
Keesokan harinya, Austin mengantarkan Elena ke salon milik mamahnya. Alasannya pergi kesana karena Austin tahu bahwa Elena tidak bisa berdandan.
"Kado buat Talitha dibawa gak? soalnya habis dari salon, kita langsung berangkat ke acaranya," kata Austin.
"Dibawa kok. Ini ada didalam paper bag."
"Dress nya udah kamu coba?"
"Belum."
Elena mendapatkan pesan dari Talitha, dia mengirim video kepada Elena. Ketika video itu dibuka, ternyata video itu menunjukkan Talitha yang memperlihatkan tempat acara ulang tahunnya.
"Wah! mewah banget."
"Apanya yang mewah?" tanya Austin.
"Pesta ulang tahun Talitha."
"Waktu kamu ulang tahun pernah dirayakan gak?" tanya Austin, lalu Elena hanya menggelengkan kepalanya dan ia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah merayakan ulang tahun.
Entah mengapa Austin merasa kasihan terhadap Elena. Pantas saja waktu itu ia memutuskan bunuh diri.
"Kapan ulang tahun kamu?"
Elena menoleh kearah Austin. "Kenapa tanya hal itu?"
"Aku cuma pingin tahu aja."
Akhirnya Elena memberitahu kapan ulang tahunnya kepada Austin.
...****************...
Tiba di salon, Austin langsung menyuruh karyawan mamahnya untuk mendandani Elena. Sambil menunggu Elena didandani, Austin memutuskan untuk video call Reza dan Ferdy.
Ia video call teman-temannya karena untuk memastikan teman-temannya hadir atau tidak di acara ulang tahun Talitha.
Tak lama, Reza dan Ferdy menjawab panggilan video call dari Austin.
"Ada apa, Tin?" tanya Reza dan Ferdy bersamaan.
"Kalian berdua jadi kan ke acara ulang tahun Talitha?"
"Jadi kok," ujar mereka berdua.
Lalu, Reza mengajak Austin untuk berangkat bersama dengan dirinya dan Ferdy, namun Austin menolaknya.
"Kamu mau pergi sendirian kesananya? atau mau bareng Feby?" ledek Ferdy.
"Aku berangkat sama Elena."
Mendengar perkataan Austin, membuat Reza dan Ferdy terkejut.
"Kenapa sama Elena?" tanya Reza.
"Ya terserah aku lah."
"Apa jangan-jangan kamu suka ya sama Elena?"
Austin terdiam, karena ia tidak berekspektasi bahwa teman-temannya akan berkata seperti itu.
"Wah! kayaknya kamu emang suka ya sama dia," kata Reza.
"Oh iya! dulu kamu juga pernah bilang kalau Elena lucu, kan?" kata Ferdy.
__ADS_1
"Kapan aku bilang kayak gitu?"
"Waktu dulu."
Dulu Austin memang sempat berkata bahwa Elena lucu, tapi dirinya sama sekali tidak menyukainya.
"Bilang lucu bukan berarti aku suka sama dia."
"Jangan bilang gitu, siapa tahu nanti jadi naksir," kata Reza.
Disisi lain, Elena tak sengaja mendengarkan ucapan Austin. Ia sedikit sedih karena ia pikir Austin menyukainya.
"Eh! mau kemana?" tanya Austin sambil mematikan video call nya.
"Aku disuruh ganti pakaian dulu, baru habis itu didandani," kata Elena sambil pergi menuju toilet.
...****************...
Selesai didandani, tiba-tiba Austin datang menghampiri Elena.
"Makasih ya," ujar Elena tanpa melihat kearah Austin.
"Iya sama-sama," kata Austin.
Setelah itu, Austin mengajak Elena untuk pergi menuju acara ulang tahun Talitha karena sebentar lagi acaranya akan dimulai.
Saat berada di mobil, Elena hanya diam saja. Meskipun Austin terus mengajaknya mengobrol, tetapi Elena hanya menjawabnya dengan singkat saja.
"Kamu gak suka ya sama makeup nya?" tanya Austin memastikan.
"Suka kok."
"Terus kenapa cemberut gitu?"
"Gak apa-apa."
Sesampainya ditempat acara, Elena langsung turun dari mobil Austin.
"Austin, aku duluan ya."
"Kenapa gak bareng?" tanya Austin.
