
...“A leader leads by example, not by force.”...
...♔...
Esok hari, Rashi memastikan dirinya meminum pain killer sebelum berangkat ke sekolah dan harus pakai masker.
Kondisi kesehatannya tak baik hingga Rasya meminta untuk rehat sampai sembuh, namun Rashi sudah lelah berdiam diri di rumah.
Bukan cuma Rashi, Yatha juga semangat mempersiapkan hari pertama mereka masuk sekolah. Pada kesempatan kemarin, Yatha membeli tas dan beberapa pakaian baru seolah-olah dialah yang akan membutuhkannya ketika di sekolah.
Anak itu bergaya di depan cermin, persis di depan Rashi yang juga sedang mengancing kemeja putih seragam Maespati. Tak begitu banyak perbedaan dari warna seragam sekolah lama dan barunya. Seragam SMA Rashi dulu didominasi warna hitam gelap, sementara seragam Maespati berwarna merah gelap. Ada garis kotak-kotak hitam mewarnai rok pendek sepahanya, dan ada tambahan dasi berbentuk pita warna hitam untuk melengkapi dasar seragam. Rashi tak memakai blazer, kebiasaannya yang memang lebih suka menenteng luaran seragam itu bersama tas laptop.
Rambut tebal panjangnya sengaja Rashi sanggul ke belakang, pun memang style rambut yang selalu ia gunakan ketika pergi ke sekolah.
Terakhir, Rashi tak lupa menyemprotkan parfum mawar favorite-nya yang diberikan oleh Mahesa.
Karena ini hari pertama, Rashi butuh sokongan ekstra untuk bertahan.
"Telfon aku kalau ada apa-apa."
Sampai mati tidak akan Rashi lakukan.
Menyusahkan Rasya adalah hal terakhir yang mau ia lakukan saat ini. "Iya, Papa."
Begitu mobil memasuki gerbang sekolah, Rashi mengangkat alis menemukan gedung sekolah besar yang bersih sesuai bayangannya. Ukuran Maespati sedikit lebih kecil dari sekolah Asgard-nya Narendra, tapi jika dilihat sekilas, tidak begitu berbeda. Model bangunannya modern, didominasi oleh tembok-tembok kaca yang membuat seseorang mudah menyaksikan aktivitas dalam gedung. Pekarangannya luas, terbagi menjadi beberapa tempat dari taman hingga lapangan futsal.
Di salah satu sisi jalan yang membatasi jalanan masuk dan parkiran, berjejer pepohonan rindang menyejukkan. Dapat terlihat sekolah mementingkan kebersihan, sebab hampir tidak ada dedaunan yang jatuh di atas rerumputan trotoar ataupun permukaan paving block.
Rasya memberhentikan mobil tepat di depan lobi yang cukup ramai oleh siswa berseragam sama seperti Rashi. Mobil tak dibelokkan ke sebelah kiri, melainkan ke arah Selatan yang akan mengarahkan langsung mobil memutar ke gerbang satu lagi untuk keluar.
"Jangan nakal." Rasya mengultimatum adik mereka lagi, setelah kemarin dia berulang kali bilang jangan begini dan begitu. "Rashi mau belajar di sekolah. Kamu jangan nangis mau sama Rashi kalau belum istirahat. Inget, kan? Nanti Rashi datengin kamu. Kamu main di playgroup sama anak-anak lain. Terus juga—"
"Papa." Rashi menyentuh halus lengan kakaknya. "Udah ngerti adeknya. Aku yang tanganin. Percaya sama aku."
"Yatha enggak nakal." Anak itupun menolak dikatai nakal. Sebab Rashi membiasakan untuk tidak menggunakan kata nakal.
Meskipun ragu, Rasya tidak bisa berbuat banyak. Dia mengusap puncak kepala Yatha sekilas sebelum membiarkan mereka keluar. "Dadah Papa."
"Enggak mau."
Rashi meringis. Cuma bisa bergumam hati-hati melepas kepergian Rasya yang tidak terlalu peduli akan sikap Yatha. Ia menunduk dengan satu tangan memegang tangan mungil Yatha. Memastikan bahwa adiknya baik-baik saja, baru kemudian Rashi mendongak memandang sekitaran.
Mereka jadi pusat perhatian.
Itu wajar, Rashi yang keberadaannya selalu mencolok, dibuat semakin mencolok saat menggandeng tangan seorang anak kecil sambil memakai seragam siswi. Tapi, Rashi merasa baik-baik saja ketika anak laki-laki memandanginya seolah belum pernah melihat makhluk seindah Rashi.
Setiap orang pasti punya kata kunci dari rasa percaya dirinya dan kata kunci milik Rashi adalah ... asal ia cantik.
Kecantikan bukan sebatas pajangan bagi Rashi. Itu kunci dari segala macam hal dalam hidupnya, termasuk soal kepercayaan diri berada di lingkungan asing.
Mahesa mengajarinya untuk baik-baik saja, akan selalu baik-baik saja, asal Rashi tahu dirinya memang sudah cantik.
Itu rasa keamanan yang sama ketika kalian berada di negeri orang, tak kenal siapa-siapa, tapi memiliki cukup uang untuk menghidupi diri kalian setidaknya selama satu tahun kedepan.
