
Saat membuka buku itu, Sasha di sambut oleh gambar kepala burung hantu dengan mata merah menyala yang seolah memandang Sasha dengan tatapan yang tajam. Sasha benar-benar terkejut sampai jantungnya berdetak kencang.
“Seram sekali, padahal hanya gambar, tapi kenapa seperti menyala“
Kali ini Sasha menarik nafas panjang sebelum kembali membuka buku itu.
Perasaan canggung bercampur penasaran benar-benar Ia rasakan saat ini.
“Ternyata ini gambar burung hantu juga“ kata Sasha sambil meraba gambar itu
“Apa ini digambar dengan tinta?, tapi kenapa mata burung ini seolah-olah menyala seperti lampu“
“Ahhh… aneh sekali“
Kemudian Ia kembali membuka halaman berikutnya.
Di halaman berikutnya Sasha menemukan ada sebuah tulisan yang sedikit memudar, Ia berfikir mungkin saja karena buku ini tersimpan cukup lama jadi wajar saja jika tulisannya sudah memudar.
-Banyak teka-teki di hidup kita yang perlu kita pecahkan untuk mengungkap sebuah rahasia, jangan takut, masuklah dalam teka-teki itu-
Sasha tidak mengerti maksud dari tulisan ini, sejenak Ia memikirkan maksud dari kata-kata itu sebelum Ia memutuskan untuk membuka halaman berikutnya.
Dihalaman berikutnya kembali Sasha menemukan tulisan yang membuat Ia semakin bingung akan maksud dari tulisan itu.
-tabir hitam memanG bisa meredUpkan cahayA, namun cahaya bisa menyingkap tabir Hitam itu. maka masUklah, lawan tabir hiTam itu dan temukAn cahaya redup yang hilaNg–
“Sebenarnya apa maksud dari tulisan ini, aku semakin bingung“ pikir Sasha sambil memegang kepalanya
Sasha berulang kali membaca tulisan itu, tapi tetap saja Ia tidak mengerti maksudnya.
Sasha terdiam beberapa saat memikirkan tulisan itu, Ia yakin pasti ada makna tersendiri dari tulisan yang Ia baca.
Sasha kembali membuka halaman pertama buku itu, berharap mendapatkan petunjuk. Kemudian kembali ke halaman ke dua lagi, namun tetap tidak dapat di pahami oleh Sasha. Berulang kali Ia melakukan hal itu sampai kepalanya terasa pusing.
“Aaahhhhh… tetap tidak paham maksudnya apa“ kata Sasha sambil menutup buku
Setelah Sasha benar-benar merasa bingung akhirnya Ia menaruh buku itu dan pergi ke dapur untuk membuat secangkir susu.
Sewaktu Sasha berjalan kearah dapur, Ia masih saja memikirkan tulisan itu.
Sasha duduk didepan meja makan, saat Sasha meneguk secangkir susu, Sasha seperti merasa ada hal aneh dalam penulisan kata pada buku seperti ada hal aneh pada tulisan itu, Sasha bergegas kembali ke kamar dan memeriksanya.
“Ternyata benar dugaan ku, ada beberapa huruf kapital ditengah kalimat. Apakah ada maksud tertentu dari cara penulisan seperti ini“ pikir Sasha sambil memandangi tulisan
“Coba aku rangkai huruf-huruf ini“ sambil mengambil sebuah kertas dan pensil
“Huruf ‘G’ kemudian ‘U’ lalu ‘A’ ‘H’ ‘U’ kemudian huruf ‘T’ ‘A’ dan terakhir huruf ‘N’. Benar, ternyata memang membuat satu kalimat“ Sasha tersenyum
“GUA HUTAN, apakah maksudnya ada gua di dalam hutan“ Sasha terdiam sambil menatap kearah atap
“Nanti saja aku Tanya ayah, mungkin ayah tahu tentang gua ini“
***
Saat masih memikirkan hal itu, terdengar suara ibu sambil mengetuk pintu kamar Sasha.
