
Ny Amitha membereskan piring bekas makan putrinya yang hanya berkurang beberapa sendok, kembali meletakkannya ke atas nampan dengan sesekali matanya melirik mengamati putrinya yang memandang kosong ke arah jendela kamar rawatnya. Ny Amitha tahu betul apa yang putrinya itu sedang pikirkan saat ini. Hati Ny Amitha begitu perih melihat keadaan Rachel yang seperti itu. Seakan hidup tapi tak bernyawa. Tapi tak ada satupun yang bisa dilakukannya untuk putrinya itu.
Rachel setengah terduduk pada brankarnya, menerawang jauh keluar sana. Memandangi birunya langit yang terpampang dari balik kaca jendela. Langit yang begitu cerah benderang dengan sinar kemilau yang sedikit menyilaukan mata. Sangat berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang begitu suram. Pikirannya jauh berkelabat memikirkan seseorang yang begitu dirindukannya, baru beberapa hari saja tak melihat sosok laki-laki itu membuat hidupnya serasa mati.
Hatinya terus mengguman, menyerukan nama laki-laki itu dalam relung hatinya yang terdalam.
Mengurai senyumnya menatap cakrawala di luar sana, membayangkan wajah kekasih hatinya pada gumpalan awan biru itu seakan menyapanya.
Vir... Bagaimana kabarmu?
Kamu baik-baik sajakan?
Apa kau tahu apa yang kulakukan saat ini?
Apa yang tengah kurasakan?
Apa kau tahu aku terbaring menangisimu sepanjang waktu?
Apa ini bentuk hukuman untukku?
Tidakkah ini terlalu jahat dan berat untukku Vir?
Bagaimana denganmu disana?
Apa kamu masih lelap dalam tidurmu, hingga tak lagi menyadari ketidakberadaan diriku disisimu?
Tidakkah kamu merindukanku?
Akankah kamu mencariku diriku untuk pertama kalinya ketika kamu membuka matamu?
Kau tahu, Disini aku begitu merindukanmu...
Berharap bisa melihat wajahmu sekali lagi,
Seandainya saja itu bisa terkabul,
aku tak akan lagi menyia-nyiakan dirimu Vir....
Aku tak akan lagi meragukan cintamu...
Aku berjanji... Aku bersumpah...
Untuk itu,
bisakah kamu hadir di hadapanmu saat ini?
Bisakah?
Tanpa sadar kembali Rachel menitikkan airmatanya. Dadanya kembali sesak, nafasnya pun tersengal-sengal. Buru-buru Ny Amitha menghampiri dan memeluknya erat.
"Sayang, sudah yah... Jangan dipikirkan lagi. Yakinlah kalau dia akan baik-baik saja dan akan segera kembali menjemputmu." Bujuknya sembari mengelus lembut punggung putrinya yang bergetar karena tangisnya dalam dekapannya.
Rachel mengangguk, mengusap kedua pipinya yang basah dan menguatkan hatinya. Dilepasnya pelukan sang Mommy dan memaksakan mengulas senyumnya.
Ny Amitha ikut menahan tangisnya, lalu tersenyum lembut. Mengambilkan segelas air dan meminumkannya pada Rachel.
"Thanks mom, i'm fine, i'm good..." Lirihnya begitu kembali merasa tenang sembari mengusap lembut tangan Ny Amitha.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu dari luar membuat Rachel dan Ny Amitha menoleh, kemudian pintu itu terbuka perlahan dan dari baliknya muncul sosok Lily yang menenteng rantang makanan disusul Rey yang juga menenteng beberapa paperbag.
"Sorry aunty, sedikit telat. Tadi kena macet." Ucap Lily seraya meletakkan rantang ke atas meja lalu mengambil alih beberapa paperbag dari tangan Rey dan memasukkan paperbag itu ke dalam lemari kecil yang berada di samping brankar Rachel. Rey sendiri berjalan menghampiri Rachel dan duduk pada salah satu kursi yang ada di samping brankar.
"Tak apa. Aunty juga belum terlalu lapar. Tapi kamu sudah makan kan?"
"Tadi sudah bersama Rey di rumah aunty."
"Iya, tante. Masakannya enak." Imbuh Rey.
Ny Amitha tersenyum lalu meraih rantang yang dibawa Lily. "Lily, temani aunty makan di rooftop yuk..." Pintanya, menarik Lily keluar dari ruangan itu dengan peka-nya. Memberi waktu pada Rachel yang sepertinya ingin berbicara sesuatu pada Rey.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rey selepas Ny Amitha dan Lily keluar dari ruang rawat itu.