"Abang Candra sama Kakak Sara kayaknya belum sampe. Kita ke ruang guru dulu, yuk."
Rashi melepas gandengan pada tangan Yatha agar dia berjalan secara mandiri di depannya.
Dilewati pintu masuk kaca berikut berpasang-pasang mata yang memandanginya penuh rasa penasaran, terutama akibat kehadiran Yatha. Sengaja Rashi menurunkan maskernya dulu, sebab ia tahu kebanyakan orang akan diam tak mendekat jika melihat wajahnya.
__ADS_1
Mereka akan diam melongo, mengerjap mempertanyakan halusinasi atau nyatakah penglihatan mereka.
Kata Mahesa, "Lo harus selalu inget kalau kalimat 'masih banyak yang lebih cantik' enggak terlalu berlaku buat lo, Princess. Masih banyak yang lebih cantik, tapi lo salah satu yang paling cantik dan enggak biasa ngeliat orang kayak lo. Kalau lo di depan publik, atur gestur elegan tanpa harus bikin muka lo sengaja disombong-sombongin. Kuasain lingkungan lo kayak itu taman main."
Kesombongan adalah sesuatu yang berusaha Rashi jauhkan dari dirinya. Tapi ia diajari untuk tidak tumpul dalam menggunakan sesuatu. Rashi juga tahu dirinya terlalu cantik bagi sebagian besar lelaki. Maka meskipun ia tampak seperti gula yang menggoda semut berkerumun, Rashi juga berusaha jadi bunga mawar berduri yang tak semudah itu didekati.
Cukup untuk reaksi mereka, Rashi menaikkan masker dengan alami.
Sejenak mendongak mengamati lebih jelas arsitektur sekolah barunya.
Menurut Rashi, tak jauh beda dengan sekolah lama, lagi, mungkin karena dua-duanya berarsitektur modern futuristik. Lampu-lampu gantung menjuntai dari langit-langit atas yang luas. Keridor-koridor saling bersusun mengingatkan Rashi pada pola susunan mal yang terbuka. Banyak orang berseragam merah gelap lalu-lalang di koridor dan menuruni tangga. Rashi melirik sekilas pada kelas-kelas terbuka di atrium tersebut, menebak mungkin kelasnya berada di lantai dua atau tiga.
Menggunakan pengetahuan dari sekolah lamanya, Rashi menyusuri koridor untuk mencari denah sekolah.
Sekolahnya dulu meletakkan gambar denah sekolah di tembok dekat mading dan tulisan-tulisan motivasi berbagai bahasa. Tapi ternyata tidak ada. Yang terlihat cuma tulisan-tulisan inspiratif berbahasa Inggris, Jerman, Prancis, beberapa bahasa Asia yang Rashi lemah mengenali bagian itu, serta juga bahasa Sunda dan Jawa.
Di samping papan itu pun hanya ada imbauan yang sama sekali tak bisa membantu Rashi mengetahui di mana ruang guru berada.
"Mama, Mama, ada gambar Om Esa."
Rashi menoleh ke arah Yatha menunjuk, tercengang menemukan poster Mahesa dipasang di sana bersama sebaris kalimat inspiratif yang pernah dia katakan di depan publik.
Dia pernah mengucapkan kalimat itu pada Rashi. Hal yang memang paling Mahesa pegangi dalam hidupnya.
"Kunci sukses itu cuma satu, Rashi." Mahesa mengatakan itu dengan senyum jumawa namun penuh kesan main-main. "Jangan pernah sudi jadi orang biasa."
"Gue lebih suka hidup sederhana."
"Hidup sederhana sama jadi orang biasa itu beda, Sayang. Gue juga hidup sederhana, iya, kan? Gue enggak suka hambur-hambur uang kecuali itu penting."
Iya, sih. Jika untuk dirinya, Mahesa jarang membeli sesuatu. Meskipun jika membeli sesuatu juga, dia mencari yang paling berkualitas alias paling mahal. "Terus, maksud lo jadi orang biasa?"
"Sedikit?"
"Enggak ada." Mahesa tertawa. "Orang luar biasa ngeliat mereka dari atas."
Rashi bergegas mengusir pikiran itu dari kepalanya, plus menggeleng pada Yatha. "Sssshhh, Yatha pura-pura enggak tau, yah. Liatnya yang lain aja."
Gestur seolah-olah mereka agen sekali lagi masuk ke otak Yatha. Dia menutup mulutnya dengan cara yang menggemaskan, berbisik-bisik mengatakan Om Esa-nya adalah rahasia mereka berdua saja.
Ada sesuatu yang tercubit di hati Rashi ketika ia sadar tengah merindukan Mahesa.
"Rashi!"
Seruan cempreng Sara untuk pertama kali melegakan perasaan Rashi. Ia segera berbalik, sementara Yatha berseru memanggil Candra—Abang Canda lagi.
Waktu Yatha berlari ingin mendekati Candra, Sara langsung menangkapnya untuk diciumi ganas. Candra cuek melewati mereka dan menghampiri Rashi.
