
Kring! Kring!
Bel masuk berbunyi. Tak lama, guru masuk kedalam kelas. "Selamat pagi semuanya!" sapa Bu Ani.
"Selamat pagi, Bu," jawab semuanya.
"Karena materi sebelumnya sudah dijelaskan Minggu lalu. Jadi, untuk pertemuan kali ini, Ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok dan satu kelompoknya berisi dua orang."
Bu guru menyebutkan beberapa nama murid di kelas dan ternyata Elena sekelompok dengan Austin.
Entah kenapa Elena merasakan dejavu. Benar, situasi ini sama dengan kejadian dimimpi Elena.
Semua orang menghampiri kelompoknya masing-masing.
Karena semua orang telah menghampiri kelompoknya, akhirnya Elena mengambil bukunya dan ia berjalan kearah Austin.
Saat duduk disebelah Austin, Elena merasa speechless, karena kejadian ini sangat mirip dengan yang dimimpikan Elena saat koma.
Dimeja Austin juga terdapat buku tulis, yang mana dibuku tulis itu terdapat gambar seorang perempuan. Namun, yang membedakannya adalah sosok perempuan itu.
Ya, sosok perempuan itu terlihat seperti wajah Alena, alias Elena dengan wajah yang sangat cantik.
"Itu gambar siapa sih?" tunjuk Elena.
Austin mengambil bukunya. "Sebenarnya ini gambar perempuan yang ada dimimpi aku."
"Apa namanya Alena?"
Austin menatap kearah Elena, lalu ia tertawa. "Mana aku tahu."
...****************...
Saat bel istirahat berbunyi, Talitha dan Manda mengajak Elena pergi ke kantin. Dan tentu saja Elena menerima ajakannya, karena jarang sekali ada orang yang mengajaknya untuk makan siang di kantin.
Sesampainya di kantin, mereka menikmati jajanan sambil mengobrol seputar kelompok tadi. Lebih tepatnya Talitha dan Manda mengeluh karena mereka mendapatkan teman kelompok yang tidak terlalu pintar.
Disaat Talitha dan Manda sedang mengeluh tentang kelompok satu sama lain, Elena malah memikirkan tentang kejadian dalam mimpinya.
Untuk memastikannya apakah kejadian dimimpi itu akan jadi kenyataan atau tidak, akhirnya Elena mencoba memberi pertanyaan sesuai kejadian dimimpi itu.
"Guys, emang ada ya cowok yang suka sama cewek jelek?"
"Ada lah. Lagipula kecantikan itu kan bukan segalanya. Bisa aja walaupun dia jelek tapi kepribadiannya baik, tentu aja cowok pasti suka sama dia," jelas Talitha.
"Benar apa kata Talitha," sahut Manda.
Elena tersenyum, ia tak menyangka dengan situasi ini. Awalnya ia kira kejadian saat bersama Austin hanya kebetulan saja.
__ADS_1
Tapi setelah mendengar ucapan Talitha dan Manda yang sama persis dengan kejadian dimimpi itu, membuat Elena percaya bahwa sebagian dari mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Setelah mengingat-ingat kembali, ia jadi penasaran tentang Feby yang menarik seseorang menuju rooftop. Apakah masalahnya sampai separah itu sampai-sampai mereka berdua berdebat?
Karena Elena sangat penasaran, akhirnya ia berlari menuju rooftop untuk memastikannya.
"Elena, mau kemana?" teriak Talitha. Namun Elena terus berlari, karena kalau tidak, mungkin Feby dan orang itu akan lebih dulu berada di rooftop.
Skip
Sudah sepuluh menit Elena bersembunyi, namun Feby masih belum datang juga. Jika ia pergi sekarang juga, pasti ia akan berpapasan dengan Feby di tangga.
Terdengar suara langkah kaki seseorang dan itu membuat Elena mengintip kearah orang yang berteriak.
Kali ini berbeda, orang yang dilihat Elena bukanlah perempuan yang bersama Feby dimimpi. Tapi orang yang ia lihat saat ini adalah Feby dan Austin.
"Mau sampai kapan sih kamu ngejar-ngejar aku?" tanya Austin dengan nada kesal. Lalu, Feby menangis gara-gara perkataan Austin.
