Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 14 _ Mengalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

Dengan kepercayaan diri Sasha yang begitu kuat, Sasha mulai melompati batu pertama yang ada di depannya.


“Batu pertama, aku berhasil, yang kedua juga tidak boleh gagal” kata Sasha sambil menyeimbangkan diri.


Sasha terus melompati batu tanpa hambatan, namun tidak untuk batu yang ke tiga. Batu yang ke tiga berukuran lebih kecil dari batu-batu sebelumnya, Sasha yang di tuntut untuk berpikir secara cepat untuk bisa melewati batu ke tiga.


“Oh tidak, ukuran batu yang ke tiga itu lebih kecil, selain itu terlihat tidak kokoh. Aku harus bisa melakukan dua lompatan agar langsung ke batu yang ke empat” ucap Sasha sambil bersiap untuk melompat.


Sasha pun melompati batu sesuai rencana yang Ia buat.


“Berhasil, sekarang aku sudah di batu yang ke empat” kata Sasha sambil mengatur nafasnya.


Namun rintangan sebenarnya bukan batu ke tiga yang ukurannya lebih kecil, melainkan batu yang saat ini Sasha pijak.


“Apa lagi ini, kenapa tubuh ku tiba-tiba terasa berat” kata Sasha yang terduduk merasakan tekanan yang kuat.


“Tidak bisa melangkah dengan leluasa, bagaimana aku bisa melompat dengan tekanan seperti ini” kata Sasha dalam hati.


Rintangan kali ini membuat Sasha benar-benar merasa berada di jalan buntu. Selain harus menahan tekanan yang sangat kuat, udara yang panas membuat energi Sasha semakin menipis.


Saat Sasha berpikir tidak mampu, Sasha teringat saat-saat Ia bermain bersama Ayah dan Ibu.


Sambil menahan air mata, Sasha terus teringat suasana ceria bersama mereka. Banyak nasehat dan pelajaran hidup yang Sasha dapat dari orang tuanya.


Sasha teringat suatu hari pernah di ajak berlibur ke tempat wisata air terjun. Suasana ceria dan penuh kebahagiaan begitu Sasha rasakan bersama keluarganya. Saat berada di depan air terjun Sasha melihat beberapa ikan yang berenang ke atas air terjun, karena Sasha bingung dengan apa yang Ia lihat, akhirnya Sasha menanyakan hal itu kepada Ayah.


“Ayah, kenapa ikan-ikan itu berenang ke atas” tanya Sasha sambil menunjuk air terjun.


“Itu adalah salah satu teknik mereka mencari makan dan juga bertahan hidup” jawab Ayah.


“Memangnya tidak terbawa arus” tanya Sasha kembali.


“Ikan-ikan itu punya acara berenang yang berbeda dengan ikan lainnya, mereka bisa dengan cepat memprediksi kekuatan arus yang datang, selain itu ikan juga memiliki pola berenang yang serasi dengan arus air. Dengan kata lain, jika ikan itu mau berenang melawan arus deras, mereka harus bisa menyatu dengan air” jelas Ayah.


Air mata Sasha menetes saat mengingat masa-masa itu.


“Jika aku berakhir disini, aku tidak akan bisa meminta maaf dan berterimakasih kepada Ayah dan Ibu” ucap Sasha sambil menangis.


Sasha yang tengah menangis tiba-tiba terdiam karena teringat perkataan Ayah saat bertanya soal ikan yang berenang menentang arus.


“Waktu itu Ayah bilang, jika ikan ingin berenang menentang arus, mereka harus menyatu dengan air” pikir Sasha.


“Dalam hal itu ikan mengalami tekanan jika pola berenangnya salah” kata Sasha sambil mengusap air matanya.


Sasha terpikirkan sebuah solusi untuk menghadapi tekanan yang Ia rasakan saat ini.


“Baiklah, aku mengerti sekarang” kata Sasha yang membetulkan posisi duduknya.


Sasha melakukan meditasi untuk mempelajari tekanan yang Ia hadapi. Sambil menahan tekanan yang besar Sasha berusaha untuk menyatu dengan tekanan itu dan mendapatkan ruang untuk bergerak.


Beberapa saat setelah Sasha memfokuskan diri, akhirnya Ia menemukan apa yang Ia cari.


