
Mereka pun memulai perjalanan menuju hutan yang di maksud.
Jika perjalanan mereka lancar, perkiraan untuk sampai adalah pada saat tengah malam, karena mereka memulai perjalanan pada saat siang hari, saat matahari tepat di atas kepala.
Namun kenyataan tidak sesuai yang di harapkan. Sesuatu yang mencurigakan muncul di tengah perjalanan ketika mereka memasuki sebuah lembah.
“Sasha berhenti” teriak Zen
“Ada apa Paman” tanya Sasha terkejut
“Perasaan ku tidak enak, sepertinya kita di ikuti oleh sesuatu” kata Zen sambil melihat ke sekeliling
Terdengar suara gemuruh dari atas bukit yang berada di samping mereka berhenti
“Sasha awas” kata Guin mendorong Sasha menghindari jatuhnya sebuah batu besar dari atas bukit
“Kamu tidak apa-apa Sasha” tanya Zen
“Tidak apa-apa paman, hanya kaki ku terasa sedikit sakit” kasa Sasha sambil memegang kaki kanannya
“Terimakasih atas tindakan mu barusan, entah apa yang akan terjadi jika kau tidak melihat batu itu jatuh” ucap Zen kepada Guin
“Paman bisa melihat Guin” tanya Sasha dengan wajah yang terperangah karena kaget
“Jadi namanya Guin, aku dari awal bertemu memang sudah melihat dia dan burung hantu yang selalu mengikuti kemana pun kamu pergi” jawab Zen
Sasha tidak mengetahui kalau Zen sebenarnya bisa melihat Guin dan Oly, maka dari itu Sasha tidak memberitahu tentang Guin dan Oly.
“Burung hantu itu bernama Oly paman, mereka berdua juga akan membantu ku saat memecahkan teka-teki yang ada di buku… tapi mereka berdua itu roh, kenapa paman bisa melihat mereka” jelas Sasha kepada Zen
“Ada alasan tertentu kenapa aku bisa melihat mereka” kata Zen sambil tersenyum
Saat mereka masih berbincang-bincang, kembali terdengar suara gemuruh, namun sumber suaranya bukan dari atas, melainkan dari bawah tanah
“Hati-hati Sasha, jangan lengah” kata Zen
Mereka pun saling membelakangi dan merapatkan badan mereka agar sekeliling tempat mereka berdiri bisa terpantau
“Di sana” teriak Zen sambil menunjuk tanah yang terangkat ke atas
Saat mereka menghadap arah yang sama, terlihat makhluk yang keluar dari dalam tanah.
“Hati-hati Sasha, aku mengenal makhluk ini” kata Zen sambil melindungi Sasha
“Ha… ha… ha… lama tidak bertemu Zen” kata makhluk itu dengan suara yang berat
“Piton bertanduk, ternyata kamu masih hidup” teriak Zen kepada ular itu
“Ha… ha… ha… kau pikir bisa semudah itu membunuh ku, kau jangan bercanda Zen” kata ular itu yang seluruh tubuhnya sudah muncul ke permukaan
“Paman tahu tentang ular besar ini” tanya Sasha dengan nada panik
“Ya, aku pernah ketempat ini dan bertemu si ular busuk ini, namun perjalanan ku waktu itu tidak untuk menuju hutan gelap” jawab Zen
Ular piton yang besar dan memiliki tanduk di kepalanya memang pernah bertarung dengan Zen. Zen hampir mengalahkan ular ini namun Zen langsung pergi sebelum memastikan ular besar ini tewas.
“Pada saat itu kau memang sempat akan mengalahkan ku karena aku lengah, tapi tidak untuk sekarang” kata ular itu yang semakin mendekat
“Kalau begitu, mari kita ulangi pertarungan kita” tantang Zen
Mereka pun bertarung. Nampaknya ular ini sudah banyak belajar tentang gaya bertarung Zen.
Zen memiliki kecepatan di atas rata-rata, sampai Sasha tidak bisa melihat gerakan Zen yang seakan seperti angina.
