Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Gaun pemberian Austin


__ADS_3

Austin POV


Elena dan Austin telah sampai di toko makeup. Selama di toko, Austin terus mengikuti Elena karena ia tidak paham tentang makeup.


Austin bisa saja langsung mengambil makeup tersebut untuk kado ulang tahun Talitha. Namun, Elena mencegahnya dan Elena terus memberitahu Austin bahwa ada promo.


Karena tak tahan berlama-lama, akhirnya Austin lebih memilih membeli barang tersebut walaupun harganya lumayan mahal.


Memang pada dasarnya cewek lebih jago dalam membeli sesuatu, tapi kalau begini jadinya mungkin akan terlalu lama berada di toko.


"Udah belum?" tanya Austin.


"Sebentar, aku mau pilih-pilih warna dulu."


"Ya udah kalau gitu aku tunggu diluar ya, soalnya pusing lihat kamu mondar-mandir mulu."


"Ya udah sana!" usir Elena. Lalu, Austin pergi keluar.


Sambil menunggu Elena, Austin pergi ke sebuah toko kue yang berada di sebrang. Ia membeli kue untuk dirinya dan juga untuk Elena.


Skip


Selesai membeli kue, Austin melihat Elena yang terus mondar-mandir disekitar mobil Austin. Austin tahu betul bahwa Elena sedang mencari keberadaan Austin.


Karena kasihan melihatnya seperti itu, akhirnya Austin pergi menghampirinya.


"Ih! dari mana aja sih?" kesal Elena.


"Habis beli kue."


Keduanya masuk kedalam mobil. Kemudian, Austin memberikan kue kepada Elena.


"Buat kamu."


"Makasih," ujar Elena sambil menerima kue pemberian Austin.


Bukannya langsung dimakan, Elena malah tersenyum sambil menatap kue tersebut.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Austin sambil menyetir.


"Soalnya ini buat orang tua aku."


Perkataan Elena membuat Austin tak bisa berkata-kata. Pasalnya Austin memberikan kue tersebut untuk Elena. Namun Elena malah ingin memberikan kue tersebut kepada orang tuanya.


"Udah makan aja, soalnya kue yang dibelakang itu buat orang tua kamu."


"Oh gitu, makasih ya," kata Elena, lalu Austin mengangguk.


Tadinya kue tersebut untuk Austin. Namun ketika mendengar perkataan Elena yang berkata bahwa kue itu untuk orang tuanya, membuat Austin terharu. Karena bagaimana bisa seseorang lebih mementingkan yang lain dibanding dirinya sendiri.


"Enak gak?" tanya Austin saat Elena mencoba mencicipi kue.


Elena mengangguk sambil tersenyum. "Enak banget"


Tiba-tiba tangan Elena berada didepan mulut Austin. "Cobain deh!"

__ADS_1


Austin menoleh sekilas kearah Elena, kemudian ia memakan kue tersebut.


"Enak, kan?"


Austin tersenyum. "Iya, enak banget."


Sebelum mengantarkan Elena pulang, Austin mengajak Elena untuk mampir ke sebuah toko. Ia ingin membelikan Elena gaun dan juga high heels, karena ia tidak ingin Elena dipermalukan oleh teman-teman kelasnya.


Bukan bermaksud untuk menghina Elena, namun sejujurnya Elena tidak pandai dalam hal fashion. Jadi, Austin memutuskan untuk membantu Elena supaya terlihat cantik.


Tiba di toko, Austin memanggil penjaga toko untuk memilih gaun yang cocok untuk pergi ke pesta ulang tahun. Lalu, penjaga toko mengambil beberapa gaun untuk ditunjukkan kepada Austin.


"Coba pakai yang ini," suruh Austin.


"Kok aku yang pakai," heran Elena.


"Karena ini buat kamu."


"Gak usah repot-repot. Lagian aku punya pakaian bagus kok di rumah."


Tanpa basa-basi, Austin langsung mengambil gaun tersebut dan juga ia menarik Elena supaya masuk ke kamar ganti.


"Ini ambil." Austin memberikan gaun itu kepada Elena.


"Ini serius buat aku?"


"Ya serius lah, masa aku bercanda."


