
...^^^...
Hari semakin sore,meri berjalan didepan bersama nio dan ashaf tanpa rasa takut."jangan liat kebelakang Nia!"peringat Meri saat Nia ingin menolehkan kepalanya.
"tapi mer.. ada suara-"
Meri menggeram kesal."jangan hiraukan kalau kamu mau keluar dari sini,kita cuma perlu jalan lurus dan gak boleh nengok ke belakang! paham?" Nia dan Nando mengangguk patuh pada Meri.
..."Merisa.. kamu tidak akan pernah bisa keluar dari sini"...
Dengan serentak mereka berhenti dengan mata liar yang mencari sumber suara itu sedangkan Meri menatap mereka geram,mereka justru melamun kecuali ashaf."jangan perhatikan!" Meri menarik tangan Nando dan Nia yang masih diam dengan tatapan kosong.
"ashaf,pegangin tangan nio.. kita udah Deket sama portal" kata Meri pada ashaf,satu satunya yang sadar selain dirinya.
ashaf menganggukkan kepalanya dan menarik tangan nio,gangguang semakin banyak mulai dari hantu hantu seram yang bermunculan menghalangi jalan mereka,tapi Meri tanpa rasa ragu dan takut ia berjalan menerobos hantu itu karena ia tau itu hanya ilusi yang dibuat buat.
ashaf menghela nafas lega saat mereka sudah melihat kegiatan dan mobil mereka yang masih terparkir rapi didekat rumah makan sebelumnya.
Meri menduduki Nia dan nando dibawah tempat duduk yang biasa dipakai nongkrong,begitu juga dengan ashaf yang mendudukkan nio.
"Kita udah sampe?kita udah keluar?beneran?" pekik Nia senang saat mengetahui bahwa mereka sudah ada di dekat mobil yang artinya mereka sudah keluar dari tempat terkutuk itu.
"Alhamdulillah" pekik Nando girang.
mereka semua bernafas lega lalu tiba tiba sosok pria tua datang menghampiri mereka."anak anak ini,kalian dari mana saja? bapak semalaman menjaga mobil kalian dari para rampok,kalian baik baik saja kan?"tanya kakek kakek itu.
mereka semua memandang satu sama lain."anu pak,semalaman kami tidak sengaja masuk hutan dan tersesat" jawab Nando jujur membuat Meri melotot padanya dan Nando hanya mengernyitkan dahinya bingung.
kakek kakek itu mengubah ekspresinya menjadi dingin."pulanglah nak,kalian beruntung bisa keluar dari sana"kata kakek itu membuat mereka meneguk ludah kasar.
kakek itu kemudian beralih menatap merisa.,ia menunjuk Meri dengan mata tajamnya."kamu.. Sebaiknya jangan berteman dengan para iblis! mereka sewaktu-waktu bisa menjadi timbal balik untuk kehidupan mu dan orang terdekatmu!" bentakan kakek itu membuat nafas Meri tercekat.
Ashaf memandang tak enak ke arah kakek itu."permisi kek,kalau begitu kami pamit pulang.. assalamualaikum" pamit ashaf,meskipun ia tahu ini tidak sopan tapi harus ia lakukan.
"baiklah! saya harap gadis itu mengerti apa yang saya katakan" setelah itu,kakek tadi pergi meninggalkan mereka.
Meri menunduk dalam,ia menatap nio."kalo kalian mau pulang tanpa aku silahkan.. aku bisa cari angkutan umum" kata Meri lirih.
nio memandang Meri tak suka."apa sih Lo! naik! kita pulang" kata nio dan masuk ke dalam mobilnya dengan membanting pintu dengan keras.
Nando dan Nia yang awalnya ingin menhujat Meri habis habisan hanya bisa diam karena amarah nio.
mereka membereskan peralatan mereka yang masih lengkap dan tersusun rapih di sebuah meja,ternyata kakek itu benar benar menjaga mobil dan barang barang mereka.
Nio yang menyetir dengan ashaf yang duduk disebelahnya,sedangkan Nia dan Nando duduk ditengah lalu Merisa yang minta duduk sendirian di belakang.