"Seperti yang kamu lihat." Jawabnya dengan seulas senyum pada wajah sayu-nya. "Apa belum ada kabar darinya?"
Rey menunduk, sedikit menggeleng. "Aku minta maaf, sampai sekarang orang yang ku minta tolong belum mendapat informasi apapun."
Rachel menghela nafas berat, kembali mengulas senyumnya. "Tak apa, mungkin besok-besok kita sudah bisa mendapatkan kabarnya."
Kepala Rey mengangguk pelan, sedikit mengulas senyum tipis. "Aku berjanji akan berusaha mencari tahu tentangnya, jadi kamu juga harus kuat. Jangan terlalu memikirkannya. Kamu tahu sendiri kan kalau Vir itu orangnya keras dan gigih. Kemanapun kamu bersembunyi dia bisa menemukanmu. Jadi tenang saja. Dia pasti akan kembali mencarimu, ke ujung dunia sekalipun."
Kembali kata-kata semangat itu didengarnya dari orang-orang yang berusaha menghiburnya. Rachel mengangguk pelan dengan setetes bulir bening yang ikut terjatuh dari sudut matanya.
"Maafkan aku, karena mobil itu, kalian...."
Rachel menepuk pelan tangan Rey yang tergeletak di pinggiran brankar. Membuat Rey menghentikan ucapannya.
"Itu bukan salahmu. Kamu juga tidak berharapkan itu terjadi dengan kami. Jadi tak usah menyalahkan dirimu."
"Terima kasih." Lirih Rey masih dengan menunduk.
"Bagaimana hubunganmu dengan Raya?" tanyanya mengubah topik pembicaraan.
"Yah, jalan di tempat, bahkan kayaknya mundur perlahan."
"Menyerah?"
"Mau bagaimana lagi kalau dia-nya yang tak mau."
"Apa kamu tak bisa belajar sedikit dari cara sahabatmu?"
"Vir?"
Mendengar kembali nama Vir disebut membuat Rachel tersenyum getir. "Memangnya sahabatmu siapa lagi selain dia?"
Rey ikut menyunggingkan senyumnya. "Aku tak punya sedikitpun keberanian seperti dirinya. Vir sosok yang tangguh dan teguh jika sudah menginginkan sesuatu, dia mampu menciptakan keajaiban yang bagi semua orang dianggap tak mungkin. Yah, contohnya kamu ini..."
__ADS_1
Rachel menyunggingkan senyumnya, merasa sedikit tertohok dengan sindiran Rey. "Yah, kamu benar." Lirihnya pelan. Mengerjapkan kedua matanya guna menghalau tetesan bening yang hampir terjatuh. Lalu kembali berucap, "Dan sekarang aku sudah betul-betul tak bisa berpaling darinya. Dia berhasil. Jadi bagaimana denganmu? apa kamu tak mau sedikit lebih berani?"
"Entahlah, aku takut malah membuatnya membenciku."
"Tidak, dia tak membencimu. Aku yakin itu. Dia hanya belum memahami perasaannya sendiri. Tapi kalau kamu juga hanya tinggal menunggu begitu saja, maka kalian akan begitu-begitu saja."
"Apa kamu sadar? Kamu menyuruh orang lain untuk merebut pacar adikmu sendiri?"
"Sebagai sahabat Raya, aku melihat kamu yang lebih cocok untuk mendampinginya. Bryan itu masih terlalu labil. Lagipula sepertinya dia...."
Rey menautkan alisnya, "Dia kenapa?"
"Oh, iya.. Adikmu tadi datang. Sekarang bersama Bryan dan Raya di kantin."
"Risya?"
"Memangnya adikmu ada berapa? Ishh.. Kamu ini..."
"Astaga, kenapa tak bilang dari tadi sih, chel...? jadi dia sudah bertemu Raya?"
Rachel mengangguk.
"Dia tak bercerita macam-macam padanya kan?"
Rachel mengedikkan kedua bahunya disertai senyum gelinya.
"Katamu dia di kantin kan?"
"Sepertinya begitu..."
"Baiklah, aku menemui Risya dulu lalu kembali ke hotel. Besok aku datang lagi. Kamu tak apa-apa sendirikan?" Tanyanya sembari bangkit dari duduknya yang dijawab anggukan kepala oleh Rachel.
"Chel...."
"Hmmm....??"
"Yang kuat yah..." ucapnya, menepuk pelan lengan Rachel. "Demi Mahavir." Lanjutnya.
