Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 17 _ Teknik Rahasia


__ADS_3

Keterangan yang tertulis di buku sejarah kerajaan Gunma memang terlihat tidak lengkap. Dalam buku hanya tertulis tentang penjelasan wilayah kerajaan dan hubungan antar sekutu kerajaan. Untuk masalah internal kerajaan hanya tercatat sedikit saja dan terkesan menggantung tanpa solusi masalah yang jelas.


Dalam buku banyak tertulis tentang kemakmuran kerajaan Gunma saja, hal ini sangat berbeda dengan cerita Guru yang menjelaskan bahwa ada banyak masalah besar dalam kerajaan, dan ternyata memang tidak tercatat pada halaman buku sejarah.


Keesokan harinya Sasha kembali menuju Gunma untuk menanyakan kepada Zen tentang lentera yang sudah didapatkan oleh Sasha.


Waktu di kamar Sasha menunjukkan pukul 20:00, Sasha pun memasuki portal menuju Gunma.


Saat tiba di Gunma, tampak langit senja yang indah seakan menyambut kedatangan Sasha. Saat dalam perjalanan menuju rumah Zen, Sasha merasa heran melihat suasana desa Gunma yang banyak di hiasi lampion di sepanjang jalannya. Selain itu juga para penduduk sibuk membersihkan jalan dari sampah yang berserakan.


Entah ada perayaan apa di kerajaan Gunma.


Beberapa saat Sasha berjalan akhirnya Ia sampai di rumah Zen. Terlihat Zen yang sedang merapikan kayu bakar yang ada di samping rumahnya.


“Paman” teriak Sasha dari kejauhan.


Sasha pun berjalan ke arah Zen.


“Apa paman juga sedang merapikan rumah seperti penduduk yang lain” tanya Sasha.


“Aku memang selalu merapikan rumah setiap hari. Para penduduk desa sedang mempersiapkan pesta perayaan ulang tahun Sang Ratu yang akan diadakan malam ini” jawab Zen.


Zen menjelaskan kepada Sasha tradisi yang selalu di gunakan kerajaan jika Sang Ratu berulang tahun.


Jika tiba hari ulang tahun Sang Ratu, para penduduk akan menghiasi sepanjang jalan dan juga menghiasi rumah mereka dengan hiasan yang bermacam-macam. Sedangkan jika Sang Raja yang ulang tahun, para penduduk tidak perlu menghiasi jalan dan rumah mereka, tapi setiap kepala keluarga akan di undang ke dalam istana untuk memberi do’a untuk Sang Raja juga ikut merayakan pesta kembang api di dalam istana kerajaan.


Setelah Zen menjelaskan tentang budaya ulang tahun Sang Ratu dan menjelaskan beberapa budaya lain yang ada di kerajaan Gunma, Sasha menanyakan tentang lentera keberanian yang sebelumnya mereka cari.


“Paman, aku ingin menanyakan tentang 7 lentera keberanian. Aku baru mendapatkan 6, butuh satu lentera lagi, kapan kita pergi mencari lentera yang terakhir paman” tanya Sasha.


“Untuk lentera terakhir aku tidak paham tentang keberadaannya, sebaiknya kita pergi bertanya kepada Guru” kata Zen.


Mereka pun bersiap menemui Guru. Zen dan Sasha menuju kuda mereka yang ada di samping rumah Zen.


Guru berada di desa Nara, tepatnya ada sebuah Kuil di desa Nara yang di gunakan Guru untuk menenangkan diri dan melatih beberapa muridnya.


Perjalanan menuju desa Nara tidak terlalu jauh tapi tidak bisa di sebut dekat juga. Zen dan Sasha harus melewati desa Kiso untuk bisa sampai di desa Nara.


Hari sudah gelap, Zen dan Sasha akhirnya tiba di Kuil desa Nara tempat Guru tinggal.


Kuil desa Nara ini tidak begitu besar namun arsitekturnya jauh lebih baik dari beberapa bangunan di sampingnya.


Mereka pun memasuki kuil untuk menemui Guru. Kuil ini dapat di masuki dengan bebas jika seseorang yang masuk itu memiliki ikatan dengan kuil ataupun desa Nara. Karena Zen adalah murid Guru, sudah pasti Ia dapat dengan mudah memasuki kuil, namun tidak degan Sasha. Sasha merasakan ada tekanan yang mendorongnya menjauh dari kuil.


“Paman, apa aku tidak bisa masuk” tanya Sasha.


