
05:50
Pagi pagi sekali merisa sudah ada di jalanan,ia berjalan
kaki menuju sekolah nya yang sebenarnya tidak sejauh itu sampai harus bangun pagi
sekali. Meri memiliki alasan lain kenapa ia memilih berjalan kaki di pagi buta
seperti ini,alasannya tentu saja karena orang tuanya.
Meri tidak ingin bertemu orang tuanya ataupun keluarganya
yang tinggal dirumahnya saat ini,oh tidak apakah dirinya pantas mengatakan
bahwa rumah itu adalah rumahnya dulu?sepertinya ia tidak memiliki hak untuk itu
semua.
30 menit meri berjalan akhirnya ia pun sampai di
sekolahnya sekarang,SMA NEGERI AMPARE. Aneh bukan nama sekolahnya? Bukan hanya
aneh tapi juga angker karena meri sering melihat banyak makhluk disini,mulai
dari pertama masuk gerbang sekolah,lalu koridor sekolah,disetiap kelas.
Sebenarnya jika menurut meri menjadi indigo itu menyenangkan hanya saja
kebanyakan hantu sangat meresahkan karena menampakkan wajah menjijikan mereka
yang membuat merisa muak apalagi ketika hantu itu meminta pertolongannya.
Meri mengamati keadaan sekolahnya yang Nampak sangat
sepi,meri menghela nafas kasar saat merasakan ada sesuatu yang mengikutinya
tapi ia tidak perduli karena semakin ia peduli semakin ia akan diikuti.
Meri menyusuri koridor dan menaiki tangga untuk sampai ke
lantai tiga dimana kelasnya berada,rasanya merisa ingin tertawa keras karena ia
mampu bertahan hidup bersama keluarga sadisnya itu hampir selama 17 tahun dan
lihatlah sekarang ia sudah sekolah menengah atas kelas 12,itu sangat
menakjubkan bukan?
Meri membuka pintu
kelas dan menyalakan lampu di kelasnya itu,bisa dilihat seberapa berantakannya
kelas ini padahal hanya ditinggal 2 minggu karena liburan.
Duk duk duk
Suara langkah kaki terdengar menggema di ujung
lorong,meri yang biasanya tidak perduli karena yang ia tahu
adalah suara seperti itu adalah buatan para hantu yang mencari perhatiannya.
Tapi sepertinya kali ini meri tertarik dengan suara langkah kaki itu.
Meri yang penasaran pun melangkah keluar kelas,ia melihat
seorang laki laki yang memakai seragam
sekolah sama sepertinya tetapi ditutupi
dengan hoodie hitam yang menutupi wajahnya,meri buru buru kembali masuk kedalam
__ADS_1
kelas saat cowok itu mulai dekat dan sepertinya akan melewati kelasnya.
Tapi..
Meri sedikit tersentak saat cowok itu tiba tiba masuk
kedalam kelasnya saat ini,kelas 12 BAHASA C.
Meri terus memperhatikan gerak gerik cowok itu,tidak ada
yang aneh sejauh ini sampai tiba tiba rea datang dan berdiri dihadapannya
dengan tatapan yang menuju kearah cowok tadi. “re..” bisik meri dengan suara
sepelan mungkin agar cowok yang duduk paling ujung dan paling belakang dekat
jendela itu tidak mendengarnya.
Rea mengisyaratkan meri untuk keluar kelas dan meri pun
mengikutinya sambil sesekali melirik kearah cowok yang sedang memejamkan matanya
dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya. “kenapa re?” Tanya meri dengan
suara yang masih dibuatnya pelan untuk mengantisipasi adanya kecurgiaan dari
cowok itu.
Meri duduk di sebuah bangku yang berada di depan kelas
tetangganya alias 12 bahasa b. “kamu kenapa tiba tiba muncul gitu?” Tanya meri
lagi ketika rea tidak menjawab pertanyaannya.
“jauhin dia mer,apapun alasannya jangan samapi kamu
terjebak dengan cowok itu” perkataan rea sangat aneh,sudah jelas kalo rea pasti
tau kalo meri bukanlah seorang gadis yang friendly ia sangat tertutup.
sampai kamu dekat sama cowo itu.. dia.. bahaya dan firasat aku buruk tentang cowok itu” jelas rea.
