
Sasha melangkah menuju pintu bangunan yang besar dengan pernah-pernik seperti kristal yang tampak begitu berkilau.
Sasha pun perlahan membuka pintu yang ada di depannya. Saat pintu terbuka, di dalam ruangan terlihat banyak tiang penyangga bangunan yang juga begitu berkilau dengan terdapat lampu di setiap tiangnya yang terbuat dari emas dan juga beberapa patung zodiak dibawahnya.
Sasha tertarik dengan sebuah benda yang ada di ujung ruangan yang tengah Ia datangi. Benda itu memiliki aura yang berbeda dari beberapa benda lainnya yang ada di dalam ruangan. Sasha mendatangi benda itu dan melihat sebuah peti kecil yang terbuat dari marmer yang terdapat dua belas ukiran rasi bintang yang terdapat di sekelilingnya.
“Indah sekali peti ini, dari beberapa peti yang aku temui selama ini, ini adalah peti yang paling indah” kata Sasha dalam hati sambil meraba peti itu.
Sasha yang penasaran akan isi dari peti itu pun mencoba untuk membukanya. Dengan perlahan Sasha membuka peti itu. Saat Ia membuka peti marmer itu entah kenapa suasana ruangan menjadi terasa sangat ramai, dan saat Sasha melihat ke sekelilingnya Ia tidak melihat siapa pun ada di sana, selain itu juga Sasha merasa patung-patung yang ada di bawah tiang seperti hidup dan tengah memperhatikan Sasha.
Dalam peti yang Sasha buka, Sasha menemukan sebuah buku.
“Ahh… ada sebuah buku di dalam peti cantik ini” ucap Sasha mengambil buku itu.
“Cover yang tidak begitu menarik, hanya sebuah kertas putih saja” ucap Sasha.
Sasha pun membuka halaman pertama dari buku yang Ia temukan.
“Ada beberapa gambar di sini” Sasha yang sedang memperhatikan maksudnya.
“Pelajarilah yang tertera dalam buku itu, itu adalah teknik pedang tingkat tinggi”
Terdengar suara Master Wu dalam ruangan saat Sasha membuka beberapa halaman buku.
“Ini adalah teknik pedang” kata Sasha dalam hati.
“Baik Master, akan aku pelajari sesuai petunjuk Master” ucap Sasha kepada suara Master Wu yang Ia dengar.
Sasha bersila menghadap pintu keluar dengan memegang buku di tangannya. Ia pun memulai meditasinya untuk mempelajari teknik pedang yang tertulis di alam buku yang Ia temukan,
Sasha memasuki alam bawah sadarnya.
Saat seseorang memasuki alam bawah sadarnya untuk mempelajari sebuah teknik bela diri, mereka akan di bawa ke suatu tempat sesuai dengan teknik yang Ia pelajari. Pada proses kali ini Sasha berada di sebuah ruang hampa tanpa sesuatu apa pun. Sebuah tempat yang serba putih di mana Sasha mengapung di dalamnya, tidak ada lantai, atap maupun dinding pada tempat ini.
“Tempat apa ini, apa ini adalah dimensi tempat ku harus berlatih teknik pedang” kata Sasha dalam hati.
“Lalu bagaimana cara ku berlatih, tidak ada apa pun disini yang bisa aku lihat kecuali warna putih di sekeliling ku” pikir Sasha.
“Ketiadaan adalah sebuah awal dari terciptanya suatu ruang dan waktu. Sesuatu yang tidak pasti dan akan di akhiri dengan sebuah kematian” suara terdengar di alam bawah sadar Sasha.
“Apa maksudnya” kata Sasha dalam hati.
Setelah suara itu menghilang Sasha melihat sebatang kayu seukuran pedang yang tiba-tiba muncul di depan Sasha dan terbang ke arah Sasha.
Sasha mengambil kayu itu dan merasa seperti ada energi kuat yang mengalir ke seluruh tubuh Sasha.
Sasha yang kaget akan hal itu pun sekuat tenaga menahan sakit yang tidak biasa.
