Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Salah sangka


__ADS_3

Ketika dilihat dengan jelas, ternyata ketiga orang itu adalah Austin, Reza dan Ferdy. Dengan demikian, Elena langsung turun dan pergi keluar untuk bertemu dengan mereka.


Pada saat pintu gerbang dibuka, spontan keempat orang yang itu menoleh kearah Elena.


Perempuan yang membuat Elena ketakutan, tiba-tiba menghampiri Elena.


"Alena, kamu lama banget sih buka pintunya," ujar perempuan itu.


"Kamu siapa ya?" bingung Elena.


Perempuan itu menatap datar kearah Elena. "Ya saudara kamu lah. Aku itu kesini karena disuruh nginep sama orang tua kamu, soalnya mereka berdua kan lagi ke Bandung. Jadi mereka nyuruh aku buat temenin kamu," jelasnya.


"Lah! katanya orang jahat," sahut Reza.


Elena menatap kearah teman-temannya. Ia merasa bersalah kepada mereka.


"Guys, maaf ya. Aku pikir dia orang jahat," tunjuk Elena kepada perempuan itu.


"Iya gak apa-apa," kata Austin.


Reza dan Ferdy menatap datar kearah Austin. Mereka berdua curiga dengan Austin dan Elena, karena tadi Austin sangat cemas saat Elena meminta bantuan kepadanya.


"Ya udah kalau gitu kita pulang dulu ya," ujar Austin.


"Disini dulu aja, sekalian kita makan malam," ujar perempuan yang mengaku saudara Elena.


"Gak usah," tolak Austin.


"Udah ayo! gak baik nolak rezeki," sahut Reza dan Ferdy.


Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah. Jika ditanya siapa yang masak, tentu saja saudara Elena yang masak. Karena jika Elena yang masak, ia takut masakannya tidak enak.


Keadaan di ruang tamu sangat berisik, dikarenakan Reza dan Ferdy terus memberi reaksi terhadap film yang sedang ditonton. Sedangkan Elena dan Austin hanya diam saja, sesekali mereka saling mencuri pandang satu sama lain.


Trining! Trining!


Ponsel Elena berdering, spontan ia menjawab panggilan telepon tersebut.


Telepon tersebut dari mamahnya. mamah Elena memberitahu bahwa Amel akan menemani Elena, karena mamahnya khawatir jika Elena berada di rumah sendirian.


Sesudah memberitahu hal itu, mamah Elena langsung mematikan teleponnya.


"Orang tua kamu kemana?" tanya Reza.


"Ke luar kota," jawab Elena.


"Pantas aja sepi banget," kata Reza.


Sejujurnya saat ini Elena sangat canggung. Sebelumnya ia tidak pernah berinteraksi dengan tiga orang dalam satu ruangan. Apalagi ketiga i orang itu adalah lelaki, jadi ia merasa gugup.

__ADS_1


"Sebelum masuk ke SMA Merdeka, kamu sekolah dimana?" tanya Ferdy.


Elena menatap sekilas kearah Austin. "Hmm...aku homeschooling."


"Wah! kalian berdua sekelas ya waktu SMP?" tanya Reza sambil melihat kearah ponselnya.


Elena dan Austin saling bertatapan. Elena yakin pasti Manda atau Talitha yang menyebarkan informasi itu, karena tadi sore Elena yang memberitahu tentang itu kepada mereka berdua.


"Iya, kita pernah sekelas."


Dalam hati Elena, ia hanya bisa berdoa supaya Manda dan Talitha tidak memberitahu tentang Austin yang menyukai Elena.


"Siapa yang kasih tahu kamu tentang hal itu?" tanya Elena.


"Manda," jawab Reza.


Mulai detik ini juga, Elena harus waspada terhadap Manda. Ia tidak akan memberitahu apapun kepadanya, karena jika memberitahu sesuatu pasti nantinya akan bocor.


"Selain itu, dia kasih info apa lagi ke kamu?"


"Gak kasih info apa-apa lagi kok. Dia cuma bilang kalian pernah sekelas doang."


Elena menghela nafasnya. "Syukur deh kalau cuma itu doang."


Austin mendekat kearah Elena dan ia mengetik sesuatu diponselnya. Lalu, ia tunjukan ponselnya kepada Elena.