“Ha… ha… ha… kau pikir masih bisa melawan ku dengan cara itu Zen kecil” kata ular itu mengejek Zen
Tanpa di sadari oleh Zen, ular itu mengangkat ekornya yang besar dan menghantam tubuh Zen.
“Aaaaa…” teriak Zen yang terpental ke arah Sasha
“Paman tidak apa-apa, biar ku bantu menghadapi ular jelek ini” kata Sasha yang kesal
“Jangan Sasha, ular ini memiliki kecerdikan yang luar biasa, Ia akan mempelajari setiap gerakan kita dengan cepat. Saat aku melawannya dulu, aku hanya beruntung karena dia tidak tahu tentang kecepatan ku” kata Zen yang terbaring sambil memegang dadanya
“Biar aku saja yang hadapi ular busuk ini” kata Zen sambil berusaha untuk bangkit
“Kau masih berani melawan Zen” tanya ular dengan nada mengejek
“Maju kau ular sialan” kata Zen berteriak dan maju untuk menyerang ular piton besar itu
Mereka pun melanjutkan pertarungan, beberapa kali Zen terpental namun tetap bersikeras untuk melawan ular besar itu.
“Hahhh… pasti ada titik lemah pada ular sialan ini, tapi di mana. Dada ku sakit sekali” kata Zen menahan kesakitan
“Paman Zen, izinkan aku membantu” teriak Sasha
“Tidak, Guin, jaga Sasha, jangan sampai dia maju ke pertarungan” Teriak Zen
Zen masih mencoba untuk mengalahkan ular itu, namun setiap cara yang Ia gunakan selalu saja gagal karena berhasil di tepis oleh ular piton besar.
“Guin, pasti ada cara mengalahkan ular ini, apa kamu bisa melihat titik lemahnya Guin” tanya Sasha
“Biar ku lihat” kata Guin yang fokus melihat seluruh bagian ular besar itu
Selama Guin mendeteksi titik lemah dari ular piton itu, terlihat Zen yang masih mencoba menyerang dan berkali-kali pula Zen terpental.
Kemudian selang beberapa lama Guin berteriak
“Ketemu, aku berhasil menemukan titik lemahnya” teriak Guin
“Beri tahu aku Guin” pinta Sasha
“Titik lemahnya ada di belakang kepalanya.banyak orang pasti mengira titik lemahnya ada di bagian tanduknya. Aku yakin Paman Zen berusaha menyerang bagian tanduknya karena dia mengira itu titik lemahnya” jelas Guin kepada Sasha
“Lalu bagaimana cara kita menyerang bagian belakang kepalanya” tanya Sasha
“Mungkin saja jika perhatian ular itu di alihkan kita bisa serang titik lemahnya” kata Guin Sambil berfikir
“Aku punya cara” kata Sasha yang juga sedang berpikir
Sasha pun mencoba untuk berkomunikasi dengan Zen dari jarak jauh
“Paman Zen, apa kau bisa mendengar ku” kata Sasha sambil memegang kalungnya dan memejamkan mata
“Sasha, ya, aku mendengar mu” saut Zen
“Titik lemah dari ular itu ada di bagian belakang kepalanya, apa paman bisa mengalihkan perhatian ular itu sepenuhnya” tanya Sasha
“Lalu setelah itu bagaimana” tanya Zen
“Oly akan menyerang bagian belakangnya dengan pisau yang ku bawa” jelas Sasha
“Baiklah, akan ku coba cara itu” jawab Zen dengan semangat
Zen pun kembali menyerang ular itu untuk bisa mengalihkan pandangannya
“Oly, saat ular itu teralihkan perhatiannya, serang bagian belakang kepalanya, hanya ada satu kesempatan, ku mohon jangan sampai gagal” kata Sasha sambil memberikan pisau kecil yang terselip di pinggangnya
Sasha memilih Oly melakukan tugas ini karena Sasha berfikir, burung hantu bisa terbang tanpa suara, dan juga bisa menerkam mangsanya dengan cepat dan akurat.