“Berhasil, kunci tekanan ini adalah angin, saat mengikuti arah angin aku bisa bergerak sesuai kemana angin itu berhembus. Jadi aku hanya bisa menunggu kapan angin itu berhembus ke batu yang ke lima”


Sasha masih fokus untuk merasakan kehadiran angin yang berhembus ke arah batu ke lima.


Dan tak lama setelah itu.


“Ini dia, tidak ada alasan untuk menunda, aku akan lompat sekarang” ucap Sasha yang bangkit dari duduknya dan segera melompat ke batu yang ke lima.


Sasha pun berhasil melewati rintangan yang hampir membuat Ia putus asa.


Kali ini Sasha sudah berada di batu yang ke lima. Terlihat Sasha yang sangat kelelahan dengan posisi tubuh membungkuk sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


Di batu yang ke lima ini Sasha tidak merasakan tekanan maupun bahaya yang datang. Tapi sebaliknya, di batu yang ke lima ini Sasha merasa tenang dan oksigen yang tersedia juga terasa normal.


“Sepertinya di batu yang ke lima ini tidak ada ujian. Sebaiknya aku segera pulihkan energi untuk bisa melanjutkan menuju batu yang ke enam” ucap Sasha dan bersila untuk mengumpulkan energi.


***

__ADS_1


Setelah satu jam melakukan meditasi, energi Sasha sudah pulih dan sudah bisa untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.


“Lentera keberanian tingkat bumi, tunggu aku datang membawamu” ucap Sasha dan bersiap untuk melompat.


Sasha pun melompat ke batu berikutnya.


“Sudah batu ke enam, selanjutnya aku bisa mendapatkan lentera itu” kata Sasha yang percaya diri.


Namun sangat tidak di sangka, kembali Sasha merasakan ada yang tidak beres dari batu ke enam yang saat ini Ia pijak.


“Apa lagi ini, kenapa batu ini bergetar” kata Sasha yang panik sambil menjaga keseimbangannya.


“Ternyata kamu bisa sejauh ini gadis manis, aku sangat terkejut”


Terdengar suara dari bawah tempat Sasha berdiri.


Sasha mencabut pedangnya dan bersiap jika ada serangan yang tiba-tiba datang.


“Siapa kamu” teriak Sasha.


“Aku adalah penjaga tempat ini, jika kamu bisa melewati rintangan yang aku buat, kamu bisa mengambil lentera keberanian tingkat bumi yang ada di depan sana” kata suara itu.


Tidak di sangka, di hadapan Sasha muncul seseorang yang sangat mirip dengan Sasha. Orang itu membawa pedang yang mirip dengan pedang Sasha.


“Itu adalah bayangan mu, semua gerakannya mirip dengan yang kamu kuasai. Jika kamu bisa mengalahkan bayangan mu sendiri, maka kamu lulus di ujian kali ini” kata suara dari kolam magma.


Sasha melihat bayangan Sasha itu sangat mirip dengannya, dari cara berdiri dan cara bayangan itu memegang pedang pun tidak ada yang beda.


Sasha mulai menyerang bayangannya dengan menggunakan teknik pedang yang pertama.


Dan tidak di sangka bayangan itu pun menguasai teknik pedang Sasha dan membalas serangan Sasha.


“Tidak mungkin, bayangan ini sepertinya lebih menguasai teknik pedang api” kata Sasha yang terpental karena menangkis serangan.


Sasha kembali menyerang dengan jurus pedang angin. Bayangan ini pun menguasai teknik itu.


“Sial, teknik pedang angin pun tidak berefek” kata Sasha dalam hati.


“Aku akan coba teknik gabungan, teknik ini baru saja aku kuasai, tidak mungkin dia bisa menguasainya” ucap Sasha dan menyerang bayangan itu.


Kembali usaha Sasha terbuang sia-sia. Kali ini kondisi Sasha semakin terpojok.


“Tidak mungkin, kalau semua gerakan ku tidak ada yang berguna, lalu bagaimana aku bisa mengalahkan bayangan ku sendiri” ucap Sasha dalam hati.


Sasha masih mencoba menyerang bayangan itu dengan sekuat tenaga. Berkali-kali Sasha terjatuh dan hampir terpental ke kolam magma.


Sasha terluka cukup parah, energi yang sebelumnya Ia kumpulkan kini semakin menipis, sedangkan bayangan itu terlihat tidak luka sedikitpun, bahkan sudah bersiap untuk menyerang Sasha kembali.