“Sepertinya memang begitu. Kamu tunggu disini sebentar, aku akan temui Guru di dalam” kata Zen sambil menuruni kudanya.


Tak lama setelah Zen memasuki kuil, akhirnya Ia keluar bersama Guru.


“Guru, apakah aku tidak bisa masuk kuil, ada yang ingin aku tanyakan” kata Sasha kepada Guru.


“Tentu saja bisa, ayo ke dalam” ucap Guru yang berdiri di depan gerbang kuil.


Sasha pun berjalan menuju kuil. Entah kenapa setelah Guru mempersilahkan untuk masuk tekanan yang sebelumnya mendorong Sasha menghilang dan langkah Sasha menjadi normal.


Mereka menuju dalam kuil dan duduk di salah satu ruangan.


Setelah mereka duduk santai, Sasha mulai menjelaskan beberapa informasi yang Ia dapat dari buku sejarah kerajaan Gunma. Sasha juga menanyakan tentang kejadian hilangnya beberapa penduduk karena mencari 7 lentera keberanian yang di anggap sebagai siasat pemberontak untuk melemahkan pertahanan kerajaan Gunma.


“Guru, apakah ada penjelasan yang kuat untuk kasus yang berkaitan dengan 7 lentera keberanian itu” tanya Sasha.

__ADS_1


“Akan aku jelaskan” jawab Guru.


Guru menjelaskan bahwa memang pernah ada kejadian seperti itu, namun tentang siasat pemberontak itu sama sekali tidak benar. Yang membawa informasi itu adalah salah satu anggota klan dari desa Nara yang baru pulang dari berburu, Ia mendapat informasi tentang 7 lentera keberanian itu dari tulisan di dinding gua yang secara tidak sengaja Ia temukan. Tulisan itu menjelaskan bahwa ada 7 lentera keberanian yang tersebar di berbagai penjuru, dan bagi siapa pun yang bisa mengumpulkan ke 7 lentera keberanian itu akan bisa mempelajari teknik rahasia.


Dengan cepat kabar ini tersebar di seluruh kerajaan Gunma dan beberapa prajurit juga penduduk berlomba-lomba menemukan lentera itu. Namun para pencari ke 7 lentera itu tidak di takdir kan untuk bisa menemukan lentera-lentera itu, akhirnya mereka pun gugur di saat mendapat ujian keberanian.


Zen juga pernah mencoba untuk mencari 7 lentera itu, namun Ia gagal di tingkat yang ke 3. Secara otomatis jika sebelumnya sudah mendapat beberapa lentera kemudian gagal di ujian selanjutnya maka lentera yang di dapat akan menghilang dan kembali ke asalnya.


“Lalu bagaimana dengan lentera ke 7, aku baru mengumpulkan 6 lentera sebelumnya” ucap Sasha.


“Apakah kamu tahu arti dari tak terbatas” tanya Guru kepada Sasha.


“Menurutku tak terbatas itu adalah suatu tempat tanpa ujung” jawab Sasha.


“Tidak semudah itu untuk menyimpulkan. Di dunia ini semuanya memiliki ujung, bahkan semut yang sulit untuk di hitung sebenarnya memiliki jumlah, itu menandakan ada ujung. Selain itu juga ada istilah ujung langit dan juga ujung bumi” jelas Guru.


“Lalu apa sebenarnya yang di maksud tak terbatas itu, atau di mana tempat itu” tanya Sasha dengan wajah bingung.


“Yang di sebut tak terbatas adalah diri mu sendiri. Setiap manusia memang akan menemui kematian, dan itu adalah ujung dari kehidupan. Namun dalam hal keberanian, manusia tidak memiliki ujung, mental manusia akan selalu meningkat seiring dengan waktu dan setiap manusia memiliki tingkat yang tidak sama” jelas Guru.


“Jangan bertanya lagi dan sekarang ikut aku” ajak Guru.


Guru membawa Sasha dan Zen menuju lapangan di belakang kuil. Lapangan ini biasa digunakan untuk berlatih para murid kuil.


Saat ini Guru tidak menerima murid karena ada tugas rahasia yang sedang Ia jalani. Zen adalah murid terakhir Guru di beberapa tahun belakangan ini.


Setelah sampai di lapangan belakang kuil, Guru meminta Sasha meletakkan lentera sesuai dengan arahan Guru. Lentera itu di taruh di atas lapangan dan membentuk formasi yang jika di Tarik garis lurus akan membentuk persegi enam.