Oly pun pergi kearah yang tidak bisa terlihat oleh ular itu, dengan cepat Oly terbang menuju belakang ular besar dan mengunci sasarannya
Saat benar-benar teralihkan, Oly pun bersiap menyerang
“Sekarang Oly” teriak Zen dengan keras
Oly terbang dengan cepat dan berhasil menancapkan pisau kecil yang Ia bawa tepat di titik kelemahan ular piton besar itu
“Berhasil” kata Zen yang tergeletak di depan ular yang sudah tumbang
“Akhirnya, bisa dikalahkan” kata Sasha tersenyum
Sasha langsung menghampiri Zen yang tergeletak
“Paman Zen, bagaimana keadaan mu” tanya Sasha sambil memegang dada Zen
“Hanya luka ringan, istirahat sebentar juga akan pulih” jawab Zen
Sasha membantu Zen untuk duduk dan memberikan air minum.
Setelah selesai minum, terlihat Zen bersila dan merapatkan kedua tangannya. Karena Sasha tahu Zen bukan orang sembarangan, Sasha membiarkan Zen untuk fokus dalam posisinya saat ini
Sambil beristirahat, Sasha selalu waspada dengan situasi di tempatnya saat ini.
Namun karena kelelahan, tanpa sengaja Sasha juga tertidur di samping Zen yang sedang duduk.
***
Setelah cukup lama Zen berdiam diri, akhirnya Ia membuka mata dan melihat Sasha yang sedang tertidur.
“Apa aku sudah cukup lama bermeditasi” tanya Zen kepada Guin
“Iya, cukup lama tuan, Sasha juga tertidur saat menjaga mu” jawab Guin
Zen membangunkan Sasha untuk melanjutkan perjalanan
“Sasha, bangun, ayo kita lanjutkan perjalanan. Perjalanan kita masih sangat jauh” kata Zen yang membangunkan Sasha
Setelah Sasha bangun, mereka pun merapikan barang bawaan yang tercecer di tanah sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Namun ada hal aneh yang terlihat oleh Sasha saat akan memerintahkan kuda untuk jalan.
Terlihat cahaya hijau yang menyala dari titik lemah ular yang di serang oleh Oly.
Mereka pun kembali turun dari kuda.
“Lihat paman, ada cahaya hijau dari kepala ular itu” kata Sasha sambil menghampiri ular yang sudah tergeletak di depan mereka
“Hati-hati Sasha, bisa saja itu beracun” kata Zen mengingatkan Sasha yang hendak mengambil benda yang memancarkan sinar hijau
“Paman, aku menemukan sebuah batu dari kepala ular ini” kata Sasha sambil memegang batu yang Ia ambil
Batu yang Sasha ambil tidak begitu besar, hanya sebesar telur ayam, dengan bentuk yang bulat namun tidak sehalus telur
“Apa kita bisa membawa ini paman” tanya Sasha
“Bawa saja, sepertinya itu tidak bahaya” kata Zen
Sasha pun membawa batu itu. dan mereka kembali meneruskan perjalanan.
***
Hari sudah mulai gelap, dengan kondisi jalan yang menanjak juga di tumbuhi rumput yang tinggi memaksa mereka untuk menghentikan perjalanan.
“Sepertinya kita tidak bisa meneruskan perjalan untuk saat ini” kata Zen sambil menghentikan laju kuda
“Iya paman, sangat gelap, jalanannya juga begitu sulit” kata Sasha yang memperhatikan sekeliling
“Sebaiknya kita bermalam disini, besok pagi kita lanjutkan perjalanan kita” kata Zen
“Baik Paman” jawab Sasha
Mereka pun turun dari kuda, juga menurunkan barang-barang yang mereka bawa.
Sasha mencaci kayu sedangkan Zen membuat api unggun. Mereka memasak makanan dengan bahan seadanya yang sebelumnya sudah di siapkan.
“Paman, sudah cukup lama aku ada di dimensi ini, kenapa kalungku tidak menyala” tanya Sasha
“Kamu masih menjalankan tugas di sini, jika tugas mu sudah selesai, kalung itu akan menyala” jawab Zen
“Jadi seperti itu” saut Sasha
Sambil menunggu makanan mereka matang, Sasha dan Zen menyiapkan tempat untuk mereka tidur.