Rachel tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Namun setetes airmata ikut terjatuh dari pelupuk matanya. Buru-buru ia mengusapnya dan kembali tersenyum dengan ceria. "Iya... Aku akan kuat untuknya. Aku tak akan menyerah. Aku akan setia menunggunya."
***
Di kantin, Bryan duduk berdampingan bersama Raya sementara Risya duduk di seberang meja didepannya. Bryan dan Raya menyantap makan siangnya sembari bercakap-cakap dengan santai membahas kesibukan mereka belakangan ini. Sementara Risya dengan wajah cemberutnya lebih memilih diam dan fokus pada makanannya. Menulikan telinganya terhadap percakapan sepasang sejoli di hadapannya yang terlihat begitu serius seakan tidak menganggap keberadaannya.
Yang tak diketahui Risya, Bryan diam-diam mengamati tingkah laku gadis manis di hadapannya itu dengan sesekali melirik lewat ekor matanya. Bryan diam-diam tersenyum menahan tawanya. Terlihat gadis itu begitu fokus menyantap makanannya dengan begitu lahap, bahkan di sekitar mulutnya belepotan minyak dan bumbu dari ayam bakar yang dimakannya.
Bryan mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pahanya di bawah meja. Sedari tadi tangan Bryan begitu gatal ingin mengusap dan membersihkan wajah imut nan menggemaskan itu. Namun Bryan sadar, tak mungkin dia lakukan disaat pacarnya sendiri duduk disampingnya saat ini.
"Jadi nanti langsung lanjut S2?" Tanya Raya melanjutkan obrolannya.
"Rencananya begitu." Jawab Bryan dengan datar. Ia memang asyik mengobrol dengan pacarnya sedari tadi tapi tak tahu mengapa pandangannya malah selalu ingin ke arah Risya.
"Hei bocah, kayak anak kecil saja makan belepotan begitu." Tegurnya dengan ketus pada akhirnya. Bryan betul-betul sudah tidak dapat bersabar melihat wajah imut itu yang belepotan.
Risya mengangkat kedua alisnya. Kunyahannya terhenti dengan kedua pipi yang menggembung. "Apa sih kak Bry? Risya kan emang masih kecil...! Orang lagi enak-enak makan juga."
Risya mengedip-ngedipkan matanya bingung. Lidahnya terjulur keluar, ke atas, ke samping, ke bawah. Mengecap semua sisa makanan yang melengket di permukaan bibirnya yang malah membuat Bryan tak sanggup lagi menahan diri untuk tak menghampiri gadis itu.
Tanpa sadar Bryan bangkit dari duduknya, melangkah ke sisi Risya, menarik beberapa lembar tisu dari tempatnya dan langsung menempelkan tisu itu pada mulut Risya.
"Mmmppp...." Risya melotot tak terima dengan aksi spontan Bryan yang menjejal mulutnya dengan tisu.
Risya menarik kepalanya dan mencoba menghindar. Tapi tangan kiri Bryan malah menarik tengkuknya dan menahan pergerakan kepalanya. Tangan kanan Bryan kini dengan telaten membersihkan wajah gadis manis itu.
Hingga saat wajah itu sudah betul-betul bersih, barulah Bryan tersadar akan apa yang telah dilakukannya.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
Bryan mematung di tempat, dengan tubuh setengah membungkuk. Satu tangannya masih menahan tengkuk Risya dan satu tangannya lagi masih memegang tisu di depan wajah Risya.
Perlahan Bryan melirik sekilas ke arah Raya yang menatapnya dengan bingung. Dengan canggung Bryan menegakkan punggungnya dan tersenyum kikuk pada Raya.
"Nih, kamu bersihkan sendiri." Ucapnya pada Risya seraya meletakkan kasar tisu yang dipegangnya ke tangan Risya.
Belum sempat Bryan melangkah untuk kembali ke tempatnya, Rey lebih dulu menepuk bahunya dari arah belakang.
"Kalian di sini rupanya..." Ucap Rey santai.
"Kakak Rey..." Pekik Risya, bangkit dari duduknya dan hendak memeluk kakaknya itu dengan manja.
"Hei, hei tanganmu kotor." Rey mendorong Risya menjauh dari tubuhnya. "Bersihkan dulu tangannya."
Risya mengangguk dan dengan cepat berlari menuju wastafel yang tersedia di kantin itu.
"Sudah makan kak?" Tanya Bryan.