“Sasha, sekarang kamu coba duduk di tengah-tengah formasi ini dan pahami apapun yang akan terjadi” kata Guru.


Sasha pun menuruti arahan dari Guru.


Saat tengah berkonsentrasi di tengah formasi lentera, Sasha merasakan energi dari setiap lentera yang mulai masuk ke tubuh Sasha. Sensasi energi yang tidak biasa, Sasha menahan sakit yang sulit untuk di ekspresikan oleh tubuhnya.


Sasha menuruti arahan Guru. Dan beberapa saat setelah energi itu di keluarkan oleh Sasha, di langit muncul cahaya bulat berwarna-warni.


“Buka mata mu dan lihat ke atas” kata Guru kepada Sasha.


Sasha membuka mata dan melihat cahaya yang muncul.


Ada 7 bola cahaya yang terlihat, masing-masing mewakili lentera keberanian yang ada. Cahaya biru muda mewakili lentera keberanian tingkat siang, hitam untuk lentera malam, merah untuk lentera api, biru tua untuk lentera air, coklat untuk lentera bumi, ungu untuk lentera langit, dan putih adalah untuk lentera keberanian tak terbatas yang muncul dari dalam diri Sasha.


“Serap lah ke 7 bola cahaya itu, itu akan menjadi kekuatan dalam jiwa mu” kata Guru kepada Sasha.


Sasha pun menyerap kekuatan dari bola cahaya sesuai arahan Guru. Dalam proses penyerapan energi Sasha merasakan di dalam jiwanya seperti terdapat pusaran energi yang sangat kuat. Sasha kembali menahan sakit yang tidak biasa, lebih sakit dari pada saat melepaskan energi dari kepalanya.


Setelah 4 jam Sasha melakukan penyerapan akhirnya Ia berhasil.


Sasha membuka matanya dan melihat Guru juga Zen yang sedang meditasi di depan Sasha. Sasha berdiri dengan perlahan dan memanggil Guru.


“Guru, Paman Zen. Aku berhasil menyerap kekuatan 7 lentera keberanian dan sekarang jiwaku terasa jadi lebih kuat” kata Sasha sambil tersenyum.


“Bagus lah, sekarang akan ku beri tahu apa yang bisa kamu lakukan dari menyerap kekuatan itu” ucap Guru.


Guru menerangkan bahwa dalam jiwa Sasha sekarang banyak terdapat ilmu yang bisa di pelajari, bisa di bilang jiwa Sasha saat ini adalah perpustakaan ilmu yang kapan saja bisa Sasha pelajari. Namun Sasha tetap tidak bisa sembarangan mempelajari ilmu, Ia tetap harus menyesuaikan ilmu yang di pelajari dengan kekuatan fisiknya.


“Jadi, apa yang akan kamu pelajari untuk pertama kalinya” tanya Guru.


“Karena yang menuntun ku untuk mencari 7 lentera keberanian adalah karena ingin membuka segel gulungan rahasia. Aku putuskan untuk mempelajari teknik segel rahasia” ucap Sasha bersemangat.


Sasha pun kembali bermeditasi untuk menemukan teknik segel rahasia di dalam jiwanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Sasha melihat cahaya emas di dalam pikirannya. Cahaya emas itu memancarkan cahaya dan memunculkan ribuan gambar segel di hadapannya.


Sasha tercengang dengan apa yang Ia lihat. Setelah gambar-gambar segel di hadapan Sasha hilang, kini kembali muncul tulisan sebagai panduan untuk mempelajari teknik segel rahasia.


Dalam tulisan yang Sasha lihat di jelaskan bahwa teknik segel rahasia adalah sebuah teknik untuk mengunci suatu benda dengan menempatkan sebuah formasi mantra pada benda tersebut sehingga orang lain yang tidak menguasai teknik segel rahasia tidak bisa membukanya. Selain untuk menyegel benda, teknik ini juga bisa di gunakan untuk menyegel jiwa atau roh manusia, efeknya sangat berbahaya. Seseorang yang jiwanya tersegel akan mengalami gangguan mental dan sulit berkembang dalam ilmu bela diri.


Namun untuk bisa menyegel jiwa butuh tingkat pemahaman teknik yang tinggi. Dalam teknik rahasia ada 5 tingkatan yaitu, biasa, dasar, menengah, puncak, dan dewa. Teknik penyegelan roh ada di tingkat dewa, butuh puluhan tahun untuk bisa menguasai sampai ke teknik tingkat dewa.


