
Meri memasuki rumah melewati balkon yang ada di kamarnya,ia memanjat untuk menghindari amukan sang ayah karena sungguh ia sangat lelah.
Meri menepuk nepuk tangannya yang kotor akibat rating pohon yang rapuh itu,ia melangkah secara perlahan dengan baju yang masih sedikit basah.
Meri menghela nafas lega saat sampai dikamar dan ia tidak mendapati siapapun."huh.. syukurlah" gumamnya pelan,tapi saat ia berbalik kearah sofa kecil yang ada di kamarnya tiba tiba kepalanya jadi pening saat melihat Raka,kakaknya itu kini tengah duduk di sofa dengan tangan bersedekap di dada menatap tajam kearah Meri.
"k-kak,Meri ..
"darimana kamu?" suara berat Raka membuatnya meneguk ludah kasar,Raka adalah saudara kembar almarhum saka. saka adalah adik Raka karena Raka lahir 5 menit sebelum saka.
Raka menatap tajam kearah Meri lalu beralih menatap jam yang melingkar ditangan besarnya itu."20.25,bagus..kenapa ga usah pulang sekalian?"
"kak..Meri kejebak ujan tadi,jadi-
"hujannya gak sampai malam" sela Raka,ia berjalan menuju Meri yang terdiam diposisi nya cukup lama.
"kamu tau?ayah dan ibu nyari kamu sejak tadi... kamu beruntung ayah sedang ada perjalanan bisnis selama satu minggu". suara Raka membuatnya merinding,bahkan lebih daripada mendengar suara kuntilanak atau semacamnya.
"k-kak Raka kapan pulang?" tanya Meri berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Raka tersenyum sinis."kamu gak suka saya disini?"
Meri menelan ludah kasar,Raka kakaknya ini adalah orang pertama yang harus ia hindari karena melewati tatapan dan perkataannya saja sudah bisa membunuh Meri,ia lebih baik bertemu ayahnya dan dipukuli dibandingkan bertemu Raka.
"enggak kak,Meri seneng kok" kata Meri berusaha tersenyum membuat Raka mengembalikan wajah datarnya.
"kamu beruntung kali ini saya lepaskan" setelah mengatakan itu Raka pergi dari kamar Meri meninggalkan Meri dan arwah saka yang tengah menatap kepergian Raka.
Meri menghela nafas lega."tumben banget kak Raka gak ngomel?"tanyanya pada diri sendiri.
"dia bisa ngerasain kehadiran kakak disini itulah kenapa dia ga berani nyakitin kamu mer" ujar saka yang sekarang berada dihadapan Meri.
saka menyipitkan matanya menatap Meri curiga."kakak liat kamu ngikutin cowok tadi,cuma kakak gabisa nyamperin kamu karena kayaknya ada hal yang bikin kakak gabisa Deket sama kamu saat ada cowok itu,siapa dia?" ujar saka panjang lebar.
"kakak ngikutin Meri?"tanya nya dan dijawab anggukan oleh saka.
"oh ya kak.. dia ashaf,murid baru disekolah" jelas Meri.
__ADS_1
"ashaf?"
Meri menganggukkan kepalanya."iya kak,Meri sempat denger waktu dia lagi bicarain sesuatu sama gurunya mungkin,dia bilang Meri dibawah pengaruh jin.."ucapnya lirih saat diakhir kalimat.
saka mengerutkan keningnya tidak mengerti."maksud kamu gimana?"
Meri menggelengkan kepalanya."Meri juga gaktau kak,maksud cowok itu apa ngomong kek gitu"
"hmm..yaudah,kamu bersih bersih dulu aja..masalah itu gausah dipikirin dulu" kata saka dan diangguki Meri yang langsung mengambil baju dan pergi ke kemar mandi.
setelahnya,saka menghilang bersamaan rea yang datang dengan sifat berbeda."manusia memang menyebalkan"
...***...
Meri sudah selesai membasuh mukanya,ia pun turun ke lantai bawah untuk makan malam tetapi sebelumnya ia memastikan tidak ada siapapun disana.
ayahnya pergi keluar kota bersama ibunya,kak Raka mungkin sedang ada di ruang kerjanya sedangkan marisa pasti sedang berada di kamarnya apalagi kalau bukan belajar.
Meri berjalan mengendap-endap menuju dapur agar tidak mengeluarkan suara yang mengganggu orang rumah.
Meri tersentak saat angin berhembus kencang dibelakangnya,ia menoleh kebelakang tapi tidak ada siapa siapa.
