Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Percaya


__ADS_3

Austin tidak menanggapi perkataan Elena yang sudah memberikan bukti kepadanya.


"Gimana? kamu percaya, kan?"


"Enggak."


"Kenapa masih gak percaya? kan aku udah buktikan ke kamu bahwa aku itu Elena."


"Bisa aja kan sebenarnya kamu itu temannya. Mungkin juga waktu itu Elena cerita tentang hal ini ke kamu."


Elena menghela nafasnya,ia merasa kesulitan untuk meyakini Austin bahwa dirinya memang Elena yang asli.


"Hmm...apa jangan-jangan, kamu pindah kesini karena pingin balas dendam atas kematian Elena ya? pasti Elena cerita tentang dia bully sama teman sekelasnya, kan?"


"Kamu kayaknya kebanyakan nonton film kali ya," heran Elena karena tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Austin.


Karena sudah pasrah, akhirnya Elena menyerah. Lagipula awalnya Elena tidak menyukai Austin, jadi untuk apa ia meyakinkan Austin bahwa dirinya Elena.


Rasanya seperti membuang-buang waktu saja.


Kemudian, Elena pergi menuju kelasnya. Ia meninggalkan Austin begitu saja tanpa berpamitan.


Rasanya sangat menjengkelkan ketika kita sudah berbicara jujur, tetapi orang lain menganggap itu adalah suatu kebohongan.


Elena mulai menyadari, seharusnya tadi ia mengatakan bahwa Austin pernah mengajaknya naik mobil saat akan berangkat ke sekolah, karena waktu itu cuacanya hujan.


...****************...


Saat akan memasuki kelas, tiba-tiba Elena melihat seseorang yang ditarik oleh Feby menuju rooftop. Ya, sepertinya Feby akan melakukan aksi pembully-an lagi terhadap orang yang membuatnya kesal.


Pada waktu itu, Elena juga pernah dibawa ke rooftop dan pada saat itu Feby mulai menyiksa Elena dengan cara menjambak dan memukul Elena dengan sapu karena Elena waktu itu melaporkan Feby ke guru BK.


Anak-anak kelas yang lain mungkin tidak akan tahu betapa mengerikannya Feby. Sebab, Feby tidak melakukan secara terang-terangan. Dia mencari tempat yang aman untuk melakukan aksi pembully-an.


Karena merasa kasihan dengan orang itu, akhirnya Elena datang menghampirinya menuju rooftop.


Tiba di rooftop, Elena melihat Feby yang sedang memarahi orang itu.


Kali ini sepertinya Feby tidak sedang mem-bully orang itu. Namun, keduanya sedang membicarakan tentang keluarga.


Dapat disimpulkan bahwa mereka berdua adalah saudara tiri, yang mana mamahnya Feby menikah dengan papah orang itu.


Karena pada dasarnya Elena tidak suka mencampuri urusan keluarga orang lain, akhirnya ia memilih untuk pergi saja.


Brugh!


Elena tak sengaja menjatuhkan ponselnya.


Ia buru-buru mengambilnya dan berlari, karena kemungkinan Feby dan orang itu akan menghampirinya.


Skip

__ADS_1


Elena mengatur nafasnya setelah sampai di kelas. Ternyata dari awal ia masuk sampai duduk di kursinya, ada seseorang yang menatapnya.


Austin berjalan kearah Elena. Lalu, ia meletakkan sebuah buku di meja Elena.


"Itu kan buku aku."


Austin menyuruh Elena untuk mengambil buku yang ada di tasnya. Sebenarnya ia hanya ingin mengetahui apakah yang dibicarakan Elena itu benar atau tidak.


Lalu, Elena mengambil bukunya. Setelah itu, Austin memperhatikan tulisan diantara kedua buku itu.


Dan hasilnya memang benar bahwa tulisannya ternyata sangat mirip.


Austin memperhatikan wajah Elena. "Kamu beneran Elena?"


Elena mengangguk dan ia juga menceritakan semuanya kepada Austin, termasuk saat ia bunuh diri dan berubah menjadi seperti ini.


"Terserah mau percaya atau enggak, tapi yang jelas aku itu Elena, bukan Alena."


