Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 12 _ Sebuah Pencapaian


__ADS_3

Saat melihat cahya dari dasar air, Sasha yakin kalau itu adalah cahaya dari lentera keberanian tingkat air. Sasha menambah kecepatan berenangnya menuju cahaya itu. tidak disangka, tekanan air yang tiba-tiba menjadi sangat kuat membuat Sasha kesusahan untuk menggapai cahaya yang Ia lihat.


“Tekanan ini sangat kuat, tidak ada siapa pun bersama ku saat ini, aku harus berusaha sendiri melewati ujian ini” kata Sasha yang sekuat tenaga menerobos tekanan di dalam air.


Sasha hampir mencapai puncak ketahanan dirinya, tiba-tiba muncul serangan misterius yang hampir menghantam Sasha.


“Siapa yang menyerang ku, sangat tidak menguntungkan kalau aku bertemu monster di bawah air” kata Sasha dalam hati.


Ternyata hal yang di takuti Sasha benar terjadi. Dari arah cahaya muncul monster seperti ikan hiu yang berenang dengan cepat.


Monster ini menyerang Sasha dengan gigitannya.


“Benar-benar buruk, aku hanya bisa menghindar, ikan besar ini sangat cepat” kata Sasha sambil menghindari serangan


Ikan besar itu masih saja menyerang Sasha tanpa henti, sedangkan Sasha sudah kelelahan karena menghindari gigitan ikan besar itu.


“Aku tidak tahu apakah bisa melawan atau tidak” kata Sasha terpojok.


“Sepertinya harus di coba” kata Sasha sambil mencabut pedangnya.


Sasha masih menghindari serangan ikan besar itu walaupun sudah memegang pedang. Sasha tidak pandai memainkan pedang itulah yang membuat Sasha tidak bisa menyerang.


Saat masih menghindari serangan demi serangan, Sasha teringat kalau pedangnya sudah bercampur dengan api abadi.


“Apakah kekuatan api abadi masih ada di dalam pedang ku, bagaimana memanggil kekuatan itu” pikir Sasha.


“Fokus lah pada kekuatan yang ada pada pedang mu, itu akan membantu mu mengalahkan monster itu”


Terdengar suara misterius yang menuntun Sasha membangkitkan kekuatannya.


“Suara siapa itu, apa benar yang baru saja aku dengar” pikir Sasha.


Sasha pun memfokuskan pikirannya kepada pedang yang Ia pegang dan seketika pada pedang Sasha muncul kobaran api.


“Berhasil, aku akan coba membalas serangan ikan besar ini” kata Sasha sambil bersiap melakukan serangan balik.


Sasha menunggu ikan besar itu melakukan serangannya, dengan percaya diri Sasha mengayunkan pedangnya saat ikan itu mendekati Sasha.


“Ini saatnya”


“Hiyaaaaaa”


Sasha menebas ikan besar itu yang menyerang dari arah bawah, dan berhasil membelah tubuh ikan besar itu menjadi dua bagian.


Setelah ikan itu di kalahkan, tubuh ikan besar yang terbelah dua itu melebur dan menjadi sebuah batu Kristal ungu. Sasha mengambil Kristal ungu itu. Dan sangat mengejutkan, tubuh Sasha menjadi lebih leluasa dalam bergerak.


“Ada apa dengan kristal ungu ini, tubuh ku menjadi ringan” kata Sasha sambil mencoba berenang kesana-kemari.


“Entah efek dari Kristal ungu ini bertahan lama atau tidak, sepertinya aku harus bergegas mengambil lentera keberanian tingkat air ini.


Sasha melesat dengan cepat untuk mengambil lentera itu.


Dan akhirnya Sasha sampai di tempat lentera itu berada. Terlihat lentera itu terlilit beberapa tanaman laut yang bertumpu pada sebongkah batu karang.


Mengingat Sasha sudah terlalu lama berada di dalam air, Sasha langsung menebas tanaman laut itu dan bergegas kembali ke daratan.


***


Akhirnya Sasha kembali ke daratan.


“Apa kamu baik-baik saja Sasha, cukup lama mau berada dalam air” kata Zen khawatir.


