Reciprocal

Reciprocal
¡Teror!


__ADS_3

...^^^...


Malam ini meri menginap dirumah Nia,ia sudah mencoba menelpon Raka kakaknya tapi tidak diangkat.


Nia orangnya sangat friendly membuat Meri nyaman berteman dengan gadis itu.


setelah kegiatan masak masak yang heboh tadi,akhirnya mereka kini sedang bersantai didalam kamar sambil menonton tv yang ada dikamar Nia.


jika dilihat lagi,Nia hampir sama dengan nio walaupun sebenarnya Meri juga sama seperti mereka anak orang kaya tapi bedanya Meri dianggap budak oleh ayahnya.


"mer?ngantuk gak?" tanya Nia membuat Meri menoleh lalu menggelengkan kepalanya.


Nia melihat jam yang ditempel di dinding kamarnya."udah jam setengah 12 padahal tapi gak ngantuk juga"


Meri nyengir lalu menatap sekeliling kamar Nia,ia tidak pernah luput dalam menganggumi setiap sudut rumah Nia.


ceklek


Nia dan Meri menoleh bersamaan saat mendengar suara pintu balkon yang dibuka."perasaan gue aja atau jendelanya emang kebuka?"tanya Nia pada Meri.


Nia melihat pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon ternyata benar benar terbuka sedikit."gue yakin udah dikunci" gumam Nia.


sedangkan Meri melihat hal lain dibalik pintu kaca itu,ia melihat sosok wanita menyeramkan yang kemarin menagganggu mereka di rumah nio.


wanita itu menyeringai lebar menatap Meri tajam dan berbicara tanpa suara yang Meri bisa tau apa itu.


"saya ingin tubuhmu"


setelah berbicara seperti itu,hantu wanita itu tiba tiba melesat cepat mendekati Nia dan mencekiknya dari belakang membuat Nia sulit bernafas.


Meri yang melihat pun jadi panik ia berusaha melepaskan tapi naas justru ia yang terlempar.


dengan sisa sisa tenaganya ia berteriak meminta tolong bantuan pembantu yang ada dirumah ini dengan berteriak."Tolongg!"


"Tolong"


"Tolong lepasin temen aku!" Meri berusaha bangkit dan melawan makhluk itu tapi lagi lagi ia terhempas kencang ke lantai dan terdengar seperti tulang yang remuk.


"m-mer-Akkkhh!" Nia berteriak kencang.


Brak


Meri bisa melihat seorang satpam dan bi Ajeng masuk kedalam kamar dengan tergesa gesa menatap bingung meri dan Nia.


"t-tolong pak,ada arwah jahat yang mau mencelakai Nia" ujar Meri lirih.


pak satpam lalu membacakan ayat ayat suci yang Meri tidak tau apa itu,selama beberapa detik akhirnya cengkraman di leher itupun menghilang bersamaan dengan hilangnya arwah itu.


"lain kali aku datang"


Meri mendengar bisikan itu lalu kesadarannya pun hilang.


"MERI!"

__ADS_1


...^^^...


Nando dan nio sudah sampai di rumah Nia sejak gadis itu menelepon Nando dengan suara panik karena habis diterror.


mendengar kabar Meri pingsan dan sepertinya harus dirawat dirumah sakit karena luka yang didapat membuat nio juga ikut bergegas menuju rumah Nia untuk membawa dua gadis yang sama sama terluka itu kerumah sakit.


Ashaf tidak bisa dihubungi,mereka memutuskan memberitahu besok saja.


"udah baikan?"tanya Nando menatap Nia yang memegangi lehernya yang memerah.


Nia mengangguk dua kali dan terseyum pada Nando meyakinkan cowok itu kalau dia baik baik saja.


"tidur lagi aja,ini masih jam 4 pagi" ujar Nando.


Nia menghembuskan nafas gusar."Meri gimana?" tanya Nia.


Nando tersenyum tipis."udah ada nio,mereka disebelah"


disisi lain,Meri masih diperiksa keadaannya oleh dokter dengan nio yang selalu mengawasi kegiatan nya.


saat dokter keluar dan memberi tau nio bahwa Meri baik baik saja tidak ada cedera serius dan hanya perlu minum obat pereda nyeri.


nio mendekati kasur dimana Meri yang sedang terbaring lemah."CK! kenapa gue jadi selalu perhatiin lu sih!" gerutunya tidak jelas sambil memandangi wajah Meri yang tenang dan damai.


bulu mata lentik dengan mata yang biasanya dihiasi kacamata kini sedang terpejam,hidungnya yang pesek dan kecil,pipi nya yang bulat dan juga bibir mungil yang.."Lo apaan sih Yo!" geram nio berbicara pada dirinya sendiri.


tok tok


"masuk!" jawab nio saat mendengar ketukan pintu.


