Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 4 _ Mustahil


__ADS_3

“Kriiiiiiiing”


Terdengar suara jam berdering. Membangunkan Sasha yang masih tertidur lelap.


“Apakah sudah pagi” kata Sasha sambil beranjak dan mengusap kedua matanya


Waktu sudah menunjukkan jam 06:00. Sasha pun turun dari tempat tidurnya. Tak lupa Sasha merapikan selimut dan bantal yang Ia pakai tidur sebelum akhirnya turun ke lantai bawah.


Saat sedang merapikan tempat tidurnya, Ia di kaget kan oleh Guin.


“Haiii Sasha, selamat pagi” kata Guin mengagetkan Sasha


“Guiiiiiiinnnnn… aku kaget sekali, ternyata kamu jahil ya” kata Sasha agak keras dengan ekspresi syok karena kaget


“Maaf Sasha, hehehehe” kata Guin meledek Sasha


Sasha sebenarnya belum terlalu percaya jika sekarang memiliki teman yang berbeda alam. Sasha sebenarnya selalu mengaitkan setiap hal dengan logika, sedangkan sekarang Ia malah di paksa percaya dengan hal yang mustahil.


Setelah selesai merapikan kamar, Sasha turun ke lantai bawah untuk membantu ibu menyiapkan sarapan.


“Selamat pagi ibu” kata Sasha saat menuruni tangga


“Selamat pagi Sasha” jawab ibu


“Ayah belum bangun ya bu” tanya Sasha


“Sudah, Ayah sedang melihat halaman belakang, bisa tolong ibu panggilkan ayah, sarapan sudah siap” pinta ibu


Sasha pun pergi ke halaman belakang.


“Waaaahhhhh… segar sekali udara pagi di sini” ucap Sasha dengan memejamkan mata dan menghirup udara segar di halaman belakang rumah


“Sasha, Pagi-pagi kamu sudah bangun, apa ibu sudah selesai siapkan sarapan” tanya Ayah


“Sarapannya sudah siap, ayo kita sarapan dulu ayah”


Mereka pun pergi untuk makan.


“Ayah sedang apa di halaman belakang” tanya Sasha sambil mengunyah sepotong roti


“Ayah sedang merapikan barang-barang yang berantakan di gudang, apa kamu mau bantu ayah” kata ayah mengajak Sasha


“Iya Ayah, setelah makan aku bantu ayah untuk merapikan halaman belakang” jawab Sasha


***


Setelah selesai sarapan mereka pergi ke halaman belakang untuk merapikan barang-barang yang berantakan.


Saat sedang membantu Ayah merapikan tumpukan kayu, Sasha berfikir untuk membuat sesuatu yang bisa di gunakan sebagai tempat Oly bertengger.


“Ayah, apa ayah bisa buatkan aku tempat untuk burung hantu yang ada di kamar ku, kasihan burung hantu itu tidak ada tempat untuk bertengger” pinta Sasha kepada ayah sambil memegang sepotong kayu


“Bisa saja, nanti ayah buatkan tempat untuk bertengger burung hantu yang ada di kamar mu” jawab ayah


“Terimakasih Ayah” ucap Sasha dengan senyum ceria


Sasha dan Ayah pun melanjutkan pekerjaan mereka dan melanjutkan untuk membuat tempat bertengger untuk Oly.


***


“Nah, sudah jadi, burung hantu milik mu pasti nyaman bertengger disini” kata Ayah sambil mengelap dahinya yang berkeringat


“Waahhh, bagus sekali Ayah, aku bawa ke kamar ku ya Ayah” kata Sasha dengan wajah yang ceria dan penuh senyum


Sasha pun membawa tempat bertengger itu ke kamarnya.


“Oly pasti senang bertengger disini” ungkap Sasha yang memegang tempat bertengger yang kokoh dan tepat pijakannya di balut dengan kain halus


“Olyyyyy, lihat apa yang aku bawa” kata Sasha sambil membuka pintu kamarnya


Ia meletakkan tempat bertengger itu di samping jendela. Oly yang sudah bertengger di jendela pun langsung terbang dan bertengger di tempat yang Sasha bawa


“Apa kamu senang Oly, ini buatan ku dan ayah” kata Sasha


“Ohh ya, di mana Guin, kok tidak ada” ucap Sasha sambil melihat ke sekeliling kamarnya


