
Tiba di kelas, orang-orang menatap kearah Elena. Mereka menatap seolah-olah Elena adalah main character dalam sebuah film romantis. Ya, mereka tentu beranggapan seperti itu, karena mereka berpikir kini Austin yang hatinya sedingin es, tiba-tiba menyukai seorang wanita.
Di ujung sana, Elena melihat Austin yang seakan-akan risih dengan sorot mata teman-temannya yang menatapnya.
Entah kenapa, Elena merasa bersalah karena tadi ia meminta tolong di grup chat. Alhasil sekarang teman-teman sekelas menggoda Austin dengan mengatakan bahwa ada hubungan spesial antara Austin dan Elena.
"Selamat pagi semuanya!" sapa guru yang tiba-tiba datang.
"Selamat pagi, Bu," jawab semuanya.
"Untuk pertemuan kali ini, Ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok dan satu kelompoknya berisi dua orang."
Bu guru menyebutkan beberapa nama murid di kelas dan sialnya Elena sekelompok dengan Austin.
Selesai disebutkan nama-namanya, akhirnya semuanya menghampiri kelompok masing-masing. Tetapi Elena dan Austin hanya duduk di kursi masing-masing.
"Alena, sana! soalnya aku sama Fadlan mau duduk disini," ujar Talitha.
Elena mengambil bukunya, lalu ia berjalan kearah Austin. Saat duduk disebelah Austin, Elena merasa sedikit canggung karena ia merasa bersalah kepada Austin.
"Austin, aku minta maaf ya."
"Maaf untuk apa?"
"Soal chat grup."
"Gak apa-apa, santai aja."
Karena waktu terus berjalan, akhirnya Elena dan Austin mengerjakan tugasnya yang diberikan oleh guru.
Disaat Austin sedang mengerjakan tugas, Elena malah fokus pada sosok yang digambar Austin pada buku tulisnya.
Gambar itu terlihat seperti wajah Elena yang dulu. Tetapi tidak mungkin juga itu wajah Elena, karena untuk apa juga Austin menggambar wajah Elena.
"Itu gambar siapa sih?" tunjuk Elena.
Austin membalikkan bukunya. "Bukan gambar siapa-siapa kok."
"Gambarnya mirip seseorang."
Austin menatap kearah Elena. "Emangnya gambar ini mirip siapa?"
Saat Austin menatapnya, Elena langsung mengalihkan pandangannya. Jujur saja ia sedikit salah tingkah ketika Austin menatapnya.
__ADS_1
"Gak mirip siapa-siapa kok," ujar Elena, spontan Austin menatap datar kearah Elena.
Austin mengambil buku tulisnya dan ia menatap lekat gambar buatannya. "Ini gambar seseorang yang aku suka."
"Namanya Elena," sambungnya.
Saking terkejutnya mendengar perkataan Austin, Elena spontan menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang ia dengar sekarang.
"Kamu kenapa?" bingung Austin karena Elena tiba-tiba menutup mulutnya.
"Aku gak kenapa-kenapa kok," jawab Elena yang masih tak percaya dengan hal ini.
"Hmm...jangan bilang soal ini ke siapapun ya, soalnya pasti orang-orang akan syok kalau aku suka sama dia," ujar Austin, lalu Elena hanya mengangguk.
...****************...
Kini Elena, Talitha dan Manda sedang berada di kantin. Mereka menikmati jajanan sambil mengobrol seputar kelompok tadi. Lebih tepatnya, Talitha dan Manda sedang menggoda Elena karena sekelompok dengan Austin.
Kalau boleh jujur, Elena sangat salah tingkah sekarang. Ditambah dengan pernyataan Austin yang mengatakan bahwa dirinya menyukai Elena dan itu membuat Elena terbawa perasaan.
Jika dipikirkan, Elena sangat bingung tentang alasan Austin menyukainya. Wajah Elena yang dulu tidak cantik, tapi entah kenapa Austin menyukai Elena.
"Guys, emang ada ya cowok yang suka sama cewek jelek?"
"Benar apa kata Talitha," sahut Manda.
