
Malam hari saat mereka sampai di rumah Zen.
“Huhh… Akhirnya sampai juga” kata Sasha sambil menghela nafas dan meregangkan otot yang pegal
Sesampainya di rumah Zen, mereka menurunkan barang bawaan yang ada di punggung kuda, dan membawa masuk ke dalam rumah Zen.
Sasha mengeluarkan barang yang mereka dapat dari perjalanan kemarin dan menaruh di sebuah meja dekat api unggun dalam rumah Zen.
“Paman Zen, apa kita bisa memeriksa gulungan ini sekarang” tanya Sasha
“Baiklah, ayo kita periksa” jawab Zen yang sedang menghidupkan api
Mereka pun mulai memeriksa gulungan yang sebelumnya mereka dapat dari hutan gelap.
“Sebenarnya ini gulungan apa paman” tanya Sasha sambil memegang gulungan
“Sepertinya aku mengenal gulungan ini, namun aku tidak begitu yakin” jawab Zen
“Dahulu keluarga Linch memiliki sebuah catatan keluarga yang di tulis dalam sebuah gulungan. Namun saat kekacauan gulungan itu hilang entah kemana. Setelah aku melihat gulungan ini aku jadi teringat tentang catatan keluarga yang hilang” terang Zen kepada Sasha
“Lalu apakah gulungan ini yang di maksud” tanya Sasha
“Entahlah, kita tidak akan tahu sebelum membukanya
“Kalau begitu, ayo kita coba buka” kata Sasha yang sedang mencari ujung dari gulungan itu
“Gulungannya tersegel paman” kata Sasha
Terlihat sebuah segel yang mengunci gulungan itu. Ini bukan segel biasa, melainkan sebuah segel mantra.
Terlihat sebuah tulisan kuno membentuk lingkaran dan juga terdapat gambar kepala burung hantu di tengahnya. Pada segel ini memancarkan sinar berwarna emas namun tidak begitu terang.
“Tentu saja gulungan ini di segel, karena di dalam gulungan ini terdapat informasi juga rahasia suatu keluarga” terang Zen
“Lalu bagaimana kita bisa membuka segel ini” tanya Sasha sambil memberikan gulungan kepada Zen
“Ini adalah segel mantra, ini memang segel yang di buat oleh keluarga Linch. Dan hanya bisa di buka oleh keturunannya langsung” jawab Zen
“Aku adalah keturunan keluarga Linch, tapi aku tidak bisa membukanya” kata Sasha dengan wajah bingung
“Tentu saja ada caranya, tidak sembarangan. Untuk bisa membuka segel, kita harus tahu bagaimana tekniknya. Setiap keluarga memiliki teknik yang berbeda-beda” jelas Zen
“Lalu jika aku tidak bisa membukanya, siapa yang bisa membuka, apakah ayah ku bisa” tanya Sasha
“Tidak, Ayah mu tidak akan bisa membuka segel ini, karena Ayah mu tidak terlibat dalam misi ini” jawab Zen
Cukup lama mereka memikirkan cara untuk membuka segel yang mengunci gulungan rahasia itu.
Terpikir oleh Sasha untuk membuka halaman buku selanjutnya.
“Apakan di dalam buku ini ada sebuah cara untuk membuka gulungan ini” pikir Sasha sambil memegang buku
“Mungkin saja ada, coba kamu buka” kata Zen
Sasha pun membuka buku peninggalan keluarganya.
Dari halaman selanjutnya, Sasha menemukan tulisan yan berwarna merah, berbeda dengan biasanya yang tertulis dengan tinta hitam.
Pada halaman ini kembali tertulis sebuah kalimat teka-teki
-Keberanian adalah dasar dari sebuah kekuatan. Senjata adalah media untuk mengeluarkan suatu kekuatan. Darah kita adalah kunci dari setiap kekuatan yang muncul-
“Ini seperti kata-kata motivasi Paman, kira-kira apa maksud dari tulisan ini, mengapa tulisannya berwarna merah, apakah karena ada kata darah di dalam kalimat ini” pikir Sasha sambil melihat kearah jendela
“Entahlah, aku belum bisa menyimpulkannya” kata Zen
Saat sedang memikirkan maksud dari kalimat yang mereka temukan dari halaman buku.