“Sasha, apa kamu sudah bangun?“ Tanya ibu dari luar kamar
“Sudah bu“ jawab Sasha sambil menutup buku dan menyimpannya di laci meja belajarnya
“Kalau begitu ayo bantu ibu menyiapkan sarapan“ ajak ibu
“Iya bu, Sasha rapikan tempat tidur dulu“ jawab sasha sambil melipat selimut dan menyusun bantal yang berantakan
Setelah selesai merapikan tempat tidur Sasha pun pergi ke dapur untuk membantu ibu yang sedang memasak.
Saat sedang membantu ibu, Sasha masih saja memikirkan maksud dari tulisan dalam buku itu, sampai Sasha tidak sengaja menjatuhkan botol air minum yang ia pegang.
“Ada apa Sasha, kamu baik-baik saja“ Tanya ibu karena merasa kaget
“Ti… tidak apa-apa bu, botol airnya licin“ jawab Sasha sambil mengambil botol yang jatuh
“oh iya bu, Ayah kemana?” tanya Sasha kepada ibu yang sedang membersihkan air di lantai
“Ayah pergi menemui sahabatnya yang mengajar di SMA Akibara, Ayah berencana untuk mendaftarkan mu ke Akibara“ jawab ibu
“Akibara.... dari namanya, sepertinya itu sekolah favorit disini“ kata Sasha dalam hati
Usai memasak, Ibu mengajak Sasha untuk pergi berkunjung ke rumah tuan Mic sambil melihat sekeliling tempat tinggal mereka yang baru.
Jarak rumahnya tidak begitu jauh dari rumah nenek, hanya sekitar 100m saja.
Sepanjang perjalanan Sasha dan Ibu di kelilingi kebun teh yang begitu luas, pemandangan yang indah, serta hijaunya kebun teh membuat mata seakan lebih segar.
Daerah tempat Sasha tinggal saat ini memang di kelilingi perkebunan teh yang luas dan sebagian masyarakat memang bekerja di perkebunan teh ini.
Saat dalam perjalanan Sasha tertarik pada salah satu bukit yang ditumbuhi pohon cemara, Sasha merasa pernah melihat tempat itu, tetapi entah dimana Sasha pun tidak ingat. Di bukit itu Sasha melihat sebuah batu besar yang hanya terlihat bagian atasnya saja. Semakin di perhatikan Sasha semakin yakin pernah melihat batu itu.
“Permisi...“ Ibu sambil mengetuk pintu rumah tuan Mic
__ADS_1
“Tunggu sebentar“ jawab istri tuan Mic dari dalam rumah
“Wahh... nyonya Linch rupanya, ayo silahkan masuk“ ajak nyonya Mic sambil membukakan pintu dengan wajah tersenyum
Ibu dan Sasha masuk kedalam dan berbincang-bincang dengan nyonya Mic di ruang tamu.
“Lama tidak jumpa nyonya Linch, bagaimana kabar anda“ tanya nyonya Mic
“Kabar kami baik-baik saja“ jawab ibu
“Apa ini Sasha“ tanya nyonya Mic sambil memegang pipi Sasha
“Sudah besar ya, cantik“
“ohh ya bi, paman Mic kemana, sepertinya tidak ada di rumah?” Tanya Sasha
“Paman sedang melihat kebun di dibelakang rumah, kalau Sasha mau mari bibi antar menemui paman“ ajak nyonya Mic sambil berjalan ke pintu belakang
“Nahh... itu paman, kalau kita panggil dari sini pasti tidak kedengaran, Sasha temui saja paman di sana“ kata nyonya Mic sambil menunjuk kearah kebun teh
“Baik bi“ ucap Sasha
Sasha pun berjalan melewati jalan setapak menuju tuan Mic.
Sasha berjalan sangat hati-hati karena jalannya licin dan sedikit curam.
Saat Sasha berjalan menuju tuan Mic, Sasha kembali terpaku pada batu besar yang ada di bukit, entah apa yang membuat Sasha begitu tertarik pada batu itu, seakan memberi isyarat kepada Sasha.
“Hai paman Mic“ teriak Sasha dari kejauhan
“Sasha…“ teriak tuan Mic sambil melambaikan tangannya
Tuan Mic bergegas menghampiri Sasha
“Dengan siapa Sasha kesini?” Tanya tuan Mic
“Dengan ibu paman“ jawab Sasha
“Oh ya paman, batu besar di atas bukit itu batu apa ya?” tanya Sasha sambil menunjuk kearah batu besar di atas bukit
“ohh... itu batu pilar, masyarakat sekitar menyebutnya seperti itu, dibalik batu besar itu ada gua yang dulu pernah dipakai untuk bersembunyi para tentara saat berperang, saat ini sudah tidak terjamah lagi karena jalan untuk menuju gua itu sudah tertutup rumput“ jelas tuan Mic
Sejenak Sasha terdiam dan berfikir apakah itu gua yang dimaksud dalam buku yang Sasha baca.
