Reveal The Secret

Reveal The Secret
CHAPTER 6 _ Tekad Yang Kuat


__ADS_3

Semakin terang cahaya kalung Sasha bersinar, tulisan itu tampak semakin jelas.


Sasha lebih fokus memperhatikan tulisan yang muncul dalam cermin, sampai tulisan berwarna merah itu terlihat jelas.


“Terbaca” kata Sasha yang fokus melihat cermin


-Kamu adalah yang terpilih. Jangan menyerah dengan tantangan yang ada, pelajari dan pahami setiap yang kau alami-


“Seperti kata-kata motifasi” kata Sasha dengan wajah yang tegang dan fokus di depan cermin


Setelah Sasha selesai membaca tulisan yang nampak di cermin, akhirnya tulisan itupun memudar dan kemudian hilang.


“Sepertinya sudah cukup untuk hari ini, aku lelah sekali” ucap Sasha sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas Kasur


“Selamat tidur Guin, Selamat tidur Oly” kata Sasha sambil memejamkan matanya


“Kasihan sekali Sasha, Ia nampak benar-benar kelelahan” ucap Guin sambil memandangi Sasha


Setelah itu Guin pun menghilang sedangkan Oly bertengger di tempat biasanya.


***


Hari sudah pagi, sinar matahari mulai masuk ke kamar Sasha lewat jendela yang tidak tertutup.


Terdengar ayam berkokok juga jam weker yang berbunyi.


“Sudah pagi ya” ucap Sasha dengan nada lemas


“Hay Oly, selamat pagi” kata Sasha menyapa Oly


Seperti biasanya, Sasha merapikan tempat tidur kemudian turun ke lantai bawah.


“Selamat pagi Ibu” sapa Sasha kepada Ibu yang sedang menyiapkan susu hangat


“Wah, anak ibu sudah bangun rupanya” jawab Ibu sambil tersenyum melihat Sasha yang menutup kepalanya dengan handuk


“Aku mandi dulu Ibu” kata Sasha yang berjalan sempoyongan


Ibu hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya yang aneh.


***


Setelah selesai mandi, Sasha melanjutkan untuk sarapan bersama Ayah dan Ibu.


“Kamu sudah mandi Sasha” tanya Ayah


“Sudah yah, badan ku capek sekali, setelah mandi jadi lumayan segar” jawab Sasha tersenyum


“Wahh, seperti habis berjalan jauh ya anak Ayah” gurau Ayah sambil tertawa


Sejenak Sasha terdiam mendengar perkataan Ayahnya, IA berpikir apakah Ayah mengetahui tentang perjalanan Sasha pergi ke Kerajaan Gunma.


Sasha tidak menanggapi perkataan Ayah, Ia takut nantinya malah bercerita tentang apa yang Ia alami semalam.


“Ayah ada-ada saja, ayo kita sarapan” ajak Sasha


“Oh ya Sha, nanti ikut Ayah ke Akibara ya” ajak Ayah


“Ada apa Yah” tanya Sasha


“Teman Ayah yang juga kepala sekolah di sana ingin bertemu dengan kita. Ayah berencana memasukkan kamu ke Akibara” jelas Ayah kepada Sasha


“Ayah mu juga salah satu alumni Akibara, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari desa kita sekarang, Ayah mu berencana memasukkan kamu ke Akibara” kata Ibu sambil memakan roti


“Baiklah, setelah sarapan aku siap-siap untuk ikut Ayah” kata Sasha


SMA Akibara adalah sekolah yang lokasinya paling dekat dengan rumah Sasha saat ini.


Walaupun letaknya yang berada di dekat pedesaan, Akibara adalah salah satu sekolah favorit.


Sudah banyak lulusan Akibara yang melanjutkan kuliah di luar negeri.


Sebelumnya Akibara terletak di pusat kota, karena ingin mendapatkan kwalitas murid yang baik maka sekolah ini di pindahkan ke dekat pedesaan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam belajar mengajar.


***


“Ayo Ayah, aku sudah siap” ajak Sasha yang sudah berpakaian rapi


“Oke, ayo kita berangkat” jawab Ayah sambil mengambil kunci mobil miliknya


Mereka pun menuju mobil.


“Kami berangkat Bu, daaaa” kata Sasha sambil melambaikan tangan ke Ibu dari dalam mobil


“Hati-hati dijalan ya, kalau sudah selesai cepat pulang” jawab Ibu sambil melambaikan tangan pula


***


Mereka akhirnya sampai di depan gerbang sekolah yang berwarna hitam dan terbuat dari besi.