Tentara kalung Sasha mulai menyala, bertanda kalau Sasha harus kembali ketempat asalnya.
“Sepertinya aku sudah harus kembali Paman, nanti saja aku pikirkan di rumah” kata Sasha
“Kalau begitu kembalilah, aku juga akan memikirkannya di sini” kata Zen
“Lalu bagaimana dengan batu hijau ini’ tanya Sasha
“Biar ku pegang, sepertinya kamu tidak memerlukan benda ini di tempat kamu tinggal” jawab Zen
Sasha memberikan batu hijau itu kepada Zen. Dan Sasha kembali menuju tempat asalnya.
***
Sesampainya di rumah
“Aahhhh… lelah sekali rasanya, badan ku terasa pegal” ucap Sasha
“Istirahatlah dulu, kamu sudah melakukan perjalanan yang sangat berat” kata Guin
“Baiklah, aku tidur dulu” kata Sasha
Setelah Sasha terlelap, Sasha bermimpi mendatangi sebuah padang rumput yang luas, di bawah sinar bulan yang begitu terang Sasha mendengar suara misterius dalam mimpinya yang berkata, “Pada tubuhmu terdapat kunci sebuah kekuatan, bulan ini adalah saksinya”.
Suara itu berulang kali terdengar dengan kata-kata yang sama. Sasha ingin menjawab suara itu, namun mulutnya terasa seperti di kunci, untuk membuka mulut pun Sasha tidak bisa.
Sasha tidur dengan gelisah, terlihat dari tidurnya yang tidak bisa tenang.
Karena khawatir Guin pun membangunkan Sasha.
“Sasha, bangun, apa yang terjadi” kata Guin sambil menepuk pipi Sasha
Sasha kaget saat dirinya terbangun.
“Ada apa Sasha, kamu mimpi buruk lagi” tanya Guin
__ADS_1
“Tidak Guin, mimpiku tidak buruk” jawab Sasha
Saat Sasha menceritakan tentang mimpinya, terdengar suara ibu dari luar kamar.
“Sasha, apa kamu tidur” kata Ibu sambil mengetuk pintu
“Tidak bu” jawab Sasha
“Kalau begitu ayo turun, kita makan malam
“Baik bu, aku segera turun” jawab Sasha
Sasha menuju lantai bawah untuk makan malam.
Untuk sebagian keluarga, makan malam adalah waktu yang tepat untuk berbincang-bincang antara anggota keluarga. Dan keluarga Sasha selalu melakukan itu sejak dulu, membicarakan hal penting atau hanya sekedar bercanda pada saat makan malam.
“Sasha, apa kamu sudah mempelajari buku yang di beri Kepala sekolah Akibara” tanya Ayah
“Sudah Ayah, aku sudah membaca setengah dari buku itu” jawab Sasha dengan wajah tersenyum
Sasha memang sangat cepat dalam membaca sebuah buku, hal ini sudah terjadi saat Sasha kelas satu SMP. Daya tanggap Sasha dalam memahami suatu pelajaran memang terbilang sangat luar biasa.
Setelah mereka selesai makan malam, Sasha kembali ke kamarnya untuk meneruskan belajar.
Sasha mengambil buku yang sebelumnya di berikan oleh Kepala sekolah Akibara. Buku ini membahas tentang pelajaran sastra kelas satu.
Di Akibara, jurusan yang di pilih sangat penting untuk di pahami, namun pelajaran lain juga tidak kalah pentingnya.