Energi yang mengalir pada seseorang umumnya akan terasa sejuk dan terkadang terasa hangat. Hal ini akan terjadi jika energi yang di serap tubuh sesuai dengan kapasitas dan tingkat daya tahan tubuh seseorang. Namun jika energi yang terserap melebihi kemampuan tubuh maka akan memaksa ruang kapasitas pada tubuh di perlebar secara drastis, akibat yang di rasakan adalah rasa sakit seperti tersayat ratusan pisau pada setiap bagian tubuh.
Seseorang yang mendapatkan ujian ini akan berada pada hidup dan mati tergantung seseorang itu dapat bertahan atau tidak.
“Arghhh… apa ini ujian teknik pedang yang ada pada buku itu, kenapa sangat menyakitkan” kata Sasha menahan sakit.
“Kata-kata yang ku dengar tadi, Sesuatu yang tidak pasti dan akan di akhiri dengan sebuah kematian. Apakah kali ini aku akan mati” ucap Sasha memegang kepalanya.
Sasha merasa sudah pada puncak ketahanan dirinya. Rasa sakit menusuk hingga ke tulang juga jiwa yang begitu sangat tertekan membuat Sasha tak berdaya dan terpaksa menerima apa yang Ia hadapi.
“Tidak, aku tidak boleh kalah dengan keadaan ku saat ini. Ini adalah ujian demi mendapatkan lentera keberanian tingkat langit” ucap Sasha.
Sasha mengalami masa sulitnya lebih dari 12 jam. Bertahan selama itu bukanlah hal yang mudah. Perbandingan antara hidup dan mati sangat tipis untuk dirinya saat ini.
Dengan bertahan cukup lama, akhirnya Ia bisa menstabilkan energi besar yang masuk ke dalam tubuhnya dan berhasil menjadikan energi itu sebagai kekuatannya.
Sebelumnya Sasha merasakan aura kekuatan hanya ada pada pedang yang Ia bawa. Energi yang ada pada tubuh manusia adalah alami, setiap orang yang hidup pasti punya energi itu, namun sedikit yang bisa mengolahnya menjadi kekuatan. Itulah alasan kenapa Sasha tidak merasakan aura kekuatan dari tubuhnya.
__ADS_1
Setelah menyerap energi besar yang sebelumnya sangat menyiksa, kini Sasha bisa merasakan kekuatan itu ada pada dirinya.
“Kekuatan ini, ada di dalam tubuh ku. Luar biasa” ucap Sasha setelah bisa membuka matanya.
Setelah proses penyatuan energi pada tubuh Sasha, Sasha melihat gambar-gambar yang sebelumnya Ia lihat pada halaman buku. Gambar dalam buku adalah cara mengolah energi agar bisa tersalur kedalam pedang. Selain gambar juga ada beberapa tulisan sebagai penjelasan dari gerakan pada gambar.
“Ahh… Itu beberapa gambar yang ada di dalam buku. Sepetinya sudah saatnya aku mempelajari teknik pedang ini” kata Sasha yang tengah memperhatikan gambar-gambar yang muncul.
Dengan sebatang kayu yang Sasha pegang, Sasha memulai mempraktikkan gerakan demi gerakan yang tergambar di hadapannya.
Sasha tidak memakan waktu lama dalam memahami gerakan-gerakan yang ada pada buku. Setelah kurang dari dua jam, Sasha sudah memahami teknik yang ada pada buku.
Sasha pun keluar dari alam bawah sadarnya dan menyudahi meditasinya.
“Aku sudah selesai, tubuhku terasa agak aneh dengan kekuatan ini. Akan ku coba yang ku pelajari tadi saat keluar dari sini” ucap Sasha dan mencabut pedangnya.
Setelah mencabut pedang, energi yang sebelumnya di serap oleh Sasha kini menyatu dengan energi pedangnya, dan membuat kekuatan pedangnya meningkat.
Saat Sasha tengah menyatukan kekuatannya, terlihat oleh Sasha patung-patung yang ada di bawah tiang-tiang penyangga itu bergerak dan berbalik menghadap Sasha.
“Ada apa dengan patung-patung ini” ucap Sasha panik.
“Hancurkan patung-patung itu dengan teknik pedang yang baru kau pahami” terdengar suara Master Wu.