"Sudah, tadi bersama Lily di rumahmu." Jawab Rey dengan memandang sekilas ke arah Raya yang langsung memalingkan wajahnya begitu mata mereka bertemu.
"Kalau sudah selesai sebaiknya kamu cepat kembali, Rachel sendiri di kamar."
"Loh, mommy memangnya kemana?"
"Tadi keluar bersama Lily, kudengar katanya mau makan di rooftop."
"KAKAK REY..." Teriak Risya yang berlari dan langsung menubruk tubuh Rey. "Risya kangen, kenapa kakak Rey tak pernah pulang ke rumah?"
"Kakak lagi sibuk sayang." Ucap Rey, mengelus lembut rambut panjang Risya. Raya yang melihat itu sedikit terkesima dengan perlakuan lembut laki-laki itu pada adiknya. Tiba-tiba saja Raya membayangkan bila dirinya yang berada di posisi Risya. Raya menggeleng cepat, membuyarkan lamunannya itu.
"Sibuk tapi masih ada waktu berduaan dengan kak Lily. Sampai-sampai lupa menjemput Risya di tempat les tadi. Tau gak kak, dompet Risya hilang. Gak tau kelupaan dimana. Risya hampir aja bikin malu di toko Cake tadi. Untung ketemu mommy kak Rachel di toko itu. Mommy kak Rachel baik deh kak, dia bayarin cake-nya Risya, nawarin Risya nebeng di mobilnya. Terus Risya di suruh panggil mommy juga seperti kak Rachel dan kak Bry. Jadi sekarang Risya punya orang yang bisa dipanggil mommy juga. Oh iya kak, Risya boleh tidak menginap menemani kak Rachel di sini? Boleh yah? Yah?" Cerocosnya sambil membujuk manja kakaknya.
Rey terkekeh dan menggeleng geli dengan adik cerewetnya itu. "Jangan bikin ulah disini. Nanti malah merepotkan orang. Pulang saja, besok baru datang lagi."
Risya melepaskan pelukannya, menghentakkan kedua kakinya ke lantai sebagai bentuk protesnya. "Kakak Rey jahat, masa di London Risya bisa menginap bersama kak Rachel, disini gak dibolehin?"
__ADS_1
Bryan tertawa geli melihat Risya, tangannya lagi-lagi tanpa sadar menarik lengan Risya dan membawa tubuh gadis itu ke sampingnya. "Tak apa kak Rey, biarin Risya menginap sekali ini saja."
Rey menautkan alisnya, menarik lengan adiknya mendekat padanya. "Ini rumah sakit, bisa-bisa Rachel tak bisa istirahat dibuatnya."
"Tak apa, kak Rachel tak keberatan kok." Kembali Bryan menarik lengan Risya mendekat padanya.
"Dia mau tidur dimana nanti?"
"Kan ada kasur tambahan. Muat kok."
"Tidur bersama denganmu? Hei, adikku itu seorang gadis tahu." Kembali menarik Risya. "Tak boleh!"
"Biasa aja kali, di London aku malah pernah tidur dengan adikmu."
"Apa??" Rey dan Dara kompak bertanya dan melotot ke arah Bryan.
Risya mengedip-ngedipkan matanya, memandangi Rey dan Bryan bergantian tak mengerti arah pembicaraan mereka. Sementara Bryan menyengir dengan menggaruk-garuk kepalanya.
"Maksudku, Aku dan Risya sudah biasa berbaring bersama di karpet ruang keluarga saat main game atau nonton sampai ketiduran bersama. Dia itu sudah seperti adikku sendiri, jadi jangan khawatir. Bahkan aku yang membantunya saat datang bulan pertama kali. Jadi tidak mungkin aku macam-macam dengan adikmu. Lagipula kan ada kak Lily dan Rachel disini."
Rey menggeleng-geleng dan mendengus kesal.
"Kalau kau macam-macam dengan adikku, aku akan macam-macam dengan pacarmu." Candanya, terkekeh memandangi Raya.
Raya memutar bola matanya jengah, "Auk ah..." Ucapnya lalu bangkit berdiri. "Bryan, Risya, sepertinya aku harus kembali ke poli-ku. Tak apa kan kutinggal?"
"Iya kak, tak apa." Ucap Risya dan Bryan bersamaan.
Raya memutar tubuhnya, melangkah dan menabrak kasar bahu Rey yang berdiri di sisi mejanya. Rey sedikit terdorong ke samping, dan hanya mengulum senyumnya atas tindakan Raya itu. Memandangi punggung gadis itu yang menjauh.