Elena tersenyum, ia tak menyangka tentang hal ini. Ia pikir mustahil jika seorang lelaki tampan menyukai seorang wanita jelek. Namun pada kenyataannya, memang benar bahwa tidak semua hal dilihat dari kecantikan.
Sebelumnya Elena masih penasaran tentang alasan Austin menyukai Elena. Jika ada kesempatan, Elena akan menanyakan hal itu kepadanya.
"Eh! lihat deh!" ujar Talitha sambil menunjukkan ponselnya, yang mana dilayar ponsel tersebut menunjukkan postingan instagram Austin yang kemarin dan caption postingan tersebut bertuliskan 'katakan saja dimana kau berada, aku akan segera ke sana'.
Tanpa sadar, air mata Elena mulai berkaca-kaca saat membaca caption tersebut. Sebab, foto yang Austin posting adalah foto dermaga yang sering Elena kunjungi.
"Alena, kamu nangis?" tanya Talitha memastikan, sontak Elena buru-buru mengusap air matanya.
"Udah yang sabar. Cowok ganteng masih banyak kok," ujar Manda sambil mengelus pundak Elena.
Manda berprasangka bahwa Elena menangis karena sedih ketika tahu bahwa Austin jatuh cinta kepada wanita lain, padahal sebenarnya Elena menangis karena terharu saat tahu bahwa Austin sangat mencintainya.
Elena berdiri dan ia berniat pergi menghampiri Austin.
"Mau kemana?" tanya Manda namun tidak direspon oleh Elena.
__ADS_1
Elena berjalan kearah Austin yang sedang makan bersama teman-temannya.
"Austin!" panggil Elena. Spontan Austin, Reza dan Ferdy menatap kearah Elena.
"Ada apa?" tanya Austin.
"Ada yang pingin aku bicarakan, tapi nanti kalau kamu udah selesai makan."
"Ya udah bicara aja sekarang, lagian makanannya udah hampir habis."
Elena menatap kearah Reza dan Ferdy. Ia tak mungkin membicarakan tentang dirinya kepada mereka berdua, karena dulu mereka juga pernah meledek Elena.
"Ya udah ayo kita bicara disana aja," ujar Austin.
"Tapi kamu kan belum selesai makan."
"Gak apa-apa, lagian aku udah kenyang."
Akhirnya mereka berdua pergi ke tempat sepi, karena Elena tidak ingin ada orang yang tahu tentang pembicaraannya dengan Austin.
Tiba-tiba Elena merasa gugup, karena ia akan memberitahu rahasia sebenarnya kepada Austin.
Sebelum berbicara, Elena menarik nafasnya terlebih dahulu agar ia merasa tenang.
"Aku mau bicara jujur sama kamu. Tapi jangan bilang ke siapa-siapa lagi ya," ujar Elena, lalu Austin mengangguk pelan.
"Sebenarnya aku itu Elena, bukan Alena."
Austin menatap datar kearah Elena. "Maksud kamu apa? kamu suka sama aku? terus kamu ngaku-ngaku jadi Elena biar aku suka gitu sama kamu?"
"Bukan gitu. Tapi aku beneran Elena."
Saat Austin hendak pergi, Elena dengan cepat memegang tangannya. "Aku punya bukti kalau aku itu Elena." Spontan Austin kembali menghadap kearah Elena karena ia ingin tahu tentang buktinya.
Elena melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Austin. "Foto dermaga di postingan instagram kamu, itu tempat Elena bunuh diri, kan?"
"Iya. Jadi buktinya apa?"
"Ya buktinya aku tahu tentang hal itu."
"Semua murid SMA Merdeka juga tahu kali tentang hal itu, jadi kamu pasti udah mendengar soal tempat itu."
Elena kembali berpikir untuk membuktikan kepada Austin bahwa apa yang ia bicarakan itu benar.
__ADS_1
"Aku ingat! waktu itu, saat kita sekelompok, kamu pernah menyuruh aku buat nulis karena tulisan aku paling rapih diantara yang lain," jelas Elena, karena ia hanya kepikiran tentang kejadian itu, yang mana karena kejadian itulah Elena kesal kepada Austin.