
Mata Rachel masih terang benderang memandangi langit-langit kamarnya, berkali-kali pun dia mencoba memejamkan mata tapi tak jua dia kunjung terlelap.
Senyumnya terkembang dengan lebarnya mengingat setiap detil atas kejutan yang Mahavir berikan. Tak henti-hentinya dia menyentuh bibirnya,
"Inikah rasanya ciuman???"
Rachel menggeliat-liat masuk ke dalam selimut nya. Merasa malu sekaligus senang. Bagaikan anak remaja yang sedang kasmaran.
"Bagaimana aku bertemu dengannya besok?"
"Bagaimana aku harus bersikap dengannya?"
"Tidak...tidak...Aku tidak siap melihat wajah nya....!!!"
"Apa yang terjadi dengan diriku?"
"Kenapa jantung ku masih saja berdetak kencang?"
"Ahhhh.... Bisa gila akuuu!!!!"
"Apakah aku memang menyukainya?"
"Apakah aku sudah jatuh hati padanya?"
"Apakah dia benar-benar jodoh ku?"
"Rachel........ Sepertinya kamu memang sudah gila...!!!"
Sepanjang malam Rachel meracau seorang diri hingga akhirnya tertidur pada pukul 02.00 dini hari. Kenangan manis yang baru saja dia alami membawanya jauh ke alam mimpi yang indah.
Samar-samar dalam buaian mimpinya dia merasakan sentuhan hangat seseorang di pipinya, mengusap dan membelai rambutnya, merasakan kecupan damai di keningnya.
Sentuhan demi sentuhan terasa begitu lembut, hangat dan menenangkan hatinya,
"Jangan pergi......" Lirih Rachel seakan tak ingin sentuhan yang terasa begitu nyata itu menjauh.
"Aku hanya pergi sebentar, tunggu aku, aku akan kembali secepatnya."
Dan sentuhan itu perlahan menghilang seiring dengan jauhnya buaian alam mimpi.
* * *
Kilau cahaya mentari yang menyilaukan menembus kaca jendela kamar Rachel, memantul ke segala arah hingga menerpa wajah
cantik yang masih saja terlelap dengan pulasnya.
Jam 10 pagi, Rachel baru keluar dari peraduan nya. Dia tepuk-tepuk wajah nya untuk menghilangkan rasa berdebarnya sebelum melangkahkan kaki. Wajahnya masih merona dan tersipu malu, canggung akan bertemu seseorang.
Langkah Rachel berhenti sejenak didepan pintu kamar tamu, ingin mencoba mengintip ke dalam kamar tapi urung dia lakukan.
"Pasti dia sudah dibawah...." Pikir Rachel.
Wanita itu bersenandung riang dalam hati melangkahkan kakinya hingga ke lantai bawah.
Di ruang bawah hanya ada Bryan, mommy dan Bik Sumi.
"Sleeping princess just woke up" Bryan menggoda kakaknya yang baru menunjukkan batang hidungnya.
"Shut up" Maki Rachel kesal sambil melempari bantal kursi ke arah Bryan yang sedang asyik memainkan ponselnya disofa ruang keluarga.
Rachel berkeliling, Matanya memencar menelisik tiap ruang di mansion itu tapi tak jua dia temukan sosok yang dicari nya. Dia keluar ke halaman rumah dan tidak menemukan Porsche hitam milik Mahavir.
"Oh... Mungkin dia keluar sebentar..." Pikir Rachel.
Akhirnya dia kembali ke ruang keluarga.
"Daddy mana mom?" tanya Rachel berbasa-basi kepada mommy nya yang sedang merangkai bunga, berharap mommy nya mengerti arah pembicaraan nya. Dia sendiri masih gengsi untuk mau menanyakan kabar suaminya.
"Daddy ada pertemuan dengan para Rektor, sekalian bawa undangan pernikahan mu." Ny Amitha menjawab seadanya.
Rachel mengangguk pelan, tidak puas dengan jawaban singkat mommy nya.
