Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Dituduh pacaran


__ADS_3

Tanpa sadar, Elena dan Austin sudah cukup lama berada diluar. Saking asiknya mengobrol, mereka sampai melupakan Amel, Reza dan Ferdy.


Sudah dipastikan saat ini ketiga orang tersebut sedang membicarakan Elena dan Austin.


Karena Elena dan Austin pada dasarnya tidak suka dengan seseorang yang membicarakan dirinya, akhirnya mereka berdua buru-buru masuk kedalam rumah.


Tiba didalam, keduanya heran karena Reza dan Ferdy tidak berisik seperti tadi. Dan pada saat dihampiri, ternyata keduanya sedang menikmati makanan yang dibuat oleh Amel.


"Pantas saja kalian berdua gak berisik," gumam Austin.


Elena dan Austin duduk bersama mereka bertiga. Dan keduanya ikut memakan masakan buatan Amel.


"Kalian berdua pacaran?" tanya Amel.


"Enggak kok," ujar Elena dan Austin bersamaan.


"Kata mereka berdua katanya kalian pacaran," ujar Amel.


"Kita cuma teman kok," ujar Elena.


Reza dan Ferdy menepuk pundak Austin, seakan-akan Austin sedih karena hanya dianggap teman oleh Alena. Sedangkan Austin, ia nampak kebingungan dengan tingkah laku temannya.


Meskipun memang benar bahwa Austin menyukai Elena, tetapi tetap saja ia tidak sedih saat Elena menganggapnya hanya sebagai teman. Lagipula sekarang hubungan Austin dan Elena memang hanya sebatas teman.


"Udah lebih baik sama yang pasti-pasti aja," ujar Ferdy.


"Maksudnya?" bingung Austin.


"Sama Febry aja. Dia kan udah lama suka sama kamu," jelas Ferdy.


"Aku gak suka sama dia," jelas Austin.


Dengan Austin menjawab seperti itu, membuat Amel, Reza dan Ferdy merasa kalau Austin benar-benar menyukai Alena.


"Kalau gitu berarti kamu suka sama Alena dong," kata Amel.


Austin menatap sekilas kearah Elena, lalu ia hanya terdiam. Ia bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Amel, karena sudah jelas Elena mengetahui bahwa Austin menyukainya.


Disatu sisi, ia tidak ingin menyakiti hati Elena dengan menyangkal bahwa dirinya menyukai Elena. Tapi disisi lain, Austin tidak mau diledek terus-menerus oleh Reza dan Ferdy.


"Kok diam aja. Apa jangan-jangan beneran ya kamu suka sama Alena?" tanya Amel.


"Emang harus banget ya menjawab pertanyaan itu?" tanya Austin.

__ADS_1


"Ya harus lah, kan biar jelas. Nanti kalau gak dijawab, berarti kamu sama aja memberi harapan ke Alena," kata Amel.


"Mau dijawab atau enggak, itu hak Austin. Jadi, kamu gak boleh paksa dia buat jawab pertanyaan kamu," ujar Elena.


Prok! Prok!


Reza dan Ferdy bertepuk tangan saat mendengar perkataan Elena.


"Fix mereka udah pacaran!" kata Reza.


"Iya benar, tapi kelihatan mereka gak pingin orang-orang tahu," sahut Ferdy.


"Terserah kalian mau bicara apa, tapi intinya kita berdua emang gak pacaran," jelas Austin.


Skip


Sebelum pulang, Austin berbicara kepada Elena bahwa besok ia akan datang kesini untuk berangkat ke sekolah bersama.


Austin berkata seperti itu tidak terang-terangan, karena jika teman-temannya tahu mungkin saat itu juga mereka akan heboh mendengar Austin mengajak perempuan untuk berangkat ke sekolah bersama.


Reza dan Ferdy menatap kearah pandangan Austin. Terlihat sekali kalau Austin tidak ingin pergi dan itu membuat Reza dan Ferdy sedikit mengulur waktu agar lebih lama berada di rumah Alena.


"Ngantuk banget ya," sindir Ferdy.


Akhirnya mereka bertiga pamit pulang kepada Elena dan Amel.


...****************...


