
Saat tubuh Sasha tertarik ke dalam cermin, ternyata Sasha tak sadarkan diri cukup lama.
“Sasha, sadarlah” kata Guin sambil menepuk pipi Sasha
Setelah Sasha sadarkan diri, Ia kaget dengan apa yang Ia lihat.
Ternyata Sasha sudah tidak berada di dalam kamarnya lagi, melainkan berpindah ketempat yang sebelumnya belum pernah Ia kunjungi.
“Ahhh. Tempat apa ini Guin, apa aku tidak salah lihat, kepala ku sakit sekali” kata Sasha sambil memegang kepalanya
“Entah lah, aku juga tidak tahu ini tempat apa” jawab Guin
Saat Sasha membuka mata, ternyata Ia berada di atas sebuah bukit yang hijau. Nampak pohon besar yang rindang seakan melindungi Sasha dari sinar matahari.
Sejauh mata memandang, Sasha melihat sebuah perkampungan yang berada tepat di bawah bukit tempat Ia berada. Selain pedesaan Ia juga melihat bangunan besar yang Ia sendiri tidak tahu bangunan apa itu. bentuknya seperti istana negara namun lebih kecil lagi.
“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri Guin” tanya Sasha
“Mungkin sudah 30 menit setelah kita terserap kedalam cermin” jawab Guin
“Astaga, bagaimana kita bisa berada di tempat ini, dan bagaimana cara kita kembali” ucap Sasha yang menundukkan kepala seakan ingin menangis
***
Sejak saat itu Sasha, Guin dan juga Oly memutuskan untuk mencari bantuan ke desa yang berada tepat dibawah bukit.
Jika dilihat dari atas bukit pedesaan itu memang terlihat dekat, namun setelah Sasha berjalan ternyata jaraknya lumayan jauh.
“Guin, kenapa tidak sampai-sampai, apa kita salah jalan” tanya Sasha
“Sepertinya tidak, sesuai arahan Oly, jalan inilah yang memang seharusnya kita lalui” jawab Guin
“Sepertinya kita istirahat dulu Guin, aku sangat lelah” kata Sasha sambil bersandar di salah satu pohon yang ada di hutan
Saat sedang beristirahat Sasha mendengar seperti langkah kaki yang datang menghampiri.
Suara langkah itu berasal dari belakang Sasha yang perlahan makin mendekat.
“Guin, apa kamu dengar suara langkah kaki” tanya Sasha
“Iya, aku dengar, tapi aneh, biasanya aku bisa melihat walaupun terhalang tembok” jawab Guin sambil memperhatikan belakang Sasha
Saat mereka mencari sumber suara dari langkah itu tiba-tiba suara itu menghilang.
Sasha pun kembali bersandar pada pohon karena masih merasa lelah.
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil nama Sasha dengan nada yang halus.
“Sasha…” terdengar suara dari belakang Sasha
Sasha yang kaget langsung membuka matanya yang terpejam.
“Guin, kamu dengar, ada yang memanggil ku” kata Sasha dengan muka paniknya
“Iya aku dengar” jawab Guin
Suara itu berulang kali terdengar oleh Sasha dan Guin sampai akhirnya muncul seorang pria dari belakang pohon tempat Sasha bersandar.
“Siapa kamu, darimana kamu tahu namaku” tanya Sasha kepada pria setengah baya yang membawa pedang di belakang punggungnya.
Pria ini berpakaian serba hitam seperti seorang samurai dengan rambut panjang sampai ke pinggang.
