
Sasha dan Zen telah sampai di kaki gunung anak neraka. Terlihat sebuah gunung tinggi yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Menurut sumber yang Zen dapat sebelumnya, gunung ini memiliki tiga tingkatan berbeda yaitu, tingkat dasar, tingkat tengah dan tingkat puncak. Dalam setiap tingkatannya akan memiliki ujian yang berbeda, namun ujian yang akan datang akan menyesuaikan keahlian dari seseorang yang mendaki menuju puncak.
Sasha kembali menyelesaikan misinya tanpa Zen, Guin dan juga Oly. Kemampuan Sasha adalah penentu keberhasilan untuk mendapat lentera tingkat bumi.
Sasha menyiapkan perbekalan yang di butuhkan untuk menaiki gunung anak neraka di hadapannya.
“Sudah selesai, aku akan mulai naik” kata Sasha yang sangat bersemangat.
“Tetap waspada, jangan lengah, cobaan di setiap tingkat tidak bisa di prediksi, kapan saja bisa datang secara tiba-tiba” jelas Zen.
“Baik Paman, terimakasih atas peringatannya” kata Sasha.
Sasha mulai menaiki gunung, dengan kecepatan lompat yang sudah Ia pelajari sebelumnya, Sasha dengan cepat melesat menuju puncak.
“Dengan kecepatan ini harusnya aku bisa mencapai puncak dengan waktu kurang dari dua hari” kata Sasha sambil melompat di antara dahan pohon.
Setelah cukup tinggi Sasha menaiki gunung, di tengah perjalanan Sasha di hadang oleh sesuatu secara tiba-tiba.
“Ahhh… apa yang aku tabrak, kepala ku sakit sekali” kata Sasha yang terjatuh.
“Seperti ada dinding pembatas disini, akan aku periksa” sambil memegang kepalanya dan berjalan kearah depan.
“Ternyata benar, ada sebuah dinding yang tidak terlihat disini” ucap Sasha yang menyentuh sebuah penghalang.
“Sepertinya aku harus mencoba kekuatan baru dari pedang ku yang sekarang” kata Sasha mencabut pedangnya.
“Hiyaaa… Pedang api”
Sasha mengayunkan pedangnya dengan jurus yang sudah Ia pelajari dari Master Wu.
“Apakah berhasil” ucap Sasha yang terlihat kelelahan.
Setiap jurus yang Sasha pakai, akan mengkonsumsi sebagian energi dari tubuhnya. Hal ini akan berdampak pada ketahanan fisiknya.
“Akan aku coba” ucap Sasha berjalan ke depan.
“Ahh… sudah terbuka rupanya” kata Sasha yang berhasil melewati dinding yang tidak terlihat.
“Ha… ha… ha… tidak aku sangka, gadis kecil ini bisa melewati formasi dinding yang aku buat”
Terdengar suara dari arah puncak gunung.
“Siapa di sana” teriak Sasha.
“Aku akan menunggumu di tingkat selanjutnya, cepat naik dan temui aku” kata suara dari arah puncak.
Sasha melanjutkan pendakiannya yang masih teramat jauh.
Hari sudah semakin gelap, Sasha yang terus mendaki akhirnya kelelahan dan beristirahat sejenak.
Di bawah pohon besar Sasha menghidupkan api unggun untuk sekedar menghangatkan tubuhnya.
Beberapa saat Sasha beristirahat, Sasha mendengar suara Master Wu.
“Sasha, rintangan mu selanjutnya akan sulit. Pelajari teknik pedang yang ke dua, mungkin kamu akan bisa menghadapi rintangan di atas gunung” kata Master Wu yang berbicara lewat batin Sasha.
“Baik Master, sesuai arahan Master, aku akan mempelajari teknik ke dua” ucap Sasha dalam batinnya.
Sasha pun mulai melakukan konsentrasi untuk mempelajari teknik pedang dari Master Wu. Dalam mempelajari teknik pedang sangat di butuhkan konsentrasi yang tinggi, dalam hal ini cara satu-satunya adalah dengan meditasi, di dalam meditasi akan tergambar teknik pedang yang akan Sasha pelajari. Lama tidaknya meditasi tergantung dari kesulitan teknik yang di pelajari, teknik ke dua yang Sasha pelajari belum begitu sulit, maka kemungkinan waktu yang di butuhkan hanya sekitar enam jam saja.