Dengan malas Rachel menghempaskan tubuhnya ke sofa ditempat Bryan terduduk hingga kaki jenjangnya mengenai paha adiknya, sementara pandangan nya tak lepas dari layar ponselnya.
"Ihhhh..apa-apaan sih kak, kok duduk nya disini, sebelah sana kan kosong!" Ujar Bryan mendongakkan kepalanya menunjuk sofa yang berada di sebelah.
"Ah, bawel, pindah sana!" Umpat Rachel sembari menendang bokong Bryan berusaha membuatnya pindah tempat.
"Ih, orang duluan disini, udah pewe juga." Bryan bertahan dengan posisi nya, sementara pergerakan kaki Rachel semakin menjadi-jadi.
Ny Amitha menggeleng-geleng dan memberi kode kepada Bryan untuk mengalah.
"Ihhhh... Gabut gak gitu-gitu juga kali." Umpat Bryan akhirnya mengalah dan berpindah tempat ke sofa sebelah.
Rachel berbaring disofa dengan tatapan kosong sambil menatap jam besar yang ada di samping Rak hias.
"Takk... Tikkk.. Takkk.... Tikkk....Takk"
Mata Rachel mengikuti pergerakan jarum jam yang berputar. Detik demi detik, menit demi menit, hingga....
__ADS_1
"AAAAHHHH!!!!" Teriak Rachel tanpa sadar hingga membuat Bryan dan mommy nya terkejut bukan main.
"Mom....she's crazy." Bisik Bryan ke mommy nya.
Ny Amitha seperti memahami kegundahan hati putrinya hingga pelan-pelan memberi kode kepada Bryan untuk menyingkir dari tempat itu.
Hingga waktu jam makan siang tiba, Rachel masih gelisah. Di meja makan hanya ada mereka bertiga, Rachel, Bryan dan Ny.Amitha.
Tak ada informasi apa-apa yang dia dapatkan dari mommy dan adiknya. Dia sendiri masih sangat merasa gengsi untuk bertanya. Sesekali terlihat matanya melirik ke kursi yang biasa Mahavir tempati dan terlihat raut wajahnya kembali merengut kesal. Ny Amitha dan Bryan hanya saling pandang melihat gelagat dari wanita itu.
Seperti biasa makanan hanya dimakan sedikit, apalagi saat ini ada sedikit kekecewaan di hatinya. Setelah makan Rachel kembali mengurung diri kekamar.
Dikamar, dia kembali menghempas tubuhnya ke tempat tidur menatap lekat ponselnya.
"Telepon... Tidak... Telepon... Tidak... Telepon.. Tidak... Telepon....."
"Ahhh.... Telepon ajalah..."
Akhirnya Rachel membuang gengsinya lalu menekan nomor Mahavir di ponsel nya,
Tiittttt.......
"The number you are calling is not active or out of coverage area,, please try again in a few minutes...."
"Pakkk..."
Ponselnya dia lemparkan ke sembarang arah. "Kamu kemana sihh!!"
Umpat Rachel kesal.
Hingga sore hari belum ada kabar dari Mahavir. Kekesalannya kembali memuncak ke ubun-ubun, dia raih ponselnya kemudian memblokir nomor suaminya. Setelah itu dia mengganti pakaian nya dengan kaos oblong dan celana legging olahraga,memakai sepatu olahraga lalu berjalan keluar kamar menuju kamar Bryan.
"Main basket yuk!" Ajak Rachel.
Bryan menerima ajakan Kakak nya, mereka pun bergegas ke lapangan basket yang ada di halaman samping mansion itu. Saat berjalan melewati bagasi Rachel terkejut melihat mobil jenis Porsche Boxster berwarna putih yang terparkir dengan rapinya.
"Mobil siapa ini?" tanya Rachel
Bryan merasa terheran-heran, di tatap nya kakaknya itu dari kepala hingga ke ujung kaki.
"Sist...Are you okay?"
Rachel masih tak bergeming, menatap heran mobil yang ada didepannya.
