
Ketika teman-teman kelas sudah pulang, Elena langsung pergi ke parkiran untuk menemui Austin. Ia sengaja pulang terakhir agar teman-temannya tidak curiga.
Meskipun diantara keduanya tidak sedang menjalin hubungan, tetap saja teman-temannya akan berkata bahwa Elena dan Austin pacaran hanya karena melihat keduanya berangkat dan pulang sekolah bersama.
"Elena!" teriak Austin sambil melambaikan tangannya. Dengan cepat, Elena berlari kearahnya.
"Maaf lama."
"Iya gak apa-apa. Ya udah ayo naik!" perintah Austin.
Elena menuruti perintah Austin. Setelah itu, Austin melajukan motornya menuju rumah Elena.
"Soal ucapan aku saat di kelas, sebenarnya itu cuma bercanda kok. Jadi kamu gak usah canggung sama aku," kata Austin.
"Ucapan yang mana?"
"Tentang aku yang masih suka sama kamu. Sebenarnya, aku udah gak suka kok sama kamu," bohong Austin.
"Iya, aku tahu," ujar Elena sedikit kecewa.
Beberapa saat, Elena baru sadar bahwa Austin melajukan motornya bukan kearah rumah Elena.
"Kita mau kemana?"
"Pom bensin," jawab Austin.
Tadinya Elena pikir Austin akan mengajak jalan-jalan, tetapi ternyata ekspektasi Elena tidak sesuai harapan. Mungkin karena Elena mengira bahwa Austin memang masih menyukainya, makanya ia berpikir seperti itu.
"Austin, aku turun disini aja deh. Soalnya aku mau naik ojek aja."
"Biar aku antar aja, lagipula beli bensinnya cuma sebentar kok."
"Iya, aku tahu. Cuma aku pingin naik ojek aja."
Akhirnya Austin menghentikan motornya di pangkalan ojek. Setelah itu, Elena turun dari motor dan ia berterima kasih sambil mengembalikan helm milik Austin.
...****************...
Elena terus memikirkan perkataan Austin yang berkata bahwa dia sudah tidak menyukai Elena lagi. Ia jadi berpikir bahwa dirinya memang tidak menarik, sampai-sampai Austin tidak menyukainya lagi.
Padahal fisik Elena sudah berubah menjadi cantik, namun tetap saja para pria tidak ada yang menyatakan cinta kepadanya.
Kalau dari awal Elena tidak terbawa perasaan kepada Austin, mungkin sekarang Elena tidak akan patah hati seperti ini.
__ADS_1
Tingtong! Tingtong!
Suara bel rumah membuyarkan lamunan Elena.
Karena sebelumnya Elena cukup parno, akhirnya ia ke lantai 2 untuk melihat siapa orang yang menekan bel rumahnya.
Dan ternyata itu adalah Amel. Kemarin ia memang berkata akan kembali kesini untuk menemani Elena.
Elena buru-buru pergi keluar untuk menemuinya karena sepertinya Amel membawa barang-barang yang cukup banyak.
Dan setelah bertemu dengannya, Elena sedikit terkejut karena barang-barang yang Amel bawa berupa bahan-bahan makanan.
Rasanya sangat bersyukur karena orang tua Elena menyuruh Amel untuk menemani Elena di rumah. Ia jadi tidak repot-repot untuk masak, karena Amel lah yang membuatkannya makanan.
"Alena, bantuin dong! berat nih," keluh Amel.
Elena mengambil plastik yang berisi makanan. Lalu, keduanya masuk kedalam rumah.
Sesampainya didalam, Amel langsung memasakkan makanan untuk dirinya dan juga Elena.
Padahal Elena sama sekali tidak meminta Amel untuk masak, namun Amel inisiatif memasak makanan. Suatu saat nanti, Elena yakin bahwa Amel akan menjadi koki yang sangat hebat, terbukti dengan masakannya yang sangat lezat.
"Btw, pacar kamu kok gak main lagi kesini?" tanya Amel yang sedang memotong sayuran.
"Terus yang kemarin itu siapa?"
"Maksud kamu Austin? dia kan cuma teman aku."