Meri memfokuskan dirinya melihat kaca jendela belakang mobil,ia bisa melihat makhluk makhluk diluar sana mengejeknya dan ada juga beberapa dari mereka yang menatapnya penuh kebencian.
ashaf yang bisa merasakan kecemasan dibenak Meri pun menoleh."jangan diperhatikan mer" Kata nya membuat Meri mengangguk mengerti dan lebih memilih memejamkan mata seperti Nando dan Nia yang sudah tertidur nyenyak mungkin karena kelelahan.
"Lo kalo ngantuk tidur aja" kata nio yang melihat ashaf meminum kopi lagi dan ini sudah 3 botol.
"gak,saya harus terjaga karena kita ini masih berada di hutan meskipun tidak hutan yang membuat kita sesat tadi tapi ini--
"iya iya,gue males denger ocehan lu" kata nio menatap ashaf jengah.
__ADS_1
nio kembali fokus pada jalanan dengan ashaf yang masih terjaga menatap kanan dan kiri yang hanya terdapat pohon pohon karet dan beberapa rumah kecil yang jaraknya berjauhan.
Ashaf yang melihat sesuatu didepan menyuruh nio untuk tetap jalan dan fokus karena itu bukan manusia."permisi aja" kata ashaf dan diangguki nio.
nio tersenyum miring."ternyata gak sia sia Lo begadang" katanya dan ashaf hanya membalas dengan senyuman tipis.
03.12
waktu menunjukkan pukul 3 pagi,nio memutuskan untuk berhenti dan mampir di sebuah tempat makan yang buka 24 jam untuk melayani mereka yang bepergian jauh seperti kelompok nio misalnya.
Ashaf membangunkan Nando,Nia dan juga Meri."ayo makan dulu" kata ashaf,mereka pun bergegas keluar mungkin karena kelaparan.
Meri yang ingin keluar tertahan karena kepalanya yang tiba tiba sangat nyeri,ia merasakan sesuatu berada disampingnya membuatnya menoleh."rea"gumamnya.
rea tersenyum lebar."Merisaaa...aku nyariin kamu" kata Rea dengan suara yang tidak seperti biasanya membuat Meri bingung.
"Mer,ayok!" ajak ashaf yang tau kalau ada hantu didekat Meri,siapa lagi kalau bukan rea hantu yang ia anggap sahabat.
Meri sudah gila.
Meri yang terkejut karena panggilan ashaf membuatnya kembali sadar dan saat menoleh rea sudah tidak ada,Meri memegangi kepalanya yang sakit mungkin efek tidur dengan posisi kepala yang salah.
Meri menggelengkan kepalanya."Aku disini aja" katanya.
"aku titip obat pusing aja kalau ada shaf" ashaf menganggukkan kepalanya lalu melengos pergi meninggalkan Meri sendiri,tidak..
"Lo sakit?" Meri yang hendak memejamkan matanya tersentak mendengar suara nio yang ternyata masih didalam mobil.
"kamu gak ikut makan?"tanya Meri,ia bisa melihat lingkaran hitam dibawah mata nio.
ashaf kembali dengan hanya membawa dua nasi bungkus, Aqua dan satu gelas plastik berisikan teh hangat."nih,kalian makan" ashaf menaruh bungkusan itu di mobil. "anak anak mau rebahan di rumah makan dulu,gakpapa kan kalau kita lanjut nanti pagi?" tanya ashaf dan diangguki nio.
"hm.. gue juga mau istirahat" katanya memejamkan mata.
ashaf beralih menatap Meri."kamu minum teh hangat ini aja,mereka gak jual obat,kamu mau ikut ke sana?disana ada kasur kalo kamu mau isti-
"enggak,Nia sama Nando pasti marah sama aku" lirih Meri dan ashaf yang menganggukan kepalanya saja karena toh disini Meri bersama nio juga.
nio mengambil sesuatu di dashboard mobil."nih" ia menyodorkan kotak berisikan obat obatan."kali aja ada obat yang Lo cari" kata nio menjawab raut wajah bingun Meri.