Dalam hal ini Sasha mempelajari teknik segel tingkat biasa. Di tingkat biasa ini, biasanya di gunakan untuk menyegel surat atau senjata kelas bawah. Sedangkan segel yang ada pada gulungan rahasia adalah teknik segel tingkat menengah. Secara tidak langsung Sasha di haruskan menguasai teknik segel tingkat menengah juga.


***


Setelah 3 jam Sasha mempelajari teknik segel rahasia, akhirnya Ia kembali membuka matanya karena sudah menguasai teknik segel tingkat biasa.


“Guru, Paman, sepertinya aku sudah menguasai teknik segel rahasia tingkat biasa” kata Sasha dengan nada penuh semangat.


“Sekarang kamu coba segel pedang mu dan biarkan Zen mencoba untuk mengeluarkan pedang mu dari serangkahnya” kata Guru.


Sasha pun memulai penyegelan di pedangnya. Teknik penyegelan tingkat biasa tidak membentuk simbol seperti pada gulungan rahasia, hanya ada coretan mantra yang di tulis dengan huruf kuno. Sedangkan segel tingkat menengah sampai tingkat dewa sudah menggunakan simbol, contohnya segel yang ada di gulungan rahasia. Segel itu menggunakan gambar kepala burung hantu yang di kelilingi mantra.


Biasanya gambar hewan atau senjata yang tercetak di suatu segel adalah merupakan simbol keluarga atau klan, sedangkan yang menjadi inti dari segel adalah coretan mantra yang di bentuk melingkar, kotak, ataupun persegi lainnya.


Setelah beberapa saat Sasha mengaktifkan segel pada pedangnya, Sasha pun memberikan pedangnya kepada Zen untuk di tes.


“Paman Zen, silahkan coba segel yang ku buat ini” kata Sasha memberikan pedangnya kepada Zen.


“Baiklah” kata Zen.


Zen melihat susunan mantra yang terukir dari pangkal gagang pedang sampai di ujung serangka pedang Sasha. Zen merasakan energi segel yang tidak terlalu kuat namun sangat murni.


“Bagaimana Paman” tanya Sasha.


“Benar-benar tidak bisa tercabut. Sepertinya kamu berhasil menguasai teknik segel rahasia tingkat biasa” jawa Zen.


“Biar aku coba membukanya” kata Guru.


Guru juga merasakan hal yang sama dengan Zen, namun Guru bisa membuka segel yang Sasha buat.


“Rupanya Guru juga menguasai teknik segel rahasia” ucap Sasha dalam hati.


“Jangan heran, aku juga sudah menguasai teknik segel tingkat biasa, jadi aku bisa membuka segel di pedang ini” kata Guru.


“Tapi aku merasakan hal lain dari pedang ini, seperti ada kekuatan energi yang sangat kuat, tapi aku tidak mengerti energi apa ini” ucap Guru dalam hati.


Cukup lama Guru memandangi pedang milik Sasha yang sedang Ia pegang.


“Ada apa Guru, apakah ada hal aneh dari pedang ku’ tanya Sasha.


“Aku merasakan energi murni yang sangat kuat dari pedang mu ini. Apa yang sudah kamu masukkan ke dalam pedang ini” tanya Guru.


“Aku hanya memasukkan batu hijau dan batu emas. Bukankah Guru sudah tahu hal itu” kata Sasha.


“Selain itu apa lagi” tanya Guru.


“Apakah maksud Guru adalah api abadi. Sebelumnya aku pernah membakar pedang ku menggunakan api abadi dan api itu seperti menyatu dengan pedang ku” jelas Sasha.


“Hmmm… pantas saja” ucap Guru.


“Baiklah, selamat untuk mu karena sudah bisa menguasai teknik segel tingkat biasa. Namun untuk membuka segel pada gulungan rahasia kamu harus menguasai teknik segel tingkat menengah. Lanjutkan mempelajari itu esok hari” kata Guru sambil mengembalikan pedang Sasha.


Setelah itu Zen mengantar Sasha untuk beristirahat. Di dalam kuil ada beberapa kamar yang biasa di gunakan para murid untuk beristirahat setelah latihan.

__ADS_1


“Selamat beristirahat, persiapkan dirimu untuk melanjutkan latihan besok” kata Zen setelah mengantar Sasha.


“Terimakasih Paman Zen. Selamat beristirahat juga” ucap Sasha.


__ADS_2