Elena tidak bisa tidur dikarenakan Amel. Baru kali ini Elena melihat seorang perempuan yang mendengkur begitu keras.


Selain mendengkur, Amel juga mengigau. Entah mimpi apa, tapi yang jelas sepertinya ia memimpikan lelaki idamannya.


Berbicara soal lelaki idaman, entah kenapa terlintas dipikiran Elena mengenai Austin.


Austin memang terlihat seperti boyfriend material. Meskipun dia terlihat cuek, namun sebenarnya dia sangat perhatian. Selain itu, dia juga tampan dan pintar. Jadi tak heran jika banyak perempuan yang suka kepadanya.


Dibalik daripada itu, entah kenapa Austin memilih Elena sebagai perempuan yang disukainya. Padahal dari segi fisik, Elena tertinggal jauh daripada Feby.


Elena paham kenapa Austin tidak menyukai Feby. Tetapi jika Austin berpacaran dengan Feby dan dia menasehati Feby supaya menjaga tingkah lakunya, mungkin Feby akan menuruti perkataan Austin.


"Kira-kira Austin udah sampai rumah belum ya?"


Untuk memastikannya, Elena langsung saja mengirim pesan kepada Austin. Ya, Elena hanya mengirim kepada Austin saja.

__ADS_1


Karena untuk apa juga ia mengirim pesan kepada Reza dan Ferdy. Jika mengirim pesan kepada mereka berdua, Elena takut jika dicap sebagai perempuan murahan yang mendekati beberapa pria.


Tak membutuhkan waktu lama, pesan Elena dibaca oleh Austin. Ia terus menatap ke layar ponselnya dan berharap Austin membalas pesannya.


Bukannya membalas pesan, Austin malah menelpon Elena.


Jantung berdebar kencang saat melihat panggilan telepon dari Austin. Pasalnya ia tidak pernah mendapatkan panggilan telepon dari seorang lelaki.


Elena mencoba untuk tenang, kemudian ia menjawab panggilan telepon tersebut.


"Aku udah sampai kok," ujar Austin.


"Syukurlah, aku jadi lega kalau kamu udah sampai rumah dengan selamat."


Terdengar gelak tawa dari Austin. Entah apa yang ia tertawaan, tapi sepertinya Austin sedang menertawai ucapan Elena.


Elena mencoba meresapi kembali kata-katanya dan memang benar bahwa ucapannya terdengar kaku.


"Maaf ya, aku kaku banget. Soalnya aku gak pernah teleponan sama cowok."


"Gak apa-apa. Justru itu yang membuat lucu."


Senyuman terukir diwajah Elena, rasanya ia ingin teriak sekarang juga. Jika terus begini jadinya, mungkin Elena akan jatuh cinta kepada Austin.


"Kamu belum tidur?" tanya Austin.


"Belum."


"Kenapa belum tidur?" tanya Austin lagi. Kemudian Elena menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa tidur dikarenakan Amel mendengkur terlalu keras.


Austin menyarankan agar Elena pindah kamar saja. Tetapi karena sudah terlalu malam, Elena tidak mau pindah dikarenakan karena ia sangat takut.


"Ngomong-ngomong kamu lebih senang tinggal sama orang tua kandung kamu atau orang tua baru kamu?" tanya Austin.


"Sejujurnya aku lebih senang tinggal sama orang tua baru aku, karena kehidupan Alena sangat sempurna buat aku. Beda lagi jika aku hidup sebagai Elena, pasti semuanya serba kekurangan dan juga aku gak punya teman."


Tanpa sadar, air mata Elena mengalir deras. Ia tak tahan jika harus membicarakan kehidupannya.


"Kamu nangis ya?" tanya Austin karena ia mendengar isak tangis Elena.


"Austin, aku tutup ya teleponnya. Soalnya aku ngantuk banget." Sesudah berkata seperti itu, Elena langsung mematikan teleponnya.


Ia kembali menangis karena sejujurnya ia merindukan keluarga kandungnya. Namun jika ia kembali, ia tidak yakin akan hidup bahagia.

__ADS_1


Tujuan utama Elena bunuh diri juga karena ia lelah dengan kehidupannya di masa lalu. Jadi jika ia kembali, mungkin ia akan kembali menderita.


__ADS_2