“Baik Master” jawab Sasha.
Setelah Sasha selesai menyatukan kekuatan tubuh dan juga pedangnya, Sasha bersiap untuk mengeluarkan serangan ke patung yang kini menghadap dirinya.
“Baiklah, ini teknik ke empat ku. PEDANG RASI BINTANG… HIYAAA…” teriak Sasha sambil mengayunkan pedangnya kepada 12 patung itu.
Kekuatan besar keluar dari teknik baru yang Ia kuasai. Ruangan yang sebelumnya hening dan nyaman kini berubah menjadi seperti bangunan runtuh tak berbentuk.
Sasha yang belum terbiasa dengan kekuatan itu terlihat sangat kelelahan dan nafasnya pun tidak beraturan.
“Benar-benar kuat, ruangannya sampai hancur seperti ini. Aku harus keluar, jangan sampai bangunan ini roboh dan menimpa ku” ucap Sasha.
“APA… bangunannya kembali seperti semula, patung-patung itu juga berada di posisi sebelumnya. Apakah ini kekuatan ruang dan waktu” kata Sasha yang tercengang melihat kondisi ruangan.
Setelah kondisi bangunan dengan ajaib kembali seperti semula, terlihat lantai bangunan bergeser dan muncul lentera yang sangat berkilau. Lentera itu memantulkan cahaya yang membentuk jutaan rasi bintang ke seluruh ruangan.
“Wahh… apa ini lentera keberanian tingkat langit. Aku tidak menyangka akan memantulkan cahaya seindah ini” ucap Sasha yang kagum dengan apa yang Ia lihat.
Sasha menghampiri lentera itu dan mengambilnya.
Setelah lenteranya sudah ada di tangan Sasha, pantulan cahayanya hilang dan lantainya kembali tertutup.
Setelah merasa tujuannya sudah tercapai, Sasha pun kembali menuju portal untuk kembali ke tempat teman-temannya menunggu.
***
“Apa kamu berhasil Sasha” tanya Guru yang sudah menunggu di depan portal.
“Aku berhasil Guru. Lentera keberanian dan satu teknik pedang sudah aku dapatkan” jawa Sasha tersenyum.
“Bahkan ada teknik pedang yang kamu dapat. Kau memang anak yang beruntung” ucap Guru memuji.
Setelah mereka semua banyak berbincang, para prajurit suku pedalaman pun berpamitan untuk kembali.
“Tuan putri, sepertinya tugas kami sudah selesai, ijinkan kami untuk kembali ke wilayah suku pedalaman” ucap salah satu prajurit.
“Baiklah, terimakasih atas kebaikan kalian selama ini yang bersedia membantu perjalananku” ucap Sasha.
Prajurit suku pedalaman memiliki jasa besar dalam perjalanan Sasha kali ini, tanpa mereka Sasha belum tentu menemukan lokasi gunung api anak neraka dengan waktu yang terbilang cepat.
Melihat para prajurit suku pedalaman yang kembali ketempat mereka, Guru pun mengajak Sasha dan Zen untuk kembali ke Gunma.
__ADS_1
Guru kembali membuka portal agar bisa cepat sampai ke Gunma.
***
Sesampainya di Gunma dan menuju rumah Zen, Sasha menanyakan tentang segel yang ada pada gulungan yang Sasha miliki.
“Guru, apakah Guru tahu bagaimana cara membuka gulungan yang aku temukan di hutan gelap sebelumnya” tanya Sasha.
“Hanya anggota keluarga asli yang bisa membukanya, aku memang anggota keluarga Linch namun aku bukan keturunan langsung. Itu artinya kamu lah yang bisa membuka gulungan rahasia itu” jawab Guru.
“Apakah Guru tau isi dari gulungan itu” tanya Sasha.
“Tentu saja tidak, informasi yang aku punya terbatas, aku tidak berani menduga-duga tentang isi dari gulungan itu” jawab Guru.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai ke rumah Zen. Sasha dan Zen menurunkan barang bawaan mereka dari kuda dan membawanya masuk kedalam rumah.