“Sudah jam berapa ini Guin, kenapa aku sudah ngantuk lagi” tanya Sasha yang sedang duduk di depan meja belajarnya sambil meregangkan otot
“Sudah jam sepuluh malam, apa kamu sudah mau tidur” tanya Guin
“Sepertinya iya, besok pagi Ayah mengajak ku ke rumah Paman Mic untuk melihat kebun tah milik keluarga Linch” jawab Sasha sambil menutup buku pelajarannya
“Kalau begitu kamu pergi tidur saja, aku akan menjaga mu di sini” ucap Guin
“Baiklah, aku pergi tidur dulu, jika cermin ini menunjukkan hal aneh, cepat bangunkan aku ya Guin” kata Sasha sambil menuju tempat tidurnya
***
Pagi yang cerah telah tiba, suara ayam berkokok dan kicau burung yang bersautan menjadikan suasana pagi itu terasa tenang.
Sasha menuju lantai bawah untuk sarapan. Saat menuruni tangga, terlihat terlihat Ayah dan Ibu yang menunggu Sasha untuk sarapan.
Setelah mereka selesai sarapan, Ayah dan Sasha bersiap-siap menuju rumah Tuan Mic untuk melihat perkebunan milik keluarga Linch.
“Ayah, sejak kapan keluarga Paman Mic dekat dengan keluarga kita” tanya Sasha sambil berjalan melewati perkebunan teh di kanan dan kirinya
“Sudah lama sekali, bahkan sejak jaman kakek buyut mu keluarga Paman Mic sudah ikut dengan keluarga Linch” jelas Ayah kepada Sasha
“Lalu, apakan ada perjanjian sebelumnya sampai keluarga Paman Mic ikut dengan keluarga Linch selama ini” tanya Sasha
“Sepertinya ada, namun entah perjanjian apa Ayah juga kurang paham. Setiap keluarga pasti memiliki catatan keluarga, tapi Ayah dan Paman Mic tidak berhasil menemukan catatan keluarga itu sampai sekarang” jelas Ayah
Dalam perjalanan Sasha masih menanyakan beberapa hal tentang keluarganya. Namun Sasha tidak memberi tahu Ayah tentang buku peninggalan Nenek yang Ia temukan dari ruang bawah tanah di rumahnya.
“Selamat pagi Mic” teriak Ayah dari depan gerbang Tuan Mic sambil melambaikan tangan
“Braum” sambil berlari untuk membuka gerbang
“Aku sudah menunggu kalian sejak tadi” kata Tuan Mic sambil membuka gerbang rumah
“Maaf Mic, kami asik mengobrol saat perjalanan tadi, jadi agak telat” jelas Ayah
“Tidak masalah Braum, ayo silahkan masuk” ajak Tuan Mic
Mereka pun memasuki halaman rumah Tuan Mic yang kemudian duduk di teras rumah untuk berbincang-bincang. Saat itu Nyonya Mic sedang tidak ada di rumah karena ada urusan keluarga.
Setelah mereka cukup lama mengobrol, Ayah Sasha mengajak untuk mulai berkeliling perkebunan.
“Ayo kita berangkat, sudah siang” kata Ayah sambil melihat jam tangannya
“Baiklah, ayo ke belakang” ajak Tuan Mic
“Sebelumnya aku pernah ke sini saat menemui paman di bawah sana” kata Sasha sambil menunjuk tempat Sasha menemui tuan Mic
Perkebunan milik keluarga Linch lumayan besar, Tuan Mic adalah orang yang di percaya untuk mengatur perawatan dan pemasaran dari hasil panen.
Kini Ayah Sasha berniat untuk membantu Tuan Mic untuk meringankan pekerjaannya, setelah sebelumnya Tuan Mic bercerita tentang sakit yang Ia alami.
“Ayah, Paman, apa kita tidak bisa berhenti sebentar, aku lelah” kata Sasha memegang kedua lututnya
“Di depan sana ada tempat favorit Ayah mu saat kecil, kita istirahat di sana saja” kata Tuan Mic sambil melirik Ayah dan tersenyum
“ha… ha… ha… kamu berniat mengejek ku ya Mic” kata Ayah tertawa mendengar perkataan Tuan Mic
Mereka menuju tempat yang di maksud dan beristirahat di tempat itu.