“Aku tidak apa-apa Paman” jawab Sasha.


“Sebaiknya kita kembali ke perkampungan suku dalam, biarkan tuan putri beristirahat” kata kepala suku.


Mereka kembali ke tempat suku pedalaman berada.


Setelah Sasha berganti pakaian, Sasha menceritakan kejadian yang Ia alami di bawah air.


“Tidak di ragukan lagi, memang pantas menjadi seorang tuan putri” gumam kepala suku


“Aku akan mengembalikan Kristal air ini” kata Sasha sambil memberikan Kristal air.


“Dan satu lagi, aku mendapatkan Kristal ungu ini saat mengalahkan ikan besar, sepertinya kapala suku akan membutuhkan ini” kata Sasha sambil memberikan Kristal ungu kepada kepala suku.


“Terimakasih banyak tuan putri, kami memang sudah lama mencari batu dewa ungu ini, tidak di sangka, setelah tuan putri berjuang keras baru berharga ini di berikan kepada kami” kata kepala suku.


“Tidak masalah, tujuanku adalah lentera ini” kata Sasha sambil menunjukkan lentera berwarna biru muda yang sangat berkilau.


Tidak terasa hari sudah mulai gelap, setelah mereka selesai berbincang-bincang, Sasha dan Zen pergi beristirahat kembali. Sasha berencana esok pagi melanjutkan untuk mencari lentera keberanian tingkat bumi.


***


Keesokan harinya.


Terlihat Sasha dan Zen merapikan perbekalan mereka yang di bantu beberapa anggota suku pedalaman.

__ADS_1


“Apakah sudah mau pergi tuan putri” kata kepala suku yang menghampiri Sasha.


“Waktu kami sudah tidak banyak lagi, sepertinya kami memang harus bergegas” jawab Sasha.


“Kalau boleh aku tahu, kemana tujuan kalian selanjutnya” tanya kepala suku.


“Sebuah gunung api yang menyemburkan lahar panasnya tanpa henti” jawab Zen


“Apa yang anda maksud adalah anak neraka” tanya kepala suku.


“Iya, aku kira kepala suku tidak paham dengan nama tempat itu, maafkan aku yang sudah meremehkan pengetahuan anda” ucap Zen sambil memberi hormat.


“Jangan sungkan, kami tahu dimana tempat itu berada, butuh beberapa hari hingga sampai ke sana. Sebagai tanda terimakasih kami, suku pedalaman akan mengutus beberapa prajurit untuk mengantar sampai ke tujuan” kata kepala suku.


“Apakah tidak merepotkan” tanya Sasha.


“Sama sekali tidak tuan putri, mohon terima tanda terimakasih kami” kata kepala suku sambil memberi hormat.


“Baiklah kalau begitu, akan kami terima niat baik kepala suku” kata Sasha memberi hormat kembali.


Setelah semuanya siap, Sasha dan Zen juga beberapa pasukan suku pedalaman berangkat menuju gunung api yang di sebut anak neraka oleh kepala suku.


Seperti kata kepala suku pedalaman, letak gunung ini memang sangat jauh, butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai ke tujuan.


***


Sudah berhari-hari mereka melakukan perjalanan, sudah banyak sungai dan hutan yang mereka lewati, namun masih belum terlihat gunung yang di maksud.


Saat dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah bangunan besar yang terbuat dari susunan batu-batu besar.


Bangunan ini memiliki anak tangga dengan jumlah ratusan yang menuju atas bangunan. Sasha tidak bisa melihat ada apa di puncak bangunan ini. Karena penasaran, Sasha dan Zen memutuskan untuk naik ke puncak bangunan yang ada di hadapan mereka.


“Kalian tunggu di sini saja, aku dan Paman Zen akan naik” kata Sasha berbicara pada para prajurit suku pedalaman.


“Baik tuan putri, kami akan menunggu disini” kata salah satu prajurit.


Sasha dan Zen mulai menaiki anak tangga dengan kecepatan yang tidak biasa.


“Paman, aku masih berpikir kenapa mereka memanggil ku tuan putri, sebenarnya siapa aku di mata mereka” tanya Sasha sambil melompat menaiki anak tangga.


