Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Menghindar


__ADS_3

Semua sedang sibuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru, terkecuali dengan Elena. Ia tidak fokus, matanya terus-menerus melihat kearah Austin. Elena takut jika Austin akan membencinya dan dengan begitu Elena takut jika dirinya dijauhi kembali oleh yang lainnya.


"Ayo kerjakan. Kok malah lirik-lirik kearah Austin," bisik Talitha. Spontan Elena langsung mengerjakan tugasnya.


"Ngomong-ngomong kamu ada hubungan apa sama Austin?" tanya Talitha.


"Gak ada hubungan apa-apa kok."


"Syukur deh kalau gitu, soalnya aku suka sama dia. Tadinya kalau dia sama kamu, aku mau memutuskan untuk gak suka lagi sama dia. Tapi karena dia gak ada hubungan apa-apa sama kamu, jadi aku semakin mau lanjutin suka sama dia."


Mendengar ucapan Talitha membuat Elena sedikit sedih, karena sebenarnya Elena sangat menyukai Austin.


Skip


Selesai mengerjakan tugas, Elena dan Talitha pergi menuju kantin karena sudah waktunya untuk makan siang.


"Elena, Talitha!" teriak Manda sambil berlari menghampiri Elena dan Talitha.


"Ada apa?" tanya Talitha.


"Gak ada apa-apa. Aku cuma ingin istirahat bareng kalian aja," ujar Manda.


Akhirnya ketiganya pergi ke kantin bersama.


Setibanya di kantin, mereka langsung membeli makanan dan minuman.


Saat mengantri, tiba-tiba Austin, Reza dan Ferdy menerobos barisan. Otomatis Manda langsung memarahi mereka bertiga.


"Ngantri dong!" kesal Manda.


"Iya benar. Udah tahu kita duluan yang kesini," sahut Talitha.


Setelah itu, Austin mengantri dibelakang Elena. Sedangkan Reza dan Ferdy tidak, karena mereka berdua sangat keras kepala. Jadi tidak mudah untuk menasehati Reza dan Ferdy.


Elena menengok kebelakang. "Austin." Bukannya menoleh kearah Elena, Austin justru memalingkan wajahnya.


Karena sepertinya Austin marah, jadi Elena mengurungkan niatnya untuk mengajak Austin mengobrol.


"Tin, kita berdua duluan ya," teriak Reza dan Ferdy bersamaan.


"Ya udah sana!" usir Austin.


Beberapa menit kemudian, Elena menghampiri Talitha dan Manda karena memang mereka berdua lebih dulu membeli makanan dan minuman.


"Kamu berantem ya sama Austin?" tanya Manda karena tadi ia mendengar Elena memanggil Austin, namun Austin tidak menanggapinya.


"Enggak kok," ujar Elena sambil menikmati makanannya.


"Terus kenapa tadi Austin gak respon saat kamu panggil? padahal kan posisinya deket banget," kata Manda.

__ADS_1


"Udah jangan bahas Austin lagi. Lebih baik makan aja, soalnya waktu istirahat gak lama."


...****************...


Austin masuk kedalam kelas dan otomatis Elena menoleh kearahnya.


"Guys! ini hasil kerja kelompok yang waktu itu," ujar Austin sambil menaruh kertasnya di meja guru. Lalu, ia pergi menuju tempat duduknya.


Saat Elena ingin mencari kertas, tetapi ternyata kertasnya tidka ada. Dan ia baru ingat bahwa dirinya sekelompok dengan Austin.


Saking penasaran dengan nilainya, akhirnya Elena berjalan kearah Austin.


"Yang punya kita ada di kamu?" tanya Elena, lalu Austin hanya mengangguk.


"Aku boleh lihat nilainya gak?" tanya Elena lagi.


"Nilainya sembilan puluh."


Sesudah diberitahu nilainya, Elena langsung kembali ke tempat duduknya.


"Nilai kamu berapa?" tanya Talitha.


"Sembilan puluh."


"Wah! besar juga nilainya."


"Iya, secara kan aku sekelompok sama Austin."


"Aku boleh gabung sama kalian gak?" tanya Feby sambil tersenyum kearah Elena.


