
Karena sudah larut malam dan hujan belum juga reda, akhirnya Austin menerima tawaran Elena untuk menginap.
Untung saja listrik sudah menyala, jadi jika Austin bosan, dia bisa menonton televisi.
"Aku tidur duluan ya," ujar Amel sambil pergi ke kamar.
"Kamu gak ke kamar?" tanya Austin.
"Enggak, soalnya aku belum ngantuk," jawab Elena.
Tingtong! Tingtong!
Elena dan Austin menatap satu sama lain. Mereka sedikit ketakutan karena ada seseorang yang menekan bel di jam sebelas malam.
"Siapa ya?"
"Mungkin orang tua kamu."
"Tapi orang tua aku pulangnya hari Senin."
Keduanya sangat penasaran, akhirnya Elena mengusulkan untuk pergi ke lantai 2, karena disana ia bisa melihat orang yang menekan bel.
Saking penasarannya, Austin menyetujui usulan dari Elena. Mereka berdua pergi ke lantai dua dengan posisi Austin yang berada didepan dan Elena dibelakang.
Tiba dilantai 2, keduanya langsung melihat ke bawah. Betapa terkejutnya Elena dan Austin karena ternyata dibawah tidak ada siapa-siapa, tetapi bel rumah Elena terus menyala.
Elena yang pada dasarnya penakut langsung memegang erat tangan Austin. "Aku takut."
"Udah jangan takut. Ya udah lebih baik kita turun lagi yuk." Kemudian, Elena dan Austin kembali ke ruang tengah.
Austin menyuruh Elena untuk tidur bersama Amel. Namun karena Elena sangat ketakutan, ia jadi tidak bisa tidur.
"Ya udah kalau gitu aku tidur duluan ya," kata Austin.
Saat Austin hendak ke kamar tamu, dengan cepat Elena memegang erat tangannya.
"Jangan tidur. Temenin aku begadang aja."
"Aku ngantuk, Na."
Elena menangis karena ia benar-benar ketakutan. Baru kali ini ia mengalami kejadian yang sangat menyeramkan.
"Shut! jangan nangis! nanti dia datang kesini," kata Austin.
Bukannya berhenti menangis, tangisan Elena justru semakin menjadi-jadi.
Austin menarik tangan Elena agar kembali duduk di sofa. Kemudian, Austin memeluk Elena sambil menenangkannya agar tidak menangis lagi.
"Ya udah, aku tetap disini kok."
Elena mengusap air matanya saat Austin berkata seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Elena mulai mengantuk. Tetapi jika ia tidur, ia takut Austin meninggalkan sendiri di ruang tengah.
__ADS_1
"Kamu ngantuk gak?" tanya Austin, lalu Elena mengangguk.
"Ya udah tidur aja," kata Austin, namun Elena menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.
"Lebih baik tidur. Lagipula kan aku ada disini, jadi kamu gak usah takut."
"Kamu gak akan ninggalin aku, kan?" tanya Elena memastikan, lalu Austin menggelengkan kepalanya.
Elena segera tidur di sofa dengan posisi duduk dan tangannya memegang tangan Austin.
Tanpa aba-aba, Austin mengubah posisi tidur Elena. Austin menempatkan posisi kepala Elena pada pahanya.
Melihat bagaimana perlakuan Austin, membuat Elena tak bisa berkata-kata.
"Aku gak nyaman tidur kayak gini."
Austin menutup mulut Elena dengan tangannya. "Tidur aja, jangan berisik!" perintahnya.
Elena menutup matanya, namun ia tidak bisa tidur. Ia malah membayangkan ketika dirinya dipeluk oleh Austin.
"Kenapa senyum?"
Elena langsung membuka kedua matanya saat mendengar ucapan Austin. "Apa?"
"Kamu kenapa senyum?"
"Aku gak senyum kok. Kamu salah lihat kali."
Austin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mungkin sedikit kecapean, makanya ia salah lihat.
...****************...
Keesokan paginya.
Cekrek! Cekrek!
