Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 1 _ Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Kala itu seorang gadis bernama Sasha dan keluarganya baru saja di sebuah pedesaan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota. Tujuan Sasha dan keluarganya adalah untuk menempati rumah tua peninggalan keluarga dari Ayahnya.


Hari minggu tepat pukul 16:00, Ayah, Ibu dan juga Sasha tiba di rumah Nenek. Sore yang cerah seakan menyambut kedatangan mereka di rumah itu, udara yang sejuk, pemandangan yang asri, pepohonan yang rindang, juga hamparan kebun teh yang luas menambah suasana tenang kala itu.


“Ayah… Ibu… apa ini rumah Nenek” Tanya Sasha sambil melihat sekeliling rumah yang terlihat masih asri dan sejuk


“Indah sekali, sepertinya aku akan betah tinggal disini” kata Sasha sambil berjalan mendekati gerbang rumah yang hanya setinggi dada orang dewasa


Ayah Sasha bernama Braum Linch dan Ibunya Risya Linch. Sasha adalah anak satu-satunya dari keluarga Linch.


“Ayo kita masuk kedalam, Ayah sangat lelah” ucap Ayah Sasha sambil mengangkat kopernya


Saat mulai membuka gerbang mereka seakan di sambut dengan kicau burung yang seakan sedang bernyanyi yang membuat suasana semakin nyaman.


Ketika memasuki rumah, mereka di sambut dengan keadaan rumah yang sangat berantakan. Lemari tua yang banyak sarang laba-laba, kursi yang berantakan, lantai yang banyak debu, serta kain putih penutup jendela yang sudah lusuh. Wajar saja, rumah ini sudah tidak di huni selama 10 tahun sejak Nenek Sasha meninggal karena sakit.


“Sepertinya kita akan kerja keras sebelum tidur nyenyak “ gurau Ibu sambil tersenyum lebar


“ ha... ha... ha...“ mereka pun tertawa


Merekapun menaruh barang bawaan mereka di ruang tamu.


Kala itu hanya sedikit barang yang mereka bawa, hanya sebatas pakaian dan peralatan pribadi saja karena fasilitas yang ada di rumah nenek Sasha masih bisa dipakai dan masih terbilang layak untuk di pakai.


Kondisi rumah ini memang kotor, tapi sebenarnya ada seseorang yang bertugas untuk merawat rumah ini.


Beberapa saat setelah mereka mulai merapikan rumah, terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah.


“Permisi... Apa ada orang di dalam?“ terdengar suara laki-laki dari depan pintu rumah


Ayah Sasha seperti mengenal suara orang itu dan ayah pun berjalan menuju pintu utama.


“Mic...“ teriak ayah sambil mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang kemoceng bulu


“Braum“ saut tuan Mic yang juga mengangkat tangannya


Tuan Mic adalah sahabat kecil ayah Sasha. Ia tinggal tidak jauh dari rumah Nenek Sasha.


Sejak kecil Tuan Mic memang sering menemani Ayah Sasha bermain, selain itu mereka juga bersekolah di tempat yang sama.


“Lama tak jumpa, bagaimana kabarmu Braum? kau tampak tua sekarang“ gurau tuan Mic sambil tertawa.


“Kau juga terlihat sudah tua Mic“ jawab ayah sambil tertawa


“Kabarku baik, bagai mana denganmu? “ kata ayah sambil membersihkan kursi untuk mereka duduk


Mereka pun berbincang-bincang sambil tertawa membahas saat mereka masih kecil dulu, sewaktu mereka masih tinggal berdekatan dan bermain bersama.


“ Kenalkan Mic, ini istri dan anakku“ kata ayah sambil menunjuk ibu dan juga sasha


“Senang bertemu anda tuan Mic“ kata ibu menyapa tuan Mic


“Apakah ini Sasha? kau sungguh mirip ayahmu“ Tanya tuan Mic sambil memegang kedua pundak Sasha


Saat Sasha lahir, ayah menelfon Nenek yang kebetulan tidak bisa hadir di hari lahirnya Sasha. Waktu itu kebetulan tuan Mic sedang ada di rumah Nenek dan ikut mengobrol dengan ayah Sasha. Oleh karena itu tuan Mic tahu tentang Sasha.