Elena hanya menoleh kearah Talitha dan Manda karena sejujurnya ia mash takut dengan Feby.


"Boleh kok, Feb," kata Talitha.


"Elena, aku boleh duduk disini gak?" ulang Feby.


"Boleh kok."


Meskipun Feby sudah meminta maaf kepada Elena, entah kenapa Elena merasa bahwa dia tidak sepenuhnya meminta maaf.


"Elena, sebenarnya ada hubungan apa sih sama Austin? kok Austin kayak peduli banget sama kamu," kata Feby dan itu membuat Manda dan Talitha langsung menoleh kearah Elena.


"Aku gak ada hubungan apa-apa kok sama Austin."


"Kamu bukan saudara Austin?" tanya Feby memastikan, lalu Elena menggelengkan kepalanya seraya menjawab bahwa ia bukan saudara Austin.


Feby mengetik sesuatu pada ponselnya, lalu dia memperlihatkan ponselnya dan dia juga menyuruh agar Elena membaca tulisannya.


Saat dibaca, ternyata Feby meminta bantuan kepada Elena supaya dia bisa dekat dengan Austin.

__ADS_1


"Kamu bisa gak bantuin aku?" tanya Feby.


Elena menoleh kearah Talitha, karena ia tahu bahwa Talitha juga sangat menyukai Austin. Dan sebenarnya bukan hanya mereka saja yang menyukai Austin, melainkan Elena juga sangat menyukai lelaki itu.


Namun jika dibandingkan dengan mereka berdua, rasanya Elena sudah kalah diawal. Lantaran wajah mereka sangat cantik bila dibandingkan dengan Elena.


"Please, bantuin aku," mohon Feby.


"Bantuin buat dekat sama Austin?" tanya Manda, karena dia tahu bahwa Feby mendekati Elena untuk memanfaatkan Elena saja.


Disaat Manda berkata seperti itu, sikap Talitha yang tadinya biasa saja, kini menjadi terlihat murung.


"Feb, Austin itu sebenarnya udah punya pacar, tapi dia pacaran sembunyi-sembunyi. Makanya dia nolak kamu terus," bohong Manda.


"Emang Austin udah punya pacar?" tanya Feby.


"Aku waktu itu lihat dia sama cewek lagi gandengan tangan dan pastinya cewek itu pacarnya Austin," bohong Manda.


Feby merasa sakit hati saat mendengar bahwa Austin sudah mempunyai pacar. Kemudian, Feby mengambil makanannya dan ia langsung pergi.


...****************...


Guru mata pelajaran terakhir tidak hadir, jadi Elena memutuskan untuk pergi menuju rooftop.


Ketika sampai di rooftop, Elena mendengar suara Isak tangis seseorang. Karena penasaran, Elena berjalan mendekati kearah suara itu.


Betapa terkejutnya Elena, saat melihat seseorang yang baru saja menyayat pergelangan tangannya.


"Austin!" teriak Elena sambil berlari kearah Austin.


Austin yang terkejut, langsung mengarahkan tangannya kebelakang agar Elena tidak melihatnya. Namun kenyataannya, Elena sudah melihat darah ditangan Austin.


Elena menarik tangan Austin perlahan, lalu Austin hanya menunduk.


"Ayo ke UKS," ajak Elena, lalu Austin hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah kalau kamu gak mau, aku aja yang ke UKS. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana."


Saat Elena hendak pergi, tiba-tiba Austin menariknya dan ia memeluk Elena dengan erat.


Austin menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi pakaian Elena.


Tanpa sadar, Elena juga meneteskan air matanya. Meskipun ia tidak tahu beban apa yang dihadapi Austin, tetapi ia tahu bahwa beban tersebut sangat berat.


Mendengar Elena yang menangis lebih keras dibangunkan dengan dirinya, Austin jadi melepaskan pelukannya. Ia kebingungan, karena Elena jadi ikut menangis.


Austin mengusap air matanya, lalu ia juga mengusap air mata Elena.


"Jangan sakiti diri kamu," lirih Elena.

__ADS_1


Austin sangat heran, bagaimana bisa seseorang yang telah mencoba melakukan percobaan bunuh diri, kini tiba-tiba melarang untuk melakukan hal yang serupa.


__ADS_2