Realita Tidak Seindah Ekspektasi

Realita Tidak Seindah Ekspektasi
Cinta yang tulus berawal dari kasihan


__ADS_3

Keesokan paginya...


Disaat orang lain bersantai sambil menikmati waktu liburnya, Elena justru menghabiskan waktu untuk mengantarkan makanan pesanan teman-teman mamahnya.


Elena pergi mengantarkan makanan tersebut dengan mengendarai sepedanya. Capek memang, tapi ini lebih baik dibandingkan jalan kaki.


Setelah mengantar beberapa pesanan, kini tinggal satu pesanan yang tersisa.


Skip


Sesampainya di alamat yang tertera di kertas, akhirnya Elena buru-buru turun dari sepedanya dan ia membunyikan bel rumah orang itu.


Ketika pagar rumah tersebut dibuka, Elena syok karena rumah ini adalah rumahnya Austin. Ia tak menyangka bahwa selama ini Austin anaknya temannya mamah.


"Loh! kok kamu ada disini," heran Austin.


"Aku mau antar pesanan." Elena memberikan kantong plastik yang berisi kue itu kepada Austin.


"Pesanan siapa?" bingung Austin.


"Mamah kamu."


Saat Elena hendak pergi, tiba-tiba Austin langsung menarik tangannya.


"Ini udah dibayar?" tanya Austin.


"Belum."


"Terus ngapain buru-buru pergi?"


Akhirnya Austin menyuruh Elena untuk masuk kedalam rumah dan bertemu dengan orang tuanya.


"Mah, ini ada pesanan," ujar Adrian sambil meletakkan kantong plastik tersebut di meja.


"Tunggu sebentar ya Elena, Tante mau ambil uangnya dulu," ujar Mamah Austin sambil pergi ke kamarnya.


"Jadi kamu udah kenal sama Mamah aku?" tanya Austin, lalu Elena hanya mengangguk.


Elena kebingungan lantaran yang ia tahu itu Tante Ira tidak mempunyai anak, tetapi ternyata anak Tante Ira adalah Austin.


"Ayo duduk dulu," perintah Austin.


"Gak usah, lagipula aku disini cuma sebentar."


Tak lama, Mamah Austin datang dan ia langsung memberikan uang kepada Elena.


"Makasih, Tante."


"Iya sama-sama."


Setelah itu, Elena pamit kepada Austin dan Tante Ira.


...****************...


Tiba di rumah, Elena langsung duduk dan bersantai di ruang tamu.

__ADS_1


"Makasih ya udah bantu Mamah," ujar Mamah sambil meletakkan jus jeruk di meja.


"Iya sama-sama, Mah," ujar Elena, lalu ia meminum jus tersebut karena dirinya sangat kehausan.


"Mah, anak cowok yang waktu itu ke rumah, itu anaknya Tante Ira loh."


"Anak dari suaminya yang baru kali. Soalnya Ira kan gak punya anak," jelas Mamah.


Elena terdiam, ia berpikir apakah mimpinya itu ada benarnya?


Sebab, dimimpinya itu Austin seperti sedang mengalami masalah dan Elena tahu bahwa itu pasti masalah keluarga. Dan kenyataan, Austin bukanlah anak Tante Ira dan itu bisa jadi bahwa sebelumnya dia sedih karena kedua orang tuanya berpisah.


Trining! Trining!


Elena mengambil ponselnya yang ia letakkan di saku celana. Ia sedikit terkejut karena ternyata orang yang menelponnya ialah orang yang sedang ia bicarakan.


Lalu, Elena buru-buru menjawab panggilan telepon tersebut.


"Ada apa?"


"Tugas yang Minggu kemarin udah dikerjakan belum?" tanya Austin, padahal sebenarnya tidak ada tugas.


Elena bergegas menuju kamarnya untuk memastikan apakah ada PR atau tidak.


"Tugas yang mana ya?" bingung Elena.


"Bukannya semalam kamu lagi ngobrol tentang tugas sama Manda dan Reza."


Terkait hal itu sebenarnya Elena hanya asal bicara untuk mengalihkan pembicaraan. Jadi, sekarang Elena tak tahu harus berbicara apa kepada Austin, karena jika ia berkata tidak ada tugas, nantinya Austin akan menyebut Elena sebagai pembohong.


"Belum."


"Kalau boleh tahu, emang tugas mata pelajaran apa sih?"