Namun gangguan kembali datang.
“Paman, aku dengar sesuatu” kata Sasha langsung memegang pedang yang ada di pinggangnya
“Tetap waspada, di hutan seperti ini memang tidak heran jika kita mendapat banyak gangguan” kata Zen yang sudah memegang pedangnya
Terlihat dari kejauhan sepasang mata yang bercahaya
“Apa itu paman” kata Sasha dengan suara pelan
“Jangan buat gerakan yang tiba-tiba, sepertinya ini hewan buas” kata Zen
Sepasang mata itu pun semakin mendekat dan semakin nampak tubuh berbulu hitam dengan jalan merangkak
“Sepertinya itu binatang buas paman” kata Sasha
“Bukan, di tempat ini tidak ada binatang buas, itu pasti makhluk sejenis dengan ular piton besar tadi” jelas Zen
Akhirnya makhluk hitam besar seperti harimau dengan taring yang panjang juga kuku yang tajam berada di depan mereka.
“Hmmm… siapa kalian” kata makhluk itu
“Kami hanya beristirahat disini, tidak ada niat untuk mengganggu” kata Zen
“Kalian sudah masuk ke wilayah ku, aku sangat benci dengan api, kenapa kalian membuat api disini” kata makhluk itu sambil menatap tajam
“Kami sedang memasak makanan, kami butuh api agar makanan itu matang” jawab Sasha
“Hmmmm… kau berani menentang ku gadis kecil, kau harus jadi makanan ku” kata makhluk itu dan ingin mencakar Sasha
Sasha yang panik akhirnya mencabut pedang yang ada di pinggangnya.
Saat mencabut pedang, tidak sengaja batu yang Sasha dapat dari kepala ulat itu terlihat dari kain yang terikat di pinggang Sasha. Batu itu kembali memancarkan cahaya hijau yang terang dan membuat makhluk besar itu tidak jadi mencakar Sasha.
“Cahaya itu, Batu itu” kata makhluk itu sambil menundukkan kepalanya
“Batu itu… milik piton bertanduk.. apa kalian sudah membunuh raja kamu” kata makhluk itu sambil memalingkan pandangannya
“Maksud mu, ular sialan itu adalah raja, memang benar, kami sudah mengalahkan ular itu dan menemukan batu hijau dari kepalanya” jelas Zen
“Maafkan aku tuan, tidak seharusnya aku bertingkah tidak sopan kepada kalian” kata makhluk itu
“Aneh sekali, kenapa dia tiba-tiba dia lari seperti itu” kata Sasha sambil menaruh kembali pedangnya
“Sepertinya karena batu yang ada pada mu” saut Zen
Mereka melanjutkan untuk beristirahat.
Selama mereka beristirahat, Guin dan Oly bertugas menjaga mereka.
***
Hari sudah pagi, mereka di bangunkan oleh sinar matahari yang menyinari wajah mereka.
Saat mereka bangun, mereka terkejut dengan apa yang ada di hadapan mereka.
“Dari mana datangnya makanan ini” tanya Zen
“Kucing besar yang mengantarkannya kemari, dia juga mengucapkan terimakasih sudah membunuh ular piton besar bertanduk. Selama ini mereka tertekan karena adanya ular itu” jelas Guin
“Wah, aku tidak sempat mengucapkan terimakasih kepada kucing itu karena sudah membawakan makanan sebanyak ini” kata Zen sambil tersenyum
Mereka pun memakan makanan yang di bawa oleh kucing hitam.
Setelah selesai makan, mereka kembali merapikan barang-barang mereka dan juga buah-buahan yang sudah di bawakan oleh kucing hitam.
“Paman, apakah perjalanan kita masih jauh” tanya Sasha sambil menaiki kudanya
“Seharusnya siang nanti kita sudah sampai” jawab Zen
Saat meneruskan perjalanan, Sasha dan Zen merasakan seperti ada yang mengikuti mereka dari belakang, mereka merasakan bukan hanya satu, namun lebih dari sepuluh.