“Bukankah aku sudah pernah bilang, kamu akan tahu setelah mengetahui rahasia keluarga Linch” jawab Zen


“Bagaimana aku bisa tahu, Paman saja masih belum cerita” kata Sasha dalam hati.


“Sudah sampai” kata Zen.


Saat tiba di puncak bangunan, Sasha melihat sebuah altar yang begitu mewah, dengan ornamen yang cantik, lengkap dengan tempat lilin juga barang lainnya yang terbuat dari emas.


“Sebenarnya ini tempat apa Paman” tanya Sasha.


“Sepertinya tempat persembahan, tapi aku juga tidak yakin” jawab Zen yang memperhatikan sekeliling.


Sasha berjalan melihat benda-benda yang ada di altar itu dan tertarik dengan satu benda yang ada di atas meja altar.


“Ada peti kecil disini” kata Sasha dalam hati


“Ahh… terbuka” ucap Sasha setelah menyentuh dan tidak sengaja membuka peti kecil itu.


“Ada apa Sasha” tanya Zen


“Ada sesuatu di dalam peti ini paman” kata Sasha


“Hati-hati, kita tidak tahu ini sebenarnya tempat apa” kata Zen memperingati Sasha


“Ambil batu itu, aku memberikannya kepada mu, jaga dan gunakan dengan bijak”


Terdengar kembali suara misterius saat Sasha memperhatikan sebuah batu berwarna kuning yang menyala di dalam peti kecil.


“Siapa di sana” teriak Sasha.


“Kita akan bertemu jika sudah saatnya” jawab suara misterius itu.


Sasha mengambil batu itu dari peti yang terbuka, aura yang timbul terasa familiar saat batu itu Sasha pegang.


“Batu apa ini paman, seperti batu ruby, aku kira batu ruby hanya berwarna merah” tanya Sasha.


“Sepertinya itu batu kekuatan” jawab Zen.


“Jelaskan lebih rinci Paman, aku tidak paham” kata Sasha dengan wajah bingung.


“Ahh… kenapa aku baru terpikir sekarang. Sasha, coba satukan batu hijau ini dengan batu kuning yang kamu pegang” kata Zen sambil memberikan batu hijau yang sebelumnya di dapat saat mengalahkan ular piton besar bertanduk.


Sasha menerima batu hijau yang di berikan Zen dan menyatukan dengan batu yang barusan Ia dapat.


Saat batu hijau dan kuning itu di dekatkan, Sasha merasa seperti ada kekuatan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.


“Paman, bagai mana selanjutnya” tanya Sasha panik.

__ADS_1


“Cabut pedang mu dan masukan energi itu ke dalam pedang” kata Zen.


Sasha menuruti arahan Zen. Setelah energi yang timbul dari kedua batu itu terserap kedalam pedang Sasha, ke dua batu itu pun menghilang. Sasha merasakan pedangnya terisi kekuatan yang lebih kuat di bandingkan saat melawan monster ikan di dasar air sebelumnya.


“Kekuatan apa ini, sangat jelas perbedaannya di bandingkan saat belum memasukan energi dari ke dua batu tadi” kata Sasha dalam hati.


Setelah Sasha mendapat kekuatan untuk pedangnya, Sasha dan Zen memutuskan untuk turun menemui prajurit yang sedang menunggu mereka. Namun saat hendak turun Zen baru menyadari kalau di balik atlar ini terlihat gunung yang menjadi tujuan mereka. Zen melihat kalau gunung itu sudah tidak jauh lagi dari lokasinya saat ini.


“Sasha lihat, ternyata kita sudah mau sampai” kata Zen menunjuk gunung api anak neraka.


“Sepertinya kita harus bergegas Paman” ucap Sasha.


Mereka pun turun dengan cepat menuju kuda mereka yang ada di bawah tangga.


“Ayo kita berangkat” kata Sasha yang langsung menaiki kudanya begitu sampai bawah.


“Bersemangat sekali saudari ku ini” kata Guin meledek.


“Kita hampir sampai Guin, jangan berlama-lama lagi” kata Sasha dengan wajah serius.


“Hehehe… Gunung itu memang terlihat dekat, tapi sebenarnya kita masih butuh empat sampai lima hari lagi untuk sampai ke sana” jawab Guin yang masih meledek Sasha.


