
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun saat ini Austin belum juga datang ke rumah.
Rintik-rintik hujan mulai turun, membuat Elena berlari masuk kedalam rumah. Tadinya Elena memang menunggu diluar. Tetapi setelah hujan, ia memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
"Austin nya datang gak?" tanya Amel yang sedang menonton televisi.
"Kayaknya enggak, soalnya kan hujan."
"Kenapa gak kembalikan bukunya besok? padahal kan besok libur," heran Amel.
"Sebenarnya dia kesini bukan cuma mau kembalikan buku. Tapi dia juga mau antar aku ke suatu tempat."
Saat Amel bertanya tentang kemana Alena akan pergi. Lalu, Elena menjawab kalau dia ingin pergi menuju rumah Talitha.
Tingtong! Tingtong!
Bel rumah berbunyi dan itu membuat Elena berlari keluar. Ia yakin sekali bahwa orang yang menekan bel rumahnya adalah Austin.
Dan setelah berada diluar, ternyata memang benar kalau itu adalah Austin. Seluruh pakaian yang dikenakannya sangat basah kuyup dan itu membuat Elena merasa bersalah.
Akhirnya Elena mengajak Austin untuk masuk kedalam rumahnya.
"Kamu tunggu dulu disini," ujar Elena sambil pergi menuju kamar orang tuanya.
Ia mengambil handuk dan pakaian papahnya. Setelah itu, ia kembali menghampiri Austin yang berada di ruang tamu.
Elena memakaikan handuk ke tubuh Austin. "Ini ganti dulu, takutnya kamu masuk angin," ujar Elena sambil memberikan baju dan celana.
Akhirnya Austin diantar Elena pergi ke toilet. Sambil menunggu Austin berganti pakaian, Elena berjalan kearah dapur untuk membuatkan teh manis hangat.
Skip
Adrian menghampiri Elena dan Amel yang berada di ruang tengah. Spontan Elena dan Amel menoleh kearah Austin.
Entah kenapa pakaian milik papahnya sangat cocok dikenakan oleh Austin. Meskipun pakaiannya sedikit kebesaran, namun Austin masih terlihat tampan.
"Ini aku buatkan teh manis buat kamu." Elena memberikan teh manis tersebut kepada Austin. Kemudian, Austin langsung meminumnya karena.ia sangat kehausan.
"Oh iya! aku bikin mie instan dulu ya," ujar Amel.
"Gak usah repot-repot," kata Austin.
"Gak apa-apa, lagipula bikin mie instan gampang kok," kata Amel, lalu ia pergi menuju dapur.
Austin membuka tasnya dan ia meletakkan buku-buku Elena di meja.
"Makasih ya," ujar Elena, lalu Austin mengangguk.
"Ya udah kalau gitu aku simpan buku dulu."
Dengan cepat, Austin kembali mengambil buku-buku Elena. "Biar aku bantu bawa." Kemudian, Elena mengajak Austin untuk pergi ke kamarnya.
"Kamu suka warna pink ya?" tanya Austin, karena barang-barang di kamar Elena dominan berwarna pink.
__ADS_1
"Enggak," jawab Elena.
Elena mengambil buku-bukunya, lalu ia menaruh buku-buku itu di meja belajarnya.
"Oh iya, kamu butuh obat gak?" tanya Elena memastikan, karena ia takut Austin demam gara-gara kehujanan.
"Aku gak butuh obat, tapi butuh pelukan," canda Austin.
Elena menatap kearah Austin, ia berpikir bahwa Austin masih dalam keadaan sedih, makanya dia berbicara seperti itu.
Untuk membuatnya tersenyum kembali, akhirnya Elena memeluk Austin.
Disisi lain, Austin terkejut karena Elena memeluknya. Padahal yang ia ucapkan hanyalah candaan, tetapi Elena malah menganggap itu serius.
Tak lama, Elena melepaskan pelukannya. "Udah merasa tenang belum?"
Austin menahan senyumnya, sejujurnya ia merasa salah tingkah akibat dipeluk Elena.
"Masih sedih ya?"
"Udah enggak kok," jawab Austin.
