Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 11 _ Kekuatan Suci


__ADS_3

Sepertinya tidak ada pilihan lain untuk Sasha selain masuk ke dalam air terjun di dalam Gua ini.


Sasha mencabut pedang yang ada di pinggangnya dan mencoba untuk menerjang derasnya air yang jatuh ke bawah. Beberapa kali Sasha tidak berhasil masuk ke bagian belakang air terjun karena air terjun ini memiliki tekanan air yang benar-benar sulit untuk di lewati.


Sasha teringat dengan teknik meringankan tubuh yang sebelumnya di ajarkan oleh Zen pada saat menaiki gunung tempat lentera siang berada.


Teknik meringankan tubuh yang di ajarkan Zen dapat mempercepat gerakan Sasha saat melompat, Sasha pun mencoba untuk menggunakan teknik itu untuk menembus air terjun.


“Tidak ada salahnya mencoba” kata Sasha yang bersiap untuk melompat.


Saat Sasha mencobanya, ternyata Sasha masih gagal untuk menembusnya.


“Ahh… masih tidak bisa, lalu bagaimana cara mengetahui sesuatu di balik air terjun ini” kata Sasha yang terduduk di aliran air.


“Guin, kau yakin ada ruangan di balik air terjun itu, kenapa sulit sekali menerjang air terjun itu” tanya Sasha.


“Aku sangat yakin Sasha, ada selain ada ruangan itu, aku juga merasakan aura yang tidak biasa dari dalam Gua” jawab Guin.


“Apa itu aura dari api abadi, sepertinya memang harus memaksa masuk” kata Sasha yang siap untuk melompat kearah air terjun


“TUNGGU SASHA, coba perhatikan pola air terjun itu mengalir, seperti ada jeda pada saat air terjun itu mengalir ke bawah” kata Guin menjelaskan yang Ia lihat.


Air terjun ini memang memiliki jeda tekanan pada saat mengalir ke bawah, tekanan air akan melemah pada beberapa saat dan kembali kuat dengan waktu yang lebih lama.


Sasha mencoba memperhatikan kapan pola tekanan air itu melemah. Sasha yakin, jika waktunya pas, Sasha bisa memanfaatkan tekanan yang rendah itu untuk bisa masuk menembus air terjun.


“Sekarang saatnya” kata Sasha dengan cepat melompat ke arah air terjun.


“Berhasil, aku bisa menembus air terjun ini.


Di balik air terjun itu Sasha menemukan ruangan seperti Gua namun tidak begitu dalam, hanya sekitar 20 meter dari air terjun yang berada di luar.


Di ujung gua kecil Sasha melihat api yang menyala, Sasha menghampiri api itu.


“Apakah ini api abadi” pikir Sasha sambil memandangi api di depannya.


“Lalu di mana lentera keberanian tingkat apinya” kata Sasha sambil melihat ke sekeliling Gua.


“Sasha, lihat api itu” kata Guin.


Api abadi yang ada di depan Sasha membentuk sebuah benda tepat di atas kobaran api.


“Apa itu lentera keberanian tingkat api” kata Sasha melihat benda itu yang hampir terbentuk sempurna.


“Ambil lentera itu Sasha” kata Guin saat lentera di atas kobaran api itu sudah sempurna terbentuk.


Sasha memberanikan diri untuk mengambil lentera di atas kobaran api abadi itu.


“Aneh sekali, api ini tidak terasa panas” kata Sasha yang sedang meraih lentera.


Api abadi adalah sebuah api suci yang jarang di jumpai pada lapisan dunia ini. Api abadi berasal dari langit yang memiliki sifat dingin pada orang yang baik dan sebaliknya, akan menjadi sangat panas pada saat kejahatan muncul di depan api abadi ini.


“Akhirnya aku sudah mendapatkan lentera keberanian tingkat api” kata Sasha tersenyum.


“Ada hal lain yang harus kita pikirkan Sasha, tempat kita masuk kini tertutup batu besar” kata Guin melihat ke belakang.


“Astaga… apa lagi ini, bagaimana cara ku menghancurkan batu ini” kata Sasha sambil berjalan ke arah batu besar.


Sasha mencoba menghancurkan batu besar itu menggunakan pedang, dan sudah jelas itu tidak berguna. Sasha juga mencoba untuk meminta bantuan Zen dengan berbicara secara batin. Karena ini adalah misi Sasha, mencoba berkomunikasi dengan Zen adalah sia-sia.


