Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Beli kado


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, serentak semuanya memasukan alat-alat tulisnya kedalam tas dan bergegas pulang.


Beberapa orang datang menghampiri Elena, mereka mengajak Elena pulang bersama. Tetapi Elena menolak dengan alasan rumahnya terlalu jauh. Padahal sebenarnya, ia masih berharap mimpinya menjadi nyata.


Ya benar, Elena menunggu sengaja menolak supaya ia dapat tawaran pulang bersama dengan Austin. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi Elena sangat ingin memastikannya.


Jikalau Austin mengajaknya untuk pulang bersama, pasti ada kemungkinan Austin akan nyaman dengan Elena.


Elena keluar dari kelasnya perlahan, karena ia masih menunggu Austin. Ia mencuri-curi pandang kedalam kelas, untuk memastikan apakah Austin sudah selesai mengemas alat-alat tulisnya atau belum.


Tidak menunggu lama, Austin keluar dari kelas. Otomatis Elena berjalan agak cepat supaya tidak ketahuan kalau ia sedang menunggu Austin.


"Elena!" panggil Austin.


Elena menoleh kebelakang. "Ada apa?"


"Mau pulang bareng gak?"


Elena pura-pura berpikir karena tidak mungkin ia langsung mengiyakan ajakan Austin.


"Gak usah deh, soalnya rumahnya jauh."


"Udah ayo," ujar Austin sambil menarik Elena menuju parkiran sekolah.


Sudah dipastikan Elena sangat kegirangan, ditambah dengan Austin yang dari tadi tidak melepaskan genggamannya.


...****************...


Sesampainya di rumah, Elena berterima kasih kepada Austin karena telah mengantarkan pulang.


"Aku boleh numpang ke toilet gak?"


"Boleh. Ya udah ayo masuk."


Keduanya masuk kedalam dan terlihat Mamah Elena yang sedang mempersiapkan dagangannya.


Ya, Mamah Elena bekerja sebagai penjual makanan, jadi setiap hari dia sibuk memasak dan mengantar makanan pesanan orang.


"Selamat siang, Tante." sapa Austin sambil salam kepada Mamah Elena.


"Iya, siang juga," ujar Mamah Elena.


Austin meminta ijin kepada Mamah Elena untuk menumpang ke toilet. Setelah itu, ia masuk kedalam toilet.


Elena duduk sambil membantu Mamahnya memasukan pesanan-pesanan kedalam kantong plastik.


"Kamu ambilkan minum buat Austin sana! ini biar sama Mamah aja."


"Gak usah kasih Austin minum. Soalnya selesai dari toilet, dia pasti pergi lagi."


"Gak boleh gitu. Kalau ada tamu itu harus disuguhi minuman dan makanan."


"Ya udah deh" keluh Elena sambil pergi ke dapur.


Selesai mengambil air minum dan cemilan, ia kembali ke ruang tamu.


Austin datang menghampirinya Elena dan Mamah Elena. "Tante, kalau gitu saya pamit dulu ya."

__ADS_1


"Minum dulu aja, sekalian ngobrol-ngobrol dulu," kata Mamah Elena.


Memang pada dasarnya Austin tidak enakan jadi orang, akhirnya ia menuruti perintah Mamahnya Elena.


Austin meminum air putih yang telah disediakan di meja, karena untuk menghargai Mamah Elena.


"Austin udah punya pacar belum?" tanya Mamah Elena.


"Belum, Tante," jawab Austin.


"Kalau kamu Elena? udah punya pacar belum?" tanya Mamah.


"Gak punya. Temen aja gak punya, apalagi pacar."


Austin menahan tawanya saat mendengar nada bicara Elena yang seakan-akan sensi dengan pertanyaan tersebut.


"Emang Austin gak dianggap teman sama kamu?" tanya Mamah.


"Bukan gak dianggap. Tapi emang Elena gak pernah dianggap teman sama orang, Mah."


"Kamu kali yang gak menganggap teman. Lagian aku dan yang lainnya menganggap kamu sebagai teman kok," kata Austin.


Memang sekarang banyak yang mendekati Elena, tetapi waktu dulu tidak ada satupun yang mau menjadikan Elena sebagai temannya. Mungkin juga karena peristiwa itu, jadi mereka merasa kasihan kepada Elena.