"Dari tadi lo sampe?"
Rashi tersenyum dibalik masker. "Baru."
"Buset, suara lo gitu amat. Flu mah di rumah aja."
"Ada yang semangat mau sekolah." Rashi menunjuk adiknya yang agresif bertanya pada Sara soal sekolah mereka. "Gue harus ke mana dulu?"
"Ke ruang guru dulu aja. Ayok."
...*...
__ADS_1
Sara harus memisahkan diri dari mereka karena perbedaan arah. Di depan ruang guru tempat Candra membawanya, Rashi bertemu seorang wanita berwajah ketus yang merupakan wali kelas sekaligus guru matematika di kelasnya.
Begitu melihat Rashi datang bersama Yatha mengekorinya, Miss Linda langsung menatapnya seperti melotot. Yatha sampai bersembunyi di belakang Candra.
"Jadi kamu keponakannya Bu Dahlia?"
Rashi tersenyum ramah dibalik masker saat membungkuk samar. "Saya minta maaf harus pake masker di hari pertama, Miss. Kebetulan saya flu."
"Tidak masalah. Kamu tunggu di sini sampai bel masuk. Silakan duduk." Sebelum Rashi bisa duduk, tatapan Miss Linda sudah bergeser melihat Candra. "Datang juga kamu ke sekolah? Saya kira kamu lupa jalan."
Hm?
"Ibu kenapa tiap liat saya bawaannya dendam mulu?" Candra mendengkus. Tindakan yang agak kurang ajar, tapi seolah-olah sudah terbiasa.
"Mungkin karena kamu suka bikin saya pusing? Sampe jam berapa kamu di sekolah hari ini? Jam delapan?"
Rashi memang dengar Candra sering bolos dan ogah-ogahan di sekolah. Hal itu sampai membuat Uma berkata, "Uma cuma mau Abangmu lulus aja SMA. Kalau enggak kuliah juga enggak pa-pa. Yang penting dia lulus SMA." Karena sesering dan serajin itu Candra bolos.
Tahun ini dia naik kelas seratus persen karena uang sogokan Abah.
Alasannya tak jelas kenapa, tapi mustahil tidak ada.
"Terserah Ibu, lah. Toh, saya emang setan buat Ibu." Candra berbalik. "Rashi, biar gue yang nganterin Yatha."
"Um, oke?" Rashi ragu sebab Yatha mulai memperlihatkan kesan tidak nyaman. Adiknya cukup gampang membaur asal ada Rashi. Dia tak bisa secara spontan dibawa pergi sekalipun itu Candra dan sudah diberitahu harus ke mana.
"Mama!"
Rashi menerima Yatha yang malah berlari memeluknya. Disaksikan oleh beberapa pasang mata guru di ruangan tersebut, Rashi menurunkan maskernya dan mengecup langsung puncak kepala Yatha. "Ikut sama Abang, yah? Nanti istirahat Mama ketemu Yatha lagi. Udah janji kan kemarin?"
Nampaknya dia baru merasa tidak nyaman setelah melihat wajah orang asing dari dekat. Atau lebih tepatnya, dia ketakutan setelah melihat Miss Linda berekspresi ketus.
"Yatha pinter, kan? Tungguin Mama sama Abang, yah? Di sana banyak mainan kok. Nanti Mama langsung ke sana. Yatha tunggu bel istirahat aja."
Dia menggosokkan wajahnya di paha Rashi sebelum mendongak. Agak berkaca-kaca. "Mama jangan lama."
"Iya. Yatha mainnya hati-hati, yah? Nanti Mama bawain katsu. Oke?"
"Oke."
"Promise Mama."
Yatha berjinjit mengecup hidung Rashi, dibalas hal sama oleh gadis itu sebelum dia pergi menyusul Candra yang sudah berdiri di depan pintu.
Tepat setelah pintu tertutup meninggalkan Rashi berhadapan dengan guru berwajah galak itu, langsung Miss Linda bertanya, "Saya dengar itu adek kamu."
Senyum Rashi lembut merekah. "Adik saya kok, Miss. Cuma manggil saya Mama dari kecil."
Miss Linda mengangguk-angguk. "Saya turut berduka soal orang tua kamu."
"Makasih, Miss."
Selanjutnya, Miss Linda melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi dan Rashi menjawabnya tanpa masalah.
Dari situ ia mendapati bahwa Miss Linda hanya berwajah galak, dan tegas pada murid bermasalah. Dia cukup ramah—dengan gayanya—mendengar cerita singkat Rashi. Ketika membicarakan soal catatan pendidikannya di sekolah yang dulu, Rashi mendapati Miss Linda tampak sangat tertarik mengetahui Rashi termasuk jajaran murid berperingkat tinggi.
Miss Linda tak melewatkan informasi soal Yatha, serta memberitahu bahwa ini pertama kali murid diperbolehkan membawa anak kecil ke sekolah, menitipkannya di playgroup mereka, jadi sebaiknya Rashi berhati-hati dalam mengatur waktu belajar dan mengurus adiknya.
Kesimpulan Rashi untuk sekolah ini, bisa dibilang sempurna.
__ADS_1
...*...