“Sasha, apa kamu merasakan ada yang mengikuti kita” tanya Zen
“Iya paman, aku juga merasakan” jawab Sasha
“Tenang saja, itu kucing hitam dan pasukannya, mereka mengawal kita dari kejauhan, sebaiknya kita tetap berpura-pura tidak menyadari hal itu” kata Guin
“Baiklah kalau begitu” kata Sasha
Tanpa ragu mereka tetap melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan mereka tidak menjumpai suatu hambatan apapun, bahkan hal yang mencurigakan pun tidak lagi mereka rasakan.
***
Setelah mereka menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya mereka melihat tempat yang mereka tuju.
“Sepertinya kita sudah sampai” kata Zen
“Benarkah… akhirnya…” saut Sasha dengan wajah tersenyum
“Berhenti…”
Terdengar suara yang misterius
“Siapa di sana” kata Zen
“Apa itu kamu Zen” terdengar kembali suara itu
“Ya, ini aku, di mana kau, jangan bersembunyi” kata Zen dengan lantang
Sosok itu pun muncul secara tiba-tiba di depan mereka
“Guru..” kata Zen sambil melompat dari atas kuda dan berlutut di depan pria tua berjanggut dan berambut panjang yang ada di depannya.
“Lama tidak bertemu Zen” kata Guru
“Bagaimana kabar Guru, sudah lama aku mencari mu Guru” kata Zen yang masih berlutut
“Aku baik-baik saja, bangunlah Zen” kata Guru tersenyum
“Apa kau sampai kesini karena misi dari pria tua itu” tanya Guru
“Benar Guru” jawab Zen
“Kalau begitu gadis kecil ini adalah keturunan keluarga Linch” tanya Guru
“Kemari lah nak” kata Guru kepada Sasha
Sasha pun turun dari kudanya dan berlutut di hadapan Guru.
“Jangan lakukan itu, seharusnya aku yang berlutut di hadapan mu” kata Guru sambil menahan Sasha yang ingin berlutut
“Apa maksud Guru, aku benar-benar tidak mengerti” tanya Sasha yang heran dengan perkataan Guru
__ADS_1
“Nanti kamu juga akan paham maksud dari perkataan ku” jawab Guru tersenyum
“Kalau begitu tugasku sudah selesai, ku berikan yang seharusnya menjadi milik mu” kata Guru sambil memberikan sebuah kunci kepada Sasha
“Kunci apa ini Guru” tanya Sasha
“Setelah kau memasuki hutan gelap itu, kamu akan tahu fungsi dari kunci ini” jawab Guru
“Baiklah, aku terima pemberian mu ini Guru” kata Sasha
“Kalau begitu aku permisi dulu, sudah lama aku tidak pulang, aku rindu dengan Gunma” kata Guru
“Jaga tuan putri baik-baik Zen, kerjakan tugas mu dengan baik” kata Guru yang tiba-tiba menghilang
“Baik Guru, akan ku ingat pesan mu” jawab Zen
“Tuan putri, siapa yang di maksud Guru” kata Sasha dalam hati
Beberapa saat setelah Guru meninggalkan mereka, Sasha dan Zen pun melanjutkan perjalanan.
Kali ini tantangannya akan lebih sulit dari sebelumnya. Karena menurut Zen, ini bukan hutan sembarangan, banyak hal tidak terduga yang akan terjadi tiba-tiba
Saat mulai memasuki hutan, mereka sudah di sambut dengan suasana yang sunyi. Sejauh mata memandang hanya terlihat pepohonan yang tinggi juga rerumputan yang lebat. Hutan ini benar-benar gelap, sedangkan jika melihat kebelakang masih nampak cahaya matahari yang menyinari pepohonan.
“Tetap waspada Sasha, jangan lengah, hutan ini sangat berbahaya” kata Zen memperingati Sasha
“Baik Paman” jawab Sasha
Semakin dalam mereka memasuki hutan, suasana semakin sunyi, bahkan suara binatang kecil pun tidak terdengar.
“Di sini sunyi sekali Paman, benar-benar seperti lembah kematian” kata Sasha
Setelah cukup jauh mereka memasuki hutan, mereka baru menyadari kalau kucing hitam dan pasukannya sudah tidak mengikuti mereka lagi.
