
Sesampainya di rumah, Elena berterima kasih kepada Austin karena telah mengantarnya pulang ke rumah.
Terlihat dari raut wajah Austin, sepertinya ia ingin berbicara sesuatu namun ia sulit untuk mengungkapkannya.
Dan pada akhirnya mereka berdua hanya diam saja tanpa berpamitan satu sama lain.
"Kamu mau bicara sesuatu?" tanya Elena.
Austin menggelengkan kepalanya, namun Elena tahu pasti Austin ingin berbicara sesuatu. Jika tidak, dia mungkin sekarang sudah pamit pulang.
"Kalau gitu aku masuk duluan ya."
Ketika Elena akan memasuki rumah, tiba-tiba Austin turun dan ia memegang pergelangan tangan Elena.
"Ada apa?"
Austin menggaruk kepalanya. "Soal aku yang suka sama kamu, sebenarnya aku bohong soal itu. Jadi kamu gak usah baper."
Setelah berbicara seperti itu, Austin langsung pergi dengan mengendarai motornya.
Pada saat Austin pergi, Elena tertawa kecil karena sepertinya Austin malu karena waktu itu dia sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Elena.
"Lucu banget," gumam Elena.
...****************...
Karena di rumah sederhana tidak ada orang, akhirnya Elena memutuskan untuk mengirim pesan kepada Talitha dan juga Manda.
Elena ingin mengajak mereka berdua untuk main ke rumah, sebab ia sangat bosan berada di rumah sendirian.
Untungnya keduanya sedang tidak sibuk, jadi mereka bisa datang.
Sambil menunggu mereka datang, Elena langsung saja memesan makanan melalui aplikasi.
Selagi mereka belum datang, Elena terlebih dahulu membersihkan rumah, karena ia ingin teman-temannya merasa nyaman.
Beberapa menit kemudian...
Tintong! Tintong!
Sepertinya pesanannya lebih dulu sampai dibandingkan teman-temannya.
Akhirnya Elena bergegas pergi keluar untuk mengambil pesanannya.
Saat berada diluar, betapa terkejutnya Elena saat melihat Febry yang sedang mengantar makanan dan minuman yang dipesan Elena.
Disisi lain, Febry hanya menundukkan kepalanya sambil menagih pembayaran kepada Elena.
Tin! Tin!
Tiba-tiba seseorang datang dan ia turun dari motornya.
"Cepet bayar!" kesal Feby karena Elena hanya menatapnya.
Lalu, Elena segera mengambil dan membayar makanan dan minuman tersebut. Setelah itu, Fery bergegas pergi dengan mengendarai motornya.
"Manda!" teriak Elena sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Manda kembali menaiki motornya dan ia melajukan motornya kearah Elena.
"Aku kira rumah kamu sebelah situ," tunjuk Manda pada rumah yang berada didepan rumah Elena.
"Ya udah ayo masuk!" ajak Elena.
Manda memasukkan motornya ke garasi rumah Elena. Kemudian Elena dan Manda segera masuk kedalam rumah.
Sambil menunggu Talitha, mereka berdua menonton televisi bersama di ruang tengah.
"Manda, aku boleh tanya sesuatu gak?"
"Boleh. Mau tanya apa?"
"Bukannya Feby anak orang kaya ya?" tanya Elena, lalu Manda hanya mengangguk.
"Tapi kok dia jadi pengantar makanan."
Manda yang sedang minum, tiba-tiba tersedak karena mendengar ucapan Elena.
Uhuk...uhuk
"Serius?" tanya Manda memastikan.
"Iya. Tadi yang dia yang mengantar pesanan aku."
"Wah! berarti selama ini dia bohong ke semua orang dong," ujar Manda.
Tingtong! Tingtong!
Elena berlari keluar untuk membukakan pintu, karena ia tahu pasti bahwa itu adalah Talitha.
"Guys, aku udah kasih tahu ke beberapa teman kelas loh tentang kebohongan Feby," ujar Manda.
"Kebohongan apa?" bingung Talitha.
"Kamu kok gitu sih."
"Gak apa-apa, biar dia tahu rasanya dipermalukan orang lain. Lagipula waktu dulu aku juga pernah dipermalukan dia, makanya sekarang aku mau balas dendam ke dia," kata Manda.