Meri mengerutkan keningnya tidak mengerti tapi saat ia
akan bertanya rea justru lebih dulu menghilang begitu saja,kenapa rea menjadi
sangat aneh.
Meri mengedikkan bahu tidak perduli lalu kembali masuk
kedalam kelas,disana ia mendapati cowok tadi tengah menatap lurus kedepan
dengan pandangan tajam seolah ingin membunuh siapapun yang ada didepannya saat
ini,meri menoleh lagi kedepan dan disana ia tidak menemukan apapun sebelum ia
menoleh lagi kearah cowok itu yang ternyata dia..
Menatap kearah dirinya sendiri. “astaga!ya tuhan! Ini gila” – batinnya berteriak saat melihat tatapan
menghunus dari laki laki itu.
Meri memilih untuk tidak menghiarukan tatapan membunuh
pria itu,ia memilih untuk duduk di bangkunya lalu membuka buku novel
kesukaannya. Meri,gadis yang terkenal pendiam di kelasnya, meri dikenal sebagai
gadis kutu buku yang pintar dalam segala bidang tapi ternyata semua itu salah.
Satu persatu siswa mulai berdatangan,beberpa dari mereka
__ADS_1
ada yang menatap aneh kearah cowok yang menduduki bangku kosong yang berada di
paling pojok kelas.
“mer,lo datang duluan kan?dia siapa?” Tanya tari teman
sebangku meri,gadis itu hanya mengedikkan bahu tidak tau siapa cowok itu.
Semua murid sudah lengkap,dan tiba tiba pak yayan
menyuruh cowok yang sekarang berstatus anak baru disekolah ini sekaligus teman
baru untuk kelas 12 bahasa c,cowok itu tidak menyampaikan basa basi apapun,ia
hanya maju menyebutkan namanya lalu kembali duduk di kursinya.
“Ashaf pramadita”. Pak yayan menggelengkan kepalanya
melihat tingkah anak baru itu.
Pak yayan lalu mulai kembali mengajar seperti hari hari
biasanya,tapi tidak bagi meri yang merasa ashaf yang terus menatapnya dengan
tatapan yang tidak bisa diarikan,meri diam dengan posisi itu sampai jam
istirahat tiba.
Jika biasanya meri akan tidur dikelas saat jam
istirahat,tapi kali ini meri memilih untuk pergi ke perpustakaan untuk
menghindari anak baru itu. Meri sempat heran dengan cowok itu,apa tidak
memiliki kerjaan lain selain tidur dengan mendengarkan music?
Meri memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dengan
membawa novel nya,saat akan melewati pintu suara seseorang berhasil
menghentikan langkahnya. “ada yang bisa saya bantu?” Tanya cowok itu,dia ashaf.
Meri mengerutkan
keningnya bingung. “maksud kamu?” tanyanya.
Cowok itu sedikit menjauh dengan jarak 1 meter,ashaf
melirik ke kanan dan kiri mengawasi keadaan sekitar. “saya tau kamu punya
masalah”
“apa apaan sih!” sentak meri menatap sinis ashaf,baru bertemu beberapa jam sudah berbicara seperti itu.
“saya hanya ingin bantu”
Meri berdecih lalu menatap ashaf meremehkan,ia mengibaskan tangannya didepan wajah menatap tajam ashaf. Meri sangat tidak suka dengan
orang yang ikut campur urusannya apalagi jika orang itu baru ia kenal. “ada atau enggaknya itu bukan ururusan kamu”
“saya juga tidak ingin,tapi saya sudah melihat..” ashaf menjeda perkataannya. “jika saya sudah melihat,saya harus bertindak” katanya tegas
lalu pergi begitu saja melewati meri yang menatapnya bingung.
Ashaf menghentikan langkahnya lagi,lalu.“kamu sudah dewasa,tidak seharusnya kamu percaya dengan makhluk yang berbeda dengan kita”
kata ashaf lalu pergi meninggalkan meri sendirian dengan berbagai macam
pertanyaan.
Sedangkan sesosok makhluk yang menyaksikan itu semua mengepalkan tangannya. “sial!”
__ADS_1
Ashaf yang memang belum pergi jauh dari sana menatap kearah meri yang diam dengan serius. “apa harus aku nolong dia?” gumamnya pada
diri sendiri.