Mereka kembali ke rumah tuan Mic, sambil berjalan, tuan Mic menceritakan kejadian saat terjadi perang ditempat mereka tinggal.
Sebelum menjadi kebun teh, tempat tinggal mereka masih berbentuk hutan yang sering menjadi tempat bersembunyi para tentara.
Sesampainya tuan Mic dan Sasha di rumah tuan Mic, mereka melanjutkan berbincang-bincang.
Tuan Mic menceritakan kepada Sasha hubungan erat keluarga mereka yang sudah terjalin cukup lama.
***
Tidak terasa hari sudah mulai petang, Sasha dan Ibu berpamitan pulang karena khawatir ayah Sasha sudah tiba di rumah.
“Sepertinya sudah cukup lama kita ngobrol, mungkin lain waktu kita sambung lagi” kata ibu sambil tersenyum
“Kenapa buru-buru sekali, padahal aku belum banyak bercerita dengan Sasha” kata tuan Mic
“Nanti kita lanjutkan lagi paman Mic, sepertinya aku dan ibu memang sudah harus pulang” kata Sasha
Mereka pun berpamitan untuk kembali ke rumah.
***
Sesampainya di rumah ternyata ayah memang sudah pulang.
“Wahh… darimana saja?“ Tanya ayah kepada Sasha dan Ibu
“Dari rumah paman Mic yah“ jawab Sasha
Ibu menyiapkan air minum untuk ayah, dan Sasha kembali ke kamarnya.
Sambil duduk Sasha kembali memikirkan gua yang ada di bukit.
Sasha berfikir apakah gua yang dimaksud itu memang berada di sana.
Sasha penasaran dan memutuskan untuk pergi ke gua itu. Sasha menyiapkan perbekalan seperti senter, switer juga air minum dan tidak lupa Sasha membawa buku yang Sasha baca. Ketika Sasha ingin berpamitan ternyata ayah dan ibu tertidur di ruang tamu dengan Tv menyala, Sasha mematikan Tv lalu pergi menuju gua.
Jika dari rumah Sasha gua itu tidak terlalu jauh, namun jalan yang akan Ia tempuh terlihat tidak mudah untuk di lalui.
Waktu menunjukkan pukul 16:30, Shasha pergi menuju gua di atas bukit.
“Wahh… sudah jam 16:30, aku harus bergegas sebelum matahari terbenam“
Shasha memakai sepatunya lalu pergi menuju gua.
Saat memulai perjalanan Sasha sudah di sambut dengan jalanan yang menanjak dan juga di tumbuhi rumput tinggi.
__ADS_1
Dalam perjalanan Sasha menjumpai berbagai kejadian yang membuat Sasha heran.
Nampak seekor burung hantu putih bertengger di dahan pohon yang seakan mengamati pergerakan Sasha, Sasha tidak menghiraukannya dan masih terus berjalan.
“Burung hantu tadi seperti mengamati ku, apa hanya perasaanku saja ya“ kata Sasha dalam hati
Sasha merasa semakin aneh dengan burung hantu itu. burung hantu itu terus mengikuti Sasha.
Selain itu, Ia juga beberapa kali mendengan seperti suara langkah kaki.
Sasha berhenti sejenak karena penasaran dengan suara yang Ia dengar.
Sasha menurunkan ransel yang Ia bawa kemudian membuka makanan ringan,
“Mungkin burung itu mau memakan snack ini“ sambil menaburkan snack
Burung hantu itu turun dari dahan pohon dan memakan snack yang Sasha bawa.
“Ternyata dia mau makan, sepertinya burung ini lapar“
Saat burung hantu itu memakan snack yang Sasha bawa, Sasha melanjutkan perjalannya menuju gua.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00, Sasha sudah semakin dekat dengan gua, batu besar yang Sasha lihat kini berada dihadapan Shasha.