***
Setelah enam jam berlalu, Sasha membuka matanya secara perlahan dan mencabut pedangnya.
“Selesai, akan aku coba” ucap Sasha.
“PEDANG ANGIN” teriak Sasha sambil mengayunkan pedangnya ke salah satu pohon besar di sekitarnya.
__ADS_1
“Luar biasa, jurus ini membuat lubang besar di pohon itu, tapi pohonnya tidak tumbang” kata Sasha yang tercengang dengan teknik pedang angina yang baru Ia pelajari.
“Selamat Sasha, kamu berhasil menguasai teknik pedang angin. Teknik ini adalah tingkat dasar dari beberapa teknik yang aku buat. Kelak kamu akan mempelajari teknik yang lebih sulit” kata Master Wu lewat batin.
“Terimakasih Master, aku tidak akan mengecewakan mu” kata Sasha dalam batin.
Setelah Sasha menguasai teknik pedang barunya, Sasha melanjutkan menuju puncak.
***
Sudah lewat satu hari sejak Sasha melakukan pendakian, Sasha sudah melewati formasi dinding yang menghadang Sasha saat berada di tingkat bawah. Kini Sasha sudah memasuki tingkat menengah, Sasha sudah merasakan sebuah kekuatan yang sedang menunggunya di atas. Sejenak Sasha berhenti melihat ke arah atas.
“Sepertinya aku sudah masuk ke tingkat menengah dari gunung anak neraka, aku harus lebih waspada” kata Sasha yang berdiri di atas dahan pohon sambil melihat ke arah puncak.
Saat fokus melihat ke arah puncak, Sasha tidak sengaja melihat kelinci putih di bawah pohon yang Sasha pijak saat ini. Kelinci ini memperhatikan Sasha saat Sasha ada di atas pohon.
“Cantik sekali kelinci putih itu” kata Sasha sambil melompat ke bawah.
Saat Sasha ingin mendekati kelinci putih yang ada di depan Sasha tiba-tiba kelinci itu berlari ke arah puncak.
“Hey, aku tidak akan menyakiti mu” kata Sasha mengejar kelinci itu.
Sasha lumayan jauh mengejar kelinci ini dan sempat beberapa kali Sasha berhenti karena lelah.
“Ternyata berlari lebih melelahkan di banding melompati pepohonan” kata Sasha yang terenga-enga.
“Tunggu, aku merasa ada yang aneh dari kelinci ini. Ia tidak berbelok dan terus menuju atas, ketika aku berhenti kelinci ini pun berhenti, seperti ingin menunjukkan sesuatu” pikir Sasha sambil melihat kelinci di depannya.
“Sebaiknya aku ikuti kelinci ini” kata Sasha mulai mengejar kelinci putih itu lagi.
Setelah cukup jauh mengejar akhirnya kelinci itu berhenti dan menghilang di depan sebuah gerbang kayu. Gerbang kayu berwarna merah yang mirip gerbang Torii di kuil jepang.
“Apa yang ada di depanku ini. Seperti gerbang tapi tidak terdapat tangga atau pun bangunan di belakangnya” pikir Sasha sambil memperhatikan gerbang di depannya.
Sasha mendekati gerbang itu dan menyentuh salah satu tiangnya. Saat menyentuh tiang gerbang Sasha merasakan energi pada gerbang itu. Sasha yang terkejut langsung menarik kembali tangannya.
Karena Sasha penasaran dengan suara itu, Sasha pun mengikuti arahan yang di bilang oleh suara misterius itu.
Setelah Sasha melewati gerbang itu, ternyata Sasha masuk ke suatu tempat yang asing. Sasha melihat tempat yang Ia datangi di kelilingi api yang besar dan tidak ada apapun selain api dan tanah yang Ia pijak.
Dari balik api yg ada di depan Sasha terlihat raksasa batu yang besar menembus kobaran api. Raksasa batu ini seperti terbentuk dari batuan magma yang sangat panas.
