
...^^^...
sejak kejadian dimana,Meri dan keempat temannya tersesat di hutan terlarang akibat dirinya sendiri membuat Meri merasa malu dan bersalah untuk bertemu teman temannya apalagi ditambah perkataan kakek misterius itu.
sudah 3 hari Meri izin sekolah dengan alasan sakit,dan hari ini ia akan kembali sekolah karena izin sakit itu hanya berlaku 3 hari saja.
Meri tidak berbohong,ia benar benar sedang sakit parah. bagaimana tidak sejak hari itu ia dipukuli habis habisan oleh ayahnya sendiri,tidak diberi makan seharian membuatnya semakin lemah dan lemas itu membuat para hantu leluasa menguasai tubuhnya,tapi untungnya ada Aiden,rea dan juga saka kakaknya.
Meri menunduk dalam-dalam,saat ia sudah memasuki kelas nya yang saat ini mengundang perhatian banyak orang dikelasnya."Makin gak terawat aja lu" ejek teman kelasnya.
"orang tuanya kaya tapi anaknya malah kek gembel" mereka semua terkikik mengejek kecuali ashaf,nio,Nia dan Nando yang justru menatap kasihan.
"berisik!" teguran seseorang dengan suara dingin dan berat khas orang itu membuat mereka diam tak berani membuka mulut lagi.
Meri duduk ditempatnya,sendiri.
Nia dan Nando yang duduk di belakang menatap Meri penuh arti,ada rasa bersalah di benar mereka karena kalo bukan mereka yang merekomendasikan tempat itu untuk mengerjakan tugas maka tidak akan jadi seperti ini dan Meri tidak akan tersesat waktu itu.
Rea datang dan berdiri didekat papan tulis,ia menatap nyalang murid murid yang tadi mengejek Meri."apa perlu ku beri pelajaran mereka?Meri.." suara yang lebih seperti bisikan lirih itu menerpa telinga Meri tanpa izin.
"ih kok gue merinding" celetuk salah satu murid dikelas mereka.
"sama,rasanya hawa disini kek dingin banget padahal diluar jelas ada matahari gitu" tambah murid lainnya.
Meri meneguk salivanya kasar,ia bisa melihat arwah rea berdiri tepat dihadapannya sekarang. Rea yang berdiri dihadapannya tidak seperti yang ia kenal."Jangan berbuat apapun rea" lirih Meri.
murid dikelas yang samar samar mendengar pun menoleh cepat."dih Lo ngomong sama siapa dah?!" tandas salah satu murid cowok yang duduk dihadapannya,tepat dimana rea berdiri dan menembus cowok itu.
"gue merinding anjim deket lu,mau pindah aja" gerutu cowok itu hendak berdiri tapi badannya kaku,tidak bisa bergerak karena ulah rea yang membuat cowok itu seperti tertanam di kursi.
cowok itu hanya menatap lurus ke arah Meri yang menatapnya penuh arti."Dan.. kamu diem,baca surah surah yang kamu tau dalam agama kamu ya?" kata Meri memandu Dani yang kini hanya bisa merem melek.
Meri mendekati Dani dan memegang kepalanya."Dani.. baca terus ayat ayat itu" kata Meri mengintruksika Dani.
Dani merespon dengan kedipan matanya."rea..jangan ganggu orang sekitar aku rea,yang aku tau kamu gak seperti ini" meri bergumam tidak jelas sampai pada saat Dani melototkan matanya lalu pingsan dan jatuh dari kursi membuat seisi kelas histeris.
Brak!
pintu kelas tertutup dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi,angin berhembus kencang dari jendela bahkan ada kaca yang sampai retak.
"AAAAAAARGGGGHH!!" Teriak siswi siswi yang merasa ketakutan,mereka saling berpelukan satu sama lain untuk meredakan rasa takut.
__ADS_1
ashaf menghampiri Meri yang mematung dengan tergesa-gesa,ia menepuk pundak Meri untuk menyadarkan gadis itu."hah?astaga!" Meri terpekik saat melihat keadaan kelas.
"ini gimana astagfirullahaladzim,masa siang bolonga ada setan sih" gerutu Nia tak tenang memandangi teman teman sekelasnya yang kehilangan kewarasan.
Meri menatap setiap sudut ruang kelas dan mendapati rea yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan."REA CUKUP!" teriakan itu membuat angin berhenti berhembus dan suasana kembali hening,tapi justru lebih mengerikan bagi mereka.
apalagi saat..
Meri berjalan kearah kaca jendela yang pecah,itu aneh tapi jika dari posisi Meri yang sedang melihat rea berdiri didepan jendela yang retak itu tidaklah aneh."cukup! kamu bukan rea yang aku kenal" lirih Meri.
rea menyeringai dengan sangat mengerikan."haha... Ini waktunya wahai manusia" lirih rea dengan suara mengerikan.
tes
satu air mata lolos begitu saja bersamaan dengan kepala Meri yang terasa pening dan..BRUK!