Elena terdiam, ia berpikir apakah Minggu lalu ada tugas atau tidak. Dan setelah cukup lama berpikir, ternyata tidak ada tugas sama sekali.


"Ketahuan kan bohongnya," kata Austin.


"Maaf."


"Ngomong-ngomong kamu, Reza sama Manda, semalam lagi ngobrol tentang aku ya?" tanya Austin, lalu Elena hanya mengiyakan ucapan Austin.


"Bicara tentang apa?" tanya Austin lagi.


Elena menjelaskan bahwa Reza dan Manda menuduh Austin menyukai Elena.


"Ya ampun, padahal aku udah bilang loh ke Reza kalau aku sama kamu cuma teman."


"Mulai sekarang kita gak usah dekat-dekat lagi ya, soalnya aku agak risih kalau terus-terusan dituduh sama orang-orang," ujar Elena, padahal sebenarnya ia ingin menjauh supaya perasaannya hilang.


"Jadi kamu risih? ya udah kalau gitu kita gak usah dekat aja."


Mendengar perkataan Austin, membuat Elena kecewa. Ia pikir Austin akan mencari cara untuk mencegah Elena untuk menjauh, tapi ternyata Austin justru mengiyakan ucapan Elena.


"Ya udah kalau gitu aku tutup ya teleponnya," kata Austin, lalu ia segera mematikan teleponnya.

__ADS_1


Elena terus memikirkan Austin, ia takut Austin sakit hati karena Elena menyuruhnya menjauhi Elena. Jika menelponya kembali dan mengatakan bahwa sebenarnya Elena tidak ingin menjauhinya nanti yang ada Austin semakin kesal karena Elena sangat plin-plan.


Dengan terpaksa, Elena harus mengikuti perkataan sebelumnya yang mengatakan bahwa dia ingin menjauh dari Austin.


Tetapi disisi lain, Elena merasa dirinya tidak tahu diri, karena Austin begitu baik kepadanya. Sedangkan Elena, ia justru menyuruh Austin untuk tidak dekat-dekat dengan Elena.


...****************...


Austin POV


Entah kenapa aku merasa sedih saat Elena mengatakan bahwa dia akan menjauhiku dikarenakan dia risih saat orang-orang menuduhnya berpacaran denganku.


Seburuk itukah aku? sampai-sampai dia tidak ingin dekat-dekat denganku.


Daripada sedih seperti ini, akhirnya Austin lebih memilih untuk pergi menuju rumah temanku. Karena memang rumah Reza tidak jauh dari rumahku, jadi aku hanya tinggal berjalan kaki untuk pergi kesana.


5 menit kemudian, Austin telah sampai di rumah Reza. Ia langsung menekan bel rumahnya dan tak lama Reza membukakan pagar rumahnya.


"Ada apa?" tanya Reza.


"Aku mau main ya, soalnya bosan banget di rumah."


Reza mempersilahkan Austin untuk masuk kedalam rumah.


Saat masuk kedalam rumah, Austin langsung menuju kamar Reza karena ia sudah terbiasa main ke rumah Reza.


"Rez, gara-gara kamu, Elena jadi nyuruh aku buat jauhin dia."


"Kok nyalahin aku," heran Reza.


"Soalnya dia risih gara-gara kamu nuduh aku dan dia ada hubungan."


"Jadi kamu sedih gitu gara-gara dia menjauhi kamu?"


Austin diam saja, jika ia mengatakan sejujurnya nanti Reza pasti akan menuduh Austin menyukai Elena.


"Jadi sedih nih ceritanya," sindir Reza.


"Enggak kok, biasa aja."


"Btw, kamu akhir-akhir ini kenapa sih dekat sama dia?"


"Soalnya aku kasihan sama dia. Apalagi setelah kejadian bunuh diri itu, jadi aku merasa khawatir jika dia melakukan hal itu lagi."


Reza menatap kearah Austin, ia jadi curiga bahwa yang dirasakan Austin bukanlah perasaan kasihan, melainkan perasaan suka.


"Kenapa sih?" bingung Austin saat ditatap Reza.


"Aku pernah dengar, katanya cinta yang tulus itu dimulai dari rasa kasihan."


"Apaan sih! ngaco banget kalau ngomong."


"Ini serius!"


Austin tidak mempercayai perkataan Reza, karena yang diucapkannya sangat tidak benar dan tidak mungkin juga Austin menyukai Elena hanya karena dirinya kasihan terhadap Elena.

__ADS_1


__ADS_2