“Aku tidak bisa menyebutkan nama ku yang sebenarnya, kamu bisa memanggilku dengan nama Zen” jawab pria itu
“Sudah sejak lama aku menunggu kedatangan kamu Sasha” kata Zen sambil mendekati Sasha
“Maksud mu bagaimana, aku tidak paham” kata Sasha dengan tatapan waspada karena takut
“Kamu jangan takut Sasha, aku tidak akan menyakitimu, akulah yang akan bertanggung jawab atas keselamatan mu disini” kata Zen dengan wajah tersenyum
“Lalu bagaimana aku bisa sampai kesini dan bagai mana caraku kembali ke rumah” tanya Sasha
“Jangan Khawatir, kamu aman di sini dan kapan pun bisa kembali ke rumah mu” jawab Zen dengan santai
“Lalu ini tempat apa sebenarnya ini” kembali Sasha menanyakan kepada Zen karena sangat penasaran
“Nanti kau akan tahu Sasha, tapi tidak sekarang. Akan ku berikan benda ini kepadamu” kata Zen sambil memberikan sebuah kalung yang terdapat liontin burung hantu berwarna merah
“Kalung ini adalah tanda sudah berapa lama kamu ada di tempat ini. Jika mata burung hantu ini sudah mulai berkedip maka tandanya kamu sudah harus kembali ke rumah. Tenang saja, selama apapun kamu di sini tidak akan merubah waktu mu saat masuk kedalam cermin. Artinya, jika kamu kemari saat malam hari, saat kamu kembali kamu juga akan berada di waktu yang sama saat kamu pergi kesini” jelas Zen kepada Sasha
“Teruskan perjalanan mu menuju desa di bawah bukit ini, kamu akan menemukan banyak hal di sana. Aku pergi dulu, jika kau butuh bantuan ku, cukup genggam liontin itu dan sebut nama ku” kata Zen sambil melangkah mundur dan menghilang di belakang pohon
Sasha masih tidak paham atas apa yang di jelaskan oleh Zen, Ia masih bertanya-tanya siapa Zen itu sebenarnya, kenapa dia bisa tahu tentang Sasha.
__ADS_1
Akhirnya Sasha melanjutkan perjalanan menuju pedesaan di bawah bukit.
***
Cukup lama Sasha berjalan akhirnya Ia sampai di depan gapura yang terbuat dari kayu.
Sasha melihat banyak orang yang berlalu lalang di areal pemukiman dengan menggunakan pakaian yang masih kuno, Sasha ragu ingin masuk ke dalam desa itu karena pasti Ia di bilang orang yang aneh.
Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba pakaian Sasha berubah menjadi seperti para penduduk desa. Pakaian Sasha yang awalnya celana jeans dan switer merah kini berubah menjadi gaun sederhana yang terikat kain di bagian pinggangnya.
“Lihat Guin, pakaian ku berubah dengan sendirinya” kata Sasha dengan wajah panik
“Wah, bagaimana mungkin, sangat mustahil, aku sebagai roh yang sudah berusia ribuan tahun belum pernah menemukan ha seperti ini” kata Guin sambil mengitari Sasha yang berubah penampilan
Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam desa.
Desa ini terbilang sangat kuno, jika di gambarkan mirip pedesaan pada jaman kerajaan di jepang.
Selain desa yang terlihat kuno, Sasha juga melihat kendaraan kuno seperti kereta kuda para wanita yang sedang menumbuk padi juga para pria yang membawa hasil panen menggunakan kerbau.
“Guin, kamu kan sudah ada sejak ribuan tamun lalu, apa kamu pernah menjumpai aktifitas manusia seperti sekarang ini” tanya Sasha sambil terus berjalan menyusuri desa
“Iya, pernah. Saat jaman kerajaan dulu aktifitasnya mirip dengan apa yang kita lihat sekarang” jawab Guin
“Aku ingin mencoba bertanya dengan penduduk yang ada di sini” ucap Sasha
“Maaf paman, kalau boleh aku tau, apa nama desa ini” tanya Sasha kepada salah satu penduduk
“Ini adalah desa Gunma, kau berasal darimana gadis kecil” kata penduduk
“Emmm… a…aku seorang pengembara paman, aku dari luar daerah sini” jawab Sasha dengan ragu karena tidak siap dengan pertanyaan salah satu penduduk ini
“Ohh ya paman, bangunan besar di depan sana, itu tempat apa” tanya Sasha sambil menunjuk bangunan besar yang sebelumnya Sasha lihat dari atas bukit
“Itu adalah kerajaan Gunma, di sanalah pusat pemerintahan dari desa kami” jawab penduduk
“Baiklah, terimakasih paman atas penjelasannya, aku akan meneruskan perjalanan ku” kata Sasha sambil menundukkan kepalanya
“Sama-sama” kata penduduk yang menundukkan kepalanya pula
***
Sasha melanjutkan perjalanan. Karena penasaran Sasha memutuskan untuk pergi menuju kerajaan yang ada di depannya.