Di sekolah ini kendaraan dilarang masuk kecuali sepeda. Oleh karena itu banyak guru di sekolah ini yang mengendarai sepeda saat ke sekolah


Pada saat memasuki gerbang sekolah, Sasha melihat bangunan yang lumayan besar dan luas. Yang paling menyita perhatian Sasha adalah saat Ia melihat jam dengan ukuran besar yang ada pada gedung sekolah, dan di atasnya ada tulisan “AKIBARA” dengan ukuran yang besar juga.


“Waaahhh, besar sekali sekolah ini, aku tidak menyangka di dekat pedesaan ada sekolah semegah ini” kata Sasha sambil melihat ke sekeliling sekolah

__ADS_1


“Ayo kita temui kepala sekolah” ajak Ayah


Mereka pun berjalan menuju ruangan kepala sekolah yang berada di lantai 2 sekolah ini.


“Saat Ayah bersekolah disini, bangunannya belum semegah ini, namun saat itu sudah terbilang cukup elit” jelas Ayah sambil berjalan


“Jurusan apa yang Ayah ambil saat bersekolah disini” tanya Sasha


“Disini terkenal dengan jurusan sastranya, tapi Ayah masuk ke jurusan managemen” jawab Ayah


“Di sekolah SMA sudah ada jurusan seperti itu, tidak heran jika alumni sekolah ini bisa masuk perguruan tinggi luar negeri” ucap Sasha


“Kita sudah sampai, ini ruangannya” kata Ayah yang berhenti di depan pintu


“Permisi, ini aku, Braum” kata Ayah sambil mengetuk pintu


“Masuk Braum, aku di dalam” kata kepala sekolah


“Silahkan duduk” kata kepala sekolah


“Apa gadis kecil ini yang bernama Sasha” tanya kepala sekolah sambil tersenyum kepada Sasha


“Iya pak, nama ku Sasha, Sasha Linch” jawab Sasha


“Jangan sungkan, aku sudah tahu tentang mu dari cerita Ayahmu sejak kamu masih balita” kata kepala sekolah


Ayah Sasha adalah tipe orang yang tidak melupakan kawan lamanya. Hampir semua kawan lamanya selalu Ia hubungi saat ada waktu luang. Bagi Ayah Sasha, melupakan teman adalah kerugian besar.


“Oh ya, rencananya Sasha akan kau masukkan ke jurusan apa Braum” tanya kepala sekolah


“Kalau itu terserah Sasha, aku tidak bisa menentukan sendiri” jawab ayah tersenyum


“Bagaimana Sasha, apa yang akan kamu ambil” tanya kepala sekolah


“Aku tertarik dengan jurusan sastra, apa aku bisa masuk ke sana” tanya Sasha


“Bisa saja, tapi nanti akan ada tes yang terbilang lumayan sulit, apa kamu siap” kata kepala sekolah


“Aku siap pak” jawab Sasha


“Baiklah, kalau begitu akan aku beri kamu buku ini, kamu harus pelajari, satu minggu lagi akan aku adakan tes untuk mu” kata kepala sekolah sambil memberikan sebuah buku yang Ia ambil dari meja kerjanya


Setelah kepala sekolah memberikan buku kepada Sasha, Sasha pun membuka dan membacanya. Karena bukunya tidak terlalu tebal, Sasha membacanya dengan santai.


Sedangkan saat Sasha membaca buku, Ayah dan kepala sekolah sibuk dengan obrolan mereka yang membahas kejadian-kejadian saat mereka kecil, sesekali Sasha ingin tertawa mendengar cerita mereka, namun Sasha menahannya karena tidak sopan jika ada yang mengobrol lalu ikut tertawa.


***


Tidak terasa sudah dua jam Sasha dan Ayah berada di ruang kepala sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 11:00. Ayah meminta izin kepada kepala sekolah untuk berkeliling melihat suasana di sekolah.


“Apa boleh kami berkeliling sekolah, aku ingin Sasha melihat-lihat suasana di sekolah ini agar saat dia mulai bersekolah dia tidak kesasar jika ingin ke kantin sekolah” ucap ayah kepada kepala sekolah sambil tertawa


“Untuk Sasha, kamu harus mempelajari buku itu, jangan sampai hasil tesnya dibawah rata-rata” kata kepala sekolah


“Baik pak, aku akan berusaha” kata Sasha bersemangat


Akhirnya mereka pun berpamitan untuk berkeliling sekolah.