Disela-sela perbincangan tuan Mic memberikan sesuatu yang selama ini Ia pegang dan Ia bawa kemanapun Ia pergi.


“ohh ya. ini kunci rumah dan kunci kamar atas. Selama ini aku selalu mengontrol rumah ini, dulu aku sering membersihkan halaman dan kamar atas rumah ini, namun sudah tidak lagi semenjak aku jatuh sakit 5 tahun lalu. Aku hanya sempat membersihkan kamar atas, itu pun sesekali “ kata tuan Mic sambil memberikan kunci rumah kepada ayah Sasha


“Terimakasih Mic“ Ayah pun menerima kunci itu


Keluarga tuan Mic adalah orang kepercayaan keluarga Linch. Tak heran jika tuan Mic bisa sampai memegang kunci rumah keluarga Linch.


“Baiklah, kalau begitu selamat beristirahat. Jika kalian butuh sesuatu jangan sungkan untuk memanggilku“ kata tuan Mic sambil mengambil helm yang ada di atas meja


“Terimakasih atas kunjungannya Mic, jika sudah selesai merapikan rumah kami akan berkunjung ke rumah mu, sekali lagi terimakasih sudah merawat rumah ini“ kata ayah sambil menundukkan kepala sebagai rasa hormat


“Jangan sungkan, ini memang sudah perjanjian di keluarga kita kan“ kata tuan Mic sambil tersenyum


“Kalau begitu aku permisi, masih ada pekerjaan yang belum selesai di rumah“ kata tuan Mic


Setelah tuan Mic pergi, mereka melanjutkan bersih-bersih rumah.


Sementara ayah dan ibu membersihkan kamar, Sasha memutuskan untuk berkeliling rumah.


Rumah yang lumayan luas dengan arsitektur yang unik membuat Sasha kagum.


Sasha terus berjalan sambil melihat-lihat ornamen rumah yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.


Sasha berhenti di depan pintu sebuah ruangan.

__ADS_1


“Wah… Ruangan apa ini, sangat berantakan“ kata Sasha setelah membuka pintu


Tanpa ragu Sasha terus masuk lebih dalam.


“Waaahhhh… banyak sekali lukisan di sini“


Sambil melihat sekeliling, Sasha pun duduk di salah satu kursi kayu karena kelelahan.


Sambil melamun Sasha menatapi setiap benda-benda yang ada didalam gudang. Ia heran karena barang-barang itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Seperti lemari yang terdapat ornamen burung hantu yang nampak kusam karena debu, juga ada piano tua yang tertindih beberapa lukisan.


Selain lukisan yang tertumpuk juga masih ada banyak lukisan yang menggantung di dinding. Tak heran karena menurut cerita ayahnya, nenek Sasha memang gemar melukis dan ia juga suka menulis.


Sasha tertarik pada salah satu lukisan bergambar burung hantu yang sedang menggigit sebuah kunci.


“Bagus sekali lukisan ini“ ucap Sasha sambil meraih lukisan itu


“ Wahhh… lukisan ini seperti hidup, mata burung ini seolah benar-benar menatapku “


Sasha terus memandangi lukisan itu.


Saat Sasha berniat membersihkan debu yang ada di lukisan, tak sengaja lukisan itu jatuh ke lantai.


Dug...


“Aduh“ ucap Sasha reflek karena lukisannya jatuh


Sasha merasa aneh saat lukisan itu jatuh kelantai yang tertutup karpet, bunyi jatuhnya beda, seperti jatuh di atas lantai papan sedangkan lantai rumah semuanya keramik.


Sasha pun mengetuk lantai itu sambil mendengarkan bunyinya.


“Bunyinya tidak seperti jatuh di keramik“


“Sepertinya ada ruangan dibalik lantai ini“ pikir Sasha sambil mengetuk lantai dan memeluk lukisan yang jatuh tadi


“Sasha…“ dari kejauhan terdengar suara ibu memanggil Sasha


“Iya bu…“ jawab Sasha dengan suara keras dan langsung bergegas meninggalkan gudang


“Nanti saja ku periksa“ kata Sasha dalam hati


Sambil berjalan Sasha memandangi lukisan yang berdebu itu dan masih berfikir apakah di balik lantai tadi memang ada ruangan.