“Siapa nama mu gadis kecil” tanya raksasa.
“Apa untungnya aku beritahu nama ku” jawab Sasha.
“Kau cukup bernyali gadis kecil, aku tahu tujuan mu datang ke gunung anak neraka ini untuk apa. Tapi sayang sekali perjalanan mu akan berakhir disini” kata raksasa itu mengancam.
“Paman Zen bilang tantangan yang akan aku lewati sesuai dengan kemampuan ku. Seharusnya aku bisa menghadapi raksasa ini” kata Sasha dalam hati.
“Apa yang kau pikirkan gadis kecil, apa kau ingin menyerah. Tapi aku tidak akan memberi mu kesempatan untuk mundur. Terima serangan ku” raksasa menyerang Sasha dengan melemparkan bebatuan panas ke arah Sasha.
“Ahh, sudah di mulai” ucap Sasha sambil menghindari serangan.
“Sampai kapan kau mau menghindari serangan ku” kata raksasa yang terus menyerang Sasha dengan batu.
Sasha mencoba menangkis serangannya dengan teknik pedang angin yang sebelumnya sudah Ia pelajari.
“Hahh, tidak ada efeknya, teknik pedang ku tidak berguna melawan serangannya” kata Sasha dalam hati sambil terus menghindar.
“Hanya teknik pedang murahan kau pikir bisa mengalahkan serangan ku. Batu yang aku gunakan adalah batu yang berasal dari dasar gunung anak neraka, sangat kuat seribu kali lipat dari batu biasa, dan batu ini kebal terhadap angin. Sepertinya serangan mu sia-sia” ucap raksasa batu.
“Tidak mungkin, pasti ada cara untuk mengalahkan raksasa ini. Jika angin saja tidak bisa menghalaunya, bagaimana dengan teknik pedang api, sepertinya itu lebih sia-sia” pikir Sasha.
“Sudah aku bilang ini adalah akhir mu gadis malang. Akan aku akhiri sekarang juga” kata raksasa yang menyerang Sasha dengan batu yang lebih besar dan terbakar api.
“Sudah tidak ada waktu lagi, kalau terus seperti ini aku pasti tamat” kata Sasha yang sudah kelelahan karena menghindari serangan yang bertubi-tubi.
__ADS_1
“Jika teknik angin tidak bisa menghalau serangan ini sudah pasti teknik api lebih tidak bisa. Bagaimana jika aku menggabungkan keduanya. HIYAAA…” Sasha menggunakan kedua tekniknya secara bersamaan.
Terlihat Sasha mengarahkan pedang yang Ia pegang ke tubuh raksasa. Gabungan teknik pedang yang Sasha gunakan memiliki efek yang luar biasa, Sasha melesat ke arah raksasa itu dengan pedangnya, tampak dari ujung pedang mengeluarkan pusaran api dan angin yang membentuk perisai dan menembus tubuh raksasa.
“Tidak mungkin… tidak mungkin aku kalah dari gadis kecil ini” kata raksasa yang melihat lubang besar di tubuhnya akibat serangan Sasha.
“Apa aku berhasil” kata Sasha dalam hati sambil terduduk dan bersangga pada pedang yang Ia tancapkan ke tanah.
Saat Sasha berbalik badan, terlihat raksasa batu dengan lubang besar di tubuhnya perlahan terjatuh. Setelah tubuhnya terjatuh ke tanah, Sasha melihat sebuah benda dengan cahaya berwarna merah melayang dari tubuh raksasa yang sudah hancur.
“Cahaya apa itu” ucap Sasha yang tertatih-tatih menuju benda yang Ia lihat.
“Sebuah gulungan” kata Sasha yang meraih benda itu.
Setelah mendapatkan gulungan yang muncul dari tubuh raksasa yang hancur, Sasha membuka gulungan itu dengan perlahan.
“Tidak seperti gulungan yang aku dapat sebelumnya, gulungan dari raksasa ini tidak ada segelnya. Akan ku buka kalau begitu” kata Sasha membandingkan dengan gulungan yang Ia dapat sebelumnya.
“Apa ini, sebuah peta” kata Sasha yang kaget setelah tahu isi dari gulungan.