“Paman, apa tidak mau cerita tentang hal ini, sepertinya ada kejadian seru di tempat ini antara Ayah dan Paman” tanya Sasha sambil tersenyum
“Aku atau kamu yang cerita Braum” tanya Tuan Mic meledek Ayah
“Sepertinya kamu saja Mic. Ha… ha… ha…” kata Ayah tertawa
“Jadi begini, dulu Ayah mu ini nakal, tidak pernah mau jika di suruh belajar oleh Nenek mu. Setiap di suruh belajar pasti Ayah mu berlari ke tempat ini untuk bersembunyi dari kemarahan Nenek. Aku selalu di suruh mencari Ayah mu yang kabur, dan menemukan Ayah mu yang sedang tidur di tempat ini. Kamu jangan tiru tingkah Ayah mu ini ya” cerita tuan Mic kepada Sasha
“Tenang saja Mic, Sasha tidak seperti ku, Sasha adalah anak yang rajin, tidak seperti aku saat kecil dulu, yang selalu di kejar Ibu jika di suruh belajar” kata Ayah sambil tertawa
Cukup lama mereka berbincang-bincang di tempat istirahat.
Mereka melanjutkan untuk melihat kondisi perkebunan milik keluarga Linch.
Setelah berkeliling perkebunan, akhirnya mereka kembali ke belakang rumah Tuan Mic. Rute yang di buat Tuan Mic memang di buat memutar agar tidak bolak-balik saat memantau keadaan kebun teh milik keluarga Linch.
__ADS_1
“Akhirnya sampai di ujung, sepertinya kamu langsung kembali ke rumah saja Mic, hari sudah semakin sore” kata Ayah Sasha
“Apa tidak mau beristirahat dulu Braum, kasihan Sasha” kata Tuan Mic mengajak ke rumahnya
“Tidak usah Paman, kami langsung pulang saja, aku masih harus belajar untuk tes masuk sekolah” kata Sasha
“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya” kata Tuan Mic
Ayah dan Sasha pun kembali ke rumah mereka.
***
Setelah sampai di rumah, Sasha pergi mandi dan langsung menuju kamarnya untuk meneruskan belajar.
Waktu menunjukkan pukul 19:00, terdengar suara ibu dari luar kamar.
“Sasha, buka pintunya” kata ibu
“Ada apa bu” sambil membuka pintu kamar
“Ini makan malam mu, sepertinya kamu capek sekali, Ibu tidak tega menyuruh mu turun ke bawah” kata Ibu sambil memberikan makanan yang Ibu bawa dengan nampan
“Terimakasih Ibu untuk makan malamnya” kata Sasha
“Belajar yang fokus ya” kata Ibu sambil berlalu
Sasha kembali ke depan meja belajarnya dan menaruh makan malamnya di meja belajar itu pula.
“Guin, kamu di mana” kata Sasha memanggil Guin
“Ada apa Sasha” jawab Guin muncul di samping Sasha
“Aku sudah tidak fokus belajar, bagaimana kalau kita pergi ke Gunma untuk berkeliling” ajak Sasha
“Ya sudah, ayo kita berangkat” ucap Guin
Sasha pun pergi ke depan cermin dan mengaktifkan portal waktu menuju Gunma.
Kondisi waktu di Gunma berbeda dengan kondisi waktu di tempat Sasha tinggal. Tidak bisa di prediksi kapan waktu siang dan malamnya.
Kali ini saat Sasha tiba di Gunma sedang sore hari, sekitar jam 16:00.
Sasha tiba di depan gerbang masuk desa Gunma. Nampak para penduduk yang beraktifitas seperti biasanya.
Sasha, Guin dan juga Oly mulai memasuki desa Gunma.
“Kemana kita akan pergi Sasha” tanya Guin
“Kita ke pasar saja yuk, di pasar lebih ramai” ajak Sasha
Mereka pun menuju ke pasar.
Desa Gunma sangat berbeda dengan desa yang Sasha tinggali, mungkin karena masyarakatnya yang masih sangat tradisional.
Sesampainya di pasar, Sasha tertarik dengan salah satu toko buku yang tidak terlalu ramai di kunjungi.