Seluruh lampu di rumah tiba-tiba mati dan terdengar teriakan dari dapur.
Ya benar, Amel berteriak memanggil Alena untuk datang ke dapur, sebab Amel takut karena ia sendirian di dapur.
Karena ponsel Elena dan Adrian berada di ruang tengah, jadi mereka berjalan perlahan menuju ruang tengah.
...****************...
Lampu masih belum menyala dan itu membuat hawa disekitar menjadi menyeramkan. Ditambah lagi terdengar suara petir yang membuat Amel terus menjerit karena dia mudah sekali terkejut.
"Adrian, kalau hujannya belum juga reda, lebih baik kamu tidur aja disini. Lagian ada kamar yang kosong kok," ujar Elena.
"Kalau misalnya kamu takut, ya udah kita tidur bertiga aja," kata Amel.
Plak!
Mendengar perkataan Amel, membuat Elena spontan memukul tangannya.
"Maaf ya, dia kalau bicara emang suka ceplas-ceplos," ujar Elena.
"Gak apa-apa kok. Lagian aku tahu kalau dia cuma bercanda," kata Austin.
Trining! Trining!
Bukannya dijawab, Austin malah menolak panggilannya.
"Kenapa ditolak panggilannya?"
"Soalnya gak penting."
Elena sepertinya mengerti permasalahan Austin. Dia sepertinya sedang bertengkar dengan orang tuanya, makanya dia memilih untuk pergi dari rumah.
__ADS_1
"Austin, kamu lagi ada masalah apa?" tanya Amel.
"Gak ada masalah apa-apa kok," jawab Austin.
"Kata Elena katanya kamu lagi ada masalah. Bahkan tadi Elena khawatir banget sama kamu," ungkap Amel.
Elena melempar bantal kearah Amel. "Austin, jangan dipercaya omongan dia."
Austin hanya tersenyum melihat tingkah Elena yang sekarang, dia lebih ekspresif dibandingkan dengan Elena yang dulu ia kenal.
"Austin, Alena di sekolah kayak gimana sih? pasti dia nakal banget ya?" tanya Amel.
Austin melihat sekilas kearah Elena. "Dia dulu agak pemalu, tapi sekarang udah enggak."
"Dulu? bukannya dia baru beberapa hari pindah ke sekolah SMA Merdeka ya?" heran Amel.
"Maksudnya dia pemalu waktu awal masuk," jelas Austin.
Elena memang pemalu dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang. Ditambah lagi tidak ada yang mau mengajaknya bicara, makanya ia lebih baik menjadi orang yang pendiam.
Tetapi setelah mengenal Talitha, kini Elena merasa dirinya bisa bersosialisasi dengan yang lainnya.
"Aku ke toilet dulu ya, soalnya sakit perut," ujar Amel sambil berlari kearah toilet.
Kini hanya Elena dan Austin saja yang berada di ruang tengah. Jadi keduanya hanya saling menatap tanpa berbicara sepatah katapun.
Keduanya berusaha mencari topik, karena jika tidak, mungkin akan terlalu canggung jadinya.
"Orang tua kamu pulang kapan?" tanya Austin.
"Katanya sih hari Senin."
Suasana kembali menjadi canggung. Sebab, Austin hanya bertanya itu saja.
"Oh iya, nanti aku pergi ke rumah orang tua aku sendiri aja."
"Bukannya waktu kemarin pingin diantar aku."
"Gak usah deh, soalnya aku terlalu merepotkan kamu."
"Gak apa-apa, lagian aku senang kok direpotkan kamu."
Seakan-akan Elena merasakan sensasi kupu-kupu diperutnya. Sepertinya susah untuk tidak jatuh cinta kepada Austin, karena dia selalu membuat Elena salah tingkah.
"Untung aja ya ada Amel disini. Coba aja gak ada dia, mungkin kamu akan ketakutan," kata Austin.
"Gak akan ketakutan lah, kan ada kamu."
"Maksud aku, kalau gak ada siapapun disini pasti kamu ketakutan."
Elena menundukkan kepalanya karena ia sangat malu. "Oh gitu."
Austin tertawa kecil saat melihat Elena yang seperti sedang menahan malu.
__ADS_1