“Entahlah, sepertinya ada, kalau tidak ada mana mungkin kita sampai kesini” jawab Guin
“Tapi apakah mungkin keluarga ku ada kaitannya dengan kerajaan. Ayah tidak pernah bercerita kalau keluarga Linch ada hubungannya dengan kerajaan” kata Sasha
“Mungkin saja” kata Guin singkat karena Guin juga tidak tahu akan hal itu
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Sasha sampai di depan gerbang kerajaan Gunma.
Nampak tembok tinggi yang mengelilingi kerajaan serta gerbang besar yang terbuat dari batuan alam yang tertata rapi, selain itu juga terlihat dua penjaga yang membawa tombak dan tameng di kedua tangannya.
Cukup lama Sasha memperhatikan bangunan kerajaan namun Ia baru sadar kalau di atas gerbang kerajaan terdapat patung burung hantu yang mirip dengan pahatan patung di atas cermin peninggalan kakek moyang Sasha.
“Guin lihat, di atas gerbang itu ada patung yang mirip dengan yang ada di atas cermin” kata Sasha sambil menunjuk bagian atas gerbang
“Iya, mirip sekali. Tidak salah lagi, kerajaan ini pasti ada hubungannya dengan keluarga Linch” kata Guin
“Entahlah, tapi aku tidak yakin kalau keluarga ku ada hubungannya dengan kerajaan Gunma” saut Sasha sambil memalingkan pandangannya
“Ayo kita pergi, perut ku lapar, aku penasaran dengan makanan yang ada disini” ajak Sasha
Setelah cukup lama berada di depan kerajaan Gunma mereka memutuskan pergi untuk mencari makanan.
Sebelum tiba di depan kerajaan Sasha sempat melewati sebuah pasar. Pasar ini tidak terlalu besar namun terbilang sangat beragam barang yang di jual.
***
Setibanya di pasar Sasha baru ingat kalau Ia tidak punya uang untuk membeli makanan.
Sasha bingung harus bagaimana, perutnya lapar juga haus yang luar biasa. Wajar saja, sejak menuruni bukit Sasha tidak minum setetes air pun.
“Bagaimana ini GUin, aku tidak punya uang, perutku lapar, haus sekali” kata Sasha yang terlihat lesu
“Kamu ingat kata Zen, jika butuh sesuatu kamu bisa memanggilnya” kata Guin
“Benar juga, akan ku coba” saut Sasha
Sasha mencoba memanggil Zen dengan cara yang sebelumnya sudah di beritahu oleh Zen.
Zen pun muncul di belakang Sasha yang sedang menggenggam liontin kalungnya.
__ADS_1
“Ada apa Sasha” tanya Zen secara tiba-tiba
“Zen, di mana kamu” kata Sasha yang terkejut karena suara Zen yang tiba-tiba terdengar
“Di belakang mu” kata Zen
“Ahh, Paman Zen, perutku sangat lapar, aku juga belum minum sejak tadi. Aku tidak punya uang untuk membeli makanan, apa Paman bisa bantu aku” mengeluh Sasha kepada Zen
“Kau mau makan apa, biar ku belikan, kebetulan aku juga belum makan siang” saut Zen
Mereka pergi ke salah satu kedai di pasar dan memakan roti.
“Paman Zen, aku punya pertanyaan” kata Sasha sambil memakan roti
“Tanyakanlah akan ku jawab jika bisa” saut Zen
“Apa Paman berasal dari keluarga Linch” tanya Sasha
“Uhukk… jangan kamu sebut itu di depan umum seperti ini” jawab Zen yang tersedak karena kaget dengan pertanyaan Sasha
“Paman baik-baik saja, memang kenapa jika aku sebut” tanya Sasha sambil memberikan air minum untuk Zen
“Kamu sudah ada disini, kamu juga akan tahu banyak hal tentang keluarga itu, tapi tidak sekarang” jawab Zen
“Sang Ratu telah tiba, semuanya harap berdiri”
Dari kejauhan terdengar suara orang menjerit dan di barengi dengan beberapa orang yang menaiki kuda lewat di depan Sasha.
