Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Kebahagiaan (END)


__ADS_3

Disaat semua orang pulang, Elena dan Austin justru pergi menuju UKS. Tadinya Austin tidak ingin diobati, namun karena Elena memaksanya, jadi Austin dengan terpaksa menurutinya.


"Kenapa peduli banget sama aku?" tanya Austin sambil melihat kearah Elena yang sedang mengobati luka dipergelangan tangan Austin.


"Karena waktu itu kamu juga peduli sama aku, makanya aku mau membalas kebaikan kamu."


"Bukannya waktu itu kamu menyuruh aku buat jauhi kamu. Tapi kok sekarang, kamu malah dekati aku.


"Maaf. Sebenarnya aku gak ada bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut aja kalau aku di-bully karena dekat sama kamu."


Austin meyakinkan Elena bahwa Feby tidak akan mem-bully Elena lagi. Sebab, jika Feby mem-bully Elena lagi, Austin tidak akan tinggal diam.


"Oh iya, katanya kamu udah punya pacar ya?" tanya Elena, karena ia ingin memastikan bahwa perkataan Manda itu benar atau tidak.


"Aku gak punya pacar."


"Jangan bohong! aku tahu kok kalau kamu udah punya pacar."


Austin kebingungan, lantaran ia sungguh tidak memiliki pacar.


"Aku emang gak punya pacar."


"Tapi aku dengar katanya kamu pegangan tangan sama cewek dan pastinya cewek itu pacar kamu."


Austin tersenyum, entah mengapa ia merasa bahwa Elena sedang cemburu.


"Iya, aku punya. Emangnya kenapa ya?" tanya Austin sambil menahan tawanya, karena ia yakin bahwa Elena sedang cemburu.


"Katanya tadi gak punya, tapi sekarang bilangnya punya. Aneh banget jadi cowok," ucap Elena dengan nada kesal.


Austin tersenyum sambil menatap Elena. "Kamu cemburu ya?"


"Ih enggak!"


Sesudah mengobati Austin, Elena buru-buru mengambil tasnya.


"Aku pulang duluan."


"Pulangnya bareng aku aja."


"Gak usah! nanti pacar kamu marah." Elena segera keluar dari UKS.


Skip


Tin! Tin!


Elena berhenti berjalan dan ia menoleh kearah pengendara motor yang membunyikan klakson. Dan ternyata pengendara motor itu adalah Austin.


"Ayo naik!" ajak Austin.


"Gak usah! aku mau jalan kaki aja."


"Kalau kamu gak naik, aku bakal terus ikutin kamu."


"Terserah."


Elena terus berjalan dan ia tidak memperdulikan Austin.


Bukan berniat untuk menjauhi Austin lagi, hanya saja Elena merasa sedih karena ternyata Austin sudah memiliki kekasih.


"Kalau suka itu bilang, bukan malah dipendam," sindir Austin yang terus mengikuti Elena menggunakan kendaraannya.


Mendengar perkataan Austin, membuat Elena menghentikan langkahnya. Elena merasa bahwa Austin mengetahui jika Elena menyukainya.


Elena menoleh kearah Austin. "Maksudnya?" tanya Elena yang pura-pura tidak paham.


Austin hanya diam saja. Karena percuma saja, Elena pasti tidak akan mengakui bahwa dia menyukai Austin.


"Na, makan mie ayam yuk," ajak Austin, karena kebetulan didepannya ada yang jual mie ayam.


"Aku udah kenyang."


"Kalau gitu temani aku makan aja, soalnya bosan kalau makan sendirian."


Setelah mengingat kejadian di rooftop, Elena menjadi kasihan kepada Austin.


"Ya udah."

__ADS_1


"Cepat naik!" suruh Austin.


"Gak usah. Lagian yang jualnya dekat, jadi aku jalan kaki aja."


"Aku keburu lapar nih."


Karena tak tega, akhirnya Elena naik ke motor Austin. Lalu, Austin melajukan motornya ke tempat yang menjual mie ayam.


Skip


Elena duduk berhadapan dengan Austin. Karena ia merasa canggung, akhirnya ia memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian, seseorang mengantarkan pesanan Austin dan meletakkannya di meja.


"Kamu lapar banget ya?" tanya Elena, karena Austin memesan dua mangkuk mie ayam dan dua gelas es kelapa.


Austin menggeser mangkuk dan gelas kehadapan Elena. "Ini punya kamu."


"Aku kan gak pesan."


"Tenang aja, nanti aku yang bayar. Jadi kamu tinggal habiskan aja."


Sebenarnya bukan masalah siapa yang bayar, tetapi saat ini Elena sangat kenyang. Tetapi karena Austin sudah memesan, jadi Elena akan menghargainya.


"Makasih."


"Iya sama-sama."


Elena menikmati makanan sambil memainkan ponselnya. Ia sengaja melakukannya dikarenakan ia malas mengobrol dengan Austin. Lebih tepatnya, Elena merasa harus menjaga karena Austin sudah memiliki pacar.


Karena Austin tak berbicara sama sekali, jadi Elena menoleh sekilas kearahnya untuk memastikan apakah Austin sedang menatapnya atau tidak.


Dan dugaan Elena salah, ternyata Austin sedang menikmati mie sambil menatap luka dipergelangan tangannya.


Elena merasa khawatir. "Sakit ya?"


Austin hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak sakit.


"Kalau kamu butuh cerita, aku siap kok dengerin cerita kamu."


"Aku gak butuh cerita ke orang lain kok. Lagian sedihnya gak akan lama juga."


"Ini udah gak benar," gumam Elena.


"Apa yang gak benar?" bingung Austin.


"Percakapan tadi persis dengan percakapan dimimpi aku."


"Mungkin cuma kebetulan aja."


