Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Berangkat sekolah bersama Austin


__ADS_3

Keesokan paginya, Elena dan Austin berangkat ke sekolah bersama. Sedangkan Amel, sejak tadi subuh dia sudah pergi ke rumahnya karena memang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Elena.


Selama diperjalanan menuju ke sekolah, Elena hanya diam saja. Ia sangat canggung, apalagi sekarang posisi Elena sangat dekat dengan Austin.


Elena memang memberi jarak, namun tetap saja posisinya sangat dekat.


"Duduknya jangan terlalu belakang, nanti takut jatuh," kata Austin.


Elena tidak menuruti perkataan Austin, karena sejujurnya ia tidak mendengar ucapan Austin karena di jalan terlalu berisik.


Cekitttt!


Tanpa aba-aba, Austin langsung mengerem motornya dan itu membuat Elena yang tadinya memberi jarak, kini posisinya mendekat kearah Austin.


"Maaf," ujar Elena karena ia tak sengaja memegang pinggang Austin.


Ketika akan melepaskan tangannya dari jaket Austin, tiba-tiba Austin dengan cepat mengalungkan tangan Elena ke pinggangnya.


"Aku gak nyaman," jujur Elena.


"Nyamanin aja, daripada jatuh nantinya," kata Austin sambil tersenyum tipis. Kemudian, Austin kembali melajukan motornya menuju sekolah.


Skip


Sesampainya di sekolah, Elena langsung turun dari motor dan ia berlari menuju kelas. Bukannya tak tahu terima kasih, tetapi Elena takut jika Feby melihat Elena bersama Austin.


Sambil berjalan menuju kelasnya, Elena terus menoleh kebelakang untuk memastikan apakah ada Austin atau tidak. Dan ternyata Austin ada dibelakangnya.


Entah kenapa Austin tertawa saat melihat Elena. Tapi yang jelas, Elena mengira bahwa Austin tertawa karena Elena berjalan begitu cepat.


Tak lama, Elena sampai di kelasnya. Spontan beberapa temannya menoleh kearah Elena, lalu mereka menertawakan Elena.


Elena tidak menghiraukan mereka, kemudian ia duduk di kursinya.


"Mau belajar atau mau jalan-jalan?" tanya Talitha sambil tertawa.


"Mau belajar lah."


"Terus kenapa masih pakai helm?"


Spontan Elena memegang kepalanya dan benar saja bahwa dirinya masih menggunakan helm milik Austin. Lalu, ia buru-buru membuka helm tersebut.


"Gawat! kalau aku kasih helm ini sekarang, bisa-bisa semuanya tahu kalau aku berangkat bareng Austin," batin Elena.


Tiba-tiba Reza menghampiri Elena. "Kok kayak kenal ya sama helmnya."


Elena menggigit bibir bawahnya, sepertinya ia akan ketahuan oleh Reza.


"Wah! helmnya kok mirip kayak punya aku ya," ujar Austin yang baru saja datang.

__ADS_1


"Emang itu bukan punya kamu?" tanya Reza kepada Austin.


"Bukan," bohong Austin sambil duduk di kursinya.


Tak lama, Feby datang menghampiri Elena. Dari tatapan matanya terlihat sekali bahwa dia sedang kesal.


"Alena, aku pingin bicara sama kamu," kata Feby.


"Ya udah bicara aja."


Raut wajah Feby terlihat sangat kesal. "Kita bicara diluar aja."


"Tapi aku malas keluar."


Jujur saja saat berbicara seperti itu Elena agak takut, karena aslinya Elena orang yang penurut, tapi kali ini ia ingin bersikap tegas kepada Feby agar ia tidak ditindas lagi.


"Bicaranya disini aja, lagian sebentar lagi masuk loh," kata Talitha.


"Berisik!" bentak Feby, lalu ia berjalan kearah tempat duduknya.


Talitha menunduk, ia sedikit terkejut karena dibentak oleh Feby.


"Padahal kan aku cuma kasih saran aja," kata Talitha.


"Udah jangan dimasukkan ke hati. Mungkin mood Feby lagi gak bagus, makanya dia jadi kayak gitu."


Lama-kelamaan rasa ingin membalas dendam ke Feby semakin berkurang. Mungkin karena sekarang hidup Elena sudah sesuai dengan yang ia inginkan, jadi ia tidak perlu membalaskan dendamnya kepada Feby.