Amel tersenyum penuh arti, ia tahu bahwa Alena menyukai lelaki itu. Hanya saja Alena malu untuk mengungkapkannya.
"Meskipun teman, tapi kamu suka kan sama dia?"
Elena mengangguk. "Suka sih, tapi gak yang terlalu suka banget."
"Bilang aja suka kali, jangan ditambah-tambah pake gak terlalu suka banget segala."
Trining! Trining!
Elena berjalan ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya, karena memang sebelumnya ia sedang menonton televisi, jadi ponselnya ditinggal disana.
Saat ia mengambil ponselnya, jantungnya seketika berdetak kencang. Lalu, Elena buru-buru pergi ke dapur untuk menemui Amel.
Elena memberikan ponselnya kepada Amel. "Amel, tolong jawab teleponnya dong. Nanti bilang ke dia kalau aku lagi di toilet."
__ADS_1
Amel melihat ke layar ponsel Alena, yang mana tertulis ia melihat panggilan telepon dari Austin.
Tanpa lama-lama, Amel langsung saja menjawab panggilan telepon tersebut.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas Amel menuruti perkataan Elena yang mengatakan bahwa Elena sedang berada di toilet.
Kemudian, Amel mengembalikan ponsel milik Elena. "Katanya malam dia mau kesini."
"Dia mau apa kesini?"
"Katanya mau mengembalikan buku-buku punya kamu."
Elena baru ingat, seharusnya tadi sehabis pulang sekolah dirinya dan Austin pergi ke rumah orang tua Elena. Dan juga sepertinya Austin menelpon Elena karena dia akan mengembalikan buku dan juga dia akan mengajak Elena pergi ke rumah Elena yang dulu.
Ya benar, sepertinya memang begitu. Karena jika pergi kesana dengan mengenakan seragam sekolah mungkin dia takut jika ada guru-guru yang melihat. Sebab, peraturan sekolah melarang siswa dan siswi berkeliaran dengan memakai seragam sekolah.
Karena Elena sangat ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, ia memutuskan untuk kembali menelpon Austin.
Tak lama, Austin menjawab panggilan telepon dari Elena. "Hallo."
"Austin, bukannya kemarin kamu bilang kalau kamu mau antar aku ke rumah orang tua aku ya," ujar Elena to the point.
"Iya, tapi nanti malam aja ya kesananya. Soalnya sekarang aku lagi ada masalah."
Mendengar itu, Elena jadi penasaran dengan masalah yang dihadapi Austin. Jika bertanya juga, mungkin Austin tidak akan memberitahu apa masalahnya.
"Kalau kamu butuh cerita, aku siap kok dengerin cerita kamu." Entah kenapa kalimat itu langsung terlontar begitu saja dari mulut Elena.
"Aku gak butuh cerita ke orang lain kok. Yang aku butuhkan cuma ketenangan aja, lagian sedihnya gak akan lama juga."
"Saran aku sih lebih baik kamu pergi ke pantai deh, soalnya disana tenang banget. Meskipun masalahnya gak akan hilang, tapi setidaknya stres kamu hilang."
"Ya udah, aku ke pantai sekarang," ujar Austin, lalu ia mematikan panggilan teleponnya.
Entah kenapa Elena sangat khawatir terhadap Austin. Ia rasa Austin memiliki masalah besar, sehingga ia ingin mencari ketenangan.
"Kamu kenapa sih? kayaknya cemas banget," kata Amel.
"Austin lagi ada masalah, jadi aku khawatir sama dia."
"Kalau kamu khawatir, kamu samperin dia aja. Habis itu tenangkan Austin supaya dia tidak sedih lagi. Kalau bisa sih kamu terima aja cintanya. Dengan begitu, siapa tahu dia gak sedih lagi," usul Amel.
"Dia udah gak suka lagi sama aku. Jadi untuk apa aku terima cintanya."
__ADS_1
Amel memberitahu bahwasanya seorang lelaki berkata seperti itu bukan berarti dia memang sudah tidak ada rasa, melainkan dia takut jika pertemanannya canggung.