“Sepetinya kucing hitam sudah tidak mengikuti kita lagi” kata Guin
“Iya, aku baru menyadarinya” jawab Sasha
Pada saat Sasha berbicara dengan Guin ternyata Zen merasakan sesuatu yang aneh.
“Berhenti Sasha” kata Zen sambil menghentikan laju kudanya
“Aku mencium wangi yang tidak biasa” kata Zen sambil melihat ke sekeliling
“Iya, aku juga mencium wangi yang begitu kuat” kata Sasha menarik nafas panjang
Tak lama sejak mereka mencium wangi itu, nampak seorang wanita cantik menggunakan gaun biru muda yang turun dari atas.
“Tetap waspada Sasha” kata Zen dengan nada yang kuat
“Siapa kalian, kenapa bisa sampai kesini” kata wanita itu dengan suara yang halus
“Ada yang kami cari disini, siapa kamu” kata Zen
“Kalian tidak perlu tau siapa aku, lagi pula apa yang kalian cari, disini tidak ada apa-apa” kata wanita itu masih dengan nada yang sangat halus
“Kami mencari emas di hutan ini” kata Sasha
“Emas?... emas apa yang kalian maksud” tanya wanita itu
“Kami dapat sebuah petunjuk untuk mencari emas disini, bagai mana bentuk emas itu kami pun belum tahu” jawab Sasha
“Apa jangan-jangan, ahh… aku tidak boleh langsung menganggap begitu” kata wanita itu dalam hati
“Siapa nama mu gadis cantik” tanya wanita itu kepada Sasha
“Sasha, nama ku Sasha, Sasha Linch” jawab Sasha
“Linch, ternyata benar dugaan ku, ternyata memang dia” kata sang wanita dalam hati
“Karena kalian sudah datang kemari, aku punya hadiah untuk kalian” kata wanita itu
Wanita cantik itu meniupkan sesuatu dari mulutnya ke arah mereka, dan seketika Sasha pun tertidur dan jatuh dari kudanya. Namun hal ini tidak terjadi kepada Zen, Guin dan juga Oly
“Ouw, ternyata kalian” kata wanita itu sambil tersenyum
“Kau apakan Sasha” teriak Zen kepada wanita itu
Saat Zen ingin menyerang sang wanita, entah kenapa tubuh Zen tidak bisa bergerak, begitu juga pada Guin dan Oly yang ingin menyerang wanita itu
“Kalian diam saja, aku hanya mengetes kekuatan gadis kecil ini” kata wanita itu sambil tersenyum
Saat tertidur, Sasha seperti bermimpi yang aneh. Mimpinya seperti nyata, namun tidak bisa di pahami oleh Sasha
“Ahh… dimana aku” kata Sasha dalam mimpinya
“I… itu aku yang sedang di ruang bawah tanah” kata Sasha yang melihat dirinya sendiri yang sedang membuka lemari saat menemukan peti yang berisi buku
“Itu aku yang sedang di dalam gua”
“Itu aku yang sedang melihat Ratu Gunma” kata Sasha yang kembali melihat dirinya
Kejadian ini berlangsung cukup lama. Sasha mengalami mimpi yang berpindah-pindah secara cepat dan berulang-ulang.
Sesekali Zen melihat Sasha menjerit kesakitan. Zen ingi menolongnya, namun tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak
“Sialan, aku benar-benar tidak bisa bergerak… sepertinya Sasha sedang terkena sihir mimpi” kata Zen dalam hati
Sihir mimpi adalah sebuah kekuatan pengendalian pikiran. Korban yang terkena akan masuk kea lam bawah sadarnya yang kacau. Satu-satunya cara agar korbannya bisa terbebas adalah dengan melawan pikirannya yang sedang terkendali. Korban harus menyadari bahwa Ia sedang di kendalikan pikirannya, saat korban ini menyadari dan melawan kekuatan ini di dalam pikirannya, maka korban akan tersadar dari pengaruh kekuatan ini.