Meri kehilangan kesadarannya.
...^^^^^^^^^...
Nio,Nia,Nando,dan ashaf menemani Meri dan juga Dani yang sempat kerasukan tadi di UKS.
Nia menghela nafas berat."jadi Meri itu anak indigo?" tanya pada ashaf yang selesai bercerita tentang kejadian tadi dan juga fakta bahwa Meri adalah gadis indigo.
"gue merasa bersalah sama Meri tentang kejadian kemaren" kata Nando menatap Meri iba.
"Lo kira Lo aja hah?gue juga kali!" geram Nia,mendapat tatapan tajam dari nio."bisa diem?" nio menatap datar Nando dan Nia yang jika bertemu selalu saja bertengkar.
eungh
lenguhan yang berasal dari bibir Meri membuat mereka memfokuskan diri pada gadis yang perlahan membuka matanya itu."mer? gimana?masih pusing?mau sesuatu gak?" tanya Nia cepat membuat Meri mengerutkan keningnya.
"kamu gak marah sama aku?" bukannya menjawab Meri justru balik bertanya pada Nia yang langsung menggelengkan kepalanya cepat sebagai respon tanda ia tidak marah pada Meri.
Meri menundukkan kepalanya dalam."maaf soal kemarin aku--
"ets! harusnya Gue sama Nando yang minta maaf karena langsung judge Lo sembarangan,oke?maafin ya hehe tapi kalo Nando gak usah dimaafin gakpapa" Nia nyengir kuda sementara Nando dibuat merenggut karena Nia.
Meri tersenyum tipis."iya dimaafin" katanya.
Hening.
__ADS_1
Meri menatap sekeliling seolah mengingat sesuatu."butuh sesuatu?"tanya ashaf dan nio bersamaan membuat keadaan menjadi awkward.
"e-eh enggak,tapi dimana Dani?" tanya Meri.
nio mengarahkan dagunya tepat disebelah Meri yang sedang membelakangi Dani."dia belum sadar juga?!" kata Meri terkejut.
"belum,padahal tadi udah Nando kasih sepatunya yang bau itu tapi tetep gak bangun" kata Nia terkekeh di akhir kalimat.
"enak aja bau" sela Nando tak terima.
"Lo sendiri yang bilang gitu,piki sipiti gue iji ninti bingin" ujar Nia mengejek perkataan Nando yang mengatakan untuk memakai sepatunya saja untuk membangunkan Dani,jadi secara tidak langsung Nando mengakui kalau sepatunya itu bau.
Nando menatap Nia nyalang,saat ingin menimpali ucapan Nia tiba tiba terhenti begitu saja saat melihat Meri yang berusaha bangun dari tempatnya."eh mau ngapain Lo?" sontak tatapan mereka semua mengarah pada Meri yang berusaha turun dan menghampiri Dani.
nio yang berada paling dekat ingin membantu Meri dengan menggenggam tangannya tapi ditepis oleh seseorang,dia ashaf."bukan muhrim" katanya dengan wajah datar membuat nio mengernyit tidak suka.
"gue Kristen" balas nio tak kalah datarnya.
Nia yang melihat itu berdecak sebal."sini sama gue aja mer" lalu Nia menuntun Meri untuk menghampiri Dani yang belum sadar sama sekali.
Meri mengecek denyut nadi Dani dan masih berdetak,ia meletakkan tangannya di dada cowok itu dan masih berdetak juga tapi saat ia membuka mata cowok itu rasanya jantungnya berdetak lebih cepat."d-dani...-
mereka semua menanti apa yang akan diucapkan Meri kecuali ashaf yang sudah tau keadaannya tapi ia membiarkan Meri yang mengatakannya."Dani.. Dani dibawa rea ke alamnya" lirih Meri membuat mereka semua melototkan matanya tidak percaya,kecuali ashaf.
"anjir,kita bakal main film Horror nih sebentar lagi" kata Nando dengan wajah yang kaku.
"roman romannya bakal ada adegan masuk ke alam ghaib" Nia dan Nando saling berpandangan dan setelahnya bergidik ngeri sampai Meri berbalik menatap mereka dengan serius.
Meri berdehem sebentar."kalian mau bantu aku?aku gak bisa lakuin ini sendiri"
JDAR
Bagai tersambar petir,apa yang dibilang Nia dan Nando menjadi kenyataan.
"maaf mer,tapi..
"kita bisa,apa yang harus dilakuin?" potong nio cepat membuat mereka menatap nio tidak percaya karena diantara mereka semua terutama ashaf yang jelas jelas alim seperti ustadz,hanya Nio yang sangat menentang kehadiran makhluk atau apapun itu.
Meri tersenyum singkat.
"ritual"
__ADS_1
...^^^...