Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Terkunci di rooftop


__ADS_3

Keesokan paginya, Elena diantar ke sekolah bersama kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sengaja mengantarkan Elena, karena ini hari terakhir bersama Elena, sebab hari ini mereka akan pergi ke Bandung.


Untungnya hari ini cuacanya sangat cerah berawan, jadi sepulang sekolah Elena bisa pergi menuju dermaga.


Sesudah sampai di sekolah, Elena berpamitan kepada orang tuanya dan ia juga tak lupa meminta oleh-oleh pada kedua orang tuanya.


Habis itu, Elena bergegas pergi ke kelasnya. Ia tak sabar bertemu teman-temannya, lebih tepatnya bertemu dengan Talitha dan Manda.


Memang benar bahwa dulu Elena tidak suka dengan semua orang. Tapi ketika melihat Talitha yang begitu baik kepadanya dan juga Manda yang waktu itu sama sekali tidak mengejek fisiknya, membuat Elena sadar bahwa tidak semua orang berperilaku buruk.


Saat diperjalanan menuju kelas, tiba-tiba ada tangan yang merangkul pundak Elena. Spontan Elena diam sambil menatap orang itu.


"Hai," sapa Feby.


Elena mematung, ia takut jika Feby akan menyakitinya lagi.


"Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin nama aku Feby," ujarnya sambil mengulurkan tangannya.


"Aku udah tahu nama kamu kok."


Feby menatap kesal kearah Elena. Ya, ia kesal sebab Elena tidak membalas uluran tangannya.


"Sebelumnya aku pingin kasih tahu sama kamu, kalau kamu gak boleh deketin Austin. Soalnya Austin itu gebetan aku," jelasnya dengan penuh penekanan.


"Baru gebetan, kan?" tanya Elena.


Perkataan itu entah mengapa terlontarkan begitu saja. Sudah jelas Elena sedikit takut kepada Feby, tapi tidak tahu kenapa ia malah berbicara seperti itu.


Daripada terjadi keributan, lebih baik Elena pergi menuju kelasnya.


Skip


Baru saja masuk kedalam kelas, Elena disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakan.


Elena melihat dua orang lelaki sedang mengganti pakaiannya. Ya, memang setiap hari Rabu, tepatnya di pagi hari, mereka sering latihan basket. Jadi tak heran jika sekarang mereka kembali mengenakan seragam sekolahnya karena tadi mereka baru saja selesai bermain basket.


"Emang gak ada toilet ya? kok ganti baju di kelas mulu," sindir Elena.


"Kita ganti baju disini memang sengaja, supaya cewek-cewek lihat otot perut kita," ujar Austin sambil tersenyum.


"Sebentar deh...kamu bilang kita ganti baju di kelas mulu. Perasaan kamu baru kemarin jadi murid baru, tapi kok kamu bisa tahu kalau kita sering ganti baju disini," heran Reza.


Entah apa yang harus Elena ucapkan sekarang, ia tidak mungkin jujur bahwa sebenarnya dia bukan Alena, melainkan Elena.

__ADS_1


"Austin!" panggil Feby.


Fokus Austin dan Reza teralihkan kearah Feby yang baru datang. Jadi, Elena tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat duduknya, karena jika masih berdiri dihadapan Austin dan Reza, kemungkinan mereka akan bertanya lagi tentang apa yang sebelumnya Elena katakan.


Setelah menyimpan tasnya, Elena memutuskan untuk pergi menuju rooftop selagi bel masuk belum berbunyi. Ia sengaja pergi kesana untuk menghirup udara segar di pagi hari sambil melihat-lihat pemandangan.


Ketika akan menaiki tangga, entah mengapa perasaan Elena tidak enak. Ia merasa diikuti oleh seseorang. Sontak saja ia menengok kebelakang, namun ternyata tidak ada siapa-siapa.


Mungkin ini efek karena ia sering menonton film horor, makanya sekarang ia merasa diikuti oleh seseorang.


Lalu, ia kembali melanjutkan perjalanan rooftop. Ia tak sabar ingin pergi kesana, karena sudah lama ia tidak mengunjungi rooftop sekolah.