“Kalau begini terus aku bisa celaka. Mengalahkan diri ku sendiri tidak bisa dengan cara yang sederhana” kata Sasha dalam hati.


Dari kata-kata Sasha barusan, Sasha menemukan sebuah solusi yang sebelumnya tidak terpikir oleh Sasha.


“Baiklah, aku sudah mengerti. Kau memang mirip dengan ku, tapi kau bukanlah diri ku” teriak Sasha berlari menuju bayangan untuk menyerang kembali.


Serangan kali ini Sasha dapat mengenai bayangan itu, dan berhasil membalikkan keadaan.


“Berhasil, ternyata teori ku benar. Api memang tidak bisa mengalahkan api. Harus memakai air jika ingin memadamkan api” kata Sasha yang berhasil mengalahkan bayangannya.


Ternyata Sasha berhasil mengalahkan bayangan itu dengan gerakan pedang yang tidak berdasarkan teknik yang Ia pelajari. Ini adalah sebuah teknik yang acak tanpa menggunakan kekuatan pedang. Serangan Sasha adalah membaca gerakan lawan dan mencari titik lemahnya. Karena jurus yang di pakai bayangan itu sama dengan yang Sasha pelajari, mudah bagi Sasha menemukan titik lemahnya.


Kini tinggal satu langkah lagi Sasha bisa mendapatkan lentera keberanian tingkat bumi.


Dan tanpa menunda lagi, Sasha melompat menuju batu terakhir untuk mengambil lentera itu.


“Ini lentera keberanian tingkat bumi, akhirnya aku bisa mendapatkannya” kata Sasha mengambil lentera yang terletak di atas sebuah batu yang berbentuk balok.


“Tidak di sangka, ternyata kau mampu menciptakan teknik untuk mengalahkan bayangan mu sendiri. Aku ucapkan selamat. Sebagai hadiahnya, akan aku buka portal menuju kaki gunung tempat teman mu menunggu” kata suara dari bawah kolam magma.


Terlihat sebuah pusaran angin berwarna biru di depan Sasha. Sasha yang ragu mencoba memasukkan pedangnya terlebih dahulu ke dalam pusaran angin tersebut.

__ADS_1


Setelah yakin portal yang di berikan oleh suara dari kolam magma itu tidak berbahaya, Sasha pun masuk ke dalam portal untuk menemui Zen, Guin dan Oly, serta para prajurit suku pedalaman yang sudah menemani perjalanan Sasha menuju gunung anak neraka.


***


Sasha tiba di tempat teman-temannya menunggu. Terlihat Zen yang sedang bermeditasi, dan beberapa prajurit yang tertidur.


“Tuan putri sudah kembali” teriak salah satu prajurit.


Zen yang mendengar suara teriakan prajurit itu langsung menyudahi meditasinya, Guin dan Oly juga langsung menghampiri Sasha yang berdiri di depan mereka.


Kini Sasha yang pergi selama lima hari sejak memulai perjalanannya telah kembali. Sasha menceritakan hal apa saja yang Ia jumpai pada perjalanannya kali ini. Zen tersenyum lebar karena bangga dengan pencapaian Sasha, Zen tidak menyangka kalau Sasha melewati rintangan yang Zen sendiri belum pernah mengalaminya.


“Pencapaian mu sungguh luar biasa Sasha, aku saat di usia mu hanya bisa menggunakan kekuatan fisik ku dalam seni bela diri, tapi kamu bahkan bisa menguasai beberapa teknik pedang. Kelak kau akan jadi master pedang yang hebat” kata Zen memuji Sasha.


“Tidak Paman, aku hanya beruntung saja” ucap Sasha tersenyum.


Saat sedang berbincang tentang pengalaman Sasha, Guru Zen tiba-tiba muncul di atas dahan pohon yang ada di sekitar mereka.


“Selamat Sasha, kau berhasil melewati tantangannya” kata Guru dari atas pohon.


Guru turun menghampiri Sasha dan Zen yang sedang berbincang.


“Hormat Guru” kata Zen memberikan hormat.


“Apa yang membuat Guru datang kemari” tanya Sasha sambil memberi hormat pula.


“Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari orang tua itu. Ada sesuatu yang Ia titipkan untuk mu” jawab Guru.


Guru menjelaskan maksud kedatangannya kepada Sasha dan memberikan sebuah patung burung hantu yang di titipkan kepadanya untuk Sasha.