"terserah gue la" jawab nio asal.


"Lo kok jadi nyebelin banget!"


"udah udah,kasian Meri nya" relai Nando.


"gimana Lo?"tanya nio kepada Nia.


Nia mengangguk kecil."sebenernya gak terlalu sakit,cuma ada bekas merahnya aja"


eungh


Meri mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya terang dari lampu kamar inapnya."eh?mer?"


"Alhamdulillah udah bangun" ucap Nando.


"gimana?ada yang sakit?punggung Lo?kepala?or anything?" tanya Nia cepat membuat Nando dan nio menggelengkan kepalanya.


"baik kok,gak sakit hehe" ujar Meri terkekeh.


"jangan nyengir lu! gue panik pas Lo pingsan tadi asli" ujar Nia kesal.


"ya maaf" cicit Meri.

__ADS_1


"udah udah,Meri jangan kebanyakan gerak dulu kalo bisa tidur lagi aja belum pagi ini--


"udah jam setengah 5 Lo bilang belum pagi?"tanya nio dingin.


Nando nyengir kuda."kan biasanya pagi itu jam 7" ujar Nando polos.


...^^^...


"udah mau pulang?" tanya ashaf yang baru datang beridiri di ambang pintu ruang rawat Meri.


"hmm,takut bokapnya nyariin" celetuk Nando.


Meri mengangguk kaku,sebenarnya tidak mungkin ayahnya mencarinya bahkan jika ia mati pun sepertinya ayahnya itu tidak akan perduli.


hanya saja,Meri takut membebani biaya rumah sakit meskipun keluarganya kaya tapi tidak dengannya yang tidak pernah memiliki sepeserpun uang dari ayah ataupun kakaknya.


ia sudah banyak merepotkan nio,Nia dan Nando bahkan ashaf,cowok yang sebelumnya selalu mendapat sumpah serapah darinya.


"langsung pulang atau nginep di rumah-


"langsung pulang aja" sela Meri cepat dan diangguki yang lain.


"okedeh,tapi kapan kapan kalau mau nginep langsung aja kerumah gue atau kalo mau pindah kerumah gue juga bisaa! gue kesepian huhu" rengek Nia.


Nando mengerlingkan sebelah matanya menatap Nia."gue mau dong nginep dirumah Lo! pindahan juga ***-aduhh apaan si sakit tau!"


"lagian elu si! gue kan menawarkan ke Meri seorang bukan ke lu!" sinis Nia membuat Nando mengerucutkan bibirnya.


Mereka semua akhirnya sudah selesai berkemas dan berniat untuk mengantar Meri pulang bersama sama.


Meri awalnya menolak karena takut merepotkan-lebih tepatnya ia takut jika teman temannya bertemu ayahnya dan itu sangat sangat tidak baik.


nio memberhentikan mobilnya didepan rumah besar dan mewah seperti kerajaan kuno,Nia dan Nando bahkan sudah melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat."rumah Lo bahkan lebih gede dan-oh yaampunnn gue berasa jadi Cinderella desainnya castil banget!" pekik Nia heboh.


"gila sih! ada princess nya gak didalem tuh!?" ujar Nando tak kalah heboh.


Meri menunjukkan deretan gigi putihnya."kalau kalian mau mampir bilang dulu ya" ujar Meri.


"wah boleh nih!?" tanya Nando dan Nia bersamaan.


Meri mengangguk."tapi jangan sekarang yah,nanti aja" sempat bingung dengan jawaban Meri tapi akhirnya Nia dan Nando menganggukkan kepalanya mengerti.


Mereka pun berpamitan pergi dari rumah meri meninggalkan gadis itu sendirian dirumah besar ini,Meri berbalik menatap rumah yang temannya bilang seperti castil.


Meri menghembuskan nafas beratnya."oke...bersiap Meri" ucapnya pada diri sendiri.


"MERII!!SINI KAMU SIALAN!"


Teriakan dari dalam itu membuat kepala Meri mendongak dan melihat ayahnya yang sudah berdiri dengan wajah garangnya di ambang pintu rumah.


Meri menelan ludah kasar."tuhann.. tolong Meri"gumamnya sebelum benar benar menghampiri pria paruh baya yang menjabat sebagai ayahnya.


...^^^...

__ADS_1


...nungguin ya?palpalepalpale hehe...


...lanjut! ...


__ADS_2