Akhirnya Elena mengambil gaun itu dan ia masuk ke ruang ganti.


"Gimana? bagus gak?"


Austin menatap Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki. Austin berpikir bahwa sekarang Elena memang biasa saja, tapi nanti setelah memakai makeup pasti Elena akan terlihat sangat cantik.


"Kamu suka gak?"


Elena terdiam sejenak. "Ini mahal gak?"


Pertanyaan Elena memang diluar ekspektasi. Austin mengira bahwa dia akan menjawab iya ataupun tidak. Namun pada kenyataannya, Elena malah menanyakan harga gaun itu.


"Murah kok," jawab Austin. Karena jika ia menjawab bahwa gaun itu mahal, kemungkinan Elena tidak akan mau menerima gaun itu.


"Aku suka gaun ini."


Dan pada akhirnya Austin membeli gaun tersebut.


...****************...


Seseorang menepuk pundak Elena dan itu membuat Elena terbangun dari tidurnya.


"Bangun! udah sampai," kata Austin.


"Oh iya! ini kue buat orang tua kamu." Austin memberikan kue tersebut kepada Elena.


"Makasih banyak ya."

__ADS_1


"Iya sama-sama."


Elena turun dari mobil dan ia segera masuk ke rumah karena ia sangat mengantuk.


Saat masuk, Elena menaruh kue tersebut di meja. "Ini dari Austin," ujarnya kepada kedua orang tuanya.


"Austin siapa?" tanya Papah.


"Teman Elena, Pah."


Elena pergi menuju kamarnya, karena ia tidak tahan ingin segera tidur.


Sesampainya di kamar, ia melihat pakaiannya yang berada di ranjangnya. Langsung saja ia membuang pakaiannya itu ke lantai. Setelah itu, ia langsung tidur di ranjangnya.


2 jam kemudian...


Elena terbangun dari tidurnya karena ia ingin ke toilet. Sebelum ke toilet, ia mengecek ponselnya karena ia merasa ada pesan masuk dari Austin. Tapi setelah dilihat, tak ada satupun pesan masuk.


Mungkin Elena hanya halusinasi saja, karena ia sempat pergi dengan Austin.


Sesudah mengecek ponselnya, Elena pergi menuju toilet.


Skip


Selesai dari toilet, ia kembali menuju ranjangnya dan ia memainkan ponselnya. Entah mengapa ia kepikiran tentang Austin. Ia berpikir apakah Austin sudah sampai rumah atau belum, karena Elena sendiri khawatir terjadi sesuatu saat diperjalanan pulang.


Ya, Elena khawatir tentang hal itu. Apalagi Austin tidak mempunyai SIM. Selain itu, karena Elena masih terbayang-bayang dengan mimpi itu, jadi ia khawatir jika Austin pergi dari rumah.


Sebab kekhawatiran Elena sangat besar kepada Austin, jadi ia memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya.


Sesudah mengirim pesan itu, tak lama pesan tersebut dibaca oleh Austin. Tak lama, Austin membalas pesan dari Elena dan isi pesannya tertulis bahwa Austin sudah ada di rumah dari beberapa jam yang lalu.


Trining! Trining!


Elena terkejut dan ia spontan melempar ponselnya. Untungnya ponselnya tidak sampai jatuh ke lantai.


Semisalnya sekarang Elena bertemu dengan Austin, mungkin ia akan memukul orang itu. Bisa-bisanya dia tiba-tiba menelpon tanpa memberitahu dulu pada Elena.


Tidak tahu apa yang ingin Austin bicarakan, tapi sepertinya ia ingin berbicara sesuatu kepada Elena. Jadi, Elena dengan cepat menjawab panggilan teleponnya.


"Ada apa?"


"Besok ke acara ulang tahun Talitha berangkat sama siapa?"


"Ya sendiri lah."


"Mau bareng sama aku gak?"


Elena jadi salah tingkah sebab ditawari berangkat bersama Austin.


"Emang kamu gak berangkat sama Reza dan Ferdy?"


"Enggak. Soalnya mereka berangkat sendiri-sendiri."


"Ya udah aku mau berangkat sama kamu."

__ADS_1


Setelah Elena berkata seperti itu, Austin langsung mematikan teleponnya.


__ADS_2