Guru mengeluarkan patung dari cincin yang Ia kenakan. Pada jaman itu ada sebuah cincin yang bisa menyimpan berbagai benda di dalamnya, bahkan makhluk hidup juga bisa di simpan dalam cincin itu. Cincin itu adalah barang langka, jadi hanya sedikit orang yang bisa memilikinya.


“Apa ini Guru” tanya Sasha yang melihat sebuah patung burung hantu setinggi tubuhnya yang sedang mengepakkan sayap.


“Ini bukan hanya sebuah patung, dalam patung ini terdapat sebuah portal dimensi” jelas Guru.


Guru membuka sebuah portal yang tersimpan di dalam patung burung hantu itu. Ini adalah portal yang di miliki keluarga Linch, banyak keluarga besar lainnya yang memiliki portal serupa.


“Di dalam portal ini terdapat ruang dimensi yang sangat misterius, yang masuk kedalam portal ini akan diarahkan menuju tempat yang sesuai dengan tujuan dari seseorang yang memasukinya. Aku sarankan kamu menuju lentera keberanian tingkat langit saat ingin memasuki portal ini” jelas Guru kepada Sasha.


“Baik Guru, sesuai arahan yang guru berikan, aku akan menuju tempat lentera keberanian tingkat langit berada” ucap Sasha sambil memberi hormat.


Karena ambisi Sasha sangat kuat untuk menyelesaikan misinya. Tanpa pikir panjang Sasha langsung bersiap memasuki portal yang sudah terbuka.


Sasha mulai memasuki portal dimensi yang di buka oleh Guru.


“Wahh… tempat apa ini” kata Sasha dalam hati.


Sasha melihat ke sekelilingnya dan melihat sesuatu yang menakjubkan.


Terlihat ratusan anak tangga yang melayang di udara dan terdapat sebuah bangunan di puncaknya. Tempat ini seperti berada di antara bintang-bintang di angkasa, tidak ada apapun di sekitarnya, mirip dengan kondisi di luar angkasa.


“Aku merasa tubuhku sangat ringan disini, luka yang belum sembuh setelah menghadapi bayangan itu juga sudah sembuh. Benar-benar tempat yang ajaib” ucap Sasha sambil melihat kondisi tubuhnya yang agak melayang.


Karena tidak ada tempat yang bisa di kunjungi selain bangunan di puncak ratusan anak tangga itu, Sasha pun memutuskan untuk mulai menaiki anak tangga itu.


Perjalanan Sasha menaiki anak tangga ini sangat nyaman tanpa hambatan, Sasha juga sama sekali tidak melompat saat menaiki satu demi satu anak tangga pada dimensi ini. Terlihat Sasha yang takjub melihat suasana yang sebelumnya belum pernah Ia rasakan. Angin yang berhembus pelan, perpaduan warna seperti galaxy, juga cahaya mirip bintang jatuh yang terbang ke sana kemari seakan menemani langkah Sasha menuju puncak.


“Indah sekali tempat ini, aku tidak akan melupakan kejadian saat ini” ucap Sasha yang sedang melangkah dengan perlahan.


Setelah satu persatu anak tangga Sasha naiki, akhirnya Ia sampai di puncak dan menjumpai bangunan megah yang ada di hadapannya saat ini.


Terlihat sebuah bangunan berkilau dengan arsitektur seperti kuil pada jaman Yunani kuno. Menurut legenda, ada seorang Master yang menguasai teknik ruang dan waktu. Teknik ruang dan waktu adalah salah satu teknik yang sangat sulit di pelajari, selama berabad-abad hanya ada beberapa yang menguasai teknik ini, namun tidak mencapai puncaknya. Puncak dari teknik ruang dan waktu adalah mampu menciptakan sebuah dimensi yang di dalamnya terdapat aturan ruang dan juga aturan waktu. Suasana tenang dan pemandangan indah yang Sasha lihat adalah bentuk dari aturan ruang, sedangkan tangga yang melayang di udara dan semua yang bergerak pada dimensi adalah bentuk dari aturan waktu.


***


“Apakan lentera keberanian tingkat langit ada di tempat ini” kata Sasha dalam hati.


“Kalau begitu aku akan masuk ke dalam sekarang” sambil melangkah ke depan.

__ADS_1


__ADS_2