Reciprocal

Reciprocal
Tentang Asanio


__ADS_3

...^^^...


"Lo serius tentang ritual itu mer?gue rasa-


"dokter manapun gak bisa bantu kita,Dani gak akan bisa bangun dengan bantuan dokter ternama sekalipun" penjelasan panjang lebar dari Meri berhasil membungkam Nando yang terus saja membujuk Meri untuk tidak melakukan ritual untuk masuk ke alam ghaib.


Meri berbalik menghadap ashaf yang duduk di kursi bersebelahan dengan nio,aura yang mereka berdua keluarkan sangat menegangkan seperti ada bom yang ingin meledak."ashaf?kamu indigo sama kayak aku kan?" pertanyaan Meri membuat mereka yang masih di ruang UKS otomati menatap ashaf penuh selidik.


ashaf mengangguk."hm,saya tau kamu bakal minta apa ke saya jadi tidak usah dibicarakan lagi" Meri mengangguk mendengar pernyataan ashaf sedangkan nio terlihat tidak suka dengan interaksi mereka berdua.


"gue! gue mau bantu!" nio menegakkan badannya menatap lurus kearah Meri dengan serius.


Meri mengernyitkan dahi nya lalu ia mengangguk."kan kamu sama yang lain emang bantu-


"gue mau liat yang Lo bilang setan itu" Meri melototkan matanya tak habis pikir."maksud kamu?"


"Lo bisa buka mata batin kan?" bukannya menjawab pertanyaan Meri,nio justru balik bertanya.


Meri mengangguk ragu lalu setelahnya nio berpindah tempat menggeret kursinya persis didepan Meri."mau ngapain?" tanya Meri gugup.


nio memejamkan matanya sekilas."buka mata batin gue" ujarnya santai membuat Nia dan Nando melongo seketika,bukankah Asanio Pradipta ini adalah seorang cowok yang sangat membenci hal mistis?


"Jangan Ngadi ngadi lu yo!" peringat Nia menatapnya seolah hal ini berbahaya,karena memang membuka mata batin memberikan banyak resiko.


"kenapa mau buka mata batin?"tanya Meri,nio tampak diam sebentar untuk menimang jawabnya.


"pengen aja,udah cepetan buka!" lagi lagi mereka dibuat melongo dengan pernyataan nio,kecuali ashaf yang tidak perduli.


"tapi resikonya-


"udah cepet!" desak nio mendapat decihan sinis dari ashaf dibelakangnya tapi ia tidak memperdulikan siapapun karena fokus dengan mata hitam legam gadis yang duduk didepannya saat ini


Meri mengangguk sekilas lalu mengintruksikan nio agar menutup mata,ia menutup mata nio dengan tangan kanannya dan tangan kirinya berada diatas kepala nio."Nia..ini--


"langsung aja,gue ok" katanya santai membuat Nia dan Nando menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan nio yang berada dihadapan mereka sekarang ini.


mulut Meri berkomat kamit membaca ssesuatu yang bisa disebut mantra,ia mengusap mata kepala nio dari ujung hingga ke matanya."udah,sekarang buka mata kamu" kata Meri,dengan perlahan nio membuka matanya tanpa gentar.


ada sesuatu yang aneh menjalar dalam dirinya saat Meri membacakan mantra ditubuhnya."gimana?"tanya Meri menatap nio khawatir,karena cowok itu hanya diam menatap lurus kearah Meri.


setelahnya nio tersenyum tipis dan tersenyum remeh ke arah ashaf."hm..gini doang?"tanyanya pada ashaf membuat yang ditanya menggeram kesal.


ashaf menatap nio penuh benci,persetan dengan image alimnya."kamu belum tau seberapa seramnya mereka,kamu akan nyesal karena-


"b aja haha" nio tertawa hambar lalu mengalihkan pandangannya pada pintu UKS yang terbuka lebar,diluar ruangan ini,di koridor yang tampak sepi dan mulai menggelap karena hari sudah semakin sore.