“Tapi peta apa ini, aku tidak mengerti. Ahh, ya sudah lah, akan aku simpan saja” kata Sasha.
Setelah Sasha menyimpan gulungan itu, seketika tempat Sasha yang sebelumnya di kelilingi api berubah normal kembali.
Sasha kembali ke lokasi gerbang yang Ia masuki. Setelah keluar Sasha beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan.
“Sasha, aku percaya kamu bisa melakukan itu” terdengar suara Master Wu.
“Master, apa itu kau” tanya Sasha sambil melihat sekeliling.
“Teknik gabungan antara pedang api dan pedang angin adalah teknik ke tiga yang akan aku ajarkan. Tapi tidak di sangka, kau bisa menguasainya tanpa aku ajarkan sebelumnya. Teruskan perjalanan mu, peta yang kau temukan adalah peta puncak dari gunung ini” jelas Master Wu.
“Baik Master, terimakasih atas bimbingannya” ucap Sasha.
Akhirnya Sasha kembali meneruskan perjalanannya. Puncak gunung anak neraka sudah semakin jelas terlihat, Sasha menambah kecepatannya menuju puncak gunung anak neraka.
“Sudah dekat, kabut asap itu adalah tanda sebentar lagi aku akan sampai ke puncak” kata Sasha tersenyum.
“Tapi sepertinya tidak mudah, udara disini semakin panas, oksigen juga semakin menipis. Sebaiknya aku jangan tergesa-gesah” kata Sasha yang merasakan tekanan.
Sasha memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke puncak. Memang akan memakan waktu lebih lama, tapi ini adalah salah satu cara agar bisa mengontrol kondisi tubuh yang kekurangan oksigen.
***
Setelah berjalan selama empat jam, akhirnya Sasha sampai ke puncak gunung anak neraka.
Terlihat kolam magma yang sangat luas berada di depan Sasha. Udara panas, oksigen yang minim, juga penglihatan Sasha yang tidak jelas karena tertutup kabut membuat Sasha bingung harus bagaimana.
Yang bisa Sasha lakukan saat ini hanyalah menunggu dan mempelajari situasi yang ada.
“Jika lentera keberanian tingkat bumi ada di tengah magma ini, mustahil jika tidak ad acara menyebrang ke sana” pikir Sasha sambil memperhatikan situasi.
“Kabut ini juga terkadang pekat, namun akan kembali tipis setelah beberapa saat, mungkin dengan pedang angin bisa menyingkirkan kabut asap ini untuk beberapa saat. Tapi magma di bawah sana tidak mengalami perubahan sedikit pun” kata Sasha dalam hati.
Sasha cukup lama memperhatikan kondisi di sekitarnya. Sempat sesekali Sasha mengeluarkan teknik pedangnya untuk menyingkirkan kabut yang menutupi pandangannya, namun setelah kabut itu terbuka, Sasha masih tidak menemukan petunjuk apa pun.
Setelah lebih dari 10 jam Sasha memperhatikan kondisi sekitar gunung anak neraka, tiba-tiba Sasha mendengar suara gemuruh disertai gempa. Gempa ini tidak terlalu kuat namun dapat membuat gelombang pada magma yang ada di bawah Sasha.
Sasha ingin meninggalkan kawasan itu, namun Ia di kejutkan dengan munculnya batu besar dari dasar kolam magma. Batu ini memanjang ke atas seperti tiang raksasa.
Sasha melihat ada tujuh batu yang timbul dari dasar magma, dan pada bagian atas batu yang paling jauh terdapat lentera yang Sasha cari.
“Ahh… apakah itu lentera nya. Bagaimana aku bisa meraihnya, batu-batu itu membuat gempa lokal seperti ini, sangat tidak mungkin untuk melompat, jika aku gagal mendarat aku akan jatuh ke kolam magma itu” pikir Sasha sambil terduduk karena guncangan yang muncul.
“Tapi kesempatan ini sangat langka, aku tidak boleh membuang peluang yang sudah ada di depan mata” kata Sasha sambil berusaha berdiri.
“Tunggu kedatangan ku lentera jelek” teriak Sasha dan melompat ke batu-batu besar yang muncul dari kolam magma.
__ADS_1