Austin tak percaya hal ini, ia memilih untuk kembali menuju kursinya. Mungkin dia malu karena telah mengakui bahwa dirinya menyukai Elena.


...****************...


Sepulang sekolah, Elena pergi menuju dermaga. Ia rindu dengan suasananya, yang mana suasananya sepi namun terasa tenang.


Memang ada beberapa nelayan, namun suasananya sama sekali tidak berisik, berbeda dengan suasana di kelas.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Elena sampai juga ditempat tujuan. Tak lupa ia membayar ongkos karena memang ia pergi dengan mengendarai taksi.


Ketika Elena turun dari taksi, ada seseorang juga yang turun dari motornya.


Elena melangkahkan kakinya kearah Austin. "Kamu mau ngapain kesini?"


"Aku kangen sama Elena, makanya aku kesini."


Meskipun sudah dibilang berkali-kali, tetapi sepertinya Austin masih tidak percaya bahwa Alena itu adalah Elena.


Dengan begitu, Elena tidak akan memaksa Austin lagi untuk mempercayainya. Karena jika Elena diposisi Austin, ia juga tidak akan percaya.


Skip


Kini mereka berdua hanya duduk sambil menatap kearah perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan.


Rasanya sangat canggung bila hanya duduk berdua dan tidak berbicara satu katapun.


"Dia kenapa bisa sampai bunuh diri?" tanya Austin tiba-tiba.


"Aku bunuh diri karena aku merasa banyak kekurangan," jawab Elena.


"Aku bicara soal Elena."


Elena menghela nafasnya, ia bingung harus dengan cara apalagi menjelaskan kepada Austin kalau dirinya benar-benar Elena.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih gak percaya sama aku?"


"Gimana aku mau percaya, jelas-jelas wajah kamu berbeda."


Elena menghampiri letak ia bunuh diri. "Aku waktu itu loncat disini, kan?"


Austin terkejut karena itu memang tempat Elena bunuh diri.


"Saat aku tenggelam, aku mendengar suara lelaki yang memanggilku. Apa lelaki yang memanggil aku itu kamu?"


Austin menghampiri Elena. Ia menatap Elena dari ujung kaki sampai ujung rambut Elena.


"Kamu benar-benar Elena?"


"Udah aku bilang berkali-kali, kalau aku itu Elena."


Grep!


Tanpa aba-aba, Austin langsung memeluk Elena.


Elena tak tahu harus merespon bagaimana. Sejujurnya Elena nyaman saat dipeluk Austin, makanya ia hanya diam saja.


Tak lama, senyuman terukir diwajah Elena. Karena baru kali ini Elena dirindukan oleh seseorang,


Elena mendorong pelan tubuh Austin. Bukannya ia tidak mau dipeluk, tetapi ia hanya malu karena ada beberapa orang yang melihat kearahnya.


"Sorry," ujar Austin.


"Kalau gitu aku pulang duluan," ujar Elena tanpa menatap kearah Austin.


Pada saat Elena akan pergi, tiba-tiba Austin memegang pergelangan tangannya.


"Biar aku antar."


Akhirnya Austin mengantarkan Elena pulang ke rumah.


...****************...


Saat diperjalanan pulang, Austin malah mengantarkan Elena pulang ke rumah Elena yang dulu.


"Rumah aku bukan disitu lagi."


"Terus rumah kamu dimana?"


Elena memberitahu alamat rumahnya yang baru. Elena juga menceritakan bahwa saat terbangun, tiba-tiba ia berada di rumah itu, bahkan tiba-tiba ada dua orang yang mengaku sebagai kedua orang tuanya.


"Hmm...kalau kamu punya masalah, lebih baik cerita aja sama aku. Dan juga jangan pernah melakukan percobaan bunuh diri lagi," kata Austin.


"Kalau aku cerita, memangnya kamu mau dengarkan cerita aku?"


"Aku pasti mendengarkan cerita kamu kok," ujar Austin.

__ADS_1


"Asalkan jangan cerita tentang cowok," gumam Austin, namun masih terdengar ditelinga Elena.


Sebenarnya Elena ingin menanyakan tentang alasan Austin menyukai Elena. Namun karena Elena takut menjadi canggung dengan Austin, akhirnya ia memutuskan untuk tidak bertanya soal itu.


__ADS_2