“Mimpi apa sebenarnya ini, kenapa aku bisa merasakan kepala ku yang sakit” kata Sasha memegang kepalanya dan masih mengalami mimpi yang berpindah-pindah
“Ini semua gara-gara buku itu, aku jadi mengalami hal seperti ini” mengeluh Sasha
“Andai saja aku tidak ke hutan gelap itu, andai aku tidak mencari maksud tulisan itu” kata Sasha menjerit dalam mimpinya
“Ahh, aku ingat… pada tulisan terakhir ada petunjuk untuk melawan diri sendiri, apa itu artinya aku harus melawan mimpiku ini” pikir Sasha
“Sepertinya memang begitu, aku harus terbangun, aku harus keluar dari mimpi ini” teriak Sasha
Saat Sasha berteriak dan berusaha sadar, terlihat cahaya putih yang bersinar. Semakin Sasha berusaha menghiraukan mimpinya, cahaya itu semakin terang dan mimpinya semakin tidak terlihat
“Sepertinya cahaya itu jalan keluar dari mimpi ku ini, aku harus meraihnya” kata Sasha berlari menghampiri cahaya itu
Dengan merasakan kaki yang teramat berat, Sasha berusaha sekuat tenaga untuk menghampiri cahaya itu.
Setelah bayangan mimpinya hilang, Sasha pun sampai ke titik cahaya putih itu.
Dan Sasha pun tersadar dari tidurnya
“Hahh, aku berhasil, aku tersadar” kata Sasha sambil membuka matanya
Saat Sasha terbangun, Zen pun dapat bergerak kembali dan langsung menghampiri Sasha
“Kau tidak apa-pa Sasha” tanya Zen panik
“Tidak Paman, aku tidak apa-apa” jawab Sasha
“Ternyata kau memang dari keluarga Linch, orang lain yang terkena pengaruh pikiran tidak akan selamat dalam waktu yang lama. Namun kau dapat melewati itu” kata wanita berbaju biru muda yang masih melayang di udara
“Kalau begitu, akan ku berikan emas yang kalian maksud. Silahkan ambil dan sampaikan salam ku untuk orang tua itu” kata wanita itu dengan tubuhnya yang hilang secara perlahan
Setelah wanita itu menghilang, nampak sebuah pohon terbelah dan muncul cahaya dari tanah tepat di bawah pohon tersebut. Perlahan muncul benda berwarna emas dari bawah tanah.
Benda itu sangat berkilau, Sasha, Zen, Guin juga Oly tidak sanggup melihatnya.
Setelah cahaya itu mulai redup, nampak sebuah patung burung hantu berwarna emas yang berada di bekas pohon yang terbelah.
“Patung burung hantu berwarna emas, apa ini yang di maksud buku itu paman” tanya Sasha
“Entahlah, ayo kita ke sana” ajak Zen
Mereka pun pergi menghampiri patung itu.
“Wahhh, sangat berkilau, apa ini emas sungguhan” kata Sasha dalam hati sambil meraba patung
Saat sedang memperhatikan patung itu, Sasha menemukan lubang kunci yang ada pada mulut patung itu. Sasha teringat dengan kunci yang di berikan Guru sebelumnya
“Paman lihat, ada lubang kunci di mulut patung ini, sepertinya kunci yang di berikan Guru untuk patung ini” kata Sasha sambil memperhatikan lubang kunci
Sasha mencoba memasukkan kunci ke dalam mulut patung itu, dan patung itu terbelah menjadi dua.
Nampak sebuah gulungan kertas yang berada di dalam patung
“Gulungan apa ini” tanya Sasha mengambil benda yang Ia temukan
“Apa jangan-jangan, ini gulungan yang di cari selama ini, kenapa bisa sampai ada disini” kata Zen dalam hati
“Paman” kata Sasha dengan nada kuat
“Ahh, iya, ada apa Sasha” jawab Zen terkejut
“Ini gulungan apa, apa Paman tahu” tanya Sasha
“Entahlah, sebaiknya kamu simpan dulu, setelah di rumah akan kita periksa” jawab Zen
“Baiklah kalau begitu” kata sasha menyimpan gulungan itu
Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka cari, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
__ADS_1