Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Austin cemburu


__ADS_3

Selesai kegiatan sosialisasi, semua murid pergi menuju kantin. Karena di kantin terlalu ramai, akhirnya Elena memutuskan untuk tidak jadi membeli.


Elena memang sedang lapar, tapi melihat orang-orang yang berdesakan membuat Elena merasa pusing. Mungkin Elena akan makan setelah pulang sekolah saja, lagipula ia sudah terbiasa menahan lapar.


Ketika ingin ijin pergi, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Elena.


"Murid baru ya?" tanya kakak kelas.


"Iya, Kak."


"Boleh kenalan gak?"


"Boleh."


Akhirnya mereka berdua berkenalan. Ketika keduanya selesai memperkenalkan diri masing-masing, kedua teman Elena tersenyum karena mereka tahu pasti bahwa kakak kelas tersebut menyukai Elena.


"Oh iya! ini buat kamu," ujar Rizal sambil memberikan coklat kepada Elena.


"Buat aku?"


"Iya, itu buat kamu. Soalnya kamu manis, kayak coklat itu."


Setelah memberikan coklat itu kepada Elena, kakak kelas itu bergegas pergi.


"Manis kayak coklat," ledek Manda.


"Apaan sih, Manda."


"Jadi pilih Austin atau Kak Rizal?" tanya Talitha.


"Gak tahu." Elena buru-buru pergi dari kantin, karena memang tadinya ia tidak akan makan siang.


...****************...


Saat berada di kelas, ternyata ada Austin yang sedang menghapus tulisan dipapan tulis.


"Kamu gak ke kantin?" tanya Elena.


"Enggak. Kamu sendiri?"


"Aku tadi habis dari kantin sih, tapi gak beli apa-apa karena banyak yang antri."


"Gak beli apa-apa, tapi kok bawa coklat," heran Austin.


Elena menjelaskan bahwa tadi ada kakak kelas yang memberinya coklat.


"Kamu mau gak?"


"Enggak. Aku gak suka coklat," kata Austin.


Elena duduk di kursinya sambil memakan coklat yang pemberian Kak Rizal.


Disisi lain, Austin sedikit cemburu karena sepertinya sekarang Elena banyak disukai oleh banyak pria.


"Oh iya! helm kamu aku kembalikan saat pulang sekolah aja ya, soalnya kalau dikembalikan sekarang nantinya teman-teman tahu kalau aku berangkat bareng sama kamu."

__ADS_1


"Memangnya kamu takut banget ya kalau orang-orang tahu?"


"Iya lah. Secara kan kamu banyak ditaksir perempuan, jadi nanti mereka pasti marah kalau tahu aku berangkat sekolah bareng kamu."


Austin berjalan menghampiri Elena. Kemudian ia duduk dikursi Talitha.


"Kata siapa aku banyak ditaksir cewek?" tanya Austin sambil menatap wajah Elena.


Dengan cepat, Elena langsung memalingkan wajahnya. Ia takut jika terus menatap Austin, nantinya ia akan semakin jatuh cinta dengannya.


"Kata orang-orang. Aku sering mendengar mereka membicarakan ketampanan kamu," jelas Elena yang masih menatap pintu kelasnya.


"Emang aku ganteng? perasaan enggak deh," kata Austin.


Elena menatap datar kearah Austin. "Jangan merendah deh."


Austin tersenyum saat mendengar perkataan Elena. Bagaimana tidak, raut wajah Elena terlihat begitu kesal saat berkata seperti itu.


"Coba aku tanya sama kamu. Emangnya aku ganteng?" tanya Austin.


Elena menatap wajah Austin, lalu ia kembali memalingkan wajahnya. "Biasa aja."


"Iya, aku emang biasa aja. Tapi aku bisa membuat orang yang benci aku, tiba-tiba menjadi suka sama aku," jelas Austin.


Mendengar ucapan Austin, membuat Elena kembali menoleh kearahnya. Ia takut jika Austin menyadari kalau Elena mulai suka kepadanya.


Tiba-tiba tangan Austin bergerak mendekati bibir Elena dan dia mengusap bibir Elena dengan jarinya. "Udah besar tapi makan cokelat aja sampai belepotan," sindir Austin.