Cukup lama Sasha terdiam memikirkan cara untuk menghancurkan baru besar itu, dinding Gua pun Sasha periksa jika ada sesuatu yang tersembunyi untuk membantu Sasha keluar. Namun Sasha tetap tidak menemukan apa pun.


“Sasha, apa kita bisa menggunakan api abadi ini” kata Guin.


Sasha memikirkan perkataan Guin tentang menggunakan api abadi untuk membantu mereka keluar.


“Aku punya ide” kata Sasha berjalan menuju api abadi.


“Api abadi adalah jenis api suci, seharusnya api suci bisa membakar sebuah gunung, siapa yang tau, akan aku coba cara ini” kata Sasha mencabut pedangnya


Sasha berniat untuk menyerap panas api abadi ke dalam pedangnya.


“Hiyaaa…” teriak Sasha sambil mengayunkan pedangnya ke arah batu besar.


Batu itu hancur berkeping-keping dan hasil tebasan Sasha itu membuat air terjun di depan Gua terbelah.


“Berhasil, ayo kita keluar Guin, sebelum air terjun ini kembali tertutup” kata Sasha sambil berlari meninggalkan Gua.


Setelah berhasil keluar, Sasha meninggalkan lokasi itu untuk bertemu dengan Zen di luar Gua.

__ADS_1


Sasha menuju luar Gua dengan membawa lentera keberanian tingkat api, lentera ini sedikit berbeda, pada bagian dalam lentera terdapat kobaran api kecil, namun sama sekali tidak panas saat Sasha memegangnya.


“Paman Zen” teriak Sasha yang melihat Zen bersandar di pohon besar.


“Sasha, apa kamu berhasil melewati tekanan yang ada di dalam Gua, itu tekanan yang sangat luar biasa, aku tidak sanggup melewati itu dan akhirnya menyerah” kata Zen


“Iya paman, sebenarnya aku hanya beruntung saja, aku juga berhasil mendapatkan lentera tingkat api” kata Sasha sambil menunjukkan lentera yang Ia dapat


“Kau memang mewarisi darah keluarga Linch” kata Zen


“Setelah ini kita harus kemana Paman” tanya Sasha


“Jangan terburu-buru, sebaiknya kamu istirahat dulu di sini, besok pagi kita akan menuju ke tempat lentera keberanian tingkat air berada. Tempat ini sangat jauh, butuh tiga hari perjalanan untuk mencapai tempat itu” jelas Zen


“Tiga hari, apakah sejauh itu” pikir Sasha


Setelah Zen menjelaskan tentang keberadaan lentera keberanian tingkat air, mereka pun beristirahat sampai esok pagi.


***


Pagi sudah tiba, Sasha dan Zen merapikan perbekalan mereka dan mematikan api unggun yang mereka hidupkan semalam.


Setelah semuanya sudah siap, mereka pun meneruskan perjalanan untuk menemukan lentera selanjutnya.


“Aku sudah siap Paman, ayo kita berangkat” kata Sasha yang sudah menaiki kudanya.


Lokasi yang akan mereka datangi kali ini adalah sebuah perbatasan antara laut dan juga sungai yang besar. Menurut informasi yang Zen dapat, lentera keberanian tingkat air berada di dasar air tempat bertemunya air asin dan air tawar.


Tidak mudah untuk mencapai dasar, Sasha harus memiliki sebuah Kristal air agar bisa bertahan saat menyelam ke dasar untuk mendapat lentera keberanian tingkat air.


Namun untuk mendapatkan Kristal air ini juga tidak mudah, benda ini adalah milik suku pedalaman yang mendiami sebuah hutan dekat lokasi lentera berada. Suku ini sangat berbahaya, seni racun yang dimiliki mereka terbilang sudah tingkat atas. Dan bagi mereka, Kristal air adalah jelmaan dewa yang harus mereka sembah.


***


Pada hari ke dua sejak mereka melakukan perjalanan, kini mereka memasuki sebuah kota mati yang di kelilingi tebing batu yang sangat tinggi. Kota ini cukup luas, lebih luas dari Gunma. Entah kenapa kota ini sampai tidak berpenghuni seperti sekarang ini.