***


“Sasha, bantu ibu memindahkan cermin besar ini, ibu tidak bisa mengangkatnya sendiri“ pinta ibu sambil memegang cermin


Shasha menaruh lukisan yang iya pegang dan langsung membantu ibunya memindahkan cermin besar dengan ukiran cantik itu.


Sambil mengangkat cermin Sasha terpaku pada bagian atas cermin karena terdapat pahatan patung burung hantu yang mengepakkan sayapnya seperti ingin terbang. Sasha heran dengan ornamen di rumah Neneknya, banyak yang berkaitan dengan burung hantu entah kebetulan atau memang Nenek Sasha menyukai burung hantu. Sasha tidak mengungkapkan perasaannya itu kepada ibu, karena menurut Sasha itu tidak terlalu penting untuk diceritakan.


***


Tidak terasa langit sudah mulai gelap, Sasha dan kedua orang tuanya pun memutuskan untuk menyudahi pekerjaan mereka.


Sasha dan ibu menyiapkan makan malam untuk mereka, sementara ayah merapikan meja makan.


Usai menyantap makan malam Sasha dan keluarganya pergi ke teras di lantai atas untuk berbincang-bincang sambil menikmati udara malam yang sejuk.


“Tenang sekali suasana malam di sini“ kata Sasha sambil menatap langit yang bertabur bintang


“Saat kecil dulu, ayah juga hampir setiap malam pergi ke teras untuk memandangi langit, tidak ada yang berubah ternyata, masih sama seperti dulu“ cerita ayah kepada Sasha sambil menatap langit dan menikmati secangkir kopi


Cukup lama mereka berbincang hingga malam semakin larut, merekapun merapikan sisa makanan dan kembali ke kamar.


Saat dikamar Sasha melamun sambil memandang lukisan yang Sasha temukan di gudang sore tadi. Sasha membuka ranselnya dan mencari kunci yang di berikan ayahnya saat Sasha kecil.


Kunci yang saat ini ada pada Sasha adalah pemberian dari Nenek Sasha. Saat Sasha berumur satu tahun Neneknya berkunjung ke rumah Sasha yang ada di kota dan memberikan sebuah kunci yang di titipkan kepada Ayah Sasha yang kemudian Ayah berikan ke Sasha saat Sasha berumur tujuh tahun saat ulang tahunnya.


“Ketemu, ternyata benar dugaan ku, kunci yang ada di lukisan itu mirip sekali dengan yang aku punya“ kata Sasha sambil memegang kunci yang terikat benang


Sasha menaruh lukisannya di atas meja belajarnya dan mengalungkan kunci miliknya ke leher.


“Aku penasaran dengan lantai di gudang, sepertinya ada sesuatu di dalamnya“ ucap Sasha dalam hati


Shasha melihat jam tangan yang ia kenakan, saat itu sudah jam 12 malam dan udara dingin mulai terasa. Dengan berbekal senter handphone, Sasha memutuskan untuk pergi ke gudang lagi.


***


“Ini lantai yang tadi“ sambil mengetuk lantai


Dengan perlahan dan perasaan ragu Sasha membuka karpet yang menutupi lantai itu. Dan ternyata benar, Sasha menemukan lubang yang tertutup oleh papan. Shasha membuka papan itu dan mencoba untuk memasukan tangannya ke dalam lubang, di dalam lubang Sasha menemukan ada semacam pengait berbahan logam yang terpasang di dalam lubang. Sasha menariknya dan lantai itu terbuka.

__ADS_1


“Hahhh... lantainya bisa dibuka“


“Sepertinya ini ruang rahasia“ pikir Sasha sambil menyoroti sebuah ruangan yang baru saja terbuka


Sasha mengarahkan senternya kearah bawah dan terlihat sebuah tangga yang menuju ke suatu tempat.


Sasha memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan itu.


Perlahan Ia menurunkan kakinya satu persatu. Perasaan takut dan penasaran muncul secara bersamaan membuat jantung Sasha berdetak kencang.