Elena membantahnya karena ia sering mengalami beberapa kejadian yang sama seperti mimpinya disaat dirinya sedang koma.


"Kamu bohong ya?"


"Serius. Tapi kejadian yang aku alami gak sepenuhnya persis dengan apa yang ada dimimpi."


Lalu, Elena menceritakan tentang kejadian dimimpinya yang mana saat itu dimimpinya ada Feby dan seorang perempuan yang sedang berdebat di rooftop. Tapi di kehidupan nyata, Elena justru bertemu dengan Feby dan Austin yang sedang bertengkar.


"Jadi waktu di rooftop, kamu bersembunyi karena ingin memastikan hal itu?" tanya Austin, lalu Elena mengangguk.


"Coba ceritakan mimpi-mimpi kamu saat kamu koma," suruh Austin.


Tentu saja Elena menolak untuk menceritakannya. Jika ia menceritakan semuanya, bisa-bisa Austin tahu kalau Elena memimpikannya.


"Kenapa gak mau cerita? atau jangan-jangan dimimpi kamu ada aku ya?" tebak Austin.


Elena meneguk salivanya, ia menjadi gugup karena tebakan Austin sangat tepat.


"Benar, kan?" tanya Austin, lalu Elena hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.


"Kalau bohong dosa loh."


Elena terdiam sejenak. "Iya, dimimpi aku ada kamu."


Setelah mengungkapkan itu, Elena langsung mengalihkan pandangannya.


Austin menopang dagu dan tersenyum kearah Elena. "Pasti dimimpinya kamu suka sama aku, kan?"

__ADS_1


Elena membisu, ia bingung harus berkata apa. Jika berkata pun sepertinya Elena akan sangat gugup dan pastinya itu akan membuat Austin curiga.


"Kalau diam berarti benar."


"Hmm...iya benar. Tapi kan itu cuma mimpi, jadi kamu jangan kegeeran. Lagian aslinya aku gak suka sama kamu."


"Kalau gak suka, kenapa kamu mau berteman sama aku?"


"Maksudnya bukan gitu. Maksud aku itu, aku gak mencintai kamu."


Elena menggigit bibir bawahnya, ia merasa seperti pecundang karena telah membantah kebenaran.


"Mau bohong sampai kapan?"


"Maksudnya?"


"Aku tahu kalau kamu suka aku. Dari tingkah laku kamu udah kelihatan kalau kamu ada perasaan ke aku. Bahkan saat kamu cemburu, itu terlihat sangat jelas."


Jantung Elena berdegup kencang. Ia tidak bisa mengelak lagi saat mendengar ucapan Austin.


"Iya, aku suka sama kamu." Elena menunduk.


"Tapi aku akan berusaha buat gak suka lagi sama kamu." Tanpa sadar, Elena meneteskan air matanya.


"Kenapa berusaha buat gak suka sama aku?" tanya Austin.


"Karena aku gak pantas menyukai seseorang. Dan juga kamu udah punya pacar, jadi lebih baik aku buang jauh-jauh perasaan aku."


Saat Elena hendak pergi, tiba-tiba Austin mencegahnya dan mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai pacar.


"Sebenarnya aku juga punya perasaan sama kamu."


Elena hanya mematung, ia pikir dirinya sedang berhalusinasi. Tetapi ternyata Austin memang berkata seperti itu.


"Duduk!" perintah Austin, karena tadi Elena hendak pergi. Lalu, Elena kembali duduk ditempat semula.


Austin memegang kedua tangan Elena dengan gugup. "Hmm...sebenarnya aku suka sama kamu."


"Gak mungkin."


"Aku serius, Na."


Elena menatap kedua mata Austin untuk memastikan apakah dia berkata jujur atau tidak. Meskipun terlihat tidak ada kebohongan, tetapi tetap saja Elena tidak mempercayainya.


"Aku gak percaya. Kamu pasti bicara kayak gitu karena ingin mengasihani aku, kan?"


"Sama sekali enggak."


"Kalau kamu suka aku, buktinya apa?"


Austin mengambil ponselnya dan ia menunjukkan chat grupnya kearah Elena.


Disitu tertulis pengakuan Austin kepada Reza dan Ferdy bahwa dia menyukai Elena.


"Ini serius atau cuma bercanda?"


Austin menatap datar kearah Elena, padahal sudah jelas-jelas disitu tertulis pengakuan Austin. Tetapi Elena tetap saja menganggap kalau Austin hanya bercanda.


"Emang aku kelihatan bercanda?" tanya Austin, lalu Elena hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa suka sama aku? padahal aku kan gak cantik."


"Dimata ku, kamu cantik kok."


"Tapi aku merasa kalau aku gak cantik."


Austin menyakinkan Elena bahwa semua wanita itu cantik. Selain itu, Austin juga menasehati Elena agar Elena jangan terus-menerus membahas tentang kecantikan. Karena poin utama kecantikan seseorang itu dilihat dari kepribadiannya terlebih dahulu. Setelah tahu bahwa kepribadian seseorang itu baik, maka dia akan terlihat cantik di mata orang lain.


"Jadi sekarang gimana? masih mau jadi teman atau menjadi orang yang spesial?" tanya Austin.


"Maksud dari orang spesial itu apa?"


"Jangan pura-pura bodoh deh."


"Ya udah, aku mau jadi orang yang spesial aja."


Setelah sekian lama, akhirnya Elena percaya dengan kata-kata 'akan ada kebahagiaan setelah kesedihan'. Dan itu terbukti dengan yang ia alami sekarang, bahwa seseorang tidak akan terus-menerus dalam kesedihan. Cepat atau lambat, mereka juga pasti akan menemukan kebahagiaan masing-masing.

__ADS_1


...TAMAT ...


...----------------...


__ADS_2