"Itu sekarang, tapi waktu dulu enggak," ucap Elena gemetar.


Elena ingin menangis karena mengingat bahwa dulu tidak ada yang ingin menjadi teman Elena.


Austin merasa kasihan sekaligus merasa bersalah kepada Elena. Sebagai teman kelas sekaligus ketua kelas, seharusnya ia lebih peka dengan teman-temannya.


"Aku minta maaf ya," ujar Austin.


"Harusnya aku waktu itu ajak kamu ngobrol atau main. Tapi aku waktu itu malah cuek ke kamu."


"Gak apa-apa, lagian itu kan dulu."


...****************...


Ting!


Satu pesan masuk membuat Elena yang tadinya fokus menonton televisi, kini fokusnya beralih ke ponselnya.


Ia mendapatkan pesan dari Talitha. isi pesan itu berupa undangan acara tahun Talitha, yang mana akan dilaksanakan besok malam.


Elena bingung tentang kado apa yang akan Elena kasih ke Talitha. Jika sebelumnya Talitha memberitahu, mungkin tadi sehabis pulang sekolah Elena akan langsung membeli kado.


Karena sekarang sudah pukul delapan malam, jadi Elena memutuskan untuk membeli kado di keesokan paginya.


Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar, otomatis Elena membukakan pintu.


"Ada apa, Mah?"


"Ada Austin di ruang tamu," kata Mamah.


Elena melihat dirinya sendiri, rasanya tidak pantas jika ia bertemu dengan Austin dengan penampilan seperti ini.

__ADS_1


"Sebentar, Mah. Elena mau ganti baju dulu." Elena menutup pintunya, lalu ia buru-buru mengganti pakaiannya.


Selesai mengganti pakaiannya, Elena pergi menuju ruang tamu untuk menemui Austin.


Ketika sampai di ruang tamu, Austin melihat Elena dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Kenapa?"


Austin menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak apa-apa.


"Ya udah ayo pergi!" ajak Austin.


"Mau kemana?"


"Antar aku beli kado."


"Tunggu sebentar." Elena kembali ke kamarnya dan ia kembali mengganti pakaiannya. Ia juga mengambil tas dan dompetnya, karena ia ingin membeli kado untuk Talitha.


Setelah semuanya siap, Elena kembali menghampiri Austin.


"Ganti pakaian lagi?"


"Iya, soalnya biar gak malu-maluin."


Skip


Elena melihat mobil yang terparkir didepan rumahnya. "Mobil siapa sih ini? menghalangi jalan aja," sewot Elena.


"Mobil aku," jawab Austin.


Elena terkejut, ia tidak menyangka bahwa Austin mempunyai mobil.


"Ya udah ayo masuk!" perintah Austin sambil masuk kedalam mobilnya, kemudian Elena menyusul masuk kedalam mobil.


"Udah punya SIM?"


Austin menggelengkan kepalanya dan itu membuat Elena lebih terkejut. Bagaimana bisa seseorang yang tidak mempunyai SIM boleh menggunakan mobil. Itu membuat Elena bergidik ngeri, karena ia membayangkan betapa menyeramkannya jika mobil dikemudikan oleh Austin.


"Aku gak jadi ikut deh."


"Tenang aja. Lagian aku bisa bawa mobil kok dan juga aku pasti hati-hati bawanya."


"Tapi janji jangan ngebut ya."


"Iya. Aku gak akan ngebut kok."


Austin melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati. Sebenarnya dari SMP, ia sudah diajarkan mobil oleh papahnya. Karena papahnya memang hobi balapan, jadi Austin sering diajak papahnya ke sirkuit.


Disisi lain, Elena terus menutup matanya. Ia terus membaca doa agar dirinya dan Austin selamat sampai tujuan.


Melihat Elena seperti itu, membuat Austin semakin ingin mengerjainya. Ia melajukan mobilnya lebih cepat dibanding sebelumnya, karena ia ingin melihat reaksi Elena.


"Austin, pelan-pelan dong!"


"Kalau lambat lama sampainya."


"Gak apa-apa, yang penting kita selamat."

__ADS_1


Austin tersenyum kearah Elena. Karena selama diperjalanan, Elena hanya menutup kedua matanya dan karena hal itu Elena terlihat lucu dimata Austin.


__ADS_2