"Nanti takutnya orang-orang mengira bahwa kita ada hubungan, jadi lebih baik kita jangan barengan." Elena buru-buru pergi sebelum orang lain melihatnya.
Sebenarnya Elena bukan tidak mau bersama Austin. Tetapi ia tidak ingin mempunyai rasa yang lebih dalam kepada Austin, makanya ia lebih baik menjaga jarak.
"Elena!" panggil Talitha.
Elena berjalan menghampiri Talitha, lalu ia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Talitha dan tak lupa Elena juga memberikan kado kepada Talitha.
"Kamu cantik banget," puji Talitha.
"Yang cantik itu kamu, bukan aku."
"Serius, malam ini kamu cantik banget," ujar Talitha.
"Talitha, selamat ulang tahun ya," ujar Austin yang baru datang.
Elena meminta ijin untuk pergi ke toilet kepada Talitha, padahal sebenarnya ia ingin menghindari Austin.
Tiba di toilet, Elena tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya memainkan ponselnya dan melihat kamera ponselnya untuk memastikan bahwa dirinya benar cantik atau tidak.
Tiba-tiba seseorang mengambil ponsel Elena dan otomatis Elena menoleh kearah orang itu.
__ADS_1
"Teman sebangku kamu suka ya sama Austin?" tanya Feby.
"Aku gak tahu," ujar Elena, padahal sebenarnya ia tahu bahwa Talitha suka kepada Austin.
Feby melihat kearah ponsel Elena yang ia pegang, lalu ia kembalikan lagi ponsel itu kepada Elena. "Maaf ya udah ganggu kamu yang lagi foto-foto."
"Aku gak foto kok, aku cuma lihat muka aku aja di kamera."
Feby melihat Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu kok berubah ya."
"Maksudnya?"
"Udah lupakan," ujar Feby sambil pergi.
5 menit kemudian, Elena kembali menghampiri yang lainnya. Ia bingung harus melakukan apa, karena kebanyakan dari mereka sedang mengobrol dan menikmati makanan.
Karena tak punya seseorang untuk diajak mengobrol, akhirnya Elena menikmati hidangan yang telah disediakan.
Saat Elena mengambil kue, beberapa orang menatap Elena dan itu membuat Elena menjadi insecure.
"Elena?" tanya Reza.
"Iya, kenapa?"
"Wah gila! kok cantik banget sih."
Elena hanya diam saja, ia tahu bahwa Reza sedang meledeknya.
"Bukannya terimakasih dipuji orang, ini malah diam aja," sindir Reza.
"Aku tahu kok kalau kamu lagi menghina aku." Mata Elena berkaca-kaca.
"Enggak kok. Kamu emang cantik."
Tanpa sadar, Elena meneteskan air matanya. Ia rasa semua orang bukan memujinya, tapi meledeknya.
"Loh! kok malah nangis," ujar Reza merasa bersalah.
Tiba-tiba Austin datang. "Dia kenapa?"
"Tadi aku puji dia, tapi dia bilang kalau aku meledek dia," jelas Reza.
Daripada mengacaukan suasana, Austin buru-buru menarik Elena ke tempat yang agak jauh.
"Kenapa nangis? Reza kan memuji kamu, kok kamu malah nangis."
"Dia bohong. Mana ada aku cantik." Elena mengusap air matanya.
"Memangnya tadi kamu gak lihat diri kamu di cermin?" tanya Austin, lalu Elena menjawab bahwa ia melihat dirinya di cermin, namun ia merasa bahwa dirinya tidak secantik apa yang orang bilang.
"Kamu cantik, Elena."
Elena diam saja, ia takut jika pujian itu sebagai penenang saja.
"Austin, lebih baik kamu pergi. Soalnya orang-orang sekarang pada lihat kearah kita."
Austin menengok kebelakang dan benar saja bahwa semua orang sedang memperhatikannya bersama Elena.
"Ya udah ayo kesana!" ajak Austin.
"Aku disini aja."
__ADS_1
Austin menggenggam erat tangan Elena dan membawanya menuju teman-temannya.
Melihat Austin yang menggenggam erat tangan Elena, membuat semua orang tak percaya akan hal itu. Pasalnya Austin yang dijuluki sebagai lelaki cuek, kini berubah menjadi lelaki yang romantis.