Zen menghidupkan api untuk merebus air sedangkan Sasha yang di temani Guru mengeluarkan semua lentera yang Sasha dapatkan.
Saat ke enam lentera itu di dekatkan, Sasha merasa ada ikatan batin pada ke 6 lentera tersebut yang sulit dijelaskan oleh Sasha.
“Guru, aku baru mengumpulkan enam lentera keberanian, ada satu lagi yang belum aku dapatkan” kata Sasha.
“Tidak perlu terburu-buru, keberadaan lentera terakhir itu dekat, jadi santai saja” jawab Guru tersenyum.
“Ohh… jadi begitu ya. Ternyata Guru sudah tahu keberadaan lentera itu.
Petualangan Sasha kali ini adalah merupakan hal baru di hidupnya. Dan dari petualangannya kali ini Sasha jadi mengerti bahwa sesuatu yang ada dalam hidup tidak selalu sesuai dengan logika yang ada, terkadang hal yang mustahil lebih sering kita temui di bandingkan dengan hal yang bisa di cerna oleh nalar.
Setelah bercakap cukup panjang dengan Guru, Sasha memutuskan untuk beristirahat karena merasa sangat lelah.
***
Keesokan harinya.
Sasha terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ayam berkokok. Suasana Gunma yang sejuk saat pagi datang menjadi sangat istimewa untuk Sasha kali ini setelah sebelumnya harus menyelesaikan misi yang membuat Ia melupakan udara sejuk pagi hari.
Saat membuka mata Sasha melihat Zen yang sedang menyiapkan teh hangat, sedangkan Guru sedang berjemur di luar rumah.
“Guru sedang apa” tanya Sasha yang menghampiri Guru.
“Berjemur, Sinar matahari pagi sangat baik untuk kulit dan juga kesehatan” jawab Guru.
“Kalau begitu aku juga mau berjemur seperti Guru” kata Sasha bersila di samping Guru.
“Jangan hanya berjemur, ambil pedang mu, bukankah lebih baik berjemur sambil berlatih” ucap Guru sambil menutup matanya.
Sasha pun pergi mengambil pedangnya dan berlatih gerakan dasar pedang. Dalam dunia yang Sasha jalani saat ini selain kekuatan energi, kekuatan fisik juga perlu di latih agar keduanya bisa seimbang dan daya tahan tubuh bisa semakin baik.
“Anak gadis ini memang memiliki bakat yang bagus, tidak salah jika takdir memilihnya untuk menolong keluarga Linch” kata Guru dalam hati saat melihat Sasha berlatih.
Lebih dari satu jam Sasha berlatih, Ia pun menyudahi latihannya.
Setelah Sasha selesai membersihkan tubuhnya, Sasha melihat kalung yang Ia kenakan menyala.
Dan itu adalah pertanda bahwa Ia harus kembali ke dunia yang sebenarnya.
Guin dan Oly juga ikut pergi menuju rumah bersama Sasha.
Sejak awal memasuki dimensi masa lalu, Guin dan Oly tidak sering memunculkan diri karena takut membahayakan diri mereka sendiri. Di masa yang Sasha jalani sekarang ini tidak hanya ada kekuatan energi dan juga kekuatan fisik, selain kedua kekuatan itu juga ada kekuatan roh. Kekuatan roh di bagi menjadi dua, yang pertama adalah roh para pesilat yang gugur pada pertarungan, roh ini disebut roh petarung. Sedangkan Guin dan Oly adalah roh murni yang sudah hidup ratusan tahun, tentu saja ada perbedaan yang jauh dari kekuatan yang di hasilkan dari kedua jenis roh ini.
“Paman, aku pulang dulu, sudah waktunya aku kembali. Aku titipkan lentera keberanian ini kepada Paman” ucap Sasha bersiap untuk kembali.
“Baiklah, akan ku jaga lentera keberanian milik mu ini” kata Zen.
“Guru, aku pamit kembali ke rumah dulu, secepatnya aku akan kembali ke sini” kata Sasha sambil melambaikan tangan kepada Guru yang masih berada di luar rumah.
__ADS_1
“Hati-hati, aku akan menunggu sampai kau kembali” jawab Guru.