“Paman, tempat apa ini, banyak bangunan tapi tidak ada seorang pun yang terlihat” tanya Sasha yang menuntun kudanya saat memasuki kota.


“Ini adalah kota mati, hanya sedikit informasi yang aku dapat sampai saat ini, menurut cerita, kota ini di serang oleh sebuah kelompok hitam dari negara barat, entah apa yang di cari para penjajah itu, mereka menghancurkan segalanya” jelas Zen.


“Pantas saja kota ini sangat hancur, hanya beberapa bangunan yang masih berdiri, itupun tidak utuh, sebagian tembok dan atapnya runtuh” kata Sasha yang melihat sekitar.


Saat itu hari sudah hampir malam, Zen menghentikan perjalanan mereka dan beristirahat di salah satu bangunan yang masih memiliki atap.


“Apa suku pedalaman yang Paman maksud adalah yang memegang Kristal air” tanya Sasha.


“Benar, kita harus berhati-hati dengan apapun di sekitar kita, suku pedalaman ini sangat terkenal dengan racunnya yang mematikan” jawab Zen.


“Menyeramkan sekali” kata Sasha dalam hati.


Usai Zen menjelaskan tentang bahaya yang akan mereka jumpai, mereka pun beristirahat.


***


“Apa ini sudah pagi” kata Sasha terbangun karena tersorot sinar matahari dari atap yang bocor.


Sasha kembali merapikan perbekalannya dan menaruhnya ke atas kuda, dan terlihat Zen yang juga merapikan perbekalannya.


Setelah siap mereka pun meninggalkan kota mati itu dan meneruskan perjalanan.


Mereka sudah melewati tebing batu besar yang mengelilingi kota mati, dan sedang menuju hutan tempat suku pedalaman berada.


“Setelah ini kita akan sampai di tempat suku pedalaman ini berada, perhatikan setiap langkah, jangan lengah, jika ada daun atau ranting yang mencurigakan, kamu bisa langsung memotongnya dengan pedang mu” kata Zen memperingati Sasha.


“Baik Paman, aku akan hati-hati” jawab Sasha.


Sebenarnya Zen sudah memiliki rencana yang akan dia pakai untuk bisa mendapatkan Kristal air dengan aman. Namun Zen tidak memberi tahu Sasha tentang rencananya karena Zen tidak yakin rencananya ini akan berhasil.


Saat melintasi hutan, Guin merasakan kehadiran seseorang.


“Berhenti” kata Guin.


“Ada apa Guin” kata Sasha yang kaget.


“Aku merasakan sekelompok orang menuju kesini” jelas Guin.


“Iya, aku juga merasakan hal yang sama” kata Zen melihat ke sekeliling.


“Apa itu suku pedalaman” tanya Sasha.

__ADS_1


“Hanya ada dua kemungkinan, kalau itu bukan suku pedalaman, maka itu adalah hewan buas” jawab Zen.


“Tidak, aku yakin ini suku pedalaman.. Dari depan, hati-hati, mereka datang” kata Guin yang panik.


“Kita jangan pergi, tunggu mereka datang” kata Zen.


Tidak lama, akhirnya suku pedalaman itu tiba di hadapan mereka. Karena takut terkena racun, Zen menyuruh Sasha untuk tidak melawan.


“Siapa kalian, memasuki wilayah kami tanpa izin” kata suku pedalaman.


“Kami hanyalah pengembara, apakan tuan-tuan bisa melepaskan kami” kata Zen.


“Melepaskan, kau bercanda, sebaiknya kalian ikut kami” kata suku pedalaman.


Mereka di bawa dan di masukkan penjara sebagai tawanan.


Suku pedalaman ini terbilang masih sangat primitif, dari bentuk perkampungannya yang masih menggunakan alang-alang sebagai atapnya serta pakaian mereka yang terbuat dari kulit binatang.


“Paman, bagaimana ini, sepertinya kita akan mati” kata Sasha sambil memegangi kayu penjara.


“Sepertinya tidak akan seperti itu, ini adalah salah satu dari rencana ku” kata Zen tersenyum.


Terlihat seseorang dengan pakaian dari kulit harimau mendekati Zen dan Sasha. Orang ini adalah kepala suku dari suku pedalaman.