"Kakak amnesia??? Bukannya kakak semalam pulang naik mobil ini??
Bryan menarik nafas panjang kemudian menepuk jidat nya,
"Hahhh... Sebenarnya apa yang kakak iparku itu lakukan, setiap pulang dari jalan bersamanya pulang-pulang kakak jadi bego begini!!" Seru Bryan.
Rachel tidak menanggapi, otaknya kembali mengingat kejadian sewaktu pulang semalam.
Tidak ada ingatan tentang mobil itu, kemudian dia mengingat kejadian sebelumnya mulai dari saat meninggalkan Rooftop Hotel Calister.
Semalam setelah meninggalkan Rooftop itu, saat berada didalam lift menuju turun ke lantai bawah, Rachel sempat saling canggung dengan Mahavir, perasaannya seakan ingin meledak saking berdebarnya, hingga ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Mahavir seketika ada energi statis yang terjadi dan mengalir ke tubuh mereka berdua. Tanpa tahu siapa yang memulai duluan mereka kembali melakukan adegan romantis, pria itu mengulangi mengecup bibirnya, bahkan lebih lama dari kecupan yang terjadi di Rooftop.
"Apa sebaiknya kita menginap saja?" tanya Mahavir waktu itu disela-sela ciuman mereka.
Dan itu merupakan kata-kata terakhir yang Rachel dengar dari mulut Mahavir. Karena setelah pertanyaan itu Rachel membatu dan membisu, diam seribu bahasa. Akhirnya mereka kembali saling terdiam, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
Rachel terlalu terbuai dengan suasana hingga melupakan keadaan sekitar. Hingga tidak menyadari kendaraan yang dia naiki sendiri.
Begitu sampai di rumah dia juga langsung kabur masuk ke kamarnya tanpa berbalik sedikitpun ke suaminya.
Mengingat itu muka Rachel kembali memerah, tanpa sadar kedua tangannya bergerak membekap mulutnya sendiri.
"Apa dia marah karena aku menolak??"
"Kak.... Kakk...." Panggil Bryan, mencoba menyadarkan Rachel yang terdiam dan termenung.
"Ahhh... Iyya!! Aku lupa, aku naik ini semalam.. Hehe.. Hehe..." Rachel terkekeh malu.
Bryan kembali menggelengkan kepalanya kembali melangkah menuju lapangan basket. Rachel mengikuti dengan rasa penasarannya yang tinggi
"Kalau mobilnya ada, terus dia keluar naik apa?? Apa mungkin ikut daddy ya....???"
"Ahh... Sudahlah!! Toh sebentar lagi mungkin akan pulang." Guman Rachel dalam hati.
Mereka pun bermain basket seperti dulu, saat Rachel masih SMU dan Bryan masih di sekolah dasar. Usia mereka yang terpaut 10 tahun dengan postur tubuh yang berbeda membuat Bryan dulu selalu kalah dari kakaknya.
"Kali ini kakak tidak akan bisa mengalahkanku" Seru Bryan dengan pedenya, lalu mendrible bola
dan menggiringnya menuju ring berusaha melewati Rachel yang siap sedia menghadangnya.
"not that easy" Rachel dengan lincahnya merebut bola saat Bryan akan melompat melakukan Shoot. Kemudian bola itu dia giring menuju ring dan Shoot pertama dari Rachel tepat disasaran.
"Baru juga shoot sekali udah bangga. Aku sudah biasa latihan dan bermain bersama kak Vir jadi tidak mungkin bisa kalah." Ucap Bryan keceplosan, berlari merebut bola dan mendrible menuju ring.
"Virr?? Mahavir maksudnya??" Rachel berusaha menghadang Bryan untuk melakukan shoot.
__ADS_1
"Iyalah, siapa lagi...!!" Bryan masih tidak sadar.
"Sejak kapan??" Ucap Rachel kemudian merebut bola dari tangan Bryan.