“Hay Sasha” terdengar suara Guin


“Kamu di mana Guin” kata Sasha sambil mencari


“Aku di sini” kembali terdengar suara Guin


Guin pun muncul dari arah pintu kamar


“Kau dari mana Guin” Tanya Sasha


“Aku tidak kemana-kemana, biasanya kalau siang begini aku pergi ke ruang bawah tanah” jawab Guin


“Sedang apa kamu di sana, apakah roh memang takut dengan sinar matahari ya, tapi Oly tetap bertengger di jendela saat siang hari” ungkap Sasha


“Tidak semuanya begitu, aku dan Oly adalah roh yang spesial, kami tidak akan kenapa-kenapa kalaupun terkena sinar matahari. Aku hanya merasa senang di ruang bawah tanah, karena memang sejak dulu aku ada di sana” ungkap Guin


Ruang bawah tanah di rumah Nenek Sasha memang sudah ada sebelum rumah Nenek di bangun.

__ADS_1


Sebelumnya gudang penyimpanan adalah sebuah kamar sejak nenek menemukan sebuah ruangan di bawah lantai, Nenek memutuskan untuk menjadikan ruangan itu menjadi gudang.


Ruang bawah tanah itu adalah sisa-sisa jaman perang dahulu yang di gunakan untuk bersembunyi dari tentara musuh.


Karena menurut Nenek Sasha tempat itu aman, maka Nenek memutuskan untuk menggunakan tempat itu sebagai penyimpanan barang-barang penting, termasuk buku yang Sasha temukan.


Begitulah keterangan Guin tentang ruang bawah tanah yang ada di bawah lantai gudang.


“Ahh, aku lelah sekali, aku tidur dulu ya Guin” kata Sasha sambil berjalan menuju tempat tidur


Sasha pun tidur cukup lama. Beberapa kali Ibu memanggil namun Sasha tidak bangun.


Waktu sudah menunjukkan jam 15:00, Guin kembali ke kamar Sasha untuk melihat apakan Sasha sudah bangun atau belum.


“Ya ampun, kasihan sekali Sasha, pasti dia kelelahan. Tapi ini sudah sore, dia juga belum makan sejak bertemu aku siang tadi” kata Guin yang melihat Sasha tertidur lelap


“Mungkin aku bangunkan saja ya” pikir Guin


“Sasha, bangun ini sudah sore” kata Guin dengan menyentuh kaki Sasha


“Ada apa Guin” jawab Sasha dengan kondisi yang masih setengah sadar


“Ayo kita baca lagi bukunya, apa kamu tidak ingin teka-teki ini cepat selesai” Tanya Guin yang masih menggoyang-goyang kaki Sasha


Akhirnya Sasha pun bangun dari tidurnya.


Dengan kondisi yang masih setengah sadar, Sasha menuju lantai bawah untuk cuci muka.


“Kemana Ayah dan Ibu, apa mereka tidur, biasanya jam segini mereka nonton TV” ucap Sasha dalam hati


Setelah Sasha selesai membasuh mukanya, Ia membuat secangkir susu hangat dan kembali ke kamarnya.


“Sudah segar tuan putri” ledek Guin sambil tersenyum


“Tentu saja sudah, ayo kita baca halaman berikutnya” ajak Sasha dengan senyum manisnya


Mereka pun mulai membaca halaman buku yang bukan tulisan Nenek Sasha seperti sebelumnya.


Ini adalah awal petualangan Sasha yang sebenarnya.


Dengan keyakinan yang kuat Sasha percaya kalau Ia bisa menyelesaikan Teka-teki yang tertulis di dalam buku peninggalan keluarganya.


Sasha pun membuka halaman dari buku tersebut.


“Apa isi tulisan di halaman itu Sasha” Tanya Guin


Sasha pun membacakannya


-Lihatlah diri mudi malam hari, dibawah kepakan sayap burung yang membentang. Dan saat cahaya merah menyinari wajahmu, masuklah kedalamnya. Saat itulah kamu mengetahui rahasia besar-


“Apakan Kakek buyut ku dulu adalah seorang sastrawan, Ia membuat kalimat yang sulit untuk di pahami” ucap Sasha sambil memperhatikan tulisan itu


“Apa kamu memahaminya Guin” Tanya Sasha kepada Guin


“Aku juga tidak paham maksudnya apa” jawab Guin


“Apa burung yang di maksud ini Oly” pikir Sasha sambil memandangi Oly


“Sepertinya bukan, Oly sejak dulu sudah bersama-sama dengan ku, dan kami sebelumnya tidak ada hubungan sama sekali dengan keluarga Linch sampai kami bertemu Nenek” jelas Guin kepada Sasha


“Lalu burung yang di maksud ini burung yang mana”


“Ahhh, sepertinya umurku belum siap menghadapi tantangan ini” ucap Sasha sambil meletakkan dahinya ke atas buku


Sasha pun bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke sana kemari dengan waktu yang cukup lama.