“Apa tujuan kalian melintas di daerah kami” tanya kepala suku.


“Kami hanyalah pengembara yang ingin pergi ke perbatasan laut dan sungai” jawab Zen.


“Apa yang kalian cari” kembali bertanya kepala suku.


“Lentera keberanian tingkat air” Jawab Zen.


“Ha… ha… ha… lentera keberanian tingkat air, kalian hanya menyia-nyiakan nyawa kalian saja” kata kepala suku .


“Kepala suku, kami akan tetap ke sana walaupun taruhannya nyawa kami, karena ini adalah misi dari keluarga kami” kata Sasha dengan lantang.


“Keluarga, apa peduli ku tentang keluarga mu gadis kecil, memangnya apa kehebatan keluarga mu” kata kepala suku yang mengejek Sasha dan berbalik badan.


“Keluarga Linch tidak selemah yang kau pikir kepala suku” kata Sasha dengan nada keras.


“Keluarga Linch, jadi kau adalah keturunan dari orang tua itu” kata kepala suku yang kaget dan kembali berbalik menghadap Sasha.


“Maafkan sikap hamba yang tidak sopan tuan putri” kata kepala suku sambil berlutut kepada Sasha.


Melihat sikap kepala suku Sasha menjadi heran dan terdiam tanpa kata.


Kepala suku memerintahkan bawahannya untuk membuka penjara yang mengurung Sasha dan Zen.


“Sekali lagi maafkan hamba yang bodoh ini tuan putri” kata kepala suku yang masih berlutut


“Bangkitlah kepala suku, dan jelaskan apa sebenarnya yang terjadi” kata Sasha


Kepala suku pun menjelaskan kalau meraka memiliki perjanjian dengan petinggi keluarga Linch yang sebelumnya pernah mengalahkan kepala suku dalam sebuah pertarungan. Setelah suku pedalaman mengalami kekalahan, mereka berjanji akan mengabdi kepada keluarga Linch.


“Apakah tuan putri berniat untuk mengambil lentera keberanian tingkat air yang ada di dasar sungai itu” tanya kepala suku.


“Ya, aku memang berniat mengambil lentera itu” kata Sasha.


“Hamba akan membantu tuan putri, namun kami tidak bisa melakukan banyak hal, kami tidak memiliki kemampuan untuk menyelam sedalam itu” kata kepala suku.


“Kepala suku tidak perlu repot-repot, sebenarnya kami hanya membutuhkan sebuah benda untuk membantu kami menyelam” kata Sasha.


“Sebutkan tuan putri, kami akan berusaha mencari benda itu” ucap kepala suku.


“Kami membutuhkan Kristal air yang kalian punya, kami hanya meminjam, jika kami sudah mendapatkan lentera itu, kami akan mengembalikan Kristal air itu kembali” kata Zen.


“Apa yang kalian maksud adalah batu dewa milik kami” tanya kepala suku.


“Ya, itu adalah Kristal air yang kami maksud” jawab Zen.


“Kalau memang itu yang tuan putri butuhkan kami akan meminjamkan batu dewa kami” ucap kepala suku.


Kepala suku pun mengambil Kristal air yang berada di atas sebuah batu yang ada di altar tempat mereka berada saat ini. Setelah itu kepala suku mengutus beberapa prajuritnya untuk mengantar Sasha menuju tempat keberadaan lentera itu.


“Disinilah tempatnya Sasha, kau harus menyelam dengan membawa Kristal air itu” kata Zen sambil menunjuk air.


Nampak sebuah batas air yang terbentuk alami di depan Sasha, pertemuan antara air sungai dan air laut yang sangat jelas terlihat karena perbedaan warna airnya. Air sungai memiliki air yang agak keruh, sedangkan air laut berwarna hijau.


Sasha mulai berenang memasuki kedalaman yang sebelumnya Sasha juga tidak tahu sedalam apa. Saat menyelam Sasha melihat banyak hewan laut yang bermacam-macam, hewan laut ini juga ternyata berenang di air sungai yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


Sasha sudah cukup dalam untuk menemukan lentera yang Ia cari, setelah kurang lebih dua jam Sasha menyelam, akhirnya Sasha melihat sebuah cahaya dari dalam air.


“Apa itu cahaya dari lentera keberanian tingkat air” kata Sasha dalam hati.


__ADS_2