“Ternyata batu ini memang sangat besar, tapi dimana guanya, seharusnya sudah terlihat“ pikir Sasha sambil melihat-lihat di sekeliling
Sasha mengitari baru besar itu sampai akhirnya menemukan gua yang tertutup oleh rerumputan tinggi.
“Inikah guanya, ternyata lumayan besar“
Sasha mengambil senter di ranselnya dan mulai memasuki gua itu.
“Gelap sekali gua ini. Lalu kata-kata di buku itu maksudnya apa, menemukan cahaya yang redup. Aku bingung dengan kalimat itu“
Sambil berfikir Sasha terus memasuki gua, Sasha menyoroti sekeliling gua dengan senter yang Sasha pegang, Sasha hanya melihat tumpukan batu yang tertata rapi didalam gua, sesekali Sasha mengambil bebatuan yang ada di sekitar Sasha dan menaruhnya kembali.
Saat Sasha menyoroti salah satu tumpukan batu, Sasha melihat seperti ada yang berkilau setelah terkena cahaya senter. Sasha mendekati benda itu.
“Sepertinya ada sesuatu di atas tumpukan batu itu“ Sasha berjalan mendekati tumpukan batu yang Sasha lihat
“Apa ini“ Sasha mengambil benda itu
“Seperti batu ruby“
Benda itu ternyata sebuah batu ruby berwarna merah dengan bentuk yang acak. Sasha menaruh batu ruby itu di atas senter yang Sasha pegang. Saat Sasha menaruh batu ruby di atas senter, Sasha kaget dengan yang ia lihat. Batu ruby itu memancarkan pantulan cahaya yang menyebar di sekeliling gua.
“Wahh... Indah sekali“ Sasha kagum dengan pantulan cahaya yang Ia lihat
“Tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh dari pantulan cahaya ini“ kata Sasha dalam hati sambil memikirkan sesuatu
Sasha memutar posisi batu ruby yang ia pegang secara perlahan.
Dan ternyata memang benar. Dari pantulan cahaya itu Sasha melihat beberapa pola yang membentuk gambar.
“Wahh... Ternyata benar, sepertinya aku melihat pola yang membentuk gambar“ sambil terus memutar baru ruby
“Sudah terlihat polanya. Sepertinya ini gambar buku“
“Yang itu seperti cermin, bentuknya mirip seperti yang ada di kamarku“ sambil menunjuk kearah gambar
“Kalau yang itu... itu gambar apa ya... seperti burung“ pikir Sasha sambil mengamati gambar
“Iya, aku yakin itu burung, seperti burung hantu“
Kemudian Sasha berputar kearah kanan.
“Sepertinya ini yang terakhir“ Sasha melihat satu gambar lagi
“Ini seperti kunci, apakah ini kunci yang ayah berikan kepadaku“
“Sepertinya bukan, ini seperti kunci yang lain“
Shasha menaruh batu ruby itu di ranselnya dan melihat jam tangan yang Shasha kenakan.
“Astaga, sudah jam 18:30. Ayah dan Ibu pasti mencari ku, aku harus bergegas untuk pulang“ Kata Sasha sambil melihat jam tangan yang Ia kenakan
Sasha berjalan dengan tergesa-gesah seakan tidak menghiraukan apa yang ada disekelilingnya.
Saat tiba di rumah sudah pukul 19:10, terasa lebih cepat dibanding saat Sasha pergi, mungkin karena Sasha berjalan dengan terburu-buru.
Setelah Sasha masuk ke rumah ternyata ayah dan ibu masih tertidur lelap di sofa ruang tamu.
“Ternyata mereka belum bangun“ ucap Sasha dalam hati sambil menaruh sepatu
Sasha tidak membangunkan Ayah dan Ibu karena takut mengganggu istirahat mereka.
Sasha pergi ke dapur untuk mencuci tangan kemudian menuju ke kamarnya.
“Cahaya tadi indah sekali, apakah yang di maksud cahaya yang redup itu pantulan cahaya dari batu ini“
__ADS_1
“Tapi maksud dari pantulan cahaya itu apa, aku masih belum paham“ Sasha berfikir sambil memandangi batu ruby yang Sasha pegang
“Ahh… Sepertinya aku harus membuka halaman berikutnya“