Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Siuman


__ADS_3

Sesudah bersiap-siap, Elena segera mengunci pintu rumahnya karena sore ini Elena akan pergi ke rumah orang tuanya bersama Austin.


Sambil menunggu Austin yang masih dalam perjalanan, Elena memilih untuk mendengarkan musik di ponselnya.


Ia tersenyum saat meresapi lirik-lirik lagu yang didengarnya. Lirik tersebut menggambarkan perasaan Elena saat ini.


Ketika Elena tersenyum, tanpa sadar ada seseorang yang datang menghampirinya.


Seseorang itu menepuk pundak Elena dan itu membuat Elena terkejut.


"Ih Austin" teriak Elena sambil melepaskan earphone-nya.


Austin tertawa karena melihat raut wajah Elena yang seakan-akan sangat terkejut.


Lalu, Austin memakai earphone milik Elena. Ia tersenyum karena lirik lagu tersebut mengandung pesan seseorang yang sedang jatuh cinta dengan temannya alias friendzone.


Elena langsung mencabut earphone ditelinga Austin. "Ayo berangkat sekarang!"


"Kamu lagi suka sama teman sendiri ya?" tanya Austin.


"Enggak kok! aku dengar lagu itu karena aku lagi suka aja," jelas Elena, karena sepertinya Austin menyangka bahwa Elena menyukai seseorang.


Tanpa berlama-lama, mereka langsung pergi ke rumah orang tua Elena dengan mengendarai motor Austin.


Skip


Sesampainya ditempat yang dituju, Elena dan Austin langsung turun dari motor. Mereka berdua tidak melihat siapapun dan bahkan sepertinya tidak ada orang didalam rumah.


"Kalian berdua mau cari siapa?" tanya wanita paruh baya. Sontak Elena dan Austin menoleh kearah wanita itu.


"Kalau pemilik rumah ini kemana ya, Bu?" tanya Elena.


"Mereka udah pindah dari sini dan saya gak tahu mereka pindah kemana. Bahkan rumah ini juga katanya mau dijual."


Elena menghela nafasnya, ia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Bahkan ia juga tidak ingat nomer kedua orang tuanya.


"Terus gimana sekarang? mau kita cari aja?" tanya Austin.


"Gak usah, lagian aku gak tahu mereka dimana."


"Ya udah kalau gitu kita pulang aja."


"Aku gak mau pulang. Aku pingin ke dermaga aja, soalnya bosan kalau di rumah."


Akhirnya Austin mengantarkan Elena pergi menuju dermaga.


...****************...


Ketika sampai di dermaga, Elena menghampiri tempat ia bunuh diri. Ia berpikir apakah sebaiknya ia mencoba melakukan hal itu lagi agar tubuhnya kembali ke semula.


"Kira-kira kalau aku jatuh lagi, apa wujud aku akan kembali ke semula?"


"Jangan berpikir yang enggak-enggak deh! Bukannya kamu udah janji sama aku, kalau kamu gak akan bunuh diri lagi," kata Austin.

__ADS_1


Elena memang sudah berjanji kepada Austin tentang hal itu. Tetapi disisi lain, ia sangat merindukan kedua orang tuanya.


"Coba kamu pikirkan baik-baik. Bukannya kamu bilang lebih menyukai kehidupan kamu yang sekarang."


"Iya, waktu itu aku pernah bilang kalau aku menyukai kehidupan aku yang sekarang. Tetapi saat ini, rasanya aku sudah cukup menikmati kehidupan ini. Dan sekarang sepertinya aku ingin hidup kembali menjadi Elena, bukan Alena."


Kemudian, Elena melangkah kedepan dan ia melompat ke laut.


...****************...


Elena melihat ke sekelilingnya, ia melihat kedua orang tuanya yang sedang melihat kearahnya.


"Mamah...Papah," gumam Elena.


"Elena, kamu udah sadar," ujar Mamah sambil mengusap kepala Elena.


Tak lama, dokter datang dan memeriksa keadaan Elena. Dia mengatakan bahwa sekarang kondisi Elena mulai stabil.


Elena merasa sedih sekaligus senang. Disatu sisi ia bisa terbangun dari komanya dan juga ia dapat melihat kedua orang tuanya lagi. Tapi disisi lain, ia merasa sedih karena kisah romantisnya ternyata hanyalah mimpi.


