal seperti bocah tukang bikin masalah yang egois. Ada lubang tindik di telinganya hingga Rashi membayangkan dia memakai anting dan berlagak seperti preman.


Lucu.


"Kenapa malah tidur di kelas, sih?" Rashi menusuk-nusuk pipi Candra, tak mengusik dia sama sekali. "Lo temennya Candra, yah? Kalian biasa ke kantin bareng?"


"Eh, mau ngajak, yah?"


Rashi terkekeh. "Boleh. Tapi mau nanya Candra biasanya makan apa. Biar sekalian gue beliin."

__ADS_1


"Pemakan segalanya dia, mah. Beliin kodok goreng juga dimakan."


Dasar. Rashi menggeleng pelan, tak menanggapi teman Candra tertawa. "Kalau gitu, tau tempat playgroup enggak?"


"Taulah, Neng. Mau dianterin enggak?"


"Yakin?"


"Mau, nih?!" Dia meloncat semangat, langsung disoraki temannya karena Rashi serius.


Ervan tampak manis saat cengengesan berjalan di sisi Rashi. Selain karena mukanya yang manis, Rashi salfok pada tindik di telinga Ervan. Otaknya otomatis ingat Mahesa juga menindik telinga ketika Rashi berkata suka melihat cowok memakai anting.


Biarpun Mahesa cuma bisa memakai anting di depan Rashi dan mencabutnya di depan umum.


Ah, sial. Tidak bisakah dirinya berhenti memikirkan Mahesa?


Sepanjang perjalanan, Rashi mengajak Ervan bicara seputar sekolah. Dia sebenarnya tidak pemalu. Itu kentara dari gesturnya yang walaupun kikuk berjalan di dekat perempuan cantik, Ervan tetap menegapkan bahunya.


Apalagi sewaktu Rashi berbicara lebih dulu, Ervan jadi santai menjelaskan hal-hal yang ia tanyakan.


"Jadi, ceritanya lo bakal bawa adek lo terus ke sekolah sampe lulus?"


"Kemungkinan." Rashi memang tidak berencana menitipkan Yatha pada siapa pun lagi. Biarkan dirinya egois menguasai anak itu. Dia akan tumbuh besar dan mau tak mau akan berubah dari Yatha kecil manjanya menjadi Yatha saja. "Gue orangnya posesif, sih. Enggak bisa kalau adek gue sayang sama orang lain."


"Berarti sama pacar lo posesif juga dong."


Kode. "Kalau ada, mungkin."


"Masa sih enggak ada?"


"Emang kenapa?"


"Duh, pake ditanya." Ervan mendengkus. "Mukanya minta disayang gini, goblok banget dianggurin."


Rashi tergelak. "Mau daftar, yah?"


"Wih, boleh, nih?"


Tak menjawab, Rashi cuma terkekeh geli.


Letak playgroup berada di luar gedung utama.


Mereka berjalan melewati tanaman semak hias di sisi jalan setapak yang mengular mengelilingi gedung, terhubung dengan gedung sebelah, SMP. Bangunan tempat penitipan anak yang Rashi tuju ternyata dibuat terpisah dan diletakkan di samping gedung SMP. Bisa dibilang lokasinya cukup jauh, walaupun ketika Rashi berbalik melihat jendela kelasnya, ia meyakini mereka bisa melihat bangunan kecil itu dari sana.


Ukurannya tak begitu besar, tapi luas dengan cat dasar milk tea. Di bagian depan bangunannya dibuat taman yang mungkin terinspirasi dari serial Upin-Ipin. Taman itu terbagi dua, dan di tengah-tengah ada jalan untuk mencapai pintu masuk kaca.


Ada cukup banyak anak kecil bermain di dalam. Rashi melewati pintu masuk kaca yang bergeser terbuka otomatis, seotomatis matanya mencari keberadaan anak kecil berkaus merah. Tapi perasaan Rashi langsung tidak enak melihat adiknya berada di gendongan seorang wanita, tampak sembab seolah habis menangis banyak.


Kakinya langsung melangkah ke sana untuk mengambil adiknya.


"Mama!"


"Sayang." Rashi hampir menggigil merasakan punggung adiknya bergerak naik turun. Tubuh Yatha terasa agak panas hingga Rashi khawatir dia demam atau mungkin terluka. "Kamu kenapa? Kenapa nangis?"


"Enggak ada apa-apa." Wanita yang bertanggung jawab mengurus anak-anak di sini menenangkannya. "Tadi cuma berantem sedikit sama anak-anak."


"Kok bisa, Kak? Adek saya ngelakuin sesuatu?"


Lalu wanita itu menerangkan bahwa anak-anak yang lebih senior di sini mulai mengganggu Yatha saat bermain balok susun. Dari cerita wanita tersebut, nampaknya anak-anak itu memang agak bandel, dan kebetulan Yatha anaknya pemalu. Jadilah Yatha santapan sedap bully-an bocah yang merasa lebih superior.


Rashi menghela napas. Setidaknya lega Yatha baik-baik saja.


"Yatha, Sayang. Minta maaf dulu sama Mbak-nya."


"Udah, enggak pa-pa, Dek. Anak kecil memang begitu. Masih beradaptasi, jadi rada rewel."


Rashi tetap mengarahkan Yatha untuk minta maaf. "Minta maaf dulu, Sayang. Baru ikut Mama makan siang."


Adiknya minta maaf secara lemah, lalu memeluk Rashi dengan lesu sepanjang perjalanan menjauhi playgroup. Ervan hanya diam menyaksikan dan mendampinginya berjalan.


...*...

__ADS_1


__ADS_2