Karena salah tingkah, Elena langsung keluar dari kelas. Tidak peduli jika Austin tahu perasaan Elena. Tetapi yang penting sekarang ia telah berhasil pergi dari hadapan Austin.


...****************...


Seseorang memegang pergelangan tangan Elena, lalu orang itu menarik Elena menuju tempat yang sepi.


"Ada apa sih?" bingung Elena.


Setelah dirasa sepi, Feby langsung menghempaskan tangan Elena.


Feby menarik dasi Elena. "Kamu yang kasih tahu orang-orang tentang aku yang jadi pengantar makanan, kan?"


Elena terdiam, karena memang ia telah memberitahu Manda tentang hal itu.


"Aku minta maaf soal itu."


"Minta maaf? kamu pikir kalau kamu minta maaf, aku akan maafkan kamu gitu?" kesal Feby.


"Ada apa nih?" tanya Austin yang tiba-tiba datang.


Feby spontan melepaskan dasi Elena, karena ia tidak ingin dicap buruk oleh Austin.


"Gak ada apa-apa kok. Tadi aku cuma mau merapikan dasi dia aja," bohong Feby.


"Kamu gak apa-apa, kan?" khawatir Austin.


Elena bergegas pergi karena jika ia masih disana, mungkin Feby akan semakin kesal kepada Elena.

__ADS_1


Skip


Bel istirahat berbunyi, semua murid bergegas menuju kelasnya. Sedangkan Elena, ia dari tadi memang sudah berada di kelas. Jadi, ia tinggal menunggu teman-temannya masuk kelas.


Bosan juga berada sendirian di kelas, apalagi hanya ada Austin saja di kelas.


"Tadi ada apa?" tanya Austin yang duduk di kursinya.


Karena di kelas hanya ada Elena, sudah dipastikan bahwa Austin berbicara kepada Elena.


"Gak ada apa-apa kok, itu cuma masalah kecil."


"Sekali-kali lawan aja, jangan diam terus."


"Kenapa sih peduli banget? apa masih suka ya?"


Austin terdiam sejenak. "Kalau iya kenapa?"


Deg!


Jantung Elena berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia kira Austin akan menyangkal bahwa dia tidak menyukai Elena lagi. Tetapi nyatanya, dia malah berterus-terang jika dia masih menyukai Elena.


Kemudian teman-temannya masuk kedalam kelas dan itu membuat Elena sedikit lega.


"Kenapa? kok senyum-senyum sendiri," heran Talitha.


"Gak kenapa-napa."


"Aku tahu, pasti lagi mikirin kejadian waktu kakak kelas kasih kamu coklat, kan?" tebak Talitha.


"Ih enggak kok!"


Saat Manda hendak duduk di kursinya, Elena langsung saja memanggilnya. Tak lama, Manda berjalan menghampiri Elena.


"Ada apa?"


"Tadi Feby marah karena katanya aku kasih tahu tentang rahasia dia ke orang-orang. Padahal kan aku kasih tahunya cuma ke kamu doang," ujar Elena dengan suara pelan.


Manda jadi merasa bersalah kepada Elena. Padahal sebenarnya Manda lah yang menyebarkan informasi itu ke orang-orang. Tetapi dengan menyebarkan informasi tentang itu, membuat dendam Manda kepada Feby terbalaskan.


"Aku minta maaf ya. Gara-gara aku, kamu jadi dimarahi dia," kata Manda.


"Gak usah minta maaf. Lagipula aku juga emang salah."


Elena memberi saran agar meminta maaf kepada Feby. Namun, Manda malah menolak saran dari Elena.


"Udah lupakan aja, biarkan itu jadi pelajaran untuk Feby. Anggap aja itu karma dia karena selalu merendahkan orang lain," kata Manda.


"Iya juga sih,"


Manda mengerutkan keningnya, ia bingung karena Alena merupakan murid baru tetapi dia seakan-akan mengetahui bahwa Feby sering merendahkan orang lain.


"Alena, kamu emangnya pernah lihat Feby merendahkan orang lain?" tanya Manda.


Elena terdiam sejenak. "Enggak tahu sih. Cuma aku pernah mendengar itu dari orang dan juga waktu itu kamu bilang kan bahwa kamu pernah direndahkan sama dia," jelas Elena.

__ADS_1


__ADS_2