Elena hanya menatap datar kearah mereka. Ia jadi menyesal menyaksikan kejadian ini. Lagipula tanpa melihatnya kejadian ini, Elena juga sudah tahu pasti bahwa Austin pasti sudah menolak Feby berkali-kali.
Pluk!
Tiba-tiba seekor cicak jatuh ke pundak Elena dan itu membuatnya berteriak dan ia juga keluar dari tempat persembunyiannya.
"Tolongin!" teriak Elena sambil meminta bantuan kepada Austin dan Feby.
"Austin, tolong!" teriak Elena.
Bukannya membantu Elena, Austin malah tertawa terbahak-bahak.
"Cepat tolongin!" mohon Elena sambil menangis.
Karena merasa kasihan, akhirnya Austin membantu menangkap cicak yang menempel di seragam Elena. Sesudah itu, Austin membuang cicak itu.
"Kamu tadi ngapain sembunyi disitu?"
Elena berpikir sejenak. "Aku pingin cari ketenangan."
"Masa cari ketenangan disitu. Ada-ada aja kamu."
Elena menggaruk kepalanya sambil cengengesan.
"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya."
Saat Elena hendak pergi, tiba-tiba Austin menarik tangannya. "Mau kemana? katanya tadi mau cari ketenangan."
"Udah disini aja, temenin aku" perintah Austin.
__ADS_1
Akhirnya Elena menuruti perintah Austin, karena ia takut jika Austin sedang kesepian.
Elena menatap Austin yang sedang melihat langit. "Are you okay?"
Mendengar ucapan Elena, membuat Austin menoleh kearah Elena. Tak lama, Austin tersenyum kepada Elena. "Harusnya aku yang tanya kayak gitu ke kamu."
"Aku cuma tanya doang kok, siapa tahu kan kamu lagi ada masalah," ujar Elena karena ia mengingat mimpinya, yang mana dimimpi itu Austin sedang mengalami masalah.
"Kamu suka ya sama aku?" tanya Austin karena Elena seperti peduli kepadanya.
Elena terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil.
Karena merasa diejek, raut wajah Austin berubah menjadi datar.
Melihat ekspresi wajah Austin, membuat Elena berhenti tertawa. Ia takut jika Austin marah kepadanya.
"Maaf."
Austin mendekat kearah Elena dan itu membuat Elena melangkah mundur kebelakang.
Tiba-tiba Austin menarik tangan Elena dan ia memegang dagu Elena dengan tangan yang satunya.
Dengan begitu, Elena otomatis memejamkan kedua matanya karena ia pikir Austin akan menciumnya.
"Kok tahi lalatnya sama kayak perempuan dimimpi aku," gumam Austin, namun masih terdengar ditelinga Elena.
Otomatis Elena kembali membuka matanya. Ia merasa malu karena ternyata Austin tidak menciumnya.
Elena mendorong pelan Austin agar tidak terlalu dekat. "Awas!"
"Kamu tadi kenapa tutup mata?" tanya Austin sambil menahan tawanya.
"Soalnya mata aku kelilipan."
"Kelilipan atau minta dicium?"
Elena menatap tajam kearah Austin. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Austin.
Realita memang tidak sesuai dengan ekspektasi. Begitupun dengan ekspektasi Elena yang mengira bahwa Austin menyukainya. Padahal Elena sudah tahu itu mimpinya dan itu belum tentu menjadi kenyataan.
Mentang-mentang ada kejadian persis, ia menjadi yakin bahwa mimpinya akan menjadi nyata.
Dari sini Elena jadi tahu kalau Austin memang sangat baik sekaligus menyebalkan. Dan dari sini juga Elena jadi lebih sadar diri, bahwa Austin tidak akan menyukai perempuan seperti Elena.
Jika Feby saja ditolaknya, apalagi dengan Elena. Pasti perkataan Austin bakal jauh lebih kejam saat menolak Elena.
Maka dari itu, mulai sekarang Elena akan menjauhinya dan membuang perasaannya jauh-jauh. Karena dengan membuang perasaannya, pasti nantinya Elena tidak akan terbawa perasaan jikalau Austin berbuat baik kepada Elena.
__ADS_1