"Dia gak tahu kok," ujar Elena kepada Austin.


"Gak tahu apa?" bingung Reza dan Ferdy bersamaan.


"Kepo banget kalian berdua," ujar Austin.


Reza dan Ferdy tersenyum penuh arti. Dengan Austin berbicara begitu, membuat keduanya tahu bahwa Austin mempunyai rahasia dengan Alena.


"Austin, aku boleh bicara sesuatu gak sama kamu?" tanya Elena.


"Ya udah ayo. Aku juga mau bicara sesuatu sama kamu."


Uhuk...uhuk!


Reza dan Ferdy berpura-pura batuk. Bukan karena mereka batuk sungguhan, tetapi karena mereka berdua ingin menggoda Austin dan Alena.


...****************...


Elena membawa Austin keluar rumah, lantaran ia takut jika ada orang yang mendengar pembicaraan antara dirinya dan Austin.


Setelah dirasa sepi, akhirnya Elena menjelaskan tentang pembicaraannya bersama Manda dan Talitha kepada Austin waktu tadi sore.


Disisi lain, respon Austin terlihat biasa saja saat Elena menjelaskan tentang Austin yang menyukai Elena saat duduk di bangku SMP.

__ADS_1


"Kamu marah ya?" tanya Elena memastikan.


"Iya, aku marah. Padahal aku kan gak suka sama kamu," canda Austin, namun ia berekspresi seolah-olah dirinya sedang marah.


"Maaf. Habisnya aku bingung, makanya aku bohong sama mereka."


Austin menatap kasihan pada Elena, dia seperti sangat menyesal telah berkata seperti itu. Padahal sebenarnya Austin tidak marah sama sekali kepadanya.


"Oh iya! semua buku tugas sama catatan kamu ada di aku. Kamu mau ambil buku-bukunya gak?" tanya Austin mengalihkan pembicaraan.


"Mau. Soalnya pasti banyak catatan penting dibukanya."


"Catatan penting tentang kamu yang benci aku karena aku nyuruh kamu buat menulis saat kerja kelompok, kan?"


Elena sangat malu, ia pernah menulis tentang kekesalannya ke beberapa orang dihalaman belakang bukunya.


"Jadi kamu waktu itu marah sama aku?" tanya Austin memastikan. Lalu, Elena hanya mengangguk.


"Sebenarnya waktu itu aku nyuruh kamu karena aku tahu cuma kamu yang bisa diandalkan. Lagipula waktu itu kan aku yang cari jawabannya, jadi bukan cuma kamu yang mengerjakan."


Yang diucapkan Austin memang benar, seharusnya waktu itu Elena tidak marah kepadanya, karena Austin juga turut mengerjakan tugasnya.


"Kalau gitu aku minta maaf ya."


"Kalau soal itu kayaknya aku gak bisa maafkan kamu, soalnya aku terlanjur sakit hati karena udah dituduh memanfaatkan kamu," bohong Austin.


"Aku janji gak akan bicara buruk lagi tentang kamu kok."


Austin berpikir sejenak. "Aku maafkan asal ada syaratnya."


Saat ditanya tentang syaratnya, ternyata syaratnya cuma satu, yaitu Austin ingin agar Elena tidak melakukan hal bodoh seperti waktu itu.


Elena menatap Austin dengan lekat. "Kamu kayaknya beneran suka sama aku ya?"


"Enggak kok."


"Kalau enggak, kenapa kamu takut banget kalau kehilangan aku."


"Ya karena aku kasihan. Lebih tepatnya kasihan sama kedua orang tua kamu, pasti mereka sedih kehilangan kamu."


Saking asiknya dengan kehidupan barunya, Elena jadi melupakan kedua orang tuanya. Ia berharap semoga kedua orang tuanya sehat dan panjang umur.


"Kamu gak kangen ya sama kedua orang tua kamu?" tanya Austin.


"Aku kangen. Cuma aku bingung, bagaimana aku bisa memberitahu mereka dengan kondisi fisik aku yang seperti ini. Dengan fisik aku yang berbeda, aku yakin pasti mereka gak mengenali aku."


"Gimana kalau besok kita kesana setelah pulang sekolah?"


Elena mengangguk, ia sangat senang karena Austin mengajaknya untuk bertemu dengan orang tua Elena.

__ADS_1


__ADS_2