“Permisi” kata Sasha sambil memasuki toko buku yang tidak terlalu besar
“Silahkan masuk, mau cari buku apa” kata seorang perempuan yang menjaga toko buku itu
“Aku belum tau ingin mencari buku apa, apakah boleh jika ingin melihat-lihat dulu” tanya Sasha
“Silahkan gadis kecil, rak yang di sebelah sana adalah kumpulan buku resep masakan, yang itu buku tentang senjata, yang paling belakang itu adalah buku sejarah, mungkin tidak semua sejarah tercatat, tapi sudah lumayan informasi yang ada di setiap buku” kata Bibi penjaga sambil menunjukkan kumpulan buku yang tersusun pad arak dalam toko
“Terimakasih Bibi, sepertinya aku tertarik dengan buku sejarah” kata Sasha
“Benarkah, akhirnya ada yang tertarik juga membaca sejarah. Selain letaknya yang berada paling belakang, buku-buku itu juga agak berdebu, maklum saja, tidak banyak yang tertarik mempelajari sejarah, jadi jarang aku bersihkan” jelas Bibi penjaga
“Terimakasih atas penjelasannya Bi” kata Sasha
Sasha pun menuju rak buku sejarah yang letaknya di paling belakang.
Memang agak berdebu, bahkan bekas sentuhan tangan manusia pun tidak ada.
Sasha tertarik pada sejarah kerajaan Gunma. Sasha mengambil buku itu dan sedikit membaca bagian depannya.
“Wah, ternyata kerajaan Gunma ini sudah ada sejak tahun 1005, sudah teramat lama, entah disini tahun berapa, yang jelas jika di bandingkan dengan tahun di luar dimensi ini jaraknya sangat jauh, lebih dari 1000 tahun” kata Sasha sambil membaca buku
“Sang Ratu telah tiba”
Terdengar suara seorang prajurit yang berteriak dan di barengi dengan langkah kuda.
Sasha keluar untuk melihat.
Nampak Sang Ratu yang berdiri di kereta kudanya, dan seperti menghamburkan uang ke arah orang-orang yang ada di pasar, saat tiba di depan Sasha, Sang Ratu memandangi Sasha sambil tersenyum, Sasha pun membalas senyum Sang Ratu.
“Sang Ratu memang cantik, selain itu dia juga baik hati” kata Sasha yang masih memandangi Sang Ratu
“Sang Ratu memang sangat baik, dia sering melakukan sedekah seperti ini, tapi sikap sang Ratu ini sangat bertolak belakang dengan Sang Raja, meskipun Sang Raja jarang keluar Kerajaan, namun aturan yang dia buat terkadang menyusahkan kami sebagai pedagang. Aturan pajak yang besar rasanya seperti mencekik leher kami” jelas Bibi penjaga toko buku kepada Sasha
“Benarkah seperti itu, tapi aku melihat sepertinya desa Gunma ini makmur” tanya Sasha
“Tentu saja makmur, walaupun aturan Raja banyak yang memberatkan kami, namu Raja sangat memperhatikan sistem pertanian di desa Gunma, selain itu Sang Raja juga sangat melindungi desa-desa yang berada di bawah kuasa Kerajaan Gunma” jelas Bibi penjaga
Sasha semakin tertarik dengan sejarah kerajaan Gunma.
Saat sedang mendengarkan Bibi penjaga itu bercerita, Guin memberi tahu Sasha kalau kalung yang Sasha kenakan sudah mulai menyala
“Sasha, kalung mu” kata Guin
“Wah, cepat sekali, padahal waktu ke hutan gelap aku hampir dua hari berada di sini” kata Sasha
Saat mengucap kata hutan gelap, Sasha jadi ingat kalau gulungan yang Ia dapat di hutan itu belum berhasil di buka.
__ADS_1
“Aku sampai lupa, tentang gulungan itu, tidak bisa menemui Paman Zen saat sekarang ini, aku sudah harus kembali dan memikirkan tentang gulungan itu” kata Sasha dalam hati
Sasha pun mengucapkan terimakasih kepada Bibi penjaga toko. Kemudian Sasha menuju ke belakang toko buku untuk kembali ke rumah.