"Kakak Rey." Panggil Risya. "Orangnya sudah jauh tuh..." Godanya.
"Hah? Si...siapa juga yang lihat dia."
"Sudahlah, tak usah malu..." Goda Risya lagi.
"Hush, kamu mau lihat kakak dipukul sama pacarnya?"
Risya menautkan alisnya lalu berbalik menoleh Bryan. "Upss, sorry kak Bry...Risya lupa kalau dia pacar kak Bry."
Bryan mendengus, namun tangannya menarik Risya mendekat padanya. "Tak apa kalau mau ditukar dengan nih bocah. Aku ikhlas kok..." Candanya, kemudian menarik Risya berjalan bersamanya.
"Hei... Adikku mau kamu bawa kemana?" Teriak Rey hendak menyusul Bryan.
"Adikmu ku pinjam sehari dulu, kalau ada adikmu kak Rachel bisa sedikit terhibur." Balas Bryan sedikit berteriak.
Rey mendengus kesal dan menghela nafas. Namun berbalik dan berjalan kearah lobi. Keluar dari bangunan rumah sakit itu.
Sementara Bryan masih saja menarik Risya bersamanya dan masuk ke dalam lift.
"Kak Bry bisa lepas gak? Emangnya mau..."
"Mau nyebrang pegangan tangan segala? Gitu?" Ucap Bryan menyambung ucapan gadis itu.
Risya terkekeh dan menyikut perut Bryan.
"Eh, kak Bry tadi serius?"
"Apa?"
"Itu, soal Risya di barter dengan kak Raya buat kakak Rey?"
Bryan menunduk, memandangi Risya tepat di depan wajahnya. "Kamu mau?"
"Ogah!!"
"Kalau begitu kak Raya-nya gak jadi buat kak Rey." Kembali berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan santai. Berpura-pura cuek di depan Risya.
"Loh kok gitu?" Menarik ujung kaos Bryan agar menunduk memandangnya.
Kembali Bryan membungkuk dan memandangi Risya. "Kalau begitu gantikan posisinya kak Raya."
"Ihh.. Najis." Umpat Risya dengan mendorong kasar kedua bahu Bryan.
Bryan tertawa lepas. Entah mengapa ia begitu menikmati menggoda gadis beliau itu. Setiap kali dekat dengan Risya selalu bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri. Berbeda bila bersama Raya dimana dia selalu berusaha bersikap dewasa untuk mengimbangi kekasihnya itu.
"Kak Bry itu cinta pada kak Raya sih? Kok kesannya seperti main-main saja."
Bryan terdiam, menyandarkan punggungnya ke dinding lift. "Cintalah, aku serius sayang padanya. Hanya saja aku tak mau egois. Kalau memang kak Raya nya juga suka pada kakak Rey-mu itu aku akan melepaskannya." Ucapnya dengan serius.
Risya manggut-manggut tanda mengerti. Bryan melirik gadis itu, kembali berniat menggodanya.
"Tapi..." Menjeda ucapannya, berdiri menyamping memandangi Risya. "Aku tak mau rugi dong. Kalau kak Raya-nya diambil, kak Rey harus menggantinya dengan yang lebih manis."
"Dengan Risya maksudnya?"
"Tuh, pinter..!!"
"Emang kak Bry suka sama Risya?" Tanyanya dengan polos.
Bryan membungkuk, mendekatkan wajahnya ke depan wajah Risya. Begitu dekat hingga nafas Risya terasa di permukaan kulitnya. "Kalau aku bilang jatuh cinta padamu?"
Sontak wajah imut itu memerah dan merona. Mata bulatnya yang jernih melebar dan menatap ke dalam manik mata Bryan. Belum sempat gadis itu bereaksi apa-apa, Bryan langsung tertawa terbahak-bahak karena tak tahan melihat wajah Risya.
"Dasar bocah... " Ucapnya disela-sela tawanya.
"IHHH....KAK BRY NGESELIN!!!" teriaknya, menghentakkan kakinya menginjak Kaki Bryan lalu langsung berlari keluar begitu pintu lift terbuka. Meninggalkan Bryan yang masih menertawainya.
***
Sorry yah telat banget Up-nya 🙏🙏
Othor sempat block Writers gegara asyik family time bareng keluarga. Daripada nulisnya asal-asalan dan ceritanya gak nyambung, jadi lebih baik menunggu sampai otak bisa kembali konsen menulis.
sekali lagi sorry yah... 🤗
Happy Reading...,🤗😘
__ADS_1