Karena melihat semua orang berdiri Sasha pun ikut berdiri.
“Paman, ada apa ini” tanya Sasha
“Itu adalah Ratu dari kerajaan Gunma, saat di kerajaan sedang tidak sibuk Ratu menyempatkan diri untuk berkeliling ke desa-desa yang menjadi bagian dari kerajaan
“Sasha, lihat wajah Ratu itu, mirip dengan wajah mu” Kata Guin berbisik kepada Sasha
“Benar, wajahnya mirip dengan ku” kata Sasha yang sedang memperhatikan sang Ratu
“Paman, wajah sang Ratu kenapa bisa mirip dengan ku” tanya Sasha
“Setelah ini kamu akan tahu apa yang terjadi, bersabarlah” jawab paman
Sasha masih memperhatikan sang Ratu sampai rombongan kerajaan Gunma melewati pasar.
Di pikiran Sasha kini sangat banyak tanda tanya akan semua yang Ia alami. Mustahil dan sangat tidak masuk akal tapi semua itu terbantah karena Sasha mengalami sendiri keanehan itu.
Tanpa Sasha sadari liontin yang Ia kenakan mulai menyala.
“Sasha, lihat kalung mu, sudah menyala” Kata Guin
“Paman, kalung ku” kata Sasha sambil melihat liontin
“Sudah saatnya kamu kembali. Saat kamu sudah kembali, jaga rahasia ini baik-baik, jangan sampai ada yang tahu apa yang sudah kamu alami” kata Zen sambil memegang pundak Sasha
“Sekarang kamu pergi ke belakang kedai ini. Jika sudah yakin tidak ada yang melihat kamu genggam liontin itu dan bayangkan tempat tinggal mu” kata Zen sambil menuntun Sasha
“Baik paman” kata Sasha dan langsung berjalan menuju belakang kedai
***
Setelah Sasha mempraktikan apa yang sudah di arahkan Zen, Ia pun kembali ke kamarnya.
“Ahh. Sudah sampai. Guin, Oly, kalian baik-baik saja” tanya Sasha
“Kami baik-baik saja” jawab Guin
“Ternyata benar, sekarang masih jam 22:30. Kita di sana cukup lama tapi waktu disini tidak berubah. Bahkan di sana masih siang
Sasha masih tidak percaya dengan yang baru saja Ia alami. Bahkan saat Ia sadari baju yang Ia kenakan berubah kembali saat tiba di rumah, namun kalung yang di berikan oleh Zen tidak menghilang.
“Aku tidak bermimpi kan Guin” tanya Sasha yang masih bingung
“Tidak Sasha, kita memang benar-benar pergi ke sana” jawab Guin
“Aku juga masih berpikir atas perkataan paman Zen tentang tidak menyebut keluarga Linch di depan umum. Sebenarnya ada apa dengan keluarga Linch, aku merasa selama jadi anak Ayah tidak ada yang aneh, semua berjalan normal-normal saja” kata Sasha sambil menghadap cermin yang kembali menjadi cermin biasa
“Sebaiknya kamu tidur dulu Sasha, wajahmu terlihat sangat lelah” kata Guin yang berdiri di samping Sasha
“Guin, kalungnya. Bergerak sendiri” kata Sasha melihat liontin kalungnya bergerak
“Lihat, kalung mu bercahaya” Kata Guin dengan wajah tegang
Kalung yang di kenakan Sasha memancarkan cahaya ke arah cermin dan Sasha melihat sebuah tulisan yang nampak samar di permukaan cermin itu
__ADS_1
“Ada tulisan di cermin. Tulisan apa itu, tidak begitu jelas, aku sulit membacanya”