"Mah," panggil Elena.


"Ada apa?" tanya Mamah.


"Siapa yang bawa aku ke rumah sakit?"


"Austin. Katanya dia teman kamu dan juga yang bayar biaya perawatan kamu selama di rumah sakit."


Elena merasa bingung, Apakah ini juga masih mimpi atau kenyataan?


Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu, lalu ia masuk kedalam ruangan yang ditempati Elena.


"Selamat siang, Om, Tante!" sapa Austin.


"Siang juga, Austin," sapa Mamah dan Papah Austin.


Austin terkejut. "Elena udah siuman?"


"Iya, dia baru aja siuman," kata Mamah.


Mamah dan Papah Elena menyuruh Austin untuk menunggu Elena, karena mereka berdua akan membelikan Elena makanan.


"Ini masih mimpi ya?"


"Ini bukan mimpi."


"Terus kenapa kamu yang bawa aku ke rumah sakit?"


"Karena waktu itu aku juga ada di dermaga dan aku lihat ada seseorang yang berniat bunuh diri. Dan saat aku lari, aku tahu bahwa orang itu kamu. Setelah kamu lompat ke laut, aku juga langsung lompat dan tolongin kamu," jelas Austin.


Sangat disayangkan, ternyata kejadian itu memang tidak pernah dialami oleh Elena. Dan sepertinya ia memimpikan kejadian itu karena ia memang terbawa perasaan karena waktu itu Austin mengajaknya berangkat sekolah bersama.

__ADS_1


"Kamu mimpi buruk ya? sampai-sampai kamu bertanya ini mimpi atau bukan," kata Austin.


"Enggak kok. Justru itu mimpi indah."


"Sebelumnya maaf, karena aku gak bawa sesuatu. Soalnya aku kira kamu belum siuman."


"Iya gak apa-apa kok. Dijenguk juga aku udah senang."


...****************...


Beberapa hari kemudian, Elena kembali masuk ke sekolah. Sejujurnya ia sangat takut jika teman-temannya membicarakan perbuatan Elena. Ia tahu bahwa bunuh diri itu adalah dosa besar, tetapi karena waktu itu ia sangat depresi, akhirnya ia melakukan hal tersebut.


Ketika sampai di kelas, semua murid menghampiri Elena dengan tatapan khawatir.


"Elena, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Talitha.


"Aku gak apa-apa kok," jawab Elena.


"Elena, aku minta maaf ya. Aku banyak salah sama kamu," ujar Feby.


Elana terdiam sejenak, ia tidak percaya bahwa Feby akhirnya meminta maaf.


"Iya, aku udah maafin kamu kok."


Elena berjalan kearah kursinya, karena ia merasa sedikit risih saat teman-temannya terus mengerumuninya.


Saat duduk dikursi, tiba-tiba pundak Elena disentuh oleh seseorang dan itu membuat Elena jadi menoleh kebelakang.


"Ada apa?"


"Kalau misalnya banyak masalah, jangan coba-coba bunuh diri. Lebih baik curhat aku ke aku, aku siap kok dengerin curhatan kamu," ujar Manda dengan nada ketus.


Tanpa sadar, air mata Elena menetas. Meskipun Manda berbicara sangat ketus, namun Elena tahu bahwa Manda sangat peduli kepada Elena.


"Bukannya mikir, ini malah nangis," kata Manda.


"Manda, jangan gitu!" bentak Talitha sambil memukul tangan Manda.


Setelah itu, Talitha memeluk Elena dan dia menenangkan Elena supaya tidak menangis lagi.


"Udah sembuh?" tanya Austin.


Spontan Elena dan Talitha melepaskan pelukannya.


"Udah kok. Makasih ya Austin."


"Iya sama-sama," ujar Austin. Setelah itu ia berjalan kearah tempat duduknya.


Talitha memicingkan mata, ia merasa aneh dengan hubungan antara Elena dan Austin.


"Makasih buat apa?" tanya Talitha penasaran.


"Karena dia yang udah tolongin aku dan juga bayar biaya perawatan aku selama di rumah sakit."

__ADS_1


Sontak Talitha dan Manda terkejut mendengar perkataan Elena.


__ADS_2