diluar berdiri sosok wanita dengan pakaian yang sudah koyak,kondisinya parah dengan tubuh yang dilumuri darah dan juga beberapa luka di bagian intimnya.


nio menatap nanar wanita yang berkarak 1 meter darinya."yang begini.. bukan apa apa buat gue" ucap nio kemudian dengan nada dingin.


dia tersenyum miring,senyum yang mengintimidasi."ternyata gak ada seremnya" gumaman nio masih bisa didengar mereka semua,Meri bingung melihat nio yang tidak takut dengan arwah penasaran yang ia lihat juga dan pasti ashaf juga melihat wanita itu saat nio melihatnya."jelas banget itu serem nio" kata Meri dengan suara bergetar,sangat menyeramkan.


"pulang,kalian mau terus disini?Dani biar dirumah gue" kemudian cowok itu berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Nando tersentak saat ia sepertinya melupakan satu fakta tentang nio."bodoh! mana mungkin dia takut!" geram Nando berdecak kesal dengan kebodohannya.


"maksud kamu?"tanya Meri.


Nando menghela nafas berat."Lo akan tau nanti"


...^^^...


mereka berlima akhirnya sampai di rumah nio yang lebih terlihat seperti sarang vampir,bagaimana tidak? rumah dihadapan mereka didominasi warna gelap yang memberikan kesal kelam."ini..rumah kamu Yo?"tanya Meri hati hati.



"iyalah,Lo kira rumah Robert?" cela Nando lebih dulu sebelum nio berbicara,entah kenapa sejak awal mereka menampakkan kaki di mansion megah ini,Nando selalu mendumel tidak jelas.


seperti..


Dani taro rumah gue aja lah


ini serius kerumah Lo Yo?


Dani pulangin aja Napa si! ntar ortunya panik lagi nyariin!


semua perkataan Dani ditanggapi Nia dengan santai."bonyok nya Dani udah meninggal 2 tahun yang lalu,dia nge kost bareng anak anak di sekolah"


Meri bergidik saat nio membuka pintu itu,terdengar suara decitan yang mengerikan kali ini jika menurutnya.


"masuk" ajak nio dengan suara dingin entah kenapa kali ini berbeda dari nio sebelumnya,tidak ada tatapan mengintimidasi yang ada hanya tatapan ancaman.


"duduk dulu,gue buatin minum" kata nio setelah mereka sampai di ruang tamu yang sepuluh kali lipat dari rumah Meri.


Di dapur


Meri berdiri disamping nio yang fokus mengambil 2 botol besar Coca cola."nio,aku gak bisa minum itu.." Meri berucap pelan dan ragu.


nio menghentikan aktivitas dari kulkas lalu menatap Meri dalam."ini bukan buat Lo--


nio beralih mengambil jus buah yang ada di kulkas dan menuangkannya di gelas khusus."ini buat Lo" nio menyodorkan segelas jus buah rasa mangga kehadapan Meri.


Meri menerimanya dan tersenyum manis."makasih,emm btw.. kamu disini sendirian?" tanya Meri hati hati.


nio menatap kosong dua botol Coca-Cola yang berada di nampan besar lalu kemudian berdehem sebagai jawabannya.


Meri meneguk ludah kasar."Yo.. disini banyak makhkuk-


"ya,gue tau berkat mata batin ini" nionterkekeh seolah tidak terjadi apapun dan tidak ada makhluk mengerikan apapun,tapi kalau boleh bersumpah Meri sangat takut berada di tempat ini.


Meri mengikuti langkah nio yang berjalan menuju ruang tamu menyusul nio dengan langkah buru buru.


Nando memperhatikan gerak gerik nio dengan mata tajamnya."Yo.. Lo gak?-


"tenang aja,gue udah waras" potongnya dengan nada santai.


Nando mendengus sebal."kenapa gak dirumah Lo yang baru sih!?" tanya Nando kesal,karena jujur saja walaupun dia tidak melihat setan tapi dia bisa merasakan kehadiran mereka yang membuat bulu kuduknya merinding.