Meri melirik kebelakang nya dengan ekor matanya memastikan bahwa benar tidak ada siapa siapa didapur saat ini.
Meri lalu dengan perlahan mengambil makanan yang ada di lemari khusus,ia makan secara perlahan dan tenang agar tidak ada yang terganggu,tapi..
tuk
Meri memejamkan matanya,ia tau apa itu..Meri sudah biasa menghadapi makhluk makhluk yang mengganggunya tapi tetap saja mereka merasa seram dengan kehadiran mereka.
"hihihi"
"astaga,kalian bikin aku stres!" geram Meri menggenggam sendok ditangannya dengan kencang karena merasa kesal.
ia merasa rambutnya seperti dimainkan,ia menoleh kesamping ternyata disana ada makhluk mengerikan dan juga dibawah meja ia merasa ada yang bermain di kakinya ia memutuskan tidak menengok kebawah.
"bisa diem gak sih!" Meri sedikit membentak dengan suara yang tertahan.
__ADS_1
"ngomong sama siapa Lo?!" sarkas seseorang membuat Meri terkejut lantas refleks berdiri dan hampir menjatuhkan kursi yang ia duduki.
Marisa yang baru datang dan menegur Meri karena terlihat sangat aneh itu berdecih sinis."dih,ngapain lo malam malam makan kek maling?" tanyanya sarkas.
Meri menundukkan kepalanya dalam,ia tidak takut hanya saja malas berurusan dengan kembarannya ini yang justru akan membuat emosinya tidak terkontrol dan akan menyebabkan makhluk astral dengan mudah menggantikan perannya.
Marisa adalah kembarannya tapi mereka terlihat berbeda karena jika Merisa kurus dan tidak memiliki body,berbeda dengan Marisa yang body goals idaman para laki laki.
Marisa pintar tapi juga licik di saat bersamaan hanya saja orang tuanya tidak pernah mengetahui perbuatan gadis dihadapannya ini,tapi Meri yakin kalau Raka pasti tahu,buktinya Raka tidak terlalu menyayangi Marisa ataupun juga Merisa.
"heh,cupu! Lo bisa gak sih pergi aja dari rumah?gue enek liat Lo" sinis Marisa seraya membuka kulkas.
Meri hanya diam dengan kedua tangan yang mengepal kuat."dan.. gue tau Lo pulang malem kan?kenapa Lo balik lagi sih?padahal gue berharap Lo ga balik lagi kerumah biar hidup gue damai" setelah mengatakan perkataan menohok itu,Marisa pergi dengan sebotol minuman soda ditangannya.
Meri menghela nafas berat,ia kembali duduk di kursinya dan melanjutkan makan malamnya."Meri..jangan sedih kan ada rea" suara itu membuat Meri mendongak dan benar dihadapannya tepatnya dikursi dengan dibatasi meja terdapat rea sedang tersenyum lebar kearahnya.
Meri membalas senyum rea dengan tulus."tentu rea.."
rea menatap Meri dalam."kalo ada sesuatu panggil rea ya! jangan lupa panggil nama rea aja" katanya penuh penekanan.
jika biasanya Meri menyukai sifat rea yang seperti itu,namun sekarang rasanya berbeda saat Meri merasakan ada yg berbeda dari rea."rea?kamu kok beda ya" ujar Meri mencoba mengorek sesuatu.
rea mengerutkan keningnya dan dengan gelagapan ia meneguk salivanya kasar."gak Meri.. rea cuma mau Meri selalu andalin rea" katanya.
Meri tersenyum tipis."yaudah rea pergi ya..dah" setelah itu rea pergi bersamaan dengan beberapa makhluk yang ada bersamanya tadi pun juga ikut pergi dari sana.
Meri menghembuskan nafas lelah,ia menyandarkan punggungnya pada kursi."bener kata bunda dulu.." Meri menjeda ucapannya sebentar lalu ia mengambil kalun dengan bandul hati itu,ia membukanya dan disana terdapat foto dirinya dan sang bunda.
"semakin kita dewasa,umur bertambah.. masalah sudah menjadi makanan sehari hari" lanjutnya lagi lalu tersenyum menatap foto bundanya yang tersenyum padanya.
"bunda udah tenang disana ya?" tanyanya pada foto itu.
"bunda...Meri kangen" lirihnya lalu tanpa sadar ia terisak tanpa suara.
seseorang dibalik pintu kamar memperhatikan Meri sedari ia berbicara pada diri sendiri."kakak..minta maaf mer gak bisa jaga kamu"
...***...
__ADS_1