...****************...


Disaat orang lain sibuk memperhatikan guru, Elena malah melamun sambil memikirkan orang tua kandungnya.


Ia sangat merindukan mereka berdua. Meskipun sekarang Elena hidup berkecukupan, tetapi rasanya sangat tidak nyaman karena itu bukan hak Elena menikmati kemewahan tersebut.


Elena jadi penasaran dengan sosok Alena yang asli. Mengapa tubuhnya bertukar dengan Elena? apakah Alena yang asli juga melakukan aksi bunuh diri seperti Elena?


Mustahil bagi Elena untuk percaya hal ini. Jadi, ia yakin bahwa ini hanyalah mimpi panjangnya.


"Alena!" panggil guru.


Spontan Elena melihat kedepan. "Ada apa, Bu?"


"Silahkan kerjakan nomer 1!" perintah guru.


Elena berjalan kedepan. Sejujurnya ia sangat tidak bisa dalam pelajaran matematika.


Kemudian, ia mengerjakan nomer satu. Beberapa detik kemudian, ia kembali menghapusnya karena. ia tidak yakin bahwa jawabannya benar.


"Makanya kalau guru sedang menjelaskan itu diperhatikan. Akhirnya kan sekarang kamu gak bisa mengerjakan," ujar guru.

__ADS_1


"Maaf, Bu."


"Ada yang mau bantu Alena gak? nanti kalau yang bisa bantu, saya akan kasih nilai tambahan."


Murid-murid terdiam karena mereka juga tidak terlalu mengerti.


Adrian mengangkat tangan kanannya. "Saya mau bantuin Alena, Bu." Lalu, Adrian berjalan menghampiri Elena.


Setelah itu, Adrian membantu Elena mengerjakan soal nomer satu. Cara Adrian memberitahu Elena membuat beberapa murid terbawa perasaan.


Bagaimana tidak, tatapan Adrian begitu tulus kepada Elena. Selain itu, senyuman Adrian sangat manis dan itu membuat beberapa orang jadi salah tingkah, padahal orang yang ditatap adalah Elena.


Selesai mengerjakan, Elena dan Adrian kembali duduk ke kursinya masing-masing.


"Cieee...dibantuin ayang," bisik Talitha.


"Ih apaan sih," ujar Elena sambil menahan senyumnya.


"Udah terima aja kali Austin nya. Lagipula kan kamu tahu kalau Austin udah lama suka sama kamu."


Elena jadi merasa berdosa karena telah membohongi Talitha dan Manda. Ia seharusnya waktu itu tidak mengatakan bahwa Austin menyukainya saat SMP.


"Terima apanya? kan dia gak nembak aku."


"Jadi kamu nunggu ditembak?"


"Enggak! maksud aku itu dia kan suka aku waktu dulu, tapi sekarang dia udah gak suka."


"Kata siapa gak suka?"


Daripada melayani pembicaraan Talitha, Elena lebih memilih untuk diam. Jika terus dilayani, Talitha akan terus memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar Austin.


Skip


Semua siswa dan siswi pergi menuju aula karena akan ada sosialisasi dari kepala sekolah beserta guru-guru.


Sosialisasi tersebut membahas seputar peraturan sekolah terbaru, yang mana sekolah melarang siswa dan siswi bermain setelah pulang sekolah.


Maksud dari kata bermain disini ialah ketika siswa dan siswi main setelah pulang sekolah dan ia masih menggunakan seragam sekolah.


Jika siswa dan siswi itu melanggar, maka mereka akan mendapatkan hukuman.


Selain larangan tadi, adapun larangan mengecat rambut dan berpakaian ketat. Karena banyak sekali siswi yang seperti itu, jadi kepala sekolah melarang hal tersebut.


Untungnya Elena merupakan siswi yang taat aturan, jadi ia tidak tersindir sama sekali saat kepala sekolah menyebutkan larangan-larangan itu.


"Kalau main setelah pulang sekolah tapi pakai baju biasa boleh gak?" tanya Talitha.


"Boleh lah, kan tadi kepala sekolah bilang gak boleh kalau misalnya murid itu masih pakai seragam sekolah," jelas Elena.

__ADS_1


__ADS_2