“Gelap sekali disini, debunya juga banyak, sudah berapa lama tempat ini tidak di buka“ gumam Sasha sambil terus berjalan di lorong ruangan


Sepanjang lorong Sasha hanya melihat susunan batu bata merah yang tertata rapi di sepanjang lorong.


Lorong ini tidak begitu lebar, hanya berukuran satu meter dan tingginya pun hanya sekitar satu meter setengah. Sasha berjalan dengan menunduk sampai akhirnya tiba di ujung lorong.


“Sudah habis lorongnya“


Saat tiba di ujung lorong Sasha menemukan sebuah ruangan yang juga tidak terlalu lebar.


“Waaawww... Kenapa bisa ada ruangan seperti ini di bawah tanah“ ucap Sasha sambil melihat sekeliling ruangan


Dalam ruangan itu hanya terdapat beberapa rak buku, meja dan juga satu kursi.


Saat itu Sasha tertarik pada satu lemari yang tertutup.


“Yang lainnya terbuka, kenapa hanya lemari ini yang ada pintunya“ Sasha pun mencoba untuk membukanya


Perlahan Ia buka pintu lemari tersebut.


Kreeekkkk…


Saat membuka lemari yang tertutup itu, Sasha menemukan sebuah peti kecil dengan ornamen burung hantu yang ada di bagian atas peti kecil itu.


“Peti apa ini?”


“Terkunci“ ucap Sasha dalam hati saat ingin membuka peti tersebut


“Kira-kira apa isi peti ini, terasa enteng, atau jangan-jangan peti ini kosong“


Saat Sasha mengangkat peti itu tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh tepat disamping Sasha.


Dug…


“Aaaaaa... suara apa ituuuu…“


Sasha terkejut dan langsung bergegas meninggalkan ruangan dengan membawa peti yang Sasha temukan didalam lemari.


Saat tiba di atas, Sasha langsung menutup pintu ruangan bawah tanah itu dengan tergesa-gesah dan langsung berlari menuju kamar.


“Aahhh… suara apa tadi“ Sasha terdiam ditempat tidur sambil mengatur nafas yang tidak beraturan


“Sebenarnya apa isi peti ini, lagi-lagi coraknya burung hantu“


“Ada lubang kunci“ berfikir Sasha sambil mengatur nafasnya yang masih terenga-enga


“Dilihat dari bentuknya, lubang kunci ini pas dengan kunci yang aku punya“


Sasha mengambil kunci yang menggantung dilehernya.


“Hahhh... terbuka“


Shasha heran, ternyata kunci yang selama ini dijadikan liontin oleh Sasha bisa membuka peti kecil yang ada di ruang bawah tanah rumah neneknya.


Sasha pun membuka peti itu, dan didalam peti itu ternyata terdapat buku yang bertuliskan History Of Linch Family.


Saat Sasha memegang buku itu, entah kenapa tubuh Sasha menjadi lemas dan kemudian Sasha tertidur dengan memeluk buku itu.


Didalam tidurnya Sasha bermimpi aneh, semua kejadian di mimpi itu berlangsung sangat cepat, Sasha tidak mengerti apa arti dari mimpi itu. Didalam mimpi Sasha, Sasha mendengar suara yang berkata “Jangan takut untuk mencoba”. Hanya kata-kata itulah yang bisa Sasha ingat.


***


Hari pun sudah pagi, Sasha bangun dari tidurnya, sambil melamun Sasha memikirkan maksud dari mimpinya semalam.


“Aneh sekali mimpiku semalam, semua kejadian bergerak sangat cepat, aku tidak mengerti kejadian apa yang tengah terjadi dalam mimpiku itu“ melamun Sasha sambil memandangi buku yang Sasha pegang.


“Apa mimpiku semalam ada kaitannya dengan buku ini, sepertinya aku harus membukanya“


Sasha membuka buku itu dengan perlahan.


Namun saat membuka halaman pertama Sasha sangat terkejut, dan langsung menutup kembali buku itu.

__ADS_1


“Hahhh… apa yang kulihat barusan, menyeramkan sekali“


__ADS_2