Sesampainya di rooftop, Elena berfoto-foto karena ia ingin mem-posting foto ke instagram barunya.


"Ekhem!"


Suara itu membuat Elena menghentikan aktivitasnya. Ia sedikit malu karena tiba-tiba seseorang datang dan melihatnya berfoto.


"Mau aku foto gak?" tanya Austin.


"Gak usah!"


Austin berjalan kearah Elena. Lalu ia menatap lurus kedepannya. Raut wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang bersedih, sehingga membuat Elena penasaran dengan masalahnya.


Austin tertawa kecil. "Sok tahu banget."


"Terus kamu kenapa kayak yang sedih gitu?"


"Aku merasa bersalah sama seseorang. Waktu itu aku lihat dia bunuh diri di dermaga dan saat aku minta bantuan ke orang-orang. Seseorang itu menghilang tanpa jejak. Bahkan sampai sekarang jasadnya belum ditemukan."


Tubuh Elena mematung. Ia merasa bahwa orang yang diceritakan Austin adalah dirinya. Elena sadar bahwa waktu itu ia samar-samar mendengar suara lelaki yang memanggil namanya.


Ya, tidak diragukan lagi itu pasti Austin. Elena tak menyangka bahwa masih ada orang yang peduli dengannya.


"Makasih ya," ujar Elena.


"Makasih untuk apa?" bingung Austin.


"Makasih karena kamu udah peduli sama dia."


Austin mengangguk, hatinya sedikit tenang gara-gara perkataan Elena. Padahal sebenarnya, ia merasa bersalah atas kematian Elena.


Brak!

__ADS_1


Seseorang menutup pintu rooftop dengan sangat kencang, hingga membuat Elena dan Austin menoleh kebelakang.


Keduanya berlari kearah pintu dan ternyata Pitu tersebut terkunci.


Austin berusaha mendobrak pintu itu. Sedangkan Elena segera mengirim pesan ke grup kelas untuk mengabarkan bahwa Elena dan Austin terkunci di rooftop.


"Ayo bantuin dobrak!"


"Kamu tenang aja, aku udah beritahu teman sekelas buat bantuin kita disini."


Austin memarahi Elena, seharusnya Elena tidak memberitahu teman-temannya. Austin marah sebab ia tidak ingin ada rumor tentang dirinya dan Elena.


"Alina! kamu bodoh banget sih! harusnya kamu gak kasih tahu mereka."


"Daripada kita gak bisa keluar, lebih baik kita minta bantuan ke mereka."


Tak menunggu lama, seseorang datang untuk membantu Elena dan Austin.


Cklek!


Pintu terbuka dan ternyata orang yang menghampiri kita sekita 5 orang, yakni Reza, Talitha, Manda, Feby dan Ferdi.


Nampak jelas di mata Feby bahwa dia sedang cemburu sekarang. Lagipula siapa yang tidak cemburu melihat gebetannya berduaan dengan seorang perempuan di rooftop.


"Kalian berdua ngapain disini?" tanya Reza dengan tatapan yang seakan-akan menuduh kita melakukan sesuatu.


"Lagi pacaran lah," sahut Manda.


"Enggak kok!" bantah Elena dan Austin.


"Kalau pacaran itu jangan ditempat yang sepi, nanti takutnya khilaf," ujar Ferdi.


Karena tidak ingin mendengar ucapan kedua sahabatnya, akhirnya Austin pergi menuju kelasnya. Kemudian, Reza, Ferdi dan Feby mengikuti Austin dari belakang.


"Kalian beneran pacaran?" tanya Talitha sedikit sedih, karena ia menyukai Austin.


"Enggak kok," jelas Elena.


"Jujur aja, lagipula aku gak apa-apa kok. Nanti kan aku bisa cari gebetan baru."


"Lebih baik kita ke kelas yuk! sebentar lagi bel masuk mau bunyi," ajak Manda.


Lalu, ketiganya bergegas pergi menuju kelas. Namun saat diperjalanan menuju kelas, Manda terus menggoda Elena soal Austin. Sedangkan Elena, ia hanya bersikap biasa saja, karena memang ia tidak memiliki hubungan dengan Austin.

__ADS_1


__ADS_2