“Ayah, sudah berapa lama Ayah kenal dengan kepala sekolah” tanya Sasha


“Sejak kecil Ayah sudah bermain dengan dia, Paman Mic juga kenal dengan kepala sekolah” jawab Ayah


“Ouw, pantas saja ayah dan kepala sekolah terlihat sangat akrab” ucap Sasha


Setelah mereka berkeliling ke beberapa bagian di sekolah akhirnya mereka berhenti di kantin sekolah untuk beristirahat.


Saat di kantin Sasha melihat seorang murid perempuan menyendiri yang sedang membaca sebuah buku.


“Ayah, ini masih jam pelajaran kan, kenapa ada siswi yang di luar kelas” tanya Sasha sambil memperhatikan murid yang berada di bawah pohon beringin dekat kantin


“Entahlah, mungkin saja Ia sedang di hukum” jawab Ayah bingung


Setelah selesai beristirahat Ayah dan Sasha pun pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan Sasha masih membaca buku yang di berikan oleh kepala sekolah kepadanya.


Sasha terbilang anak yang mudah dalam memahami suatu pelajaran, di sekolah yang lama Ia juga menjadi salah satu murid teladan karena sering menjadi juara umum di sekolah lamanya.


Saat dalam perjalanan Sasha merasa ada yang aneh dari kalung yang Ia kenakan. Setelah Sasha lihat ternyata kalungnya menyala. Ia tidak mengerti maksudnya, karena sebelumnya Zen tidak memberi tahu Sasha pertanda apa jika kalungnya menyala pada saat sedang berada di luar dimensi cermin.


“Wah, ada apa ini, kenapa kalung ku menyala” kata Sasha dalam hati


Sesampainya di rumah Sasha langsung menuju kamarnya. Saat membuka pintu terlihat Guin berada di depan cermin yang mengeluarkan sinar di seluruh sisinya.


“Ada apa dengan cermin itu Guin, kenapa menyala seperti itu, kalung ku juga menyala sepanjang perjalanan pulang tadi” kata Sasha yang bingung dengan apa yang terjadi


“Entahlah aku juga tidak tahu, sudah sejak tadi cermin ini mengeluarkan cahaya seperti ini” jawab Guin


“Sepertinya kita harus ke Gunma lagi Guin” ucap Sasha yang panik


“Ayo kita ke sana” ajak Guin


“Ayo” jawab Sasha


Sasha menaruh barang bawaannya dan bergegas pergi ke dalam cermin. Tak lupa Sasha juga membawa buku peninggalan keluarganya.

__ADS_1


Sasha, Guin dan Oly pun memasuki cermin yang sudah membentuk portal.


Saat Sasha sampai, Ia bingung dengan lokasi yang mereka datangi. Mereka berada di sebuah ruangan, di sana Sasha melihat tumpukan kayu bakar, juga ada seperti api unggun yang terdapat teko menggantung di atasnya.


Setelah beberapa saat Zen memasuki ruangan tersebut.


“Sasha, apa kamu sudah lama ada disini” tanya Zen


“Tidak begitu lama paman Zen” jawab Sasha


“Ini tempat apa paman, aku belum pernah melihat ruangan seperti ini sebelumnya” tanya Sasha


“Ini tempat ku beristirahat, tepatnya ini adalah rumah ku” jawab Zen


“Paman Zen, kenapa kalung ku menyala saat sedang di dunia ku, cermin ku juga muncul cahaya merah” tanya Sasha


“Itu tandanya aku memanggil mu kemari” jawab Zen


“Lalu ada apa paman memanggil ku kemari” tanya Sasha


“Kamu bawa bukunya kan” tanya Zen


“Buku rahasia ini maksud paman” tanya Sasha sambil menunjukkan buku yang Sasha bawa


“Iya, buku itu” jawab Zen


“Apa kamu belum membukanya halaman yang baru” tanya Zen


“Belum paman, aku belum sempat untuk membukanya” jawab Sasha


Sasha membuka halaman baru yang sebelumnya memang belum sempat Ia baca.


Di halaman selanjutnya Sasha mendapatkan petunjuk baru.


-Dalam hutan yang gelap menyimpan emas yang berkilau. Kalahkan pikiran mu. Maju dan temukan emas yang berkilau itu-


“Apa paman Zen tau tentang tempat itu” tanya Sasha sambil menatap Zen


“Entahlah, aku tidak yakin dengan yang sedang aku pikirkan” kata Zen yang sedang memikirkan suatu tempat


“Ternyata memang ada tempat seperti itu disini” kata Sasha dengan menatap serius kearah Zen


“Iya, tempat itu memang ada disini, tapi aku tidak berharap tempat itu yang di maksud” kata Zen sambil menunduk dan memegang kepalanya


Ada salah satu tempat yang dipikirkan oleh Zen. Namun Zen berat untuk mengatakan kepada Sasha. Tempat itu sangat berbahaya dan Zen tidak berharap Sasha terancam keselamatannya karena misi ini.