Meri segera mencari obat itu dan menemukannya tapi saat ingin meminumnya nio mencegahnya."makan dulu" kata nio dan diangguki Meri yang sudah tidak bisa membantah apapun.
Meri membuka bungkusan itu,ia menatap nio yang memejamkan matanya."nio.. kamu sebaiknya makan juga" kata Meri dan tanpa menjawab nio mengambil nasi bungkus miliknya.
Meri tersenyum tipis dan mulai memakan makanannya,tapi ia melihat ada sesuatu dimakannya"b-bawang.." lirih Meri masih didengar nio.
nio menoleh."kenapa?" tanya nya heran.
"a-aku alergi bawang" kata Meri menundukkan kepalanya.
nio benci bawang,tapi dia tidak alergi"makan punya gue" katanya menukar miliknya dengan milik Meri.
"tapi-
"berisik!" desis nio,ia membalikkan badannya menghadap depan,Meri yang masih berada di bangku belakang tersenyum lebar karena sifat manis nio.
__ADS_1
"jangan gila Meri!" batin Meri.
Meri memukul kepalanya pelan.
ia mulai makan dengan tenang tanpa menyadari ekspresi nio yang sudah menahan mualnya karena benci bumbu dapur satu itu, bawang.
"sial!" Nio mengumpat dalam hati saat merasakan tidak enak itu.
ia memilih tidak melanjutkan makannanya dan hanya berpura pura saja agar terlihat sedang makan.
"gue tidur duluan" kata nio dan dijawab deheman dari Meri.
...^^^...
pagi telah tiba,mereka berlima memilih untuk melanjutkan perjalanan sekarang juga agar cepat sampai rumah.
butuh waktu 3 jam perjalanan untuk sampai ke kota,nio mengantar satu persatu temannya kerumah mereka masing masing dan yang terakhir adalah Meri.
"rumah Lo..sepi" ucap nio hati hati,ia melongokan kepalanya dari jendela mobil.
"apa Gaada orang?"tanya nio lagi.
"mung--
"MERI!" Teriakan dari dalam rumah itu mengejutkan Nio sedangkan Meri hanya memejamkan matanya menahan malu,oh ayolah disini ada temannya apakah harus banget?
Satria dengan wajah garangnya keluar dari rumah sambil melepas sabuk nya dan melilitnya di kepalan tangannya.
nio yang melihat pria setengah baya itu yang terlihat marah mengernyit bingung,ia memilih keluar dari mobil dan berdiri didepan Meri untuk melindungi gadis itu.
Satria menatao tajam nio"JANGAN IKUT CAMPUR KAMU!HEH GADIS SIALAN DARI MANA SAJA KAMU HAH!?" bentak satria murka dan itu membuat nio tersentak.
ia menoleh penasaran melihat Meri yang hanya diam dengan pandangan kosong.
satria mendorong nio dengan keras hingga punggungnya menabrak mobil dengan kencang.
Raka datang dari belakang satria dan menahan ayahnya agar tidak memukul nio."ayah sudah hentikan,Meri masuklah!" kata Raka,tapi Meri ragu untuk masuk atau..
"Meri!" bentak Raka membuat Meri berlari masuk disusul satria yang masih menatap Meri marah,sudah dipastikan dia akan habis malam ini.
"Kenapa kalian--
"sebelum kamu terlalu dekat dengan adik saya,lebih baik lupakan semua ini dan pergi" kata Raka dingin menatap nio mengintimidasi.
"Arhhgggg"
nio menajamkan pendengarannya saat suara teriakan itu menggema di rumah besar dihadapannya,ia ingin maju untuk masuk tapi ditahan Raka yang mendorong nio masuk kedalam mobil,Raka menahan pintu mobil saat nio akan keluar.
"pergi!" dengan berat hati nio pergi dari sana sedangkan Meri yang melihat itu dari jendela menahan tangis.
"aku udah gak berani ke sekolah hiks"
"jangan takut Meri,kan ada Aiden"
...^^^...
__ADS_1