Meskipun perkataan Manda ada benarnya juga. Tetapi entah kenapa Elena merasa tidak tega jika Feby direndahkan oleh orang lain.
"Alena, kamu sama Austin pacaran ya?" tanya Talitha tiba-tiba.
"Enggak kok."
"Jujur aja kali, lagipula aku udah gak suka sama dia."
"Hmm...gimana ya jelasinnya," bingung Elena.
Dengan mendengar ucapan Elena, membuat Talitha dan Manda yakin bahwa Elena dan Austin mempunyai hubungan spesial.
"Beneran pacaran?" tanya Manda.
"Sebenarnya kita gak pacaran. Cuma waktu itu Austin pernah suka sama aku," jelas Elena.
"Waktu itu? berarti kalian udah kenal lama dong," ujar Talitha, lalu Elena hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kenal dimana?" tanya Manda.
Elena bingung harus menjawab apa. Jika ia memberitahu tentang dirinya yang sebenarnya, mereka berdua pasti tidak akan percaya. Mungkin juga mereka mengira bahwa Elena sedang bergurau.
"Aku sama Austin sekelas waktu SMP, makanya kita kenal," bohong Elena.
"Jadi waktu SMP, Austin suka sama kamu?" tanya Talitha, lalu Elena mengangguk.
"Pantas aja aku belum pernah lihat Austin pacaran. Eh ternyata selama ini dia masih menunggu kamu," kata Manda.
"Enggak kok. Dia gak pacaran mungkin karena emang gak mau aja," jelas Elena.
...****************...
Tak disangka, waktu berjalan begitu cepat. Hingga kedua teman Elena memutuskan untuk pulang karena hari mulai menjelang malam.
Saat mereka pulang, entah kenapa perasaan Elena menjadi tidak enak. Ketika menutup gerbang, ia juga merasa diawasi oleh seseorang.
Dengan begitu, Elena buru-buru mengunci pintu gerbangnya karena ia takut jika yang dipikirkannya benar.
Memang komplek perumahan Elena sangat sepi karena kebanyakan orang sedang sibuk bekerja, jadi mungkin itu yang membuat Elena sangat ketakutan.
Tingtong! Tingtong!
Sudah terbukti bahwa memang ada seseorang yang sedang mengintai Elena.
Elena buru-buru menelpon teman-temannya. Namun sayangnya, teman-temannya tidak menjawab panggilan teleponnya.
Ya, mereka tidak mungkin menjawab karena sedang dalam perjalanan pulang.
Maka dari itu, Elena menelpon Austin untuk meminta bantuan kepadanya.
Bukan bermaksud untuk mencari perhatian, namun karena orang tuanya sedang berada diluar kota, jadi tidak mungkin juga Elena menelpon mereka.
Orang yang Elena anggap teman hanya Talitha, Manda dan Austin. Jadi untuk sekarang, Elena memutuskan untuk menelpon Austin.
Kemudian, Austin dengan cepat menjawab panggilan telepon dari Elena.
"Austin, tolong aku!"
"Ada apa?"
"Diluar ada orang jahat dan sekarang posisinya aku sendirian di rumah."
"Ya udah aku kesana sekarang," ujar Austin sambil mematikan teleponnya.
Tingtong! Tingtong!
Bel rumah terus berbunyi dan itu membuat Elena semakin panik. Bagaimana tidak, ia baru pertama kali merasakan kejadian yang menakutkan seperti ini.
Elena pergi menuju lantai 2 untuk melihat siapa orang itu. Walaupun memang menakutkan, tetapi Elena penasaran dengan orang itu.
Ketika sampai dilantai 2, Elena melihat ada seorang perempuan yang sedang berdiri diluar pagar rumahnya.
Ia tidak kenal dengan orang itu. Tetapi jika dilihat dari penampilannya, sepertinya dia bukan orang jahat.
Tak lama, perempuan yang dilihat Elena menelpon seseorang. Elena berpikir bahwa dia sedang memanggil kawan-kawannya untuk datang.
__ADS_1
Cukup lama dia disana, hingga pada akhirnya datanglah 3 orang dengan mengendarai motor.
Rasanya jantung Elena akan copot karena saking ketakutannya. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa supaya ada seseorang yang menolongnya.