"Yah sejak lama, kalau aku liburan ke London, aku sering ke tempat kak Vir dan bermain ber......Uupsss!!!" Bryan mengatupkan bibirnya, tersadar sudah keceplosan.
"Sejak lama??? Sebenarnya sejak kapan kamu mengenalnya? Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dariku, mom, dad dan kamu bersekongkol menyembunyikan sesuatu kan?"
Desak Rachel mengguncang bahu adiknya.
"Aduhh... Bodoh.. Bodoh... Kenapa aku bisa keceplosan begini!!!" Guman batin Bryan.
Bryan terdiam mencari ide,
Tiba-tiba "Hap" Bola direbut oleh Bryan dengan cepat dari Rachel, menggiringnya hingga melakukan Shoot, dan masuk tepat kesasaran.
"Hahahha...!! Kakak gampang sekali tertipu."
"KAMU!!!" Teriak Rachel berlari mengejar Bryan.
Semakin lama permainan basket mereka semakin sengit karena Rachel bermain dengan kasar membuat Bryan kewalahan. Karena kelelahan Bryan menghempas tubuh nya terduduk ditengah lapangan.
"Udah nyerah?" Rachel mengejek Bryan.
"Udah ah, capek ladeni orang yang sedang galau!!" Bryan membaringkan tubuhnya di lapangan itu
"Apa maksudmu? Aku??galau??Karena apa coba?" Rachel mendengus kemudian ikut terduduk disamping Bryan.
"Kak, apa kakak menyukai kak vir?" tanya Bryan
"Anak kecil jangan kepo."
"Aku serius nanya kak!!"
"Apa urusan mu?"
"Kak Vir itu orang yang baik, kakak jangan mempermainkan nya."
"Sok tahu kamu!! Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, sejak kapan kamu mengenalnya?"
"Aku tadi cuma bercanda."
"Jangan bohong, kamu itu tidak pandai berbohong, jadi cepat katakan!! Sejak kapan??"
"Sejak kapan yah??? Hmmm... Kasih tau gak ya???" Goda Bryan.
Rachel menatap geram,
"Peace!!!" Bryan mengacungkan dua jarinya meminta damai. "Lebih baik nanti kakak tanya langsung kak vir, biar nanti dia jelasin."
Rachel semakin penasaran.
"Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan dariku???"
"Kakak jangan terlalu lama galau!!"
"Memang nya apa alasanku harus galau??"
"Semua yang lihat sikap kekanak-kanakan kakak dari tadi uring-uringan terus pasti tahu kalau kakak lagi galau karena ditinggal pergi kak Vir kan?"
"Pergi? Pergi kemana? Siapa? Vir?? Memangnya Vir kemana??"
"Ihh, kakak ini pura-pura tidak tahu apa memang belum tahu sih??
"Belum tahu apa?"
"Tadi subuh kan kak Virr kembali ke London."
"APAA?????" Teriak Rachel terkejut.
"Jadi kakak memang tidak tahu??" Bryan menatap heran Rachel. "Bukannya kak Virr masuk ke kamar kakak untuk pamitan?"
Rachel masih terdiam syok,
"Dia akan kembali kali kak!! jadi jangan syok begitu, Mana bisa kak Mahavir jauh-jauh dari kakak."
"Kenapa dia tiba-tiba kembali ke London?"
"Semalam Ayah kak Vir tiba-tiba telepon, katanya ada sedikit masalah di Alister Hotel jadi kak Vir harus segera mengurus nya. Dia janji kok akan datang tepat waktu sebelum acara resepsi kalian." Ujar Bryan kemudian bangkit dari lapangan basket itu. "Udah ah kak, aku mau mandi dulu."
Bryan meninggalkan Rachel yang masih terduduk termenung seorang diri di tengah lapangan basket itu.
"Jadi sentuhan hangat semalam itu bukan mimpi??"
* * *
~Terima Kasih sudah membaca 🙏 jangan lupa like, vote dan komen yaa 🤗🤗 Supaya Author juga semangat nulisnya... 🥰🥰
* * *
__ADS_1