__ADS_1


nio tersenyum miring."mending disini.. atau Lo ketemu bokap gue?" tanya nio dengan nada rendah membuat mereka semua merasa keanehan kecuali Nando yang sejak kecil berteman dengan Asanio Pradipta Zerixwill.


nama belakangnya yang aneh sama persis dengan sifat nio yang aneh,jadi tidak perlu heran.


"Mer,jangan melamun" peringat ashaf membuat Meri tersadar dan menarik nafas dalam,ia mendekati nio.


"nio.. aku gak kuat disini" kata Meri dengan suara lirih karena dadanya yabg terasa sesak.


"oke,kita kerumah yang baru" ujar nio memutuskan membuat Nando yang sedari tadi membujuknya melotot tak terima."bisa bisanya--


"ikut atau tinggal?"


Nando berdiri dengan terburu-buru dan memapah Dani berdua dengan ashaf sedangkan Nia berada disamping Meri,menggenggam tangan satu sama lain memberi kekuatan.


mereka kembali masuk ke dalam mobil nio dan melaju menuju rumah nio yang baru,butuh sekitar 10 menit perjalanan dan akhirnya mereka sampai,kali ini rumah ini biasa saja tapi menarik.



"datar sekali rumahnya everybody" Nando menatap datar rumah dihadapannya,tidak ada bedanya dari rumah Sebelumnya tapi setidaknya disini tidak terasa sesak.


"masuk"


"sorry berantakan" nio mulai membersihkan baju baju yang berserakan tapi..


wajah Nia dan Meri memanas saat melihat .. bikini yang tercecer di lantai,Nando langsung menutup mata dengan berbagai umpatannya sedangkan ashaf mendesah kuat sambil berucap istighfar.


inilah yang Nando tidak suka dari tuan Lexo!, pria berumur 45 tahun itu selalu bermain wanita dimanapun,kapanpun.


nio menggeram kesal."kalian duduk dulu" ia berlalu pergi menuju kamar pojok yang sudah dipastikan Nando itu adalah kamar pria gila sexs itu.


beberapa menit sejak kepergian nio,tiba tiba suara yang sangat familiar ditelinga Nando dan juga suara yang ia benci."Nando.. kamu membawakan om dua gadis?wah terimakasih" Nando menggeram menahan amarahnya,sedangkan Nia dan Meri beringsut mundur menyembunyikan tubuh mereka dibalik punggung ashaf dan Nando yang entah sejak kapan merapat.


"p-pedofil" celetuk Nia.


dialah orangnya,ayah dari Asanio Pradipta Zerixwill,yang terhormat Tuan Alexo Pradipta Zerixwill.


"mau bermain denganku manis?" suaranya yang berat dan rendah itu membuat Meri dan Nia bergidik.


Lexo maju selangkah tapi dihalangi Nando dan ashaf."tolong uncle, don't touch my friend!" desis Nando tajam.


ashaf yang melihat Nando seperti itu menyimpulkan bahwa Nando kenal dengan Nio sudah sangat lama."why mr.Nando? I just wanna play the game with-


"GO.AWAY!" nada penuh penekanan itu membuat mereka menoleh dan mendapati nio yang membawa tas besar,mereka dibuat terkejut saat nio tiba tiba melempar tas itu ke kaki ayahnya sendiri.


Lexo ternyum miring."berikan aku rumah seperti yang aku inginkan,setelah itu dua gadis ini akan aku lepaskan"


nio melempar sebuah dokumen,dan juga cek kosong."Oke anakku tercinta,ayahmu akan pergi"


"ets.. tapi jika kalian butuh bantuan untuk menyembuhkan anak itu,bisa panggil daddy" setelahnya pria itu benar benar keluar.


"gue deg deg an anjir,pertama kali ketemu pedofil" ujar Nia heboh.


Meri memberikan tatapan tajam seolah menyuruh Nia berhenti."sorry"

__ADS_1


...^^^...


__ADS_2