“Benarkah kata-kata mu itu Guin”


“Yahhh… aku kira Cuma butuh beberapa jam lagi kita sudah sampai” kata Sasha mengeluh.


***


Sudah dua hari perjalanan sejak Sasha mendapat kekuatan untuk pedangnya.


Sasha masih melakukan perjalanan untuk mendapatkan lentera keberanian tingkat bumi. Di tengah perjalanan kembali Sasha menjumpai sebuah bangunan. Kali ini tidak sebesar yang sebelumnya. Tempat ini lebih mirip tempat bermeditasi. Karena penasaran, Sasha memberanikan diri untuk memeriksa sekeliling tempat itu.


Tidak ada apa pun di tempat itu, hanya ada empat tiang penyangga, atap dari genting tua, dan lantai yang terbuat dari marmer.


“Tidak ada apa pun disini, tapi kenapa aku seperti sangat tertarik dengan tempat ini, ada apa sebenarnya” kata Sasha dalam hati.


Kembali terdengar suara misterius saat Sasha menginjak lantai bangunan.


“Aku yakin kamu pasti datang gadis kecil” kata suara itu.


“Sebenarnya siapa kamu” tanya Sasha sambil melihat kanan dan kiri.


“Aku adalah master Wu” kata master Wu yang muncul tiba-tiba di depan Sasha.


Sasha sangat terkejut dan hampir mencabut pedangnya.


“Apakah aku sebelumnya pernah mengenal Master” tanya Sasha dengan wajah yang masih panik.


“Tentu saja belum, tapi aku sudah lama memperhatikan mu” jawab Master.


“Lalu apa yang bisa aku bantu” tanya Sasha.


“Tidak ada, tapi sebaliknya, aku yang akan membantu mu” jawab Master.


“Aku baru ingat, aku belum berterimakasih atas batu yang Master berikan untuk ku” kata Sasha sambil memberi hormat.


“Tidak masalah, itu hanya batu kecil. Kali ini aku akan mengajarkan mu beberapa teknik pedang” kata Master Wu.


Setelah Sasha menyanggupi untuk menerima teknik pedang dari Master Wu, Sasha di berikan sebuah buku dan di minta bermeditasi untuk mempelajari teknik pedang itu.


Karena Sasha pergi terlalu lama, Zen khawatir dan menyusul Sasha. Terlihat Sasha yang sedang bermeditasi, Zen tidak berniat untuk mengganggu Sasha, Ia hanya menunggu Sasha sampai meditasinya selesai.


1 jam, 2 jam, 5 jam, bahkan sudah 10 jam Zen menunggu Sasha namun masih belum selesai juga. Setelah satu hari bermeditasi akhirnya Sasha sadar.


“Paman Zen” teriak Sasha.


“Apa kamu sudah selesai Sasha” tanya Zen.


“Sudah Paman, akan aku coba teknik pedang ku yang pertama” kata Sasha sambil mencabut pedangnya.


“PEDANG CAHAYA” teriak Sasha sambil mengayunkan pedangnya ke batu besar di samping tempat meditasi.


Saat terkena serangan Sasha, batu itu langsung hancur berkeping-keping.


“Luar biasa, dari mana kamu dapat teknik itu Sasha” tanya Zen.


“Aku mendapatkannya dari seorang Master yang sebelumnya pernah memberikan batu kuning kepada ku” jawab Sasha.


“Oh ya. Siapa nama Master itu” tanya Zen.


“Master Wu, apa Paman mengenalnya” kata Sasha.


“Sepertinya tidak, tapi sepertinya dia adalah seorang Master yang hebat, aku berharap bisa bertemu dia jika ada kesempatan” ucap Zen.


Setelah mendengar penjelasan Sasha, perjalanan mereka pun di lanjutkan. Gunung api anak neraka sudah sangat terlihat. Zen memprediksi kalau tidak sampai satu hari mereka sudah sampai di tujuan.


Sasha yang kini memiliki pedang yang kuat dan juga teknik pedang yang hebat semakin percaya diri jika ada bahaya yang menghadang mereka di perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2