“Beritahu aku paman tentang tempat itu” pinta Sasha dengan nada serius


“Baiklah, akan ku ceritakan tentang tempat itu” kata Zen


“Hutan yang di maksud buku itu mungkin hutan larangan di sebelah barat, jaraknya dari sini mungkin satu hari perjalanan dengan kuda. Begitu jauh dan berbahaya, oleh karena itu tidak ada yang berani ke sana… Tapi yang aku bingung, setahu ku di sana tidak ada emas, melainkan hanya ada hutan yang gelap dengan penghuninya yang bermacam-macam” jelas Zen kepada Sasha


“Lalu kenapa Paman berfikir tempat itu yang di maksud oleh buku ini” tanya Sasha


“Karena hanya hutan itu yang selalu gelap, hutan itu tidak mengenal waktu siang atau malam. Selamanya hutan itu akan gelap”


Setelah Sasha mendengar penjelasan Zen, Sasha tetap ingin pergi ketempat itu.


Karena tujuan utama Sasha ingin mengungkap rahasia keluarganya, Sasha tidak perduli dengan bahaya ataupun ancaman yang akan Ia temui.


“Paman Zen, aku harus pergi ke sana, tujuan ku sampai kesini adalah untuk mengetahui rahasia dari keluarga ku” kata Sasha dengan nada serius


“Tempat itu jauh lebih bahaya dari apa yang kamu pikirkan Sasha. Tempat itu benar-benar sangat berbahaya” tegas Zen kepada Sasha


“Aku akan tetap ke sana paman, beritahu aku di mana tempatnya” pinta Sasha yang sangat berambisi


“Baiklah, aku akan menemani mu ke tempat itu” tanggap Zen dengan terpaksa


Zen menyetujui permintaan Sasha, karena sebelumnya Zen sudah berjanji kepada seseorang, jika kelak ada seorang anak perempuan yang datang, maka Zen harus bertanggung jawab atas keselamatannya sampai tujuan gadis itu tercapai.


Sebenarnya Zen tidak mengetahui tujuan dari buku itu. Zen hanya mendapat perintah untuk mengawal Sasha dan memberitahu hal tentang kelurga Sasha saat waktunya sudah tepat.


“Apa kamu siap dengan bahaya yang akan kita jumpai nanti Sasha” tanya Zen serius


“Siap paman, aku siap karena teman-teman ku pasti bisa membantu ku” jawab Sasha


“Terkadang kita memang harus percaya dengan teman kita namun tidak untuk berharap kepada mereka. Teman akan membantu kita hanya sebatas kemampuannya, di luar itu semua kita sendiri yang harus berjuang” jelas Zen kepada Sasha


“Bawa ini, gunakan jika di butuhkan. Kau adalah keturunan dari keluarga Linch, aku yakin kamu bisa menggunakannya” kata Zen sambil memberikan sepucuk pedang katana berwarna hitam juga beberapa pisau kecil sebagai sarana perlindungan diri


“Terimakasih paman” Kata Sasha sambil menerima pemberian Zen dan menaruh ke pinggangnya


“Oh ya Paman. Paman belum memberitahu ku tentang keluarga ku, apa Paman bisa ceritakan sekarang” tanya Sasha


“Sekarang bukan waktu yang tepat Sasha, saat tiba waktunya nanti aku akan jelaskan kepada mu” jawab Zen


Sasha pun mengangguk dan tidak menanyakannya lagi kepada Zen.


Mereka bersiap untuk berangkat ke tempat yang sudah menjadi tujuan mereka. Dengan membawa perbekalan dan senjata yang mereka butuhkan, mereka pun keluar dari rumah Zen.


Di luar sudah ada dua ekor kuda putih dan hitam yang memang menjadi kendaraan Zen.


Sasha menunggangi kuda putih sedangkan Zen yang hitam.


Perjalanan yang panjang pun di mulai. Bahaya yang akan menimpa mereka pun akan segera mereka jumpai.

__ADS_1


Dengan berbekal keberanian, Sasha menatap tajam ke depan dengan tekad dan keyakinan akan bisa melewati rintangan yang menanti.


“Kuda putih, ayo maju”


__ADS_2