Guin dan Oly hanya memperhatikan gerak-gerik Sasha karena mereka pun bingung akan maksud dari tulisan itu.


“Sasha, apa kamu tidak pusing berjalan ke sana kemari seperti itu” Tanya Guin


“Aku benar-benar penasaran dengan tulisan itu” jawab Sasha


“Lihat dirimu di malam hari, apa maksudnya bayangan ku” bergumam Sasha


“Sasha, coba baca kembali tulisan itu dengan pelan, mungkin saja kamu bisa mengerti walaupun sedikit” ucap Guin yang masih memperhatikan Sasha berjalan ke sana kemari


“Baiklah, akan ku baca lagi” kata Sasha dan berjalan ke meja belajarnya


Sasha kembali memahami maksud dari tulisan itu. Dan ternyata, setelah Sasha membaca dengan lambat, masih ada tulisan yang belum terbaca oleh Sasha.


“Guin, sepertinya masih ada tulisan yang belum aku baca” ucap Sasha


-Jangan batasi pikiran mu,seperti burung yang terperangkap dalam sangkar. Biarkan pikiran mu bebas-


“Astagaaaaaa… kenapa sambungan kalimatnya membuat aku makin bingung” ucap Sasha sambil memegang kepalanya


“Jangan patah semangat Sasha, buku ini sudah memilihmu, jadi tidak mungkin kamu tidak sanggup memecahkannya’ kata Guin memberi semangat Sasha


“Lihat dirimu di malam hari… jika aku ingin melihat diriku hanya bisa lewat kamera handphon selain itu juga aku bisa lihat di cermin” ucap Sasha sambil beranjak dan menghadap cermin di kamarnya


“Tunggu sebentar, sepertinya aku menemukan petunjuk” kata Sasha dengan penuh semangat


“Kalau yang di maksud melihat diriku adalah dengan bercermin, apa mungkin kepakan sayap burung itu adalah patung burung yang ada di atas cermin yang ku pindahkan bersama ibu” pikir Sasha dengan wajah berseri dan penuh harapan kalau dugaannya ini benar

__ADS_1


“Menurutmu bagai mana Guin” Tanya Sasha


“Itu bisa saja benar, karena dari tulisan yang terakhir kamu baca, kita harus membebaskan pikiran kita, artinya kita harus berfikir hal yang mungkin saja tidak akan kita pikirkan” jawab Guin dengan wajah tersenyum


“Cermin itu ada di samping tangga, jika aku mencobanya di bawah dan Ayah Ibu melihatku, aku takut mereka bertanya-tanya apa yang sedang aku lakukan” pikir Sasha


“Bagaimana kalau kamu minta tolong Ayah untuk memindahkan cermin itu ke kamar mu” kata Guin memberi masukan


“Ide bagus, ini sudah mau petang, Ayah pasti ada di rumah” ucap Sasha bersemangat


Sasha pun turun ke lantai bawah dan meminta bantuan Ayah untuk mengangkat cermin itu ke kamar Sasha


Saat tiba di bawah, terlihat Ayah dan Ibu sedang menonton TV.


Sasha memperhatikan cermin yang sebelumnya tidak pernah menyita perhatian Sasha.


“Ada apa Sasha” Tanya Ayah yang melihat Sasha memandangi cermin


“Ayah, cermin ini bagus, dimana Nenek membelinya” Tanya Sasha


“Cermin itu sudah ada sejak Kakek moyang mu masih hidup. Mungkin sudah ratusan tahun yang lalu” jawab Ayah


“Sudah ratusan tahun lalu, tapi kenapa masih bagus seperti ini, kayunya pun tidak di makan rayap” ungkap Sasha


“Ayah juga tidak paham dengan hal itu, menurut Nenek mu, cermin ini adalah satu-satunya


peninggalan yang tersisa dari Kakek moyangnya” jelas ayah kepada Sasha


Setelah Ayah menjelaskan tentang cermin itu, Sasha meminta bantuan Ayah dan Ibu memindahkan cermin tersebut ke kamar Sasha.