Suara kamera membuat Elena dan Austin terbangun. Spontan keduanya menjaga jarak, karena ada Amel yang sedang melihat keduanya dengan ekspresi datar.
"Aku laporin ke Om sama Tante ya kalau kalian berdua tidur bareng," kata Amel.
"Jangan dong," mohon Elena.
"Kita semalam gak ngapa-ngapain kok," jelas Austin.
Elena juga menjelaskan bahwa semalam hantu, makanya ia menyuruh Austin menemaninya.
"Serius gak ngapa-ngapain?" tanya Amel memastikan.
"Iya serius," ujar Elena dan Austin bersamaan.
"Oh iya! aku udah masakin sarapan pagi buat kalian. Nanti dimakan ya," kata Amel, lalu Elena dan Austin berterima kasih kepada Amel. Setelah itu, Amel pamit pulang kepada Elena dan Austin.
Ketika Amel pulang, Austin juga pamit pulang kepada Elena. Namun pada saat berkata seperti itu, Elena malah menyuruh Austin agar lebih lama di rumah, karena sejujurnya Elena masih takut akibat kejadian semalam.
__ADS_1
"Sarapan pagi dulu, baru habis itu pulang," pinta Elena.
Melihat tatapan mata Elena, membuat Austin menjadi kasihan kepadanya. Dengan terpaksa Austin menuruti keinginannya, karena jika ia pergi sekarang mungkin Elena akan menangis seperti semalam.
Elena pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan makanan yang sudah disiapkan oleh Amel. Sesudah itu, ia kembali menghampiri Austin.
Elena meletakkan nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas air minum. Kemudian mereka berdua menikmati sarapan paginya.
"Semalam siapa sih yang nangis?" sindir Austin.
"Jangan ngeledek!"
"Oh iya, nanti sore kita ke rumah orang tua kamu ya," kata Austin, lalu Elena hanya mengangguk.
Elena mengambil ponselnya, kemudian ia membuka grup chat kelasnya karena banyak sekali pesan di grup tersebut.
Ketika pesan itu dibuka, ternyata semua orang sedang membicarakan Austin. Terutama Reza dan Ferdy, mereka berdua menanyakan keberadaan Austin.
"Teman-teman nyariin kamu loh."
"Emang iya?"
"Iya." Elena menunjukkan ponselnya kepada Austin.
Austin hanya tersenyum melihat betapa khawatirnya Reza dan Ferdy, sampai-sampai katanya mereka mencari Austin ke beberapa tempat.
"Telepon mereka sana! kasihan loh, pasti mereka khawatir."
"Kalau aku telepon mereka dan kasih tahu dimana aku sekarang. Pasti mereka akan syok, karena semalam aku ada di rumah kamu."
"Jangan dikasih tahu lah, bilang aja kamu lagi ada di rumah saudara atau teman kamu yang lain.'
"Teman yang lain? perasaan aku cuma punya 2 teman, yaitu Reza dan Ferdy."
Elena diam saja, ia heran mengapa Austin hanya menganggap Reza dan Ferdy saja. Padahal teman Austin di sekolah cukup banyak, bahkan Elena kira bahwa Austin berteman dengan semua anak basket.
"Aku gak dianggap teman ya?"
"Emang kamu mau jadi teman aku?" tanya Austin, lalu Elena mengangguk.
"Tapi aku gak mau punya teman cewek," jelas Austin.
"Kenapa?"
Austin menjelaskan bahwa tidak ada pertemanan yang murni antara cewek dan cowok.
"Maksudnya gimana?" bingung Elena.
"Kalau pertemanan antara cewek dan cowok biasanya ada salah satu yang naksir. Nanti ketika salah satunya mengungkapkan perasaannya, bisa-bisanya nantinya mereka jadi canggung."
"Tapi kok kita gak canggung. Padahal kan waktu itu kamu mengungkapkan perasaan kamu."
"Kalau kamu gak canggung, berarti kamu juga suka kali sama aku"
__ADS_1
Elena menelan salivanya, ia bingung harus menjawab apa. Ia memang menyukai Austin semenjak Austin mengatakan bahwa dia menyukai Elena.