Cermin ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar. Hanya setinggi dua meter dan lebarnya hanya satu meter, namun kayu yang di gunakan untuk menaruh cermin ini lumayan tebal dan kokoh, kayu ini lah yang membuat bobot cermin terasa berat.


Akhirnya mereka bertiga mengangkat cermin itu naik ke kamar Sasha. Sasha dan Ibu memegang bagian atas cermin sedangkan Ayah memegang bagian bawah.


“Huhhh… akhirnya sampai juga kamar Sasha, tapi aneh sekali, berat cermin ini seperti berkurang, padahal hanya kita bertiga yang menggotong. Sedangkan waktu itu Ayah, paman Mic, dan dua orang teman Ayah benar-benar merasa cermin ini begitu berat saat di angkat” ungkap Ayah dengan wajah lelah bercampur heran


“Itu Cuma perasaan Ayah saja, waktu Ibu mengangkat cermin ini bersama Sasha juga tidak terlalu berat” kata Ibu meledek Ayah


Ayah dan Ibu meninggalkan kamar Sasha.


***


“Tentu saja terasa ringan, aku juga kan ikut membantu” kata Guin kepada Sasha


“Terimakasih Guin” ucap Sasha


Setelah memindahkan cermin ke kamar Sasha, Sasha dan Guin menunggu malam tiba.


Waktu sudah menunjukkan jam 18:30, hari sudah mulai gelap namun belum waktunya untuk mencoba apa yang Sasha pikirkan tentang cermin yang baru saja di pindahkan.


“Guin, kali ini aku yakin dengan pendapat ku” ucap Sasha yang sedang membaca buku


“Pendapat apa” Tanya Guin


“Cahaya merah yang di maksud pasti yang berasal dari batu ruby. Karena saat aku menemukannya di gua, batu ini bisa memantulkan cahaya berwarna merah” ungkap Sasha sambil memegang batu ruby


“Kita coba saja nanti” kata Guin yang tersenyum


***


Cukup lama mereka menunggu waktu malam tiba, akhirnya tepat pada jam 22:00 Sasha, Guin, dan Oly mencoba apa yang sudah mereka pikirkan.


“Ayo Sasha, kita coba” ajak Guin


“Baiklah, aku akan coba bercermin dulu” kata Sasha yang sudah menghadap cermin


“Aku sudah lihat diri ku di malam hari. Patung burung di atas cermin adalah yang mewakili burung yang mengepakkan sayapnya. Kemudian cahaya merah” ucap Sasha dengan mempraktikan setiap langkah yang tertulis di buku


“Guin, kenapa tidak terjadi apa-apa, batu ruby ini sudah aku taruh di atas cahaya senter. Tapi tidak ada yang terjadi” ucap Sasha yang kembali merasa bingung


“Iya, aneh sekali, padahal seisi ruangan ini sudah terpancar cahaya merah, lalu apa yang salah” pikir Guin sambil memperhatikan Sasha


Saat mereka kebingungan, tiba-tiba Oly terbang dan mengambil batu ruby yang ada di tangan Sasha.


“Ada apa Oly” kata Sasha yang kaget


Oly membawa batu itu terbang ke atas cermin, dan meletakkan batu ruby itu tepat di atas kepala patung burung hantu.


Saat Oly meletakkan batu ruby, hal aneh mulai terjadi pada cermin.


Dari pinggir cermin mengeluarkan cahaya merah yang perlahan mulai menutupi cermin.


“Apa yang terjadi, kenapa cerminya bisa seperti ini” ucap Sasha yang melangkah mundur dengan wajah panik karena hal aneh yang terjadi


Kini seluruh permukaan cermin sudah tertutup oleh cahaya merah.


“Sasha, coba kamu sentuh cahaya merah itu, mungkin saja itu petunjuk selanjutnya, aku akan memegangi mu” ucap Guin yang berada tepat di belakang Sasha


Dengan perasaan takut dan cemas, Sasha memberanikan diri untuk menyentuh cahaya merah yang sudah menutupi cermin.


Dan tidak di sangka, tangan Sasha ternyata bisa menembus cahaya itu.


“Guiiiiiiinnnnn… Tarik aku, aku terhisap oleh cahaya ini” teriak Sasha yang merasa tubuhnya tertarik ke dalam cermin

__ADS_1


Guin tidak mampu menarik Sasha, akhirnya mereka masuk kedalam cermin termasuk Oly.


Saat Sasha sadar bahwa dirinya juga Guin dan Oly masuk ke dalam cermin